SLIDER

What I'm thinking
Tampilkan postingan dengan label What I'm thinking. Tampilkan semua postingan

Ketika hanya Dia yang tahu apa yang terbaik untukmu

Rabu, 29 Mei 2024

Tulisan kali ini terinspirasi Tuesday Love Letter edisi Rabu, 8 Mei 2024.

Lebaran ini adalah kedua kalinya saya ke Padang, dan sebagai orang goa saya paling nggak bisa menceritakan pengalaman perjalanan dengan baik karena saya belum pernah menikmati perjalanan. Bagi saya travelling itu susah banget. Susah karena sholatnya repot, susah karena makan jadi nggak enak, dan banyak alasan-alasan lain yang bikin saya selalu berusaha menghindari ajakan jalan ke luar.

Lalu hari ini ketika membuka email, Love Letter dari Aida menceritakan tentang pelajaran yang dia dapat ketika travelling selama Ramadan dan Idul Fitri yang lalu. Setelah membaca email itu, saya merasa perlu untuk menuliskannya kembali untuk jadi pengingat diri dan refleksi.

1. Jalan yang dipilihkan Allah selalu terbaik

Photo by Tamas Tuzes-Katai on Unsplash

Dua kali ke Padang, dua kali juga kami berbekal Google Maps sebagai penunjuk jalan. Lebaran tahun lalu, kami lewat jalan yang menyeramkan di Sumatera Selatan yang bikin kami deg-degan karena sepanjang jalan hanya ada kebun sawit dan hutan. Beberapa kali melewati jembatan yang kondisinya kurang baik, dan sempat nyasar ketika sudah sampai di Padang. Sementara lebaran tahun ini, kami mencoba memilih jalan yang agak berbeda, karena pada dasarnya memang banyak pilihan jalan menuju ke Padang. Kali ini tidak ada hutan dan dan kebun sawit, tapi justru kami harus istirahat lebih awal di Sumatera Selatan karena hujan yang mengguyur sangat deras dan anginnya sangat kuat. Dua kali kami melewati mobil kecelakaan sehingga kami memutuskan untuk istirahat di masjid saat tengah malam dan baru melanjutkan perjalanan setelah subuh.

Saya ke Padang numpang mobil kakak ipar. Buat mereka, ini adalah ketiga kalinya ke Padang dan memang selalu berbekal Google Maps. Dan katanya, selama tiga kali ke Padang jalan yang dilalui selalu berbeda walaupun semuanya adalah pilihan Google Maps. Dan masing-masing jalan mempunyai scenery masing-masing. Kami yakin kalau masih ada jalan lain lagi yang bisa dilalui untuk menuju arah yang sama, tapi pilihan-pilihan yang dibuat Google Maps selama ini tidak pernah salah. Kami jadi rombongan yang paling awal sampai dibanding mobil lainnya karena mereka nggak mau pakai Google Maps dan memilih untuk bertanya sepanjang jalan kalau kesulitan dan akhirnya terjebak macet.

Jika dianalogikan dengan perjalanan hidup kita, bukankah Allah sudah menyiapkan Maps dengan pilihan-pilihan jalannya untuk kita?! Sebenarnya kita tinggal mengikutinya dan memilih jalan mana yang ingin kita tempuh, toh semuanya mengarah pada surga yang sama. Tapi masih ada saja orang-orang yang tidak percaya pada panduan itu, dan memilih untuk memikirkannya sendiri dengan akalnya yang terbatas dan akhirnya kebingungan dan mencari jawaban lewat orang lain yang sama bingungnya. Coba bayangkan, kita bertanya ke mana arah jalan ke Padang kepada orang random yang kita temui di pinggir jalan sementara orang itu sendiri belum pernah ke Padang atau mungkin lebih parah --nggak tahu mana timur dan barat--? Hal itu benar-benar kejadian ketika sedang jalan-jalan sore di dekat rumah saudara kami, dan karena saya bukan orang sana maka saya nggak bisa memberi jawaban. Bayangkan kalau waktu itu saya iseng dan memberikan jawaban ngawur? Bisa saja orang yang bertanya itu akan tersesat.

2. Apakah kita terlalu cepat atau terlalu lambat?

Waktu tempuh kami kali ini sekitar 30 jam, lebih lama 4 jam dibanding tahun lalu. Jika sesuai petunjuk Google Maps, waktu tempuh normal dari Lampung ke Bukittinggi mestinya sekitar 24 jam. Namun karena memang arus mudik-balik lebaran kali ini cukup ramai dan kondisi cuaca yang seperti itu, wajar saja waktu tempuh jadi melambat. Tapi apalah artinya berjalan cepat jika mempertaruhkan keselamatan diri? Dalam pepatah kita tentu sering mendengar, 'alon-alon asal kelakon' atau 'biar lambat asal selamat, tak kan lari gunung dikejar'. Dan yang penting, memang seperti itulah rencana Allah untuk kami.

Dalam hidup kita tidak berhak sama sekali untuk menentukan waktu tempuh seseorang dalam mencapai sebuah tujuan. Karena sejatinya waktu adalah milik Allah. Kita semua hidup dan berjalan dalam waktuNya. Bahkan ketika berangkat bersama beriringan sekalipun, 2 kendaraan tidak akan sampai tujuan pada waktu yang sama. Salah satu harus mengalah agar bisa melalui jalan yang tersedia. Pada akhirnya tujuan utama manusia adalah mencapai tujuan yang sudah Allah tetapkan untuk dirinya. Dan Ia tidak pernah terlambat, pun terlalu cepat dalam menetapkan takdir hambaNya.

3. Siapa teman dalam perjalananmu?

Seringkali perjalanan menjadi menyenangkan bukan karena tujuannya, tapi dengan siapa kita melakukannya. Pergi dengan orang yang sudah berpengalaman tentu akan lebih menenangkan dibanding sendirian. Atau dalam pengalaman saya, pergi dengan orang yang lebih open-mind dan sevisi membuat perjalanan menjadi lebih nyaman. Salah satu hal yang membuat saya malah bepergian adalah susahnya shalat di jalan. Apalagi kalau menyewa mobil/sopir, biasanya susah untuk bernegosiasi soal waktu istirahat. Itu yang terjadi dengan mobil rombongan lain, mereka terlambat bukan hanya terjebak macet tapi juga karena sopirnya terlalu lama beristirahat ketika tidur. Sementara kami memilih untuk memaksimalkan waktu pada jam-jam makan dan shalat. Istirahat siang pada waktu shalat Dzuhur sekalian makan siang, istirahat malam menyesuaikan kapan waktu kami lapar sekaligus shalat jama'. Dan yang paling penting, kami harus dalam kondisi santai ketika shalat subuh, sehingga kami memilih untuk tidak melakukan perjalanan malam terlalu lama. Jam 3 pagi maksimal, kami harus sudah menepi di masjid untuk tidur sampai subuh, dan jam 6 pagi baru melanjutkan perjalanan.

Demikian juga, perjalanan kita dalam hidup mestinya ditemani dengan orang-orang yang satu visi. Teman yang akan selalu mengingatkan ketika kita salah jalan, memberi masukan, mendukung pilihan-pilihan atau bahkan memahami candaan dan selorohan recehan kita.

Semoga kita berhasil menemukan teman-teman itu, dan tidak melepaskannya ketika telah bersama dengan mereka. Semoga Allah mengaruniakan kesabaran seluas samudra bagi orang-orang yang memilih bersama orang-orang shalih dalam perjalanan hidupnya.

--


Ramadhan yang tak terlihat

Sabtu, 09 Maret 2024

Ramadhan sebentar lagi tiba. (sambil nyanyi-nyanyi marhaban tiba, marhaban tiba, marhaban tiba) ๐ŸŽค

Pagi ini saya buka email dan  beberapa subscription mengirim notifikasi blogpost dengan tema yang sama; menyiapkan anak menyambut Ramadan. Keduanya memberi saran dan perspektif yang bagus, seperti biasanya. Tapi kemudian saya mengenang masa-masa kecil dan pengalaman pribadi saya selama Ramadhan, lalu bertanya-tanya dalam hati "hubungan apa yang saya miliki dengan Ramadhan ketika masih kecil? Apa yang membuat bulan ini istimewa bagi saya yang masih anak-anak? Apakah itu mempengaruhi diri saya setelah dewasa?"

Photo by Rachael Gorjestani on Unsplash

Pertanyaan-pertanyaan itu makin menguat karena memang belakangan perbincangan parenting makin simpang siur, terutama di kalangan orang tua muslim. Saya sebagai orang tua apa adanya, selalu jadi penonton setiap ada dialog-dialog mengenai pendidikan agama diangkat disetiap obrolan grup atau komunitas. Bahkan kalau ada postingan Instagram tentang parenting, saya selalu rajin menyimak kolom komentar hanya demi memantau respon para orang tua dan cerita-cerita mereka. Tidak jarang perdebatan mana yang benar dan salah membuat keributan makin menarik disimak.

