SLIDER

Catatan Membaca; Six Thinking Hats

Senin, 31 Juli 2023


Judul: Six Thinking Hats
Penulis: Edward de Bono
Penerjemah: Yuniasari Shinta Dewi
Format: Paperback, 229 halaman
Penerbit: Elex Media Komputindo, 2017
Harga: Rp. 25.000

Awalnya saya pikir ini buku self-help. Well, saya sebenarnya juga kurang paham dengan ruang lingkup genre self-help, sih. Tapi yang jelas, buku ini berisi panduan mengelola hubungan dalam sebuah organisasi. Cocok banget untuk para pimpinan di kantor yang kita hormati.

Buku ini sudah lama saya beli, hanya saja memang tertunda dibaca karena isinya agak kurang sesuai dengan ekspektasi saya. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya saya hanya kurang meminati kegiatan berorganisasi sehingga pembahasan tentang rapat tidak terlalu saya sukai. Sungguh aneh, sebagai seorang organisatoris ketika kuliah, dan sekarang mengelola sebuah komunitas yang sedang berkembang mungkin kalian akan tidak percaya pada fakta bahwa saya sangat tidak menyukai berinteraksi dengan orang lain.

Tapi mau bagaimana lagi?! Pada kenyataannya hidup ini nggak bisa selalu mengikuti kemauan sendiri, kan?! Meskipun saya sangat tidak suka basa-basi dan segala interaksi yang berbelit-belit, pada akhirnya saya harus menerima bahwa saya butuh orang lain untuk membantu hidup. Dan beginilah jadinya, saya yang super introvert jadi founder komunitas dengan member ratusan ๐Ÿ˜….

***

Jadi, sesungguhnya awal penyebab saya beli buku ini adalah karena nama buku Edward de Bono yang judulnya How to Have a Beautiful Mind. Saya ingin beli karena sejujurnya saya ingin sekali mengajarkan cara berpikir kepada orang lain, terutama anak saya. Biar saya bisa menularkan rasa curiosity kepada mereka, gitu lah. Ketika mau beli buku itu, kalau tidak salah ada tulisan yang mengatakan bahwa konsep 6 topi berpikir harus sudah dipahami dulu. Maka saya belilah buku ini.

Singkatnya, metode enam topi yang dibahas di buku ini adalah sebuah teknik sederhana yang sangat efektif berdasarkan ragam cara berpikir otak. Kecerdasan, pengalaman, dan pengetahuan yang dimiliki setiap orang dimanfaatkan guna mencapai kesimpulan-kesimpulan yang tepat dengan cepat. Demikian sinopsis di bagian belakang buku menjelaskan. Lalu, bagaimana pengalaman saya membaca bukunya?!


Kita mulai dari Pengantar. Saya akan menuliskan kembali bagian-bagian yang saya highlight dan mungkin akan saya bahas kemudian. Berpikir adalah sumber daya manusia yang mendasar. Begitu saya membaca kalimat itu, rasanya bahagia sekali. Dan kalimat-kalimat berikutnya menjelaskan bahwa manusia pada umumnya selalu berpikir untuk berusaha menjadi lebih baik. Hanya manusia rendahan yang merasa bahwa tujuan berpikir adalah untuk mendapatkan pembenaran. Nah, kesulitan utama dari berpikir adalah kebingungan. Kita berusaha melakukan terlalu banyak secara bersamaan. Merasa relatable nggak kalimatnya?! Enam topi berpikir ini mengajarkan kita untuk memisahkan emosi dari logika, kreativitas dari informasi dan seterusnya. Pokoknya keenam topi berpikir ini memungkinkan kita untuk mengatur pemikiran kita layaknya seorangg konduktor memimpin sebuah orkestra.

Baru satu halaman lewat, sudah ada catatan khusus untuk si topi hitam. Katanya, topi hitam adalah topi yang sering disalahpahami. Lho, kok kayak saya?! Padahal topi hitam adalah topi yang paling berharga dan mengenakannya berarti bersikap waspada dan hati-hati. Membaca bagian itu saya langsung curiga, jangan-jangan saya pemilik topi hitam ๐Ÿ˜.

Berlanjut ke bagian Pendahuluan, di sinilah mulai dijelaskan tentang maksud dari enam topi berpikir. Dengan pengantar sejarah tentang awal mula pemikiran Barat dan logika berpikir, dijelaskan bahwa nilai dari topi sebagai sebuah simbol adalah menyatakan peran. Topi-topi adalah arah, bukan penjabaran. Ketika pemimpin rapat mengatakan, "Saya ingin topi merah dipakai untuk hal ini." berarti kita membutuhkan perasaan, intuisi, dan emosi terhadap situasi tersebut. Atau ketika dikatakan, "Mari kita mengenakan sebentar topi berpikir putih di sini." berarti semua harus berfokus pada informasi.

Penjabaran berurusan dengan apa yang telah terjadi. Sementara arah berurusan dengan apa yang akan terjadi. "Saya ingin Anda melihat ke arah timur" sangat berbeda dengan "Anda telah melihat ke arah timur." Ada godaan sangat besar untuk menggunakan topi-topi guna menggambarkan dan menglompokkan orang-orang.  Memang, orang-orang mungkin lebih suka satu cara daripada cara yang lain. Meskipun begitu, topi-topi bukanlah kategori orang-orang. (h. 7-8)

Jadi intinya, metode enam topi berpikir adalah meminta semua yang hadir dalam rapat untuk  mengenakan topi tertentu pada waktu yang ditentukan. Sehingga kita bisa memanfaatkan semaksimal mungkin kecerdasan dan pengalaman semua orang.

***

Enam topi memiliki warnanya masing-masing sesuai dengan kegunaannya. Topi putih, netral dan objektif. Topi putih berurusan dengan fakta-fakta dan angka-angka yang objektif.

Topi merah menandakan kemarahan (rasa jengkel), murka, dan emosi. Topi merah memberikan pandangan emosional.

Topi hitam berarti suram dan serius. Topi hitam berarti bersikap waspada dan hati-hati. Ini menunjukkan kelemahan-kelemahan pada setiap gagasan.

Topi kuning berarti cerah dan positif. Topi kuning berarti bersikap optimistis dan mencakup harapan dan berpikir positif.

