Illusory Truth Effect; Mengapa Sesuatu Terasa Benar Padahal Belum Tentu Benar
![]() |
| Photo by Michael Carruth on Unsplash |
Pernahkah kita menemukan sebuah kalimat yang rasanya “sudah pasti benar”, padahal ketika ditelusuri, kita tidak tahu dari mana asalnya? Kalimat itu sering dikutip, dibagikan, diajarkan, bahkan dipakai sebagai dasar berpikir—namun ketika diminta sumbernya, semua orang saling menunjuk.
Fenomena ini bukan sekadar soal kurang teliti. Dalam psikologi kognitif, ada istilah khusus untuk menjelaskannya: Illusory Truth Effect.
Illusory Truth Effect adalah kecenderungan manusia untuk menganggap suatu informasi sebagai benar hanya karena informasi tersebut sering diulang, bukan karena ia telah diverifikasi atau dibuktikan. Semakin sering kita mendengar sesuatu, semakin “masuk akal” ia terasa—bahkan ketika isinya keliru atau belum tentu benar.
Asal-usul Konsep Illusory Truth Effect
Istilah ini pertama kali diperkenalkan dalam penelitian psikologi pada akhir 1970-an. Para peneliti menemukan fakta menarik: pengulangan meningkatkan persepsi kebenaran. Ketika sebuah pernyataan diulang beberapa kali, orang cenderung menilainya lebih benar dibanding pernyataan baru, meskipun keduanya sama-sama tidak diverifikasi.
Yang mengejutkan, efek ini tidak hilang meski seseorang berpendidikan tinggi. Pengetahuan tidak otomatis melindungi seseorang dari Illusory Truth Effect, karena bias ini bekerja di level yang sangat dasar: cara otak memproses informasi.
Mengapa Otak Kita Rentan?
Otak manusia tidak dirancang untuk menjadi mesin pencari fakta yang sempurna. Ia dirancang untuk bertahan hidup secara efisien. Karena itu, otak menggunakan berbagai jalan pintas mental (heuristik) untuk menghemat energi.
Salah satu jalan pintas tersebut adalah familiarity heuristic: sesuatu yang terasa familiar dianggap lebih aman, lebih bisa dipercaya, dan—tanpa sadar—lebih benar.
Ketika sebuah informasi diulang:
- Otak memprosesnya lebih cepat
- Proses ini terasa ringan dan lancar (processing fluency)
- Kelancaran ini kemudian disalahartikan sebagai tanda kebenaran
Padahal, mudah diproses tidak sama dengan benar.
Repetisi Mengalahkan Verifikasi
Masalah utama Illusory Truth Effect bukan pada kebohongan yang disengaja, melainkan pada pengulangan tanpa verifikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, jarang sekali kita berhenti dan bertanya:
- Dari mana ini berasal?
- Apakah ini pernah dicek?
- Siapa yang pertama kali mengatakan?
Sebaliknya, kita sering berpikir:
“Saya sering dengar ini, berarti memang begitu.”
Di sinilah ilusi bekerja.
Bentuk-bentuk Illusory Truth Effect dalam Kehidupan Nyata
Illusory Truth Effect tidak selalu muncul dalam bentuk hoaks besar. Justru ia sering hadir dalam hal-hal yang tampak sepele dan “tidak berbahaya”.
1. Kutipan yang Salah Atribusi
Kalimat-kalimat bijak yang disandarkan kepada tokoh besar—ulama, ilmuwan, tokoh sejarah—tanpa rujukan yang jelas. Karena sering dikutip dan selalu ditempelkan pada nama besar, lama-kelamaan ia dianggap autentik.
Contohnya, kita pasti sering sekali mendengar ungkapan, "Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.” disandarkan kepada Ali bin Abu Thalib radhiyallahu 'anhu.
![]() |
| Sampai jadi judul buku lho |
Nyatanya pernyataan ini tidak pernah ditemukan dalam kitab hadits, atsar yang shahih, ataupun karya beliau yang terdokumentasi -- Nahjul Balaghah, misalnya--. Namun kita sering sekali mendengar kalimat ini diulang-ulang di seminar-seminar parenting, poster dakwah, media sosial, atau buku-buku Islam disertai atribusi -Ali bin Abu Thalib. Lama kelamaan, kalimat ini jadi terasa akrab, "Islami", dan otoritatif. Sehingga otak kita menyimpulkan, "kalau sering dikutip dan dari sahabat besar, pasti benar."
Bias kognitif yang memperkuat ilusi kebenaran di kalimat ini adalah adanya atribusi dari nama besar Ali bin Abu Thalib dan bias konfirmasi dari kalimatnya sendiri yang terdengar benar, dan cocok dengan narasi pendidikan modern. Kedua bias ini membuat kalimat itu sangat kebal terhadap klarifikasi.