Tentang Ramadhan, sejak kecil saya tidak pernah merasakan ada penyambutan yang luar biasa di rumah. Justru perayaan menyambut Ramadhan itu saya rasakan sebagai komunitas masyarakat. Tradisi saling mengirim makanan dan menabuh bedug seharian menjelang malam Ramadhan menjadi momen paling saya tunggu setiap tahun. Tidak ada aktivitas membersihkan rumah apalagi dekorasi ulang, justru perhatian kami terpusat pada masjid. Anak-anak akan berkumpul di masjid dan mencuci lantai masjid (literally mencuci pakai deterjen dan main plesetan di dalam masjid) serta membersihkan apapun yang bisa dibersihkan pagi hari menjelang Ramadhan.

Pengalaman puasa pun tidak saya anggap istimewa. Satu hal yang mungkin agak berbeda bagi saya adalah bahwa saya tidak diwajibkan berpuasa oleh orang tua sampai saya mau sendiri berpuasa. Seingat saya, yang agak galak nyuruh saya puasa itu kakak. Saya pernah dimarahi ketika ketahuan makan siang waktu bulan puasa, padahal Mamak dan Bapak saja nggak pernah marah walaupun mereka tahu saya nggak puasa.

Orang tua saya tidak pernah menyuruh saya berpuasa. Mungkin memang agak aneh, berbeda dengan orang tua kebanyakan. Saya tidak pernah diajari berpuasa setengah hari dulu buat latihan dan seterusnya. Tapi saya tetap merasakan pengalaman bangun sahur, berangkat tarawih dan tadarus Al-Qur'an bersama teman-teman di masjid. Setelah dewasa pernah saya bertanya kepada Mamak, kenapa tidak menyuruh saya berpuasa waktu saya masih kecil. Beliau bilang, 'Kan sudah ngaji, kalau sudah paham pasti nanti puasa sendiri. Lagian masih anak-anak kan memang belum wajib.' Sampai hari ini pun saya masih bingung dengan jawaban itu, tapi memang begitulah adanya.

Mamak tidak pernah menyuruh berpuasa, tapi selalu membangunkan saya sahur dan memaksa saya ikut makan sahur. Saya masih ingat diejek oleh teman-teman karena tidak berpuasa dan makan cemilan ketika sedang bermain. Tapi saya yang memang dasarnya cuek tidak menggubris ejekan mereka dan melanjutkan makan sambil pamer. Baru sekitar kelas 4 SD kalau tidak salah ingat, saya mulai puasa karena buku laporan puasa saya yang sebelumnya selalu jadi masalah ketika diserahkan kembali ke wali kelas. ๐Ÿ˜‚

Apakah didikan orang tua saya itu benar? Saya tidak tahu. Faktanya sejak saya memutuskan untuk puasa memang saya tidak pernah batal. Tapi teman-teman saya sepertinya juga mendapatkan pengalaman yang tidak terlalu jauh berbeda dengan saya(?!) 

Photo by Arham on Unsplash

Setelah jadi orang tua, sebenarnya saya ingin mempraktikkan pengalaman saya itu kepada anak-anak tapi tentu saja suami tidak setuju. Suami memutuskan membesarkan anak seperti orang-orang kebanyakan dan saya memilih untuk mematuhinya karena pasti akan sangat berat untuk dia menjadi anomali diantara teman-temannya. Dia nggak akan sanggup. ๐Ÿ˜† Tapi sekarang yang menyebalkan adalah kami harus membuat dekorasi menyambut Ramadhan setiap tahun sebagai tugas sekolah. Hal yang nggak pernah kami lakukan ketika kami masih kecil.

Dan yang makin memalaskan adalah alasan dibalik tugas itu; katanya supaya anak-anak menganggap Ramadhan lebih menyenangkan dibanding ulang tahun. Masalahnya, kami nggak pernah merayakan apapun. Kami bukan tipe keluarga yang suka perayaan. Kami adalah keluarga yang santai, dan merayakan keberhasilan atau kebahagiaan dengan berkumpul bersama di kamar dan menceritakan pengalamannya sambil menertawakan kesalahan-kesalahan kecil. Dekorasi-dekorasi yang nantinya akan dihapus lagi kami anggap mubazir, dan bukannya mubazir itu salah satu kebiasaan setan?!

Tapi tentu saja kami tidak bisa mempertahankan prinsip itu karena ada tuntutan dari sekolah. Mau bagaimana lagi. Dan kalau tugas itu tidak kami laksanakan, kemeriahan Ramadhan mungkin benar-benar tidak akan anak-anak rasakan sama sekali karena sekarang di tempat mereka tinggal tidak ada tradisi penyambutan Ramadhan yang bersifat komunal seperti yang saya rasakan ketika masih kecil. Satu-satunya cara untuk membuat mereka merasakan dan melihat Ramadhan adalah dengan mengenalkan Ramadhan di dalam rumah.


Catatan setelah Pemilu tahun ini

Jumat, 16 Februari 2024

 

Photo by Element5 Digital on Unsplash

Waktu saya masih kuliah, orang tua angkat saya pernah berseloroh kepada saya, "kuliah jurusan politik berarti nanti jadi politisi, dong?" 

Saya yang masih semester 3, tertawa mendengar pertanyaan itu. Sejujurnya saya sempat berpikir untuk berkarir di dunia politik, hanya karena terpengaruh oleh buku-buku bacaan saat itu. Kayaknya kok hebat bisa membuat nasib banyak orang berubah hanya lewat beberapa kalimat atau sebuah tanda tangan. Begitu mulai kuliah, saya langsung tergabung ke organisasi mahasiwa untuk belajar dan memahami cara kerja organisasi dengan lebih baik. Dan di semester 3 itu, tahun 2009 memang kebetulan sedang masanya Pemilu.

"Daftar Pemilu di sini lho, nduk. Buat latihan." Mamak saya menyarankan, tentu saja hanya bercanda. Syarat menjadi anggota legislatif memang hanya lulusan SMA.

Saya santai saja menjawab, "nanti lah, Mak. Kalau sudah lulus, tinggal mainkan pasar-pasar di Lampung Tengah." Lalu Mamak menyahut, "nyalon lewat PDI-P, nanti Mamak kenalkan sama ketua DPCnya."

"Yah, kalo sama PDI-P ya sama aja, nanti aku jadi koruptor!" Dengan cepat saya menyahut perkataan Mamak sambil tetap berusaha santai. Mamak pun balas menjawab, "Ya kalau mau menang di sini harus lewat PDI-P. Kalau lewat partai lain ya susah, lama. Keburu bangkrut."

Saya tertawa lebih keras mendengar alasan Mamak. Mamak angkat saya adalah pedagang besar. Hampir seluruh pasar di Lampung dikuasai, Kakak angkat saya yang menjalankan bisnis, punya banyak sekali kenalan orang penting. Ketika tawaran seloroh dari Mamak itu terlontar, yang saya pikirkan saat itu adalah bahwa Mamak memang hanyalah seorang pedagang. Beliau sangat tahu bagaimana caranya memenangkan persaingan di pasar. Tapi mestinya politik tidak boleh disamakan dengan bisnis. Ada idealisme yang harus diperjuangkan.

***

Seiring berjalannya waktu, saya belajar makin banyak lewat kuliah dan organisasi. Lalu saya mulai mendengar teman-teman saya yang kuliah di jurusan keguruan sering membicarakan sebuah gerakan baru bernama Indonesia Mengajar. Beberapa diantaranya berhasil bergabung menjadi Pengajar Muda di sana. Dari situlah saya mulai mendengar nama Anies Baswedan.

Pada waktu yang sama, beberapa teman di fakultas tiba-tiba menghilang dan diberitakan mendapat beasiswa ke Paramadina. Nama Anies Baswedan kembali saya dengar. Dan seterusnya, saya mengenal namanya sebagai salah satu aktor pendidikan baru yang berpengaruh saat itu.

Tapi postingan blog ini bukan hanya tentang Anies Baswedan, kok. Namanya saya sebut karena memang punya peran penting bagi saya dalam menentukan pilihan di Pemilu kemarin.

***

Ternyata setelah menjalani kuliah dan menjadi pengurus organisasi mahasiswa minat saya terhadap dunia politik justru menurun. Saya suka belajar teori-teori politik. Saya suka membaca cerita pemimpin-pemimpin besar dengan ideologi-ideologi mereka. Tapi saya jijik setiap kali hadir di acara-acara yang menghadirkan pejabat atau praktisi politik. Saya makin yakin untuk tidak menjadikan dunia politik sebagai pilihan karier setelah menyaksikan sendiri seperti apa kursi kekuasaan selevel kampus pun bisa menelan korban dan diperebutkan dengan cara yang sangat licik. Belum lagi pengelolaan anggaran dana yang membuat saya hampir ribut dengan teman, membuat saya berpikir 'kalau masih di kampus saja mereka bisa berbuat seperti ini apalagi nanti ketika mengurus negara?'

Lalu berita tentang mobil Esemka mencuat. Saya dan teman-teman di kosan pernah membicarakan berita itu dan salah satu diskusi ringan kami yang masih saya ingat adalah komentar teman saya saat itu, "Dia (Jokowi) diberitakan di mana-mana, pasti mau naik ke istana."