Topi hijau berarti rumput, tumbuh-tumbuhan, dan pertumbuhan yang subur, berlebihan. Topi hijau menandakan kreativitas dan gagasan baru.

Topi biru berarti tenang, dan juga merupakan warna langit, yang lebih tinggi dari segalanya. Topi biru berurusan dengan kendali, pengaturan dari proses berpikir dan pemakaian topi-topi lainnya.

Kita juga harus mengingat tiga pasang topi;

Putih dan merah
Hitam dan kuning
Hijau dan biru

Penggunaan topi bisa dengan beberapa cara. Apakah terpisah, berurutan, atau dengan cara-cara lain yang disampaikan di dalam buku ini. Menurut saya, jika buku ini dibaca oleh sebuah tim atau orang-orang yang bekerja sama dan mereka bisa berkomitmen untuk melaksanakannya dalam setiap rapat, maka aktivitas rapat bisa jadi lebih efektif. Karena gagasan yang disampaikan dalam buku ini sangat aplikatif.

Setelah buku ini, saya ingin mencoba membaca buku Edward de Bono yang lain; Kursus Lima Hari dalam Berpikir. Saya sudah tidak peduli apakah buku itu nanti akan membahas tentang rapat lagi atau sesuai dengan harapan saya; mengajari kaidah berpikir yang saya bayangkan. Yang jelas, panduan-panduan tersebut saya yakini akan bermanfaat untuk aktivitas sosial saya.

Selera Linguistik

Selasa, 25 Juli 2023

Istilah ini pertama kali saya dengar dari guru Al-Qur'an kami ketika di Ma'had Mahasiswa. Ketika itu, beliau sedang membahas tentang waqaf. Karena sebagian kami belum pernah belajar bahasa Arab sebelumnya, beliau mengatakan bahwa modal paling awal untuk mengenali tempat waqaf bagi orang yang tidak mempunyai pengetahuan bahasa Arab adalah Dzauqul Lughah. Beliau mendefinisikannya dengan 'perasaan berbahasa'. Menghadirkan hati ketika melihat, membaca atau mendengar sebuah kalimat. Tidak hanya menggunakan indera, karena lagipula Al-Qur'an diturunkan untuk hati.

Photo by Debby Hudson on Unsplash

FYI, kami tidak disarankan memakai Al-Qur'an terjemahan atau jenis-jenis Al-Qur'an dengan tools bantuan ketika belajar. Maka saya perhatikan bagaimana teman-teman saya belajar, sampai mereka akhirnya menemukan polanya di mana harus berhenti dan mengulang bacaan. Lalu, saya pun iri. Keirian yang ditertawakan guru kami. Karena saya sudah tahu bahasa Arab dasar, seharusnya tidak perlu iri dengan yang tidak bisa bahasa Arab. Tapi, saya merasa selama ini tidak pernah menggunakan hati ketika tilawah. Hanya berbekal pengetahuan bahasa Arab untuk memahami maknanya. Sementara teman-teman saya, tanpa bisa bahasa Arab justru bisa menghadirkan hatinya hingga mampu mengenali kalimat-kalimatnya dengan tepat.


Sejak saat itu, kehadiran hati menjadi satu hal yang saya wajibkan untuk diri saya. Mungkin karena itulah saya jadi tidak bisa membaca Al-Qur'an dengan cepat, bahkan tidak bisa membaca dengan lirih. Saya perlu bisa mendengar suara saya dengan jelas ketika tilawah, sehingga seringkali malu kalau mau tilawah di tempat ramai seperti kantor atau masjid. Beneran semalu itu, soalnya suara saya bakalan memenuhi ruangan ๐Ÿ˜…. Kan nggak ahsan ya, masa perempuan suaranya membahana?!


Dua tahun kemudian, saya menjadi guru di sekolah. Saya mendapati seorang murid perempuan, yang lancar membaca Al-Qur'annya, dan tepat waqaf-ibtida'nya. Ketika saya tanya apakah dia  belajar bahasa Arab, dijawabnya ,


'hanya yang di sekolah'. Saya sambung pertanyaan,


'Tapi teman-temanmu yang lain tidak punya ketepatan seperti kamu.'


Sambil nyengir dia menjawab, 'pakai perasaan aja, Bu.'


Jawabannya membuat saya mengingat kembali istilah Dzauqul Lughah. 


Fast forward, ketika mengikuti Akademi Al-Quran, Ustaz Herfi kembali menyebut istilah ini dengan frasa Dzauq al-Lughawi dengan definisi yang sedikit berbeda. Mungkin karena konteks materi yang berbeda, maka definisi yang beliau jelaskan pun berbeda. Kalau tidak salah beliau memberi jawaban atas pertanyaan seorang murid, mengenai kemampuan menikmati i'jaz Al-Qur'an jika seseorang tidak mengerti bahasa Arab. Dan jawaban beliau adalah Dzauq al-Lughawi, ketertarikan pada keindahan bahasa.

Photo by Rawan Yasser on Unsplash

Hari ini, tiba-tiba saya teringat lagi pada istilah ini. Lalu menelusuri Google dengan keyword tersebut, dan sebuah blog menarik perhatian saya. Artikel itu berjudul Keindahan Bahasa Arab. Namun di dalamnya penulis menyampaikan bahwa kini bahasa Arab telah rusak, dan salah satu subjudul dalam artikel itu berjudul Rusaknya Dzauq al-Lughawi, yang ketika saya pindahkan teks itu ke Google Translate ternyata bermakna Selera Linguistik


Salah satu bagian paling menarik perhatian saya adalah tulisan berikut;


ู„ูƒู†ู†ุง ู„ู„ุฃุณู ุชูƒูˆّู† ู„ุฏูŠู†ุง ุฌูŠู„ ู„ุง ูŠุฃุจู‡ ุจุงู„ู„ุบุฉ ูˆู„ุง ูŠุชุฐูˆู‚ ุฌู…ุงู„ู‡ุง ูˆู„ุงูŠูุฑّู‚ ุจูŠู† ุงู„ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุฌู…ูŠู„ ูˆุงู„ุชุดุจูŠู‡ ุงู„ุฑุงุฆุน ูˆุจูŠู† ุงู„ูƒู„ู…ุฉ ุงู„ุณุฎูŠูุฉ ุงู„ูุงุฑุบุฉ ุงู„ุชูŠ ู„ุงู…ุนู†ู‰ ู„ู‡ุง ู„ุงููŠ ุงู„ุนุฑุจูŠุฉ ูˆู„ุง ุญุชู‰ ููŠ ุงู„ุนุงู…ูŠุฉ ุงู„ู…ุญูƒูŠุฉ.