Dan karena ungkapan tersebut terdengar indah di telinga, maka orang-orang menjadi defensif terhadapnya. Padahal, jika meskipun sebuah gagasan masuk akal dan terdengar benar tetap tidak boleh disandarkan kepada sahabat Nabi tanpa dalil. Apalagi dalam tradisi keilmuan Islam, mengutip sesuatu yang tidak jelas sumbernya bukanlah hal sepele. Jika ini dibiarkan, maka standar rujukan akan menjadi longgar --dan sudah terjadi--, generasi kita belajar bahwa "yang penting bagus" tidak peduli shahih atau tidak. Sangat bertentangan dengan adab ilmiah, amanah ilmu dan metodologi keilmuan Islam.
2. Diagram dan Infografik Populer
Diagram yang rapi, visual yang menarik, dan penjelasan singkat sering terasa lebih “ilmiah” daripada teks panjang. Padahal, banyak diagram populer tidak pernah berasal dari penelitian akademik.
![]() |
| Source: Freepik |
Siapa yang tidak kenal digram di atas? Semua orang di seluruh dunia mengenal diagram ini sebagai rahasia dan konsep hidup orang Jepang untuk menuju hidup bahagia dan usia yang panjang. Padahal ini adalah reinterpretasi Barat modern yang disederhanakan, lalu disandarkan secara keliru pada budaya Jepang. Namun karena diagram ini diulang, diviralkan terus-menerus maka kepercayaan bahwa "itulah Ikigai" adalah Illusory Truth Effect.
3. Label “Ilmiah” Tanpa Rujukan
Ungkapan seperti “menurut penelitian”, “secara neurosains”, atau “kata para ahli” sering dipakai tanpa kejelasan sumber. Bahasa ilmiah memberi kesan otoritatif, dan repetisi mengunci kesan tersebut. Yang terbaru tentu saja adalah ramainya pembicaraan para Psikiater dan Neuroscientist yang mengkritisi Dr. Aisah Dahlan.
![]() |
| Source here |
Namun contoh yang ingin saya bahas di sini adalah modalitas belajar. Mitos terbesar di dunia pendidikan menurut penelitian dalam video ini. (Ternyata sekarang sudah ada 4 gaya belajar, lho 😆) Kita pasti sudah sangat familiar dengan teori ini, dan akhirnya guru yang jadi korban karena dituntut untuk mencocokkan materi pelajaran ke modalitas itu. Bayangkan bagaimana cara mengajar pelajaran olahraga kepada murid yang modalitas belajarnya membaca dan menulis seperti saya?!
Meskipun teori ini sama sekali tidak ada landasan ilmiahnya, namun sering diajarkan di pelatihan guru, modul pedagogik populer, workshop pendidikan bahkan buku-buku. Padahal tidak ada bukti ilmiah bahwa mengajar sesuai gaya belajar individu bisa meningkatkan hasil belajar. Sebaliknya, ternyata justru muridlah yang harus memiliki agilitas belajar demi menghadapi tantangan-tantangan dalam proses pendidikannya.
Jadi, mengapa mitos ini sangat mudah dipercaya? Karena selalu dibungkus dengan istilah 'neuroscience', 'psikologi kognitif', 'cara kerja otak', dll serta didukung oleh repetisi institusional. Bukan hanya tersebar melalui sosial media, bahkan orang-orang yang seharusnya paling kritis terhadap teori-teori asing pun justru menjadi penyebarnya. Teori ini masuk kurikulum pelatihan guru, diajarkan oleh instruktur, tertulis di modul resmi (termasuk RPM saya 😒), dan terus diulang oleh lintas generasi pendidik. Dan narasi-narasi seperti inilah bentuk Illusory Truth Effect yang paling sulit dihentikan.
Masih banyak lagi contoh label-label ilmiah tanpa rujukan yang bertebaran di sekeliling kita. Seperti teori otak kanan - otak kiri, otak laki-laki vs. perempuan, bahasa cinta, yang semuanya sebenarnya sudah dibantah dengan penelitian-penelitian yang terbukti secara ilmiah tidak benar adanya.
4. Narasi Budaya dan Agama
Kalimat yang diawali dengan “dalam Islam…”, “menurut tradisi kita…”, atau “orang-orang dulu mengajarkan…” sering diterima tanpa ditanya dalil atau konteksnya. Identitas dan emosi mempercepat penerimaan. Contoh yang paling awal pernah saya dengar adalah narasi tentang menjadi perempuan yang patuh dan tunduk pada suami. Ungkapan ini bukan hanya narasi budaya, tapi beririsan kuat dengan narasi agama, sehingga saling menguatkan dan tampak alami, sakral, dan tak terbantahkan.
Padahal narasi 'perempuan Indonesia yang lembut dan patuh' bukanlah deskripsi sejarah, melainkan standar normatif tentang bagaimana perempuan seharusnya. Jika kita lihat sejarah Indonesia secara serius, ada banyak sekali tokoh sejarah perempuan yang tampil sebagai pemimpin. Mereka bernegosiasi dengan kekuasaan, mengambil keputusan strategis, sering keras, tegas, dan politis. Variasi budaya yang luas juga menunjukkan bahwa ada beberapa daerah yang menganut tradisi matrilineal, dan menganut sistem adat yang memberi perempuan otoritas ekonomi. Namun karena berbagai alasan --kolonialisme & hasrat dominasi laki-laki-- maka narasi ini terus diperkuat bahkan menggunakan legitimasi agama untuk mempertahankannya.