Saya si topi hitam yang instingnya hampir selalu benar kalau melihat wajah orang cuma nyeletuk, "manipulatif banget ya orangnya." Dan perjalanan panjang dihantui wajah Jokowi pun dimulai hari itu.

***

Awalnya saya berpikir kalau pilihan ketika Pemilu itu harus logis dan adil. Tapi setelah melihat perilaku pemilih di Indonesia selama ini dan menimbang pengalaman saya sendiri, sepertinya memang benar kalau memilih itu selalu berdasarkan kecenderungan hati. Sejak menjadi pemilih tahun 2007, saya sering sekali golput terutama pada pemilihan daerah. Di Lampung, siapapun calonnya pemenangnya sudah ditentukan oleh sang ratu. Jadi buat apa saya memilih?

Satu-satunya pemilihan umum yang saya benar-benar perhatikan hanyalah pemilihan presiden. Tahun 2009 pilihannya cukup mudah. SBY tidak punya riwayat buruk seperti kedua lawannya sehingga saya dengan mudah menentukan pilihan.

Saya sama sekali nggak menyangka kalau Jokowi akan masuk istana sebagai presiden. Dan percaya nggak percaya, hal itu sudah kami prediksi sejak dia mencalonkan diri sebagai gubernur Jakarta. Kami -saya dan teman-teman kosan-- yang saat itu menonton beritanya bereaksi macam-macam, tapi yang paling epic adalah salah satu teman saya yang kuliah di jurusan Hukum mengatakan, "seenaknya aja dia belum selesai tugasnya maju ke Jakarta, bisa-bisa nanti belum beres di Jakarta maju ke Presiden!" And guess what?! We know how the story goes ๐Ÿ˜Œ

Jujur, sejak pencalonan dirinya menjadi gubernur Jakarta saya langsung menutup hati pada Jokowi. Dan ketika dia benar-benar mencalonkan diri menjadi presiden, ucapan teman saya itulah yang terngiang di kepala saya. Tapi ada satu hal yang sangat mengganggu pikiran saya saat itu, adalah kemunculan Anies Baswedan di tim pemenangan Jokowi.

***

Kembali ke masa kuliah, salah satu teman saya ada yang bergabung menjadi Pengajar Muda di Indonesia Mengajar lalu meninggal. Saya sudah lupa apakah dia meninggal ketika menjalankan tugas atau ketika sudah selesai, tapi yang saya ingat Anies Baswedan hadir di pemakamannya. Dia datang ke Lampung untuk memberikan penghormatan kepada teman saya itu, Adit namanya.

Lalu ketika sedang field trip fakultas, salah satu tujuan perjalanan kami adalah ke Universitas Paramadina. Di sana kami bertemu Anies Baswedan. Iya, saya pernah ketemu Anies Baswedan. ๐Ÿ˜† Mendengar dia bicara secara langsung, membahas tentang filsafat, pendidikan dan politik dalam kapasitasnya sebagai seorang rektor, bukan politisi. 

Saya kurang ingat persis urutan 2 peristiwa itu, mana yangg lebih dulu, tapi sepertinya inilah yang membuat saya punya kesan positif kepada Anies. Mendengar ide-idenya tentang dunia pendidikan tinggi dan filsafat, rasanya memang seperti mendapat pencerahan. Membaca tulisan-tulisannya ketika masih menjadi rektor, saya benar-benar mengenalnya hanya sebagai seorang guru.

Dan melihatnya berkampanye di pemilihan presiden tahun 2014 membuat saya berpikir, 'kok bisa dia jadi timsesnya Jokowi? Aku yang bodoh aja tahu lho kalau itu orang nggak bener.' Tapi selorohan Mamak angkat saya tiba-tiba kembali teringat dan menyadarkan saya, kalau ternyata setelah sekian lama saya belajar di kampus saya tetaplah orang yang naif dan karenanya sudah tepat saya nggak memilih dunia politik untuk berkarier setelah lulus kuliah.

Anies Baswedan adalah orang baru di dunia politik. Dia tentunya sadar, menjadi terkenal hanya di kalangan akademisi tidak akan membuat dia naik daun dengan cepat. Dia butuh panggung, dan PDI-P adalah alat yang paling tepat. Persis seperti Mamak saya bilang, 'kalau mau menang harus lewat PDI-P.' Dan ketika melihat Anies Baswedan di kubu Jokowi saat itu, saya bilang ke suami, "pasti dia pengen jadi menteri pendidikan."

Kalau kamu merasa saya sok pintar dengan dugaan-dugaan yang kebetulan benar-benar terjadi, kamu salah. Bukan saya yang pintar, tapi karena sebenarnya permainan politik yang muncul di permukaan memang semudah itu dipahami kalau kita mau sedikit berpikir dan menonton berita dari berbagai macam saluran. Sehingga pikiran kita tidak diracuni oleh satu media yang dikendalikan orang tertentu. Lihat saja bagaimana Metro TV dan TV One menyajikan beritanya. Lihat bedanya antara 5 tahun yang lalu dengan sekarang.

***

Maka pemilihan umum tahun ini menjadi cukup istimewa bagi saya. Setelah dua kali memilih dengan alasan 'asal bukan Jokowi' akhirnya saya kali ini bisa memilih dengan tambahan alasan 'saya percaya Anies'. Meskipun di awal saya agak kecewa kenapa bukan Prof. Mahfud pasangannya, tapi kemudian saya segera sadar kalau mereka tidak mungkin bisa dipasangkan. Biarlah Prof. Mahfud menjadi penjaga dan penyambung mata kita di pemerintahan.

Anies Baswedan mungkin bukan orang yang baik-baik amat, karena saya hanya mengenalnya hanya lewat buku dan diskusi satu jam. Sama seperti saya mengenal Muhaimin Iskandar dan Prof. Mahfud MD. Sebagai gubernur pun, saya tidak menafikan beberapa kritikan terhadap kebijakan Anies memang valid. Tapi kalau dibanding dengan masa lalu Prabowo dan kebohongan Jokowi, ooooh tentu saja wajar kalau banyak yang memperlakukan Anies seperti penyelamat.

Mungkin Anies akan memenangkan pemilu seperti keajaiban di Jakarta. Mungkin juga akan kalah. Tapi yang jelas saya mulai optimis bahwa perbaikan negeri ini sedang berada di jalan yang benar. Kita memang melihat kurikulum pendidikan yang amburadul, tapi makin banyak lembaga pendidikan independen yang berdiri dan bebas dari kebrobrokan itu. Kalau memang Jokowi menang lagi tahun ini (karena memang majunya Gibran jadi cawapres intinya itu) berarti memang mayoritas masyarakat kita yang masih sama seperti dia. Penuh tipu daya, bermental feodal dan suka korupsi.

Beberapa kerandoman suami yang selalu bikin saya emosi

Rabu, 31 Januari 2024


Kadang, peristiwa paling random bisa bikin saya mikir ke arah yang aneh banget. Judul tulisan ini udah kepikiran sejak lama, tapi waktu itu idenya muncul karena suatu hal yang saya udah lupa. Terus kejadian tadi pagi tiba-tiba bikin saya pengen nulis di blog. Nah, lihat draft judul ini belum saya apa-apain, kok malah kepikiran untuk menyatukan ide-ide aneh di kepala jadi tulisan.

Gara-garanya tadi pagi waktu lagi masak buat anak-anak sebelum mereka berangkat sekolah. Seperti biasa suami saya manasin air untuk ngopi, pakai salah satu panci kami yang gagangnya sudah lepas. Lalu saya nyeletuk, "seneng amat pakai barang rusak. Itu lho ada 2 panci yang bener."

Terus suami njawab, "emang kenapa?"

"Pakai barang rusak tuh bisa bikin fakir, tau!" Dan sedetik kemudian saya langsung menyesal bilang begitu. Karena seperti 10 tahun ini, setiap saya menyampaikan sesuatu yang ada dalilnya pasti suami saya langsung jadi orang paling nggak masuk akal di dunia dan akhirnya semua bantahan-bantahan anehnya terhadap semua omongan saya sejak hari pertama kami menikah akan terngiang-ngiang di kepala saya selama berhari-hari. Dan kalau sudah seperti itu, dada saya langsung nyesek dan sakit banget. Bukan karena dibantah sama dia, tapi karena sedih kok bisa...? Nah kan saya aja bingung mau nulisin perasaan saya.

Nih, biar jelas apa yang saya maksud dan mudah-mudahan bikin lega saya ceritain ya beberapa hal yang saya ingat tentang ketidakjelasan suami saya yang kadang-kadang bikin saya mempertanyakan kewarasan dia. Pertama, waktu resepsi pernikahan kami. Karena di susunan acara cuma sampai dzuhur waktu itu saya rencananya mau sholat dzuhur. Eh, ternyata dilarang sama keluarga suami. Biasalah, sayang makeupnya kalau luntur. Saya yang sendirian di rumah keluarga suami waktu itu berusaha minta dukungan suami supaya bisa sholat dzuhur. Dan suami saya jawabnya, "yaudah lah, sekali ini aja ngalah dulu. Kalau pun kamu dosa biar saya yang nanggung." Seketika waktu itu saya langsung nyesel nikah sama dia, tapi ternyata tetep lanjut sampai 10 tahun lebih ๐Ÿ˜‚. 