ูˆูƒุงู† ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ูƒุฑูŠู… ูŠุชู„ู‰ ุญุชู‰ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุดุฑูƒูŠู† ููŠู‡ุชุฒูˆู† ู„ู‚ูˆุชู‡ ูˆุจู„ุงุบุชู‡ ูˆูŠุณุฏูˆู† ุฃุณู…ุงุนู‡ู… ุญุชู‰ ู„ุงูŠุชุฃุซุฑูˆุง ููŠู‡!! ุญุชู‰ ู‚ุงู„ ููŠู‡ ุงู„ูˆู„ูŠุฏ ุจู† ุงู„ู…ุบูŠุฑุฉ ูˆู‡ูˆ ู…ุดุฑูƒ ( ูˆุงู„ู„ู‡ ุฅู† ู„ู‡ ู„ุญู„ุงูˆุฉ، ูˆุฅู† ุนู„ูŠู‡ ู„ุทู„ุงูˆุฉ، ูˆุฅู† ุฃุณูู„ู‡ ู„ู…ูˆุฑู‚، ูˆุฅู† ุฃุนู„ุงู‡ ู„ู…ุซู…ุฑ، ูˆู…ุงูŠู‚ูˆู„ ู‡ุฐุง ุจุดุฑ )


ู„ูƒู†ู†ุง ุงู„ูŠูˆู… ู†ู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูู„ุง ุชู‡ุชุฒ ู„ุณู…ุงุนู‡ ูˆู„ุงูŠุตู„ู†ุง ุฌู…ุงู„ ูƒู„ู…ุงุชู‡ ูˆุจู„ุงุบุชู‡ ูˆู‚ูˆุฉ ุจูŠุงู†ู‡، ู„ุฃู†ู†ุง ูู‚ุฏู†ุง ุงู„ุฐูˆู‚ ุงู„ู„ุบูˆูŠ ูŠูˆู… ุฃู† ุงุจุชุนุฏู†ุง ุนู† ู„ุบุชู†ุง ุงู„ุฌู…ูŠู„ุฉ ู„ุบุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ุนุธูŠู….


Jika diterjemahkan secara bebas, artinya sebagai berikut;


Sayangnya generasi kita saat ini tidak peduli dengan bahasa, tidak bisa merasakan keindahannya, dan tidak bisa membedakan antara makna yang indah dan perumpamaan yang indah. Dan kalimat-kalimat hampa tanpa makna kini menjadi percakapan sehari-hari.


Padahal Al-Qur'an yang Mulia ketika dibacakan kepada orang-orang musyrik bisa membuat hati mereka terguncang oleh kekuatan dan kefasihannya, sampai-sampai mereka menutup telinga mereka agar tidak terpengaruh olehnya. Hingga Walid bin Mughirah berkata 'Demi Allah, (Al-Qur'an) itu mengandung keindahan. Bagian atasnya berbuah ranum, bagian bawahnya rimbun dengan dedaunan, dan padanya terdapat buah yang manis. Ini bukanlah perkataan manusia.'


Akan tetapi hari ini kita membaca Al-Qur'an, tanpa terguncang demi mendengarnya, tidak memahami keindahan kata-katanya, kefasihan dan kekuatan penjelasannya tidak sampai kepada kita. Karena kita telah kehilangan adz-Dzauq al-Lughawi tepat ketika kita meninggalkan bahasa kita yang indah, bahasa Al-Qur'an.


Saya pikir apa yang dibahas dalam tulisan tersebut juga terjadi pada kita di Indonesia. Beberapa kali saya menyimak Ivan Lanin menyampaikan hal serupa, -walaupun tidak setegas itu- dan sepertinya Nara Bahasa berdiri memang untuk mengembalikan nilai Bahasa Indonesia kepada pemiliknya.


Dalam sebuah postingan, Abun Nada juga pernah membahas tentang pentingnya berbahasa dengan benar dan fasih;


Terus terang, sejak mengetahui bahwa bahasa menjadi salah satu hal paling penting dalam sebuah peradaban saya jadi sangat tertarik pada pembahasannya. Namun sampai saat ini, referensi yang saya dapatkan masih sangat terbatas. Pengalaman saya mengajar sebenarnya sudah menunjukkan bahwa kwalitas generasi saat ini sangat buruk dan kemampuan berbahasa mereka juga memprihatinkan.


Seringkali saya dibuat terkejut ketika anak-anak murid meminta penjelasan atas istilah-istilah yang seharusnya sudah bisa dipahami oleh manusia seusia mereka. Film-film kartun di TV yang dulu berbahasa baku pun sekarang dibuat dengan dibuat dengan percakapan yang lebih kasual. Lebih parah lagi ketika mendengar bagaimana mereka berinteraksi, bahasa yang digunakan benar-benar membuat saya tepok jidat.


Kembali mengutip dari blog di atas, para ulama mengatakan bahwa barangsiapa yang belajar bahasa Arab maka akan melembutkan akhlaqnya. Mungkin, keburukan akhlaq generasi kita saat ini adalah manifestasi dari tidak adanya selera berbahasa dan tidak adanya upaya untuk membangun kecintaan terhadap keindahan bahasa tersebut. Dari muatan pelajaran bahasa Indonesia saja misalnya, anak-anak sekarang tidak lagi diwajibkan menghafal peribahasa-peribahasa lama. Pembahasan karya sastra pun sekadar pengenalan nama sastrawan dan judul-judul karyanya.


Entahlah, mungkin kapan-kapan postingan ini akan berlanjut. Setidaknya, saat ini hanya ini yang ingin saya tulis walaupun ada banyak sampah di kepala. 

Suatu hari, ku tak peduli pada lingkaran itu lagi

Rabu, 12 Juli 2023

Suatu hari, beberapa kenalan di Instagram membagikan postingan Amar Ar-risalah di story mereka. Sebuah postingan reflektif tentang liqo', sebutan untuk halaqah jama'ah tarbiyah yang kini entah sudah berganti jadi apa namanya. Atas dasar kepo yang berlebihan, saya baca juga tulisan itu. Saya akui, dia memang jagoan bikin kata-kata indah yang menyentuh hati.