Nilai-nilai seperti adab, akhlak, ketenangan, kasih sayang, disempitkan maknanya khusus untuk perempuan lalu diterjemahkan sebagai;
Lembut = patuh
Patuh = tidak membantah
Narasi ini bertahan karena perempuan diajarkan untuk percaya bahwa itulah satu-satunya cara menjadi baik. Dalam ceramah dan buku populer, yang ditonjolkan selalu figur perempuan yang sabar, taat, dan tidak konfrontatif. Sementara figur perempuan kritis, berdebat, atau mengambil keputusan publik jarang dibahas, atau "dilunakkan" narasinya. Seolah perempuan hanya boleh memiliki nilai-nilai taat dan tunduk. Padahal nilai-nilai Islam ini tidak eksklusif gender. Laki-laki juga diperintahkan berakhlak, santun, dan adil.
5. Versi Singkat Mengalahkan Versi Benar
Penjelasan panjang, penuh konteks, dan bersyarat sering kalah viral dibanding satu kalimat ringkas. Yang sering diulang akhirnya menang, meski tidak utuh.
Peran Media Sosial dan Algoritma
Di era digital, Illusory Truth Effect tidak lagi menyebar secara organik saja—ia dipercepat oleh sistem.
Algoritma media sosial bekerja dengan prinsip pengulangan:
- Konten yang sering dilihat akan ditampilkan kembali
- Konten serupa akan terus direkomendasikan
- Ide yang sama muncul dalam kemasan berbeda
Akibatnya, seseorang bisa merasa:
“Saya melihat ini di mana-mana.”
Padahal yang terjadi bukan karena semua orang sepakat, tetapi karena sistem memperkuat paparan yang sama.
Mengapa Koreksi Jarang Menang?
Salah satu alasan Illusory Truth Effect bertahan lama adalah karena koreksi kalah menarik.
Koreksi biasanya:
- Lebih panjang
- Lebih kompleks
- Tidak emosional
- Tidak mudah divisualisasikan
Sebaliknya, klaim sederhana:
- Mudah dibagikan
- Mudah diingat
- Mudah diulang
Dalam ekosistem seperti ini, diamnya orang yang tahu sering kali lebih berpengaruh daripada ramainya orang yang salah.
Dampak Jangka Panjang
Jika dibiarkan, Illusory Truth Effect bisa:
- Menurunkan standar berpikir kritis
- Mengaburkan batas antara opini dan fakta
- Membentuk “pengetahuan umum” yang rapuh
- Mengikis amanah ilmiah dalam pendidikan dan dakwah
Yang lebih berbahaya, ia menciptakan generasi yang terbiasa berkata:
“Yang penting niatnya baik,”
bukan
“Apakah ini benar dan bisa dipertanggungjawabkan?”
Bagaimana Menghadapinya?
Illusory Truth Effect tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi bisa diredam.
Beberapa langkah sederhana namun penting:
- Biasakan bertanya “dari mana asalnya?”
- Bedakan antara makna yang baik dan atribusi yang benar
- Jangan mengulang klaim hanya karena terdengar bagus
- Ajarkan verifikasi sebagai adab, bukan kecurigaan
- Sadari bahwa sering mendengar bukan berarti benar
Tanggung Jawab Moral dalam Mengulang Informasi
Setiap kali kita mengutip, membagikan, atau mengajarkan sesuatu, kita tidak hanya menyampaikan informasi—kita sedang membentuk persepsi kebenaran orang lain.
Illusory Truth Effect mengingatkan kita pada satu prinsip penting:
Tidak semua yang familiar itu benar, dan tidak semua yang benar itu familiar.
Di era banjir informasi, integritas intelektual bukan lagi soal seberapa banyak yang kita tahu, tetapi seberapa jujur kita pada sumber, konteks, dan batas pengetahuan kita sendiri.
Referensi
Hasher, L., Goldstein, D., & Toppino, T. (1977).
Frequency and the conference of referential validity.
Journal of Verbal Learning and Verbal Behavior, 16(1), 107–112.
Dechêne, A., Stahl, C., Hansen, J., & Wänke, M. (2010).
The truth about the truth: A meta-analytic review of the truth effect.
Personality and Social Psychology Review, 14(2), 238–257.
Fazio, L. K., Brashier, N. M., Payne, B. K., & Marsh, E. J. (2015).
Knowledge does not protect against illusory truth.
Journal of Experimental Psychology: General, 144(5), 993–1002.
Pennycook, G., Cannon, T. D., & Rand, D. G. (2018).
Prior exposure increases perceived accuracy of fake news.
Journal of Experimental Psychology: General.
Kahneman, D. (2011).
Thinking, Fast and Slow.














.jpeg)






.jpg)