Pada akhirnya saya sholat jama' sih, tapi yang bikin nyesek itu jawaban dia itu lho. Kayak orang nggak pernah ngaji. Dia tuh sekolah Islam sejak SMP, kuliah di kampus Islam jurusan Syariah terus kok bisa-bisanya bilang mau nanggung dosa saya tuh konsepnya dari mana?! 

Kejadian kedua, waktu dia tiba-tiba beli TV. Saya waktu itu keberatan karena merasa kami sebenarnya nggak butuh TV dan khawatir nanti efeknya nggak baik untuk anak-anak. Terus jawaban dia sebenarnya bikin saya mau ketawa tapi khawatir nanti dia tersinggung. Dia bilang saya sok idealis dan bilang 'emangnya kamu sanggup di rumah terus nggak ada hiburan?' Dalam hati sih saya jawab, "Lha aku emang nggak pernah ada TV sejak tinggal jauh dari orang tua. Yang selalu punya TV kan kamu." Tapi kalau saya bilang gitu pasti nanti rumah berubah jadi neraka. Jadi saya diam aja. Dan akhirnya sekarang setelah lebih dari 10 tahun menikah, anak-anak kami nggak bisa jauh-jauh dari TV ๐Ÿ˜Œ.

Setelah bertahun-bertahun menikah, saya mulai paham tentang suami yang nggak pernah mau menerima masukan dari saya dan selalu memutar subjek obrolan ke saya kalau sedang membicarakan apapun. Dari pilihan tentang mendidik anak, memilih rumah, sampai keputusan-keputusan besar lainnya setiap kata-kata 'memangnya kamu' mulai muncul dari dia, saya langsung mengerti kalau dia sedang ingin curhat tentang keadaan dirinya sendiri. Dan sayangnya saya nggak bisa mengubah kebiasaan itu, nggak ada energinya.

Ketiga, adalah salah satu hal yang paling bikin saya menyesal tapi yaaaa... mau gimana lagi. Jadi dulu di awal-awal menikah saya selalu protes dengan kebiasaan dia yang tidur lagi setelah shalat subuh. Dan setiap kali saya mulai protes, dia akan cerita tentang Eteknya yang selalu ngomelin dia setiap habis subuh. Yang membuat saya nggak habis pikir waktu itu adalah, kalau dia sudah terbiasa diomelin Eteknya setiap habis subuh karena nggak boleh tidur lagi, kenapa sekarang setelah menikah dia jadi selalu tidur lagi setelah subuh? Kami pernah berdebat agak keras gara-gara hal itu, dan setelah cukup lama saya pikirkan sepertinya memang sungguh nggak ada gunanya mendebat dia kalau itu adalah saya. Karena mau saya keluarkan dalil dari hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim sekalipun dia akan bilang saya yang sok tahu, walaupun sebenarnya kami sama-sama tahu. Dan itu sudah sifatnya yang tidak ingin dia ubah. Akhirnya sekarang kadang-kadang saya jadi ikut tidur lagi habis subuh, bahkan anak-anak pun kalau nggak sekolah akan tidur lagi setelah subuh.

Kebiasaan dia menceritakan pengalaman dengan orang tua atau Eteknya itu kemudian membuat saya jadi mengerti bahwa memang kita nggak akan pernah tahu apa efek atau hasil dari didikan kita ke anak-anak nantinya. Suami saya yang penurut sekali sebagai anak, ternyata dalam hatinya menyimpan dendam sehingga ketika sudah nggak sama orang tuanya lagi merasa bisa berbuat semaunya. Tapi di sisi lain, ternyata dia malah menjadi seperti orang tuanya yang langsung frustrasi ketika nggak dituruti sama anaknya. Padahal kan logikanya, kalau dia nggak suka dengan ajaran orang tua yang selalu ingin dituruti, mestinya dia bisa memilih menjadi orang tua yang lebih demokratis untuk anaknya. Sementara saya yang pemberontak, ternyata justru menyadari kesalahan-kesalahan saya sewaktu kecil dan baru mengerti kalau apa yang dilakukan orang tua saya itu banyak benarnya. Dan ketika berusaha memutus rantai kesalahan-kesalahan yang dulu dilakukan orang tua saya, suami malah mengira kalau itu adalah tradisi yang ingin saya teruskan ke anak-anak. Bikin stress nggak tuh? Nikah sama orang yang sok tahu, tapi selalu nuduh kita sok tahu.

Nah, balik ke kejadian tadi pagi, saya bilang kalau ada kitabnya yang jelasin tentang hal-hal kayak gitu. Dia jawab apa? "Itu pasti karena salah menafsirkan." Saya tuh langsung misuh-misuh dalam hati, "are you saying that the ulama created books without thinking and in the end those books were taught to the students with the wrong interpretation? Dude!!! Seriously????"

Jadi gimana? Udah ngerti sebab nyeseknya saya setiap kejadian-kejadian seperti ini saya alami di rumah? Kalau dipikir mendalam, sebenarnya ini sangat miris. Bagaimana bisa orang yang terdidik dengan baik dalam agama mengomentari hal-hal yang punya dalil, bahkan seringkali dari nash utama (al-Quran dan Hadits) dengan komentar-komentar yang mengerdilkan hal-hal itu. Kayak ngundang laknat Allah, gitu lho. Tapi karena saya sudah mengenal suami saya selama 10 tahun, saya paham kalau kebiasaannya itu tampil hanya karena 2 hal; pertama, gengsinya sama saya yang sebenarnya nggak tahu kenapa sepertinya ini penyakit rata-rata para suami yang punya istri lebih pintar. 

Kedua, karena memang kebiasaan suami saya yang bicara atau bertindak tanpa berpikir dulu. Dan hal kedua inilah yang selalu sukses bikin saya merasa agak lega, karena memang seringkali suami saya tuh sesederhana itu mikirnya sampai-sampai bikin orang di sekitarnya nggak habis pikir. 

Contohnya, suatu hari kami beli jajanan di Indomaret dan dia masukin salah satu merk marshmellow ke keranjang belanja. Saya coba ingatkan, "itu nggak ada label halalnya lho." Dan dengan entengnya dia menjawab,

"Kan yang makan Qia, bukan kita."

Inilah suami saya saudara-saudara, mantan santri yang kuliah Syariah bilang kalau makanan tanpa label halal nggak pa-pa dimakan anak yang belum baligh. Dan teman-teman kerja kami waktu itu langsung ketawa menyaksikan keluguan suami saya ๐Ÿ˜‘.

Catatan Akhir Bulan di Awal Tahun

Pertama kali nyobain AI, lha kok ngeri hasilnya.

Untunglah tahun ini saya nggak bikin resolusi. Jadi ketika ujug-ujug sudah akhir bulan saya nggak merasa rugi sama sekali walaupun belum mencapai apa-apa ๐Ÿ˜…. Bahkan yang biasanya saya mengakhiri tahun dengan bikin journal setup, saya malah sibuk ngapain ya kemarin itu?! Akhirnya saya baru bikin setup sekitar tanggal 3 atau 4 Januari dan bikinnya sesimpel mungkin. Gara-garanya juga cuma karena baca-baca journal tahun-tahun sebelumnya, terus kok ngerasa sayang kalau nggak diterusin ngejournalnya. Ternyata walaupun hidup saya gini-gini aja, aktifitas harian juga cuma gitu-gitu aja, tetep aja rasanya gimanaaa gitu baca jadwal berantakan yang terus berulang di buku-buku lama itu. Jadi terbayang-bayang momen pas keselnya gagal eksekusi program, senyum sendiri baca ungkapan emosi di monthly spread atau gemes sama bahasa cringe di daily spread.

Untuk tahun ini saya cuma bikin yearly & monthly spread karena untuk journal pekanan sudah saya pindahkan ke Google Calendar dan daily spread saya hilangkan. Kalau memang ada yang mau dicurhatin cukup tulis di sini aja, dan kalau ada kenangan-kenangan yang bentuknya analog macam foto cetak atau struk belanja ya tinggal tempel-tempel aja lah di halaman kosong. Nanti mungkin kalau saya sudah punya rumah yang ada kamar khusus buat saya sendiri, baru saya bisa punya journal fisik lagi. Baru 6 tahun journalan aja udah tebel banget tumpukannya. Takutnya nanti sama suami diloakin gara-gara ngeliat tumpukan buku yang kayak udah nggak dipake, kan bisa-bisa saya jadi gila.