Intinya, tulisan itu merupakan ajakan kepada orang-orang yang sudah tidak melingkar lagi untuk kembali. Kembali melingkar lagi, mengaji bersama murabbi dan mungkin berjama'ah lagi. Seketika membaca tulisan itu saya bertanya-tanya dalam hati. Dan pertanyaan-pertanyaan itu mau saya tulis di sini sekalian saya mau mengeluh dan mengungkapkan isi hati ๐Ÿ˜Œ.

Photo by Hasan Almasi on Unsplash

Sejak dulu, -dulunya tuh dulu banget, sekitar tahun 2007an waktu awal-awal saya mulai liqo'- ketika mendengar cerita tentang orang-orang yang meninggalkan jama'ah setelah menikah atau lulus kuliah saya tidak pernah terlalu judgemental. Kata salah seorang teman, kemungkinan karena saya dari latar belakang Nahdhiyin yang sudah terbiasa mengaji sejak kecil maka kebutuhan berjama'ah tidak terlalu penting buat saya. Meskipun begitu, saya juga bukan termasuk orang yang meremehkan tarbiyah. Butuh waktu sekitar 2 tahun untuk saya mempelajari Ikhwanul Muslimin sebelum akhirnya memutuskan untuk meminta dicarikan murabbi.

Saya bukan kader rekrutan yang ditemukan para senior kampus lalu terjebak dalam pembinaan wajib mata kuliah agama. Saya membaca Risalah Pergerakan sampai tuntas Syarah Ushul 'Isyrin sebelum dijadikan kader. Setelah menjadi kader pun, saya bukanlah tipe kader yang taat membeo kepada senior. Lagi-lagi, kata seorang teman memang seperti itu tipikal kader yang sudah berwarna ketika bergabung dengan jama'ah tarbiyah.

Ketika memutuskan untuk bergabung, saya tidak melihat jama'ah ini sebagai sebuah bangunan tanpa cela. FYI, saya bergabung ketika masa-masa kader-kader ini masih seperti orang-orang salafi hari ini. Urusan bid'ah dan tidak nyunnah, beberapa kali saya ributkan dengan kakak sendiri. Berkali-kali saya ingatkan para senior-senior dakwah itu untuk belajar Bahasa Arab supaya tidak mempermalukan diri sendiri dan jama'ah. Belakangan saya baru sadar, kalau karakter ndablegnya para senior itu sesungguhnya sudah terlihat dari dulu, sayanya saja yang terlalu naif. Buktinya hampir tiap hari saya beri tahu kalau kaburo maqtan itu tidak ada hubungannya dengan kemunafikan, masiiiih saja dipakai sebagai ungkapan harian.

Ketika sudah masuk kuliah pun, saya seringkali dicurigai sebagai kader yang mbalelo. Ngobrol santai dengan teman laki-laki, salaman dengan dosen laki-laki sampai cium tangan, pasang foto profil di facebook, nggak pakai kaos kaki di rumah meskipun ada tamu, pokoknya hal-hal yang dulu dianggap tabu bagi jama'ah sudah saya lakukan tanpa rasa bersalah. Saya masih ingat ketika ada cerita menyebar tentang seorang akhwat senior yang hampir pingsan di tempat KKN karena bersikeras tidak mau dibonceng teman lelakinya padahal harus menempuh jalan berkilometer, semua kader menjadikannya sebagai bahan tausiyah di lingkaran-lingkaran pekanan itu. Sekian tahun kemudian, ketika Gojek merajalela beberapa kali saya berpapasan dengan beliau menggunakan jasa Goride di jalan ๐Ÿ˜.

Photo by Rizal Hamzah on Unsplash

Jadi mengapa saya dulu memutuskan untuk bergabung? Karena saya melihat harapan. Orang-orang yang tidak terlalu paham agama -ini yang di sekitar saya, ya...- tapi semangat sekali mengamalkannya. Mereka masih belajar, tapi ruh dakwahnya membara sampai-sampai saya yang sudah ngaji sejak kecil kadang merasa malu melihat semangat mereka. Apalagi setelah membaca buku-bukunya, saya kemudian berpikir kalau sepertinya memang jama'ah yang ini lebih sesuai untuk saya.

Begitu bergabung, saya lompat kelas. Langsung bergabung membina ROHIS SMA di Bandar Lampung bahkan mengisi beberapa kajiannya. Ya mau bagaimana lagi, ada label jebolan pesantren nancep di jidat jadi harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, kan?! Kelompok lingkaran otomatis bukan dengan anak-anak baru. Meskipun teman-teman saya seumuran, tapi mereka adalah anak-anak yang terbina sejak masuk SMP dan jadi pengurus inti di lembaga dakwah sekolah masing-masing. Bicara soal strategi dakwah dan jama'ah sudah jadi bahasan wajib setiap pekan. Bahkan bahasan tentang partai pun sudah biasa buat kami, padahal ada yang masih dibawah 17 tahun usianya.

Menjalani hari-hari bersama dalam lingkaran dakwah tarbiyah sangat tidak mudah. Setidaknya itu yang saya pahami dari orang-orang yang memilih keluar. Bukan hanya karena amanah dan tuntutan komitmen yang berat, tapi juga karena orang-orangnya yang ternyata tidak mudah untuk diajak berjama'ah. Ironi sekali, kan?! Dulu saya pikir, kondisi dakwah kampus saja yang bermasalah. Tapi ternyata sedikit demi sedikit saya amati, memang ada yang aneh dengan jama'ah ini.

Photo by Edho Pratama on Unsplash

Mari mulai dari konflik. Seingat saya, keributan internal itu mulai saya rasakan di tahun 2010. Saat itu saya baru pulang dari Jogja, dan mendapati bahwa ternyata teman-teman yang dikirim ke Jogja bersama saya adalah kader-kader 'bermasalah'. Mereka dikenal sebagai kader pemberontak yang disinyalir sedang melakukan 'gerakan' bawah tanah yang dicurigai akan merusak tatanan dakwah di kampus. Memang kalau dipikir-pikir, keikutsertaan saya ke Jogja waktu itu cukup aneh. Dari 7 orang mahasiswa dari Lampung yang lulus sertifikasi kader, cuma saya sendiri yang dari IAIN. Dan karena 6 orang lainnya adalah kader calon blacklist, tentu saja saya jadi pantas juga dicurigai.

Usut punya usut, ternyata 6 orang kader itu hanya ingin melakukan pembaruan di kampus. Menurut mereka cara kader dakwah menjalankan pemerintahan kampus sudah sama saja dengan orang lain. Tidak demokratis. Dan karena saya berteman dengan kedua pihak, maka saya konfirmasi ke pihak lain. Dari sisi lain, mereka dianggap tidak paham dengan metode dakwah. Namun yang membuat saya akhirnya memihak mereka adalah cara para senior itu memperlakukan mereka. Tiba-tiba mereka diblacklist dari daftar kader, tidak diizinkan liqo' dan diboikot. Gila!

Dari kejadian itu, rentetan kejadian lain mulai bermunculan. Prahara paling besar memang terjadi di kampus Unila dan saya yang waktu itu kuliah di IAIN tidak terlalu mau tahu. Lagipula karakter kader di IAIN memang tidak terlalu terpengaruh dengan kebijakan jama'ah. Lagi-lagi, alasannya karena kebanyakan kader-kader di kampus IAIN adalah orang-orang yang tidak buta agama sehingga untuk mengenalkan mereka dengan gerakan atau manhaj dakwah tertentu akan terlalu beresiko terhadap jalannya proses kaderisasi. Little did I know, saya adalah kader yang paling diwaspadai karena saya bersahabat sangat dekat dengan kader terbaik kampus. Para senior sangat khawatir saya akan mempengaruhi pemikiran si kader ini dan membuat rusak sistem dakwah kampus. Dari mana saya tahu? Beberapa hari sebelum sahabat saya ini pulang kampung karena ternyata lulus tes CPNS, dia ceritakan semua dugaan buruk sangka dari para senior yang pernah disampaikan ke dia. Ternyata, salah satu hal yang membuat dia mau bersahabat dengan saya adalah rasa penasaran pada gosip tentang saya yang dia dengar sejak saya masuk kampus ๐Ÿ˜.

Tidak lama sejak kejadian itu, kelompok liqo' saya dirombak dan tebak.... ternyata yang dirombak cuma saya sendiri. Yes, saya berada dalam kelompok liqo' yang pembahasan pekanannya adalah tentang strategi dakwah kampus. Dan ternyata adanya saya di kelompok itu hanya karena sahabat saya ini yang meminta. Karena pemikiran saya dibutuhkan, maka permintaan itu dikabulkan. Tapi setelah sahabat saya ini pergi, mereka tidak mau lagi mengambil resiko berdebat dengan saya setiap kali rapat atau liqo' karena mungkin tidak akan ada lagi penengahnya. Dari mana saya tahu, teman liqo' saya yang menyampaikan. Setelah saya tidak lagi menjadi anggota kelompok liqo' itu tidak ada perubahan anggota liqo'. Tidak ada anggota baru yang masuk, padahal pekan sebelumnya murabbi kami bilang kalau ini adalah perombakan rutin dan kami bahkan sampai tukar kado. ๐Ÿ˜‚

Photo by Tim Mossholder on Unsplash

Saya tidak pernah ambil pusing dengan hal-hal itu. Jujur, sejak awal bergabung dengan jama'ah tarbiyah saya tidak pernah menganggap mereka yang ada di dalamnya adalah orang-orang yang istimewa. Saya selalu memandang mereka seperti muslim lainnya, dan tentu saja masih banyak muslim yang lebih baik dari mereka. Mengapa saya harus sampaikan seperti ini? Karena ada tendensi ujub yang saya rasakan dari kader-kader yang berada dalam jama'ah ini. Perasaan menganggap orang yang tidak bersama mereka adalah orang yang tidak mendapat hidayah, atau orang yang memusuhi mereka adalah orang yang belum terbuka hatinya. Pernah dengar kalimat, "dia baik orangnya, tapi sayang jilbabnya masih kecil..." Dan kembali ke peristiwa pembuangan saya, sejujurnya tidak masalah bagi saya. Masalah baru muncul ketika ternyata saya menikah dengan salah satu pimpinan kader kampus ๐Ÿ˜†.

Saya tidak akan cerita tentang tragedi pernikahan, karena ini menyangkut suami saya jadi saya harus menjaga nama baiknya -tsaaaah-. Tapi yang jelas, pernikahan kami bukanlah pernikahan yang diharapkan oleh para petinggi dakwah kampus. Kebetulan kami akhirnya menjadi guru sekolah, maka ada alasan untuk menonaktifkan kami dari dakwah kampus. Saya dipindahkan kelompok liqo'nya ke kelompok yang tidak aktif ๐Ÿ˜ dan suami diminta untuk fokus pada dakwah sekolah. Dan suami saya adalah kader paling loyal yang pernah saya lihat, dia jalankan amanah baru itu dengan sungguh-sungguh sampai akhirnya sekarang saya tahu dia sudah masuk ke dalam barisan kader paling penting. Ada istilah untuk kelompok mereka tapi tidak akan saya sebutkan namanya karena -really- kader jama'ah tarbiyah ini penakut sekali.

Berpindah liqo' dari kampus ke dunia kerja membuat saya melihat ketidakteraturan dalam pembinaan jama'ah tarbiyah terhadap kader-kadernya. Terhitung sejak tahun 2013 sampai 2023 ini, saya baru 4 kali berganti murabbi. Padahal normalnya, kelompok liqo' itu ganti tiap tahun. Selain itu, selama 10 tahun agenda pekanan tidak pernah berjalan normalnya kegiatan liqo' yang saya kenal. Entah untuk alasan apa, saya merasa kader-kader yang tidak masuk dalam lingkaran partai tidak mendapat perhatian layaknya kader yang bisa dimanfaatkan untuk partai. Darimana saya bisa dapat kesimpulan itu? Karena sekarang saya mulai masuk ke dalam pembinaan partai, tanpa izin saya. Mungkin suatu saat ketika saya mulai menolak tugas-tugas partai, saya akan dipindahkan lagi?! Who knows.