Jadi selama Januari ini saya ngapain aja?! Ooooh ternyata banyak yang saya lakukan ๐Ÿ˜Ž. Awalnya tuh saya cuma mau lebih mindful aja menjalani hidup, karena dari tahun ke tahun setiap bikin target kok nggak pernah ada yang tercapai. Bosen aja gitu gagal terus tiap tahun, makanya akhir tahun kemarin jadi agak males-malesan. Tapi setelah saya periksa, walaupun gagal terus sebenernya selalu ada progress baik di tiap tahun kehidupan saya. Jadi tahun ini saya nggak bikin target apa-apa buat diri sendiri, tapi memastikan saya harus punya niat yang bener setiap melakukan sesuatu. Dan setelah sebulan, kayaknya saya bisa lihat ada beberapa hal baik yang saya lakukan.

Dapet beasiswa belajar Tahsin Kitabah. Ini sebenernya mulainya sejak Desember. Dan kejadiannya bener-bener diluar prediksi BMKG. Kan ceritanya pertengahan tahun lalu saya buka kelas nulis Arab, dan promosinya di instagram. Ternyata ada salah satu master kaligrafi yang lihat postingan saya itu dan sepertinya melihat potensi dalam diri saya๐Ÿ˜†. Lalu beliau nge-DM nanya-nanya kenapa saya bikin kelas imla' dll, terus nawarin saya belajar gratis di kelasnya. Alhamdulillah sampai sekarang sudah 8 kali setoran dan ternyata saya beneran bisa dong nulis rapi. Kalau lancara harusnya pertengahan tahun nanti bisa lah dapet ijazah. Eh, kan nggak boleh narget, gimana sih?! Pokoknya ya dijalanin aja dulu. Mudah-mudahan nggak ngambekan, soalnya ini belajar udah digratisin masa mau banyak tingkah kan malu.

Belajar Bahasa Jepang lagi. Yeeeaaay!!! ๐ŸŽ‰๐Ÿฅณ Karena tahun lalu saya banyak nonton anime, kayaknya kok beberapa kosakata yang sering diucapkan mulai ketangkep di kepala dan rasanya sayang buku belajar bahasa Jepang dari NHK kalau nggak dimanfaatkan dengan baik. Jadi awal tahun ini saya mulai lagi latihan setiap hari, sedikit-sedikit aja yang penting rutin sambil nyalin materi-materinya di buku khusus. Dan yang bikin saya suka belajar Bahasa Jepang tuh, selalu ngasih saya inspirasi untuk nyusun materi belajar Bahasa Arab padahal saya bukan guru Bahasa Arab. Pokoknya sekarang saya masih harus fokus namatin buku NHK dulu dan ngapalin Hiragana sama Katakana. Sama beberapa Kanji yang populer, kali ya?!

Merapikan catatan tadabbur. BTW ternyata belum pernah bahas Rahmah Study Club di blog ini. Padahal saya adalah foundernya. Founder macam apa sih yang nggak koar-koar tentang anaknya?! Pantesan temen-temen saya sering ngempet sama kelakuan saya, mungkin karena saya emang seenaknya banget orangnya. Nah, Alhamdulillah saya mulai merapikan catatan tadabbur juz 30 yang berserakan di satu binder. Rencananya binder ini nanti akan jadi folder juz 30 aja dan untuk juz-juz berikutnya juga akan saya buatkan binder khusus, biar rapi. Oh ya, salah satu hal lagi yang saya niatkan untuk selalu diingat di tahun ini adalah membangun lagi mental penuntut ilmu dalam diri saya.

Saya adalah murid. Kalimat ini selalu saya wiridkan di dalam kepala setiap memulai belajar. Dan kalau sudah ingat kata 'murid' yang terbayang dalam pikiran saya ya kehidupan sekolah; jadwal pelajaran, PR, buku-buku catatan dan belajar. Makanya saya bikin jadwal belajar setiap hari kayak anak sekolah. Hari Senin dan Kamis belajar Tahsin Kitabah, Selasa waktunya ngerapiin catatan bahasa Jepang dan baca buku Kebebasan Wanita untuk dibahas hari Rabunya. Hari Rabu dan/atau Kamis waktunya nyimak kajian tafsir, tapi kalau waktu latihan Tahsin Kitabah lebih lama dari biasanya, tadabbur pindah ke Jumat. Sabtu dan Ahad waktunya santai karena saya selalu pusing kalau anak-anak dan suami ada di rumah. Seintrovert itu sampai nggak nyaman sama keluarga sendiri tuh, aneh banget memang. Saya tahu, nggak usah komen!

Dari tiga rutinitas itu aja udah bisa bikin saya bahagia, lho. Dan ternyata saya merasa enjoy menjalaninya. Jadi untuk bulan depan rencananya saya mau nambah rutinitas baru. Ceritanya sekarang saya lagi ngulik-ngulik aplikasi gambar. Karena ternyata saya udah mulai terbiasa sama latihan nulis Arab yang indah, saya mulai penasaran sama handlettering dan gambar. Siapa tahu nanti ada produk yang dihasilkan. Selain itu, saya juga mau mereview lagi buku Baina Yadaik yang mangkrak. Sepertinya kalau saya lanjutkan belajar pakai buku itu, suatu saat saya bisa jadi guru Bahasa Arab beneran ๐Ÿ˜. Apalagi guru Tahsin Kitabah saya bilang, nanti kalau sudah selesai belajar nulisnya harus diajarkan lagi. Nggak boleh disimpan sendiri ilmunya. Makanya saya pikir akan sangat bagus kalau saya mulai bikin-bikin kombinasi silabus atau kurikulum belajar bahasa Arab yang menyeluruh. Nggak parsial kayak pembelajaran Bahasa Arab yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah. Saya pengen mengadopsi struktur belajar Bahasa Jepang ke proses belajar Bahasa Arab, mungkin cocok.

Apa lagi ya?! Oh iya, harusnya buku Secrets of Divine Love juga segera saya tuntaskan. Kasihan orang-orang yang sudah nunggu lama banget buat ulasan buku itu di Youtube. Pelan-pelan mau saya cicil deh, video reviewnya. Dan untuk itu, sepertinya bacaan fiksi harus minggir dulu karena saking banyaknya hal-hal nyeleneh di buku itu yang penting banget untuk dikroscek sana-sini.

Udah kayaknya, ulasan awal tahun ini. Terus terang saya puas banget sama bulan Januari ini. Dari semua aktifitas yang saya lakukan, rasanya nggak ada yang terlalu berlebihan. Bahkan nonton anime juga sekarang jadi ada tujuan belajarnya. Ihiiiw, alesan... ๐Ÿ˜‚ Mudah-mudahan tetap on track dan nggak pake burn out lagi. Saya tahu ini masih sangat awal untuk tahun 2024, tapi dengan mindset dan mental yang ini saya berharap apapun yang akan saya lakukan dan hadapi ke depan nggak akan membuat saya kebingungan lagi kayak tahun-tahun sebelumnya.

Perjalanan menuju usia 40 makin mendekati batasnya, dan saya nggak mau ketika sudah sampai di usia itu saya nggak punya bekal apa-apa untuk saya hadapkan kepada Allah. Saya yang selama ini selalu rakus ketika bikin targetan, harus mulai sadar kalau kemampuan saya ya hanya sebatas ini. Bisanya dikit-dikit, nggak bisa langsung banyak. Ngerjain satu-satu, nggak bisa multitasking. Punya mimpi pun yang sewajarnya, karena saya bukan Maudy Ayunda. #eh Intinya, saya harus punya niat yang benar untuk setiap hal baru yang saya lakukan dan menganggap diri sebagai murid ketika melakukannya. ✌

Yang penting anak bahagia

Selasa, 05 Desember 2023

Saya akan memulai tulisan ini dari ingatan saya tentang obrolan tentang anak dengan salah seorang teman. Suatu hari dalam obrolan kami, dia mengatakan, "yang penting kalau bisa anak kita itu nggak ngerasain susah kayak orang tuanya. Dia mau apa, selama kita bisa kasih pasti kita usahakan."

Tentu tidak ada yang salah dengan perkataan itu. Siapa sih yang pengen anaknya hidupnya susah?! Jelas nggak ada. Tapi karena ucapan itu muncul setelah percakapan yang panjang, saya tahu bahwa ada yang salah dengan kesimpulan yang dimiliki oleh teman saya itu. Dan kemudian saya mulai berpikir, jangan-jangan memang kebanyakan orang tua sekarang memiliki pemikiran yang sama seperti itu.

Photo by Tuva Mathilde Lรธland on Unsplash

Satu cerita lagi tentang sepupu saya yang usianya sekitar 6-7 tahun lebih tua dari saya. Dia anak perempuan satu-satunya dari pakde saya. Saya ingat dulu orang tua saya pernah membahasnya. Saat itu kalau tidak salah kami sedang membahas bisnis orang tua saya. Mamak berkata kalau sepupu saya itu nanti pasti akan kesulitan menjalani kehidupannya, karena tidak pernah ditolak oleh orang tuanya. Dalam artian, apapun yang diminta pasti dituruti oleh orang tuanya. Dan sepertinya saya sudah pernah membuktikan perkataan orang tua saya itu.

***

Menjadi guru selama kurang lebih 10 tahun, saya sudah bertemu dengan berbagai macam jenis orang tua. Tentu tidak sebanyak guru lain yang lebih berpengalaman dan berdedikasi, tapi tipe-tipe manusia itu juga tidak terlalu banyak untuk dicermati. Dan yang saya lihat, kebanyakan orang tua yang saya temui selama 10 tahun belakangan ini adalah jenis orang tua yang terlalu fokus pada kebahagiaan anak. Sehingga mereka cenderung menuruti apapun keinginan si anak. Padahal kebahagiaan muncul dari ketahanan yang membantu anak-anak mengatur emosi yang sulit dan situasi yang penuh tekanan. Dan ketahanan itu bukan sifat naluriah, butuh keterampilan yang harus dilatih dan itu butuh bantuan dari orang tua untuk menumbuhkannya pada diri anak-anaknya.

Dalam bukunya, Dr. Becky Kennedy bercerita tentang para orang tua jenis ini -yang terlalu berharap anaknya bahagia-, dan mengatakan bahwa sepertinya inti dari harapan para orang tua itu bukan pada kebahagiaan. Karena tentu saja semua orang tua pasti ingin anaknya bahagia. Tapi memangnya apa yang bisa membuat kita bahagia? Apakah dengan menghilangkan rasa khawatir dan kesepian pada anak-anak kita, memastikan mereka merasa nyaman setiap saat lalu mereka akan mampu menumbuhkan kebahagiaan dengan sendirinya? Sebenarnya, ketika  kita mengatakan, "saya hanya ingin anak-anak saya bahagia" apa yang sedang kita maksud dengan bahagia di kalimat itu?

Para orang tua murid di sekolah saya dulu pernah menawarkan untuk membelikan AC di asrama dengan alasan agar anak-anaknya bisa tidur nyenyak dan merasa nyaman di asrama. Mereka mengatakan bahwa dengan suasana yang nyaman, anak-anak akan merasa betah di asrama dan semangat belajar. Sejujurnya, saya tidak pernah bisa menemukan korelasi antara kenyamanan dengan semangat belajar. Dan silakan cari sampai ke ujung dunia, orang-orang cerdas yang suka belajar itu tidak pernah menuntut tempat yang nyaman untuk bisa belajar. Mereka belajar karena mereka memiliki motivasi dari dalam dirinya sendiri untuk belajar, tempat yang nyaman hanyalah pendukung. Kalaupun tempatnya tidak nyaman, tidak akan mengubah motivasi dalam dirinya dan tidak akan membuat mereka jadi malas belajar.

Ketika kita hanya fokus pada kebahagiaan, kita mengabaikan semua emosi lain yang pasti akan muncul di sepanjang hidup anak-anak kita, yang berarti kita tidak mengajarkan mereka cara mengatasi emosi tersebut. Dan Dr. Becky menjelaskan, cara kita menghadapi rasa sakit atau kesulitan akan berdampak pada cara mereka berpikir tentang diri mereka sendiri dan masalah mereka selama beberapa dekade ke depan.

"Orang tua kan hanya ingin yang terbaik untuk anaknya." Terdengar -atau terbaca- familiar?! Coba tanyakan lagi kepada diri sendiri, apakah "yang terbaik" untuk anak kita adalah "bahagia"?! Saya pribadi saat ini sudah tidak terlalu tertarik dengan kebahagiaan dan saya bersyukur dididik oleh orang tua saya untuk menjadi tangguh sejak kecil. Melihat betapa manjanya anak-anak sekarang, saya pernah tersulut emosi dan dengan sombong bilang ke mereka, " orang tua saya dulu punya pembantu 7 tapi nggak semanja kalian." And that's true. Karena pada akhirnya ketika takdir tidak memberikan saya banyak pilihan hidup yang mudah, sekarang saya bisa bertahan dengan baik. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya suami saya kalau punya istri yang nggak bisa mencuci piring karena biasa dilayani oleh banyak pembantu.

Bagaimanapun juga, menumbuhkan kebahagiaan bergantung pada kemampuan kita untuk mengatasi rasa tertekan. Kita harus merasa aman sebelum bisa merasa bahagia. Mengapa kita harus belajar mengatur hal-hal yang sulit? Mengapa sulit sekali untuk bahagia dan mengalahkan semua emosi yang lain? Karena pada kenyataannya, dalam hidup ini hal-hal yang paling penting membutuhkan kerja keras dan waktu. Dan itu masalah kebanyakan orang tua saat ini. Mereka tidak punya waktu.

Photo by Keszthelyi Timi on Unsplash

Analogi ini menurut saya sangat baik. Kita ibaratkan tubuh kita seperti sebuah toples yang dikelilingi oleh banyak emosi. Katakanlah ada dua emosi utama; emosi yang terasa menjengkelkan dan emosi yang terasa "lebih bahagia". Di dalam toples emosi kita itu -yang bisa berkembang seiring kemampuan kita mengelola emosi-, ada emosi-emosi lainnya yang ukurannya juga terus berubah. Secara natural, tubuh kita memiliki sistem alarm bawaan dan secara konstan lebih sensitif terhadap bahaya daripada ancaman lainnya. Ketika kita tidak bisa mengatasi emosi seperti kekecewaan, frustrasi, iri, kesedihan dan ukuran emosi-emosi itu mulai memenuhi toples emosi, tubuh kita akan memulai respon stress.

Dan bukan hanya perasaan sulit itu sendiri yang mendorong tubuh kita untuk merasa tidak aman. Kita juga merasa tertekan akan mengalami kesusahan (feel distress over having distress), atau mengalami rasa takut akan ketakutan (fear of fear). Dengan kata lain, ketika kita mulai berpikir, "saya harus menghilangkan perasaan ini." rasa tertekan itu tumbuh dan berkembang bukan sebagai reaksi dari pengalaman nyata yang asli, tapi karena kita percaya bahwa emosi negatif ini salah, buruk, menakutkan, atau berlebihan. Itulah mengapa kita sering mendapati anak-anak sekarang begitu pengecut, karena mereka tidak terbiasa menghadapi tantangan atau mengalami kekalahan. Baru diberi tugas, sudah bilang stress padahal belum dikerjakan. Kesulitan mengerjakan tugas, rasanya ingin mati. Dan saya tidak melebih-lebihkan, anak-anak sekarang benar-benar mudah untuk menyerah karena di dalam tubuh mereka mengatakan bahwa bukan perasaan itu yang seharusnya mereka rasakan. Bukan kesulitan yang seharusnya mereka hadapi. Seharusnya saya bahagia, bukan menghadapi kesulitan seperti ini

Pada akhirnya, seperti inilah bagaimana kecemasan menguasai diri seseorang. Dan sepertinya bukan hanya anak-anak, kita orang dewasa pun sudah mulai terjebak dengan sugesti ini. Jargon-jargon jangan lupa bahagia sudah berhasil menyetir pikiran kita bahwa hanya bahagialah satu-satunya emosi yang boleh kita rasakan. Sehingga ketika mengalami kesulitan, serta merta kita mempertanyakan takdir dan merasakan kecemasan. Maka istilah anxiety sekarang menjadi sangat lumrah kita dengar. Kecemasan adalah ketidaktoleranan terhadap ketidaknyamanan. Tubuh kita tidak akan membiarkan kita untuk rileks jika kita percaya bahwa perasaan dalam diri kita terlalu kuat dan menakutkan. Dan pada akhirnya, kita tidak akan pernah bahagia karena toples emosi kita dikuasai oleh rasa cemas. Padahal seharusnya tidak perlu seperti itu. Kalau saja kita biasa mengelola rasa frustrasi, kekecewaan, iri, dan kesedihan-kesedihan yang lain maka semakin banyak ruang yang kita miliki untuk memupuk kebahagiaan. Mengatur emosi pada dasarnya mengembangkan bantalan di sekitar perasaan-perasaan itu, melembutkannya dan mencegahnya menghabiskan seluruh toples. Regulatin first, happines second.

Jika diterjemahkan ke dalam pengasuhan anak; semakin luas rentang perasaan yang dapat kita beri nama dan toleransi pada anak-anak kita, semakin luas juga rentang perasaan yang dapat mereka kelola dengan aman, sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk merasa nyaman dengan diri mereka sendiri. Itulah pentingnya kita ajarkan ketangguhan kepada mereka. Ketangguhan, dalam banyak hal, adalah kemampuan kita untuk mengalami berbagai macam emosi dan tetap merasa seperti diri kita sendiri. Ketangguhan membantu kita bangkit kembali dari stress, kegagalan, kesalahan dan kesulitan dalam hidup kita. Ketangguhan, memungkinkan munculnya kebahagiaan.

***

Satu hal lagi yang menarik tentang hal ini, adalah bahwa analogi toples emosi itu sesungguhnya sudah kita kenal dalam budaya Islam dan Indonesia; lapang dada. Kalau kita cari, tidak ada padanan kata lapang dada dalam bahasa Inggris. Dan lapang dada adalah idiom yang juga dekat dengan nilai-nilai Islam. Setiap kali ada tema tentang kesulitan disebut dalam Al-Quran maka akan disebut tentang hati yang sempit. Dan Rasulullah adalah manusia yang telah dilapangkan dadanya oleh Allah. Sehingga beliau bisa mengatur emosi-emosi negatif dalam hidupnya dan tidak hilang arah. 