Bisa dibilang, berada dalam kelompok kader-kader yang aktif dengan kegiatan partai cukup mengobati kerinduan saya pada kegiatan liqo' yang dinamis. Materi yang disampaikan juga lebih terstruktur. Dan ini membuat saya bertanya-tanya, mengapa di kelompok liqo' yang anggotanya bukan kader partai suasana ilmiahnya sama sekali tidak terasa? Bahkan murabbinya pun seperti tidak punya energi untuk membina? 10 tahun saya berganti-ganti teman liqo', tidak sekalipun saya merasa ada diskusi menarik tentang materi yang disampaikan atau encouragement dari murabbi untuk mengajak kader belajar Islam.

Lalu apakah di kelompok kader partai kondisinya lebih baik? Tidak juga sebenarnya. Sama saja, tidak ada encouragement dari murabbi untuk mengajak kader belajar Islam lebih jauh. Hal-hal yang fundamental biasanya hanya disampaikan lewat agenda-agenda besar seperti seminar online tapi tidak ada follow up di liqo'. Tapi mungkin itu bukan salah sistemnya. Mungkin hanya kondisi kadernya saja yang memang jumud, sampai-sampai di usia sudah hampir 30an banyak yang masih belum pernah mendengar tentang hadits-hadits yang cukup umum. Padahal dia sudah lama ngaji. Pun ketika ada diskusi di liqo' pandangan-pandangan mereka masih dilandasi sudut pandang yang sangat sempit. Karakter ujub dan menganggap diri lebih utama dibanding kelompok atau manhaj lain membuat jama'ah tarbiyah kekurangan sumber belajar karena mereka tidak punya ustadz rujukan. Tradisi ilmiah pun kurang berjalan karena imbas dari hal sebelumnya, referensi bacaan para murabbi pun terbatas dan kemampuan membaca konteks sebuah dalil jadi sangat terbatas juga. Seringkali saya merasa putus asa ketika dalam kajian sebuah ayat dicomot seenaknya untuk menguatkan tugas tertentu yang padahal tidak ada hubungannya. Saya melihat kader-kader di jama'ah ini seperti orang-orang kebingungan yang patuh saja pada penggembalanya.

Masih banyak yang bisa diceritakan untuk mengungkapkan kekecewaan saya pada lingkaran ini. Tapi sepertinya jadi kurang baik, karena seolah-olah saya malah membuka aib sendiri. Dan mengapa saya masih saja bertahan di sini? Sejujurnya karena suami saya. Mungkin kalau suami saya bukan suami saya yang sekarang, mungkin saya sudah meninggalkan lingkaran itu sejak lama. Alasan kedua adalah karena saya sudah tidak memandang lingkaran itu dengan kacamata yang lain. Kalau dulu saya hadir di lingkaran sebagai sebuah komitmen seorang muslim dan tentara Allah, sekarang saya hadir untuk menjalin silaturahim dengan sesama muslim. Saya butuh bersosialisasi dengan manusia yang bisa saya jabat tangannya. Selebihnya, saya tidak peduli lagi. Mungkin tulisan saya ini terasa sangat arogan, tapi sungguh saya merasakan arogansi yang luar biasa dari sistem jama'ah ini yang tidak bisa saya pahami. Mungkin, suatu saat jika ruh dakwah bisa kembali saya rasakan dari lingkaran itu saya akan hadir dengan semangat yang seperti dulu lagi. Untuk saat ini, saya hanya akan menjalaninya sedemikian adanya.

Dear Diary, I have so much to tell you

Rabu, 05 Juli 2023

 


Dear diary, I have so much to tell you. Begitu banyak hal yang telah terjadi sejak terakhir kali saya duduk dan mulai menuliskan apa yang saya rasakan. Ada begitu banyak cerita yang belum pernah saya bagikan kepadamu. Tapi kenapa? Mengapa saya tidak menulis sesuatu yang pribadi di blog saya? Saya tidak benar-benar memiliki jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. Hanya saja, di suatu tempat di sepanjang perjalanan, saya mulai menyadari betapa saya telah menjauhkan diri dari blog saya. Namun, ada satu faktor terbesar yang memainkan peran besar. Dan itu adalah: Hidup saya terasa berantakan. Dan dalam kekacauan itu, I lost myself.


There, saya akhirnya mengatakannya. Sejujurnya, saya merasa seperti kehilangan diri saya sendiri beberapa tahun ini.


Saya tidak menyadarinya pada awalnya, atau setidaknya saya mencoba yang terbaik untuk mengabaikannya sebisa mungkin. Saya terus mengatakan pada diri saya bahwa semuanya masih sama, tidak ada yang berubah dan saya masih bisa mengendalikan semuanya. Saya mati-matian berusaha untuk tetap berada di jalur yang sama, keseimbangan saya yang lama. Itu semua adalah kebohongan yang sangat besar. Dengan semua hal yang terjadi, mustahil bagi saya untuk tetap sama. Bahkan ketika saya berhenti memikirkan pengalaman-pengalaman masa lalu ini, jejak mereka di pikiran saya tidak akan hilang. Saya membawanya ke mana-mana seperti tato di kulit saya. Perlahan-lahan mereka membentuk saya menjadi orang lain, meskipun pada kenyataannya saya masih berpegang pada gambaran diri saya yang lama. Tentu saja, selalu ada saat-saat tertentu yang membuat saya berjalan menyusuri jalan kenangan dan mengenang semua yang terjadi. Namun demikian, saya masih berpikir bahwa semuanya akan kembali normal jika saya terus berjalan. 'Teruslah bergerak maju, jangan menyerah,' adalah sesuatu yang selalu saya katakan pada diri saya sendiri. Di satu sisi, hal ini memang terjadi. Jika kita melihat waktu sebagai suatu hal yang kronologis (chronos, ฯ‡ฯฯŒฮฝฮฟฯ‚), waktu berlalu begitu saja. Berhari-hari, berminggu-minggu, dan bahkan berbulan-bulan. Namun, orang Yunani Kuno juga menggunakan bentuk kedua dari waktu yang disebut kairos (ฮบฮฑฮนฯฯŒฯ‚). Kairos tidak bersifat linier, seperti halnya kronos. Kairos tidak dapat diukur seperti kronos. Kairos digambarkan sebagai suatu periode atau musim, suatu momen dengan jumlah waktu yang tidak pasti di mana suatu peristiwa penting terjadi. Singkatnya, kairos berarti 'saat yang tepat atau tepat'.  Dan jika ada satu hal yang saya yakini, yaitu tidak ada momen dalam hidup saya yang terasa seperti momen yang tepat.


Aku tahu apa yang kau pikirkan. 'Ayolah, dia mungkin overreacting. Dia terlihat begitu teratur dan mengendalikan hidupnya, itu tidak mungkin benar.'


Di satu sisi, kamu benar. Hidup saya tidak berantakan. Saya mengalami beberapa hal luar biasa yang terjadi dan saya merasa beruntung. Saya mendapatkan banyak hal yang oleh orang lain hanya bisa diangan-angankan. Saya tidak mengatakan bahwa semua ini tidak hebat. Namun, ini hanya sebagian dari hidup saya. Bagian lainnya terus bergerak cepat, berubah ke arah yang berbeda dan saya tidak bisa mengikutinya. Di suatu tempat dalam kekacauan semua peristiwa (yang tidak beruntung) yang terjadi pada saya, saya kehilangan diri saya sendiri. Dan hal ini membuat saya merasa tidak memiliki kairos yang tepat dalam hidup saya. Ada sesuatu yang tidak beres. Saya tidak beres.

Photo by pure julia on Unsplash

Sebelum saya membicarakannya lebih jauh, saya perlu membahas sedikit prasangka yang mungkin dimiliki orang tentang saya. Saya biasanya tidak membicarakan topik ini, tetapi penting untuk membicarakannya sekali dan untuk selamanya. Tentu saja, dihakimi oleh orang lain adalah bagian dari pekerjaan yang saya pilih. Bukan berarti saya tidak mengharapkan orang lain memiliki pendapat tentang saya. Saya juga tidak pernah menemukan orang lain yang menghakimi saya sebelumnya. Saya selalu menjadi salah satu dari orang-orang yang tidak pernah bisa menyesuaikan diri dengan orang banyak. Di satu sisi, saya bahkan tidak ingin menyesuaikan diri. Saya hanya tidak mengerti 'maksud' dari menjadi seperti orang lain. Hal ini menyebabkan beberapa orang memiliki pendapat yang cukup keras tentang saya. Namun, hal-hal yang dikatakan beberapa orang tentang saya di belakang saya berada di tingkat yang berbeda. Saya tidak akan membahas apa itu. Apa yang kamu pikirkan tentang saya, positif atau negatif, bukanlah intinya. Itu terserah, dan saya menghormatinya. Namun, banyaknya hal yang dikatakan orang secara terbuka tentang kita, adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kita persiapkan. Tidaklah wajar bagi manusia untuk terpapar dengan begitu banyak opini setiap hari. Dalam kehidupan sehari-hari, orang cenderung menyimpan penilaian mereka untuk diri mereka sendiri. Tapi di belakang, orang merasa tidak ada hambatan untuk menyuarakan pikiran dan perasaan mereka, dan akhirnya mengatakan hal-hal yang tidak akan pernah mereka katakan di hadapan orang tersebut. Meskipun saya cukup percaya diri dengan diri saya sendiri, dan saya tidak membiarkan orang lain memberi tahu saya apa yang harus saya lakukan, selalu ada hari-hari ketika beberapa kata yang mengejutkan dapat benar-benar menjatuhkan. Karena terkadang, itu terlalu berlebihan. Orang-orang tidak menyadari betapa kuatnya kata-kata ini, dan itu sangat menakutkan. Kata-kata bukan hanya sekedar kata-kata. Kata-kata adalah tindakan, yang benar-benar memiliki dampak fisik pada diri kita (ini disebut teori Speech Act dari John Austin). Itulah mengapa kata-kata dapat sangat mempengaruhi perilaku kita dan cara kita berpikir tentang diri kita sendiri. Namun pada akhirnya, hal terbaik yang harus dilakukan adalah mengabaikan hal-hal negatif semacam itu sebanyak mungkin. 


Selain itu, ada juga aspek lain yang saya perjuangkan: orang-orang berpikir bahwa mereka mengenal saya. Melalui cara saya bicara, dan opini yang terbentuk berdasarkan hal itu, orang-orang mulai menciptakan gambaran tertentu tentang saya. Saya harus masuk ke dalam kotak tertentu yang sesuai dengan pandangan mereka, jika tidak, semuanya tidak akan sesuai. 'Berpikir dalam kotak' ini menjadi sangat jelas bagi saya, ketika banyak hal yang berubah dalam kehidupan pribadi saya. Hidup saya berubah dan begitu pula saya.


Oke, maaf untuk sedikit cerita panjang lebar ini. Yang benar adalah: tahun ini merupakan tahun yang sangat sulit bagi saya. Rasanya seperti semua fondasi yang telah saya bangun selama beberapa tahun terakhir runtuh seketika. Hal-hal yang sangat ingin saya capai, sama sekali tidak menarik minat saya.  Mereka memberi saya perasaan canggung yang kadang-kadang kita dapatkan ketika kitaberada dalam situasi yang harus kita hadapi. Orang-orang tertentu yang saya pikir akan selalu berada di pihak saya, apa pun yang terjadi, sekarang terasa seperti teman yang bersahabat. Ini seperti ketika makan makanan favorit di waktu kecil, tetapi rasanya tidak sama. Kita ingat betapa kita menyukai rasa makanan itu ketika masih kecil, tetapi ketika mencicipinya sekarang, rasanya tidak seenak ingatan kita dulu. Keyakinan yang saya yakini sebagai kebenaran saat itu, sekarang tampak seperti lelucon di dalam hati. Alasan mengapa saya kehilangan diri saya sendiri bukan karena perubahan ini. Itu karena saya berpikir bahwa perubahan itu buruk. Fondasi hidup saya tidak runtuh secara acak. Mereka runtuh, karena saya tahu bahwa saya menemukan bahwa mereka tidak benar bagi saya lagi dan saya harus memikirkan sesuatu yang lebih baik. Memilih fokus pada Rahmah Study Club, membuat saya harus menanam mimpip baru dan mengubur yang lama, menerima hubungan saya yang berubah dengan orang-orang dan yang paling penting, menemukan apa yang benar-benar membuat saya bahagia; hal-hal ini membuat saya menyadari betapa pikiran saya telah berubah dan bahwa saya tidak bisa terus berpura-pura menjadi orang yang sama seperti sebelum semua ini. Saya sangat ingin tetap masuk ke dalam kotak yang saya dan orang lain buat untuk diri saya sendiri, sehingga saya berhenti merenungkan apa yang dapat membuat saya bahagia.