Bagaimana Allah menumbuhkan ketangguhan dalam diri Rasulullah dan orang-orangg beriman? Jika kita lihat sejarah, Rasulullah tidaklah kebal terhadap stress atau perjuangan -dan memang itulah kenyataan hidup yang tidak bisa kita hindari- tapi ketangguhan beliau memperlihatkan kepada kita bagaimana beliau menghadapi saat-saat sulit  dan mengalaminya. Orang yang tangguh lebih mampu mengatasi saat-saat yang penuh tekanan. Dan ketangguhan bukanlah sifat bawaan. Ketangguhan adalah sebuah keterampilan yang dapat dikembangkan. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang mampu membantu menanamkannya kepada anak-anak kita sejak dini. Karena kita tidak bisa selalu mengubah penyebab stress di sekitar kita, tapi kita selalu bisa mengupayakan kemampuan kita untuk menambah daya tahan.

Mencatat dengan pena, antara dalil dan sains

Selasa, 21 November 2023

Dengan kemajuan teknologi saat ini, menulis dengan tangan mungkin sudah bukan cara yang menarik lagi dalam belajar. Saya sendiri mulai menyadari bahwa tradisi menulis mulai luntur sejak semakin canggihnya kamera yang tertanam di smartphone. Di setiap kajian yang saya hadiri, makin jarang orang yang mencatat dengan buku dan pena. Kebanyakan hanya memotret apa yang ditampilkan di layar proyektor. Jika ada yang cukup rajin mencatat di aplikasi note di HPnya. Tidak berbeda jauh ketika kajian online, pertanyaan "nanti slidenya akan dishare, kan?" seperti sudah jadi tradisi.

Lebih jauh lagi, sekarang bahkan ada fitur baru -yang sebenarnya tidak terlalu baru juga- yang bisa mengubah suara menjadi tulisan. Pertama kali saya melihat hal seperti itu di film Body of Lies yang dibintangi DiCaprio tahun 2008. Nggak pernah menyangka kalau itu beneran bakal jadi kenyataan. Akhirnya sekarang, alih-alih mengetik dengan jari kita bisa memilih untuk langsung bicara dan gawai akan langsung mengubah suara kita menjadi tulisan.

Tapi seiring dengan perkembangan teknologi catat-mencatat itu, ternyata ada orang-orang yang merasa bahwa tradisi menulis dengan tangan tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Lalu dilakukanlah berbagai penelitian untuk mencari tahu apa manfaat menulis dengan tangan dan bagaimana hubungannya dengan latihan kognitif.

Photo by eleni koureas on Unsplash

Dari sebuah artikel saya merangkum 20 manfaat yang akan kita dapatkan ketika menulis atau mencatat ilmu dengan tangan;

1. Menstimulasi area otak yang bertanggungjawab untuk belajar

Menulis catatan dengan tangan melibatkan bagian otak yang disebut Reticular Activating System (Sistem Pengaktifan Retikuler). Ini adalah semacam filter untuk segala sesuatu yang diproses oleh otak kita. Sistem ini menetapkan prioritas yang lebih tinggi untuk materi yang sedang kita fokuskan saat ini, sehingga menghasilkan retensi informasi yang lebih baik. 

2. Mencegah distraksi

Ada alasan mengapa sekarang muncul begitu banyak aplikasi untuk membantu kita fokus. Karena ada terlalu banyak gangguan ketika kita bekerja di depan komputer atau menggunakan smartphone. Dengan menggunakan pena dan kertas, kita meniadakan semua gangguan yang mungkin terjadi sehingga bisa fokus pada pikiran dan materi pelajaran.

Beberapa orang yang rutin mengupload video study vlog di instagram ada yang mengatakan bahwa mereka merekam proses belajar dengan menggunakan HP agar ketika belajar tidak diganggu dengan notifikasi HP sehingga bisa fokus belajar.

3. Peningkatan fungsi kognitif

Ketika masih kecil, kita pasti sering mendengar peribahasa tentang pentingnya belajar yang disamakan seperti pisau yang tidak pernah diasah. Makin lama tidak diasah, otak akan menjadi tumpul seperti pisau yang berkarat. Ya, otak kita tidak akan bertambah tajam seiring bertambahnya usia. Namun seperti halnya kulit yang mengalami penuaan, otak juga mengalaminya. Salah satu cara untuk mencegah atau menunda proses penuaan otak adalah dengan menulis. Berlatih menulis dengan tangan melibatkan keterampilan motorik, meningkatkan proses berpikir, dan meningkatkan daya ingat, yang semuanya memiliki pengaruh positif pada otak secara keseluruhan.

4. Mendapat manfaat meditasi

Penelitian membuktikan bahwa menulis dengan tangan memiliki pengaruh yang mirip dengan meditasi pada otak. Alasannya adalah karena proses menulis meningkatkan tingkat aktivitas saraf di bagian otak tertentu. Maka tidak heran kalau sekarang banyak sekali kelas-kelas atau workshop menulis dengan tujuan healing atau meditasi. Saya sendiri banyak sekali melihat iklan-iklan kelas seperti itu di beranda instagram.

If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. - Steve Jobs-

5. Memperlambat proses berpikir secara positif

Tidak seperti mengetik yang cepat, menulis dengan tangan dapat meningkatkan kesadaran (mindfulness) dan mencegah kita dari sikap terburu-buru dalam berpikir. Hal ini tentu berdampak positif karena memungkinkan otak untuk beristirahat lebih banyak, yang kemudian dapat meningkatkan kreativitas.

6. Integrasi dan kombinasi beberapa fungsi tubuh dan otak

Menulis dengan tangan meningkatkan efisiensi otak. Proses menulis dengan tangan membantu otak mengembangkan spesialisasi fungsional. Proses ini mengintegrasikan pemikiran, kontrol gerakan dan sensasi. Dengan kata lain, beberapa bagian otak terlibat dalam tugas pada saat yang bersamaan.

7. Peningkatan keterampilan motorik

Tulisan tangan yang baik membutuhkan koordinasi mata dan tangan yang khusus. Tidak hanya itu, kebutuhannya pun berbeda-beda untuk setiap huruf dalam alfabet. Oleh karena itu, menulis dengan tangan juga berfungsi sebagai latihan untuk keterampilan motorik yang dibutuhkan untuk melakukan gerakan yang tepat.

8. Meningkatkan daya ingat

Menulis catatan dengan tangan membantu kita mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang informasi dan mengingatnya kembali. Menggunakan tulisan tangan tidak hanya membantu kita mengingat informasi dengan lebih baik, tetapi juga memungkinkan kita menafsirkannya dengan lebih leluasa, mengungkapkan pemahaman yang lebih dalam tentang materi.

Oleh karena itu, mencatat atau menulis ulang kitab menjadi salah satu tradisi belajar yang masih dijaga di pesantren-pesantren tradisional di Indonesia sampai hari ini. Karena kekuatan ilmu seorang muslim datang dari kuatnya hafalan, maka menulis dengan tangan menjadi salah satu alat paling utama untuk menjaga ilmu.

I like the process of pencil and paper as opposed to a machine. I think the writing is better when it's done in handwriting. -Nelson DeMille-

9. Meningkatkan rasa percaya diri

At some point, tulisan tangan adalah sebuah tantangan yang menarik. Pada awalnya hanya merupakan tantangan untuk belajar menulis, tapi kemudian kita dapat melatih diri kita untuk menulis lebih cepat atau lebih kaligrafis. Mengatasi tantangan yang berhubungan dengan tulisan tangan akan membuat kita lebih percaya diri, bersama dengan peningkatan memori, daya ingat dan ketangkasan.

10. Meningkatkan kemungkinan mencapai tujuan belajar

Studi menunjukkan bahwa orang yang menuliskan tujuan mereka cenderung memiliki peluang lebih tinggi untuk mencapainya. Salah satu alasannya adalah karena mereka dapat berbagi tujuan yang telah mereka tulis dengan orang lain. Oleh karena itu, mereka memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk benar-benar mencapainya.

11. Membantu proses belajar bahasa

Ada hubungan yang kuat antara bahasa lisan dan tulisan; perkembangan bahasa yang satu mengarah pada peningkatan bahasa yang lain. Menulis dengan tangan berdampak pada proses neurologis yang mendukung kemampuan literasi (termasuk bahasa lisan, menulis, dan membaca) dan membantu penulis untuk mendapatkan keotomatisan dan kefasihan. Oleh karena itu, orang yang belajar bahasa selalu memiliki buku catatan. Dan kalau kita ingin belajar bahasa baru tapi tidak punya buku catatan, kesempatan untuk berhasil dalam belajar sudah turun dengan sendirinya. Jika ingin belajar bahasa baru, siapkan buku catatan!

12. Melibatkan kedua belahan otak (kanan dan kiri)

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tulisan tangan memerlukan kombinasi fungsi kognitif dan keterampilan motorik. Tidak heran jika tulisan tangan melibatkan kedua belahan otak. Sementara mengetik hanya menuntut sedikit sekali fungsi otak, menulis dengan tangan lebih menantang karena menuntut otak kita untuk lebih banyak bekerja.

My handwriting was nothing to write home about, and I had this idea that calligraphy was like taking latin in high school: that it was one of the bricks, the building bricks, that you had to understand about the forms of writing. -Katherine Dunn-

13. Meningkatkan motivasi

Yang satu ini sebagian besar bisa diterapkan pada anak-anak yang belum bisa menulis dengan baik. Ini adalah keterampilan yang perlu dikuasai setiap anak, dan mengetahui bahwa menulis dengan baik adalah hal yang mungkin dilakukan akan membantu mereka tetap termotivasi. Setelah itu, perasaan berhasil akan membantu mereka bertahan dalam tantangan-tantangan selanjutnya.

Sejujurnya saya sedikit kecewa melihat kenyataan saat ini pelajaran menulis tidak mendapat porsi yang cukup banyak di tingkat pendidikan dasar. Qia, yang sekarang sudah kelas 3 tidak pernah tuntas mendapat pelajaran menulis di sekolah. Ketika saya perhatikan Aqsha yang sekarang duduk di kelas 1, pun terulang kembali. Di awal tahun ajaran saya sudah senang ketika guru kelasnya mengatakan akan fokus pada belajar menulis dan membaca. Tapi ternyata setelah masuk bulan September Aqsha sudah mulai belajar mata pelajaran lain dan menulis mulai disingkirkan dari kegiatan belajar sekolah. Sangat berbeda dengan saya dulu yang masih belajar menulis tegak bersambung sampai kelas 4 SD.

14. Meningkatkan disiplin diri

Mempelajari tulisan kursif juga membantu mengembangkan disiplin diri. Setelah berhasil beberapa kali, akan muncul keinginan untuk beralih ke penguasaan keterampilan yang lebih menyeluruh. Pengetahuan untuk memperoleh keterampilan akan menjadi tujuan akhir, dan untuk mencapainya hanya mungkin dilakukan dengan disiplin yang cukup.

15. Lebih banyak kreativitas

Menulis kata-kata di atas kertas memberi kita perasaan yang lebih kuat untuk benar-benar menciptakan sesuatu. Kombinasi dari sifat meditatif, gerakan tanga yang lambat dan stabil membantu tulisan tangan kita meningkatkan kreatifitas.

Handwriting is a spiritual designing, even though it appears by means of a material instrument. -Euclid-

16. Keterampilan komposisi yang lebih baik

Studi yang dilakukan pada siswa sekolah menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan pena dan kertas dapat menulis esai yang lebih panjang dengan kalimat yang lebih lengkap. Tidak mengherankan jika banyak penulis yang memuji tulisan tangan dan lebih memilihnya daripada mengetik naskah mereka.

17. Peningkatan kinerja akademik

Ada hubungan antara prestasi akademik yang baik dan tulisan tangan yang baik. Ketika tulisan siswa terbaca dan terlihat meyakinkan, prestasi akademik mereka biasanya dapat mengarah pada peningkatan bidang lain dalam bentuk pencapaian yang konsisten.

Saya sendiri menemukan anak-anak yang kecerdasannya di atas rata-rata memang biasanya memiliki tulisan tangan yang rapi, meskipun tidak selalu indah. Dan anak-anak dengan tulisan rapi atau indah dengan kemampuan kognitif yang standar bahkan rendah, biasanya adalah anak-anak yang tekun belajar.

18. Mengurangi 'mindless information processing'

Ketika kita mengetik kata-kata di keyboard, kita hanya mengandalkan jari-jari untuk memilih huruf yang diperlukan tanpa proses berpikir yang sebenarnya. Di sisi lain, menulis dengan tangan membuat otak kita terus aktif, mencegah kita melamun dan menyalin informasi tanpa berpikir.

19. Latihan motorik sensorik

Gerakan yang terjadi saat menulis dengan tangan bertindak sebagai latihan motorik sensorik yang luar biasa. Otak menerima umpan balik dari tindakan tubuh, yang membantu membangun hubungan yang lebih kuat antara apa yang sedang ditulis sekarang dan apa yang akan dibaca nanti.

20. Keterampilan problem solving yang lebih baik

Tulisan tangan dianggap sebagai variasi dalam menerjemahkan ide ke dalam gambar (atau sketsa kasar) untuk meningkatkan proses pemecahan masalah. Representasi visual dari pemikiran kita yang dibuat dengan tangan dapat membantu dalam memahami materi.

Photo by Jay-Pee Peรฑa ๐Ÿ‡ต๐Ÿ‡ญ on Unsplash

Ketika menyimak kajian tafsir dan tadabbur Surat Al-'Alaq, salah satu yang membuat saya merenung adalah tentang pena. Urgensi mencatat ilmu, bagi saya bukan sesuatu yang perlu dimuraja'ah karena sudah diajarkan sejak kecil dan merupakan kewajiban tidak tertulis ketika masih belajar di pesantren. Tapi saya sempat termenung sebentar ketika ustadz menjelaskan bahwa pena ini tidak bisa digantikan dengan yang lainnya.

Cobalah menulis dengan pena sungguhan, bukan diganti dengan aplikasi catatan di HP, apalagi sekadar screenshot. Jujur, saya dulu sempat berpikir bahwa tidak apa-apa menulis dengan catatan digital. Toh sama-sama mencatat. Ternyata, bahkan menulis tangan dengan tablet masih tidak lebih baik dibanding menulis tangan dengan pena dan kertas.

Jadi tidak heran kalau para ulama tidak meremehkan perintah Rasulullah saw untuk mencatat ilmu. Karena ilmu yang hanya didengar, hati akan sulit untuk mengingatnya. Jika hati sudah lupa, maka ilmu akan hilang perlahan-lahan. Oleh karena itu, penting sekali untuk mencatat ilmu. Bahkan di beberapa pesantren, mencatat ilmu memiliki beberapa persyaratan. Harus dengan tinta tertentu, ditulis dengan cara tertentu hingga jenis penanya pun ditentukan. Tujuannya tidak lain adalah untuk memaksimalkan hasil belajar. Agar ilmu yang dipelajari semakin tertanam di hati.

Maka saya tidak habis pikir ketika mendapati murid-murid yang tidak punya buku catatan dan merasa cukup dengan hanya buku pegangan yang diberikan sekolah. Saking mentoknya, saya pernah tanyakan kepada mereka apakah tidak ada keinginan untuk punya catatan dari tulisan tangan sendiri. Ternyata mereka bilang tidak pernah mencatat selama sekolah. Sejak kelas 1 SD sampai SMP tidak pernah ada tugas untuk mencatat.

Dulu, mungkin kita menganggap tugas merangkum atau menulis kembali isi buku adalah tugas aneh yang tidak ada manfaatnya. Tapi sekarang lihatlah, anak-anak kita bahkan tidak bisa mengambil intisari dari sebuah kalimat. Tidak bisa menilai mana yang penting dan mana yang hanya merupakan tambahan dalam sebuah buku teks. Lebih jauh lagi, anak-anak seumuran anak saya bahkan tidak diajarkan menulis dengan tuntas, tidak diajarkan membaca sampai tuntas, tapi ujug-ujug punya buku pegangan dengan teks dan narasi-narasi yang panjang. Kurikulum kita benar-benar sudah gila.

Makin jauh memikirkan nasib pendidikan anak-anak kita, makain khawatir saya dengan masa depan generasi yang akan datang. Dulu, orang tua kita akan menyerahkan urusan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah dan mengawal pembentukan karakter dan perangai kita dari rumah. Sekarang, sejujurnya saya sudah sangat kasihan dengan guru sekolah. Betapa besar tanggung jawab yang harus mereka pikul, mendidik anak-anak yang kehilangan orang tua di rumah dan masih harus dituntut tugas-tugas negara yang tidak ada habisnya.

Kalau dibandingkan dengan saya sendiri, rasanya Qia kelas 3 SD saat ini masih belum mengerti apa-apa dibanding saya kelas 3 dulu. Bukan hanya dalam pelajaran, tapi yang paling mendasar itu; menulis dan membaca. Masih banyak yang harus dia kejar. Dan ini sejujurnya membuat saya kadang merasa hopeless dengan sekolah dan biayanya yang selangit itu.

Mengapa generasi muda kita begitu lemah?

Selasa, 31 Oktober 2023


Photo by tabitha turner on Unsplash

Di media sosial, terutama instagram banyak sekali saya menemukan konten tentang perbedaan antar generasi. Paling banyak saya temui adalah yang temanya tentang parenting dan dunia kerja. Rata-rata intinya menunjukkan bahwa generasi Z adalah generasi yang lemah, mudah mengeluh dan sangat rapuh. Sebagai guru selama kurang lebih 10 tahun, saya pun setuju bahwa makin ke sini anak-anak yang lahir setelah tahun 1995 lebih sulit untuk dihadapi. Dan ternyata ada kajian menarik mengenai fenomena ini.

Setiap generasi suka mengeluh tentang generasi yang