Photo by Debby Hudson on Unsplash

Saya merasa masyarakat begitu fokus pada rencana. Apa yang ingin Anda capai dalam 5 tahun ke depan? Apa tujuan hidup Anda yang paling utama? Siapapun mengharapkan Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dalam waktu 0,3 detik. Dan meskipun saya sangat percaya pada pentingnya membuat rencana, saya percaya bahwa kita tidak boleh lupa bahwa rencana hanya akan membawa kita sejauh ini. Kita tidak akan pernah tahu. Itulah mengapa kita bisa membuat rencana hidup, tapi kita tidak bisa merencanakan hidup kita. Jadi saya tidak mengatakan bahwa membuat rencana itu tidak baik, saya hanya mengatakan bahwa merefleksikan mengapa kita ingin mencapai rencana-rencana tersebut akan lebih baik. Hal ini seperti menciptakan gambaran yang lebih besar: Jika kita tahu untuk apa kita hidup, tidak masalah jika kita tidak berpegang teguh pada rencana awal kita.


Rencana bisa menjadi berbahaya jika kita berhenti melakukan refleksi. Mengejar tujuan hanya untuk mencapainya, seperti itulah yang terjadi pada saya. Saya begitu bertekad untuk berhasil dalam tujuan yang saya buat untuk diri saya sendiri, sehingga saya benar-benar lupa untuk bertanya pada diri sendiri apakah rencana-rencana yang terwujud ini akan membuat saya bahagia. Saya kehilangan diri saya dalam kekacauan yang disebut kehidupan ini, karena saya mencari stabilitas untuk mencapai tujuan-tujuan yang saya miliki, bukannya fullfillment. Saya mencoba untuk mematok kehidupan, pikiran, keyakinan dan orang-orang. Saya tidak mengerti bahwa jalan hidup saya mungkin pernah bersinggungan dengan mereka di masa lalu, tetapi kemudian, saya harus bergerak menuju tujuan yang berbeda. Hanya dengan merefleksikan tujuan, impian, dan rencana saya yang sebenarnya, saya menemukan apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup saya. 


Jika ada pesan moral dari cerita ini, saya ingin kamu tahu bahwa kita harus menerima perubahan. Yes, klise memang. Namun, coba pikirkanlah. Meskipun 'perubahan itu baik' adalah salah satu hal yang akan kita dengar berkali-kali dalam hidup, mungkin dari berbagai macam orang yang berbeda, pertanyaannya adalah apakah kita benar-benar memikirkannya dengan tulus. Bagi saya pribadi, saya sama sekali tidak menerima perubahan. Perubahan yang terjadi pada diri saya bertentangan dengan rencana awal saya dan cara saya untuk menemukan keseimbangan dalam hidup saya. Perubahan yang nyata tidak tampak baik bagi saya. Sekarang saya menyadari bahwa saya salah. Perubahan tidak bisa dihindari, dan itu adalah hal yang baik. Tanpa perubahan ini, saya tidak akan pernah mencapai begitu banyak hal, saya tidak akan pernah belajar begitu banyak, dan saya pasti tidak akan pernah berada di tempat yang sama seperti sekarang ini. Dan meskipun saya berharap bahwa beberapa perubahan ini dapat terjadi secara berbeda, lebih anggun, pada akhirnya saya selamat dari semuanya. Dan itu membuat saya menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya.


Jadi di sinilah saya, 2500 tahun kemudian, dengan kata-kata yang sangat pribadi. Semoga ada sesuatu yang bisa dipelajari dari sini atau ada sesuatu tentang hal ini yang mungkin terasa relate denganmu. Jika kamu berada di posisi yang sama dengan saya (kamu menyadari bahwa kamu telah berubah, namun kamu belum ingin berkomitmen pada konsekuensinya, karena itu terasa menakutkan), saya sangat berharap tulisan ini membantu. Saya tahu ada orang yang membaca blog saya, tetapi itu tidak menghentikan saya untuk berbagi pengalaman pribadi. Sejujurnya, saya bahkan tidak bisa membayangkan sebuah ruangan yang dipenuhi oleh ratusan orang, apalagi ribuan orang. Meskipun demikian, jika ada satu orang saja yang bisa saya bantu, saya merasa tugas saya sudah selesai.

Photo by Domenico Loia on Unsplash

Blog ini akan selalu terasa seperti tempat pribadi saya di world wide web: buku harian online saya yang entah mengapa sedang kamu baca saat ini. Mungkin kamu telah mengikuti perjalanan saya selama beberapa waktu. Mungkin kamu baru saja tiba. Atau mungkin kamu hanya sedikit usil dan judul ini membuatmu penasaran (maaf, tidak bermaksud membuatnya terdengar clickbaity dalam hal ini). Bagaimanapun juga: dalam beberapa bentuk, kamu adalah bagian dari hidup saya sekarang. Dan saya ingin berterima kasih untuk itu. Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita saya dan meluangkan waktu berharga dalam hidup Anda untuk membaca tulisan ini. Saya tidak dapat melakukan ini tanpamu.


Menulis akan selalu menjadi gairah utama saya. Sejak saya masih kecil, saya ingin menjadi seorang penulis (bukan putri Disney atau ibu rumah tangga, saya ingin menuliskan cerita). Saya suka membuat video Youtube, saya suka membuat konten visual, tapi tidak ada yang lebih memuaskan saya selain bisa mengekspresikan diri saya dengan kata-kata dan membuat orang lain merasakan kata-kata itu juga. Bahasa sangat kuat, ajaib dan misterius. Semua orang menggunakannya, namun tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana perkembangannya. Itulah yang saya sukai dari hal ini. Namun, saya ingin jujur dengan kalian. Kali ini, saya merasa sangat menakutkan untuk menulis dan mempublikasikan postingan blog ini. Bukannya saya tidak pernah terbuka kepada kalian sebelumnya, tapi kali ini rasanya berbeda. Segalanya berbeda. Benar. Dan itu adalah hal yang baik. Saatnya untuk mengakhiri bab ini sekarang, dan mulai menulis awal dari bab yang baru.


Tulisan asli dari blog Lilylike, saya terjemahkan karena merasa relate dengannya

© Zuzu Syuhada • Theme by Maira G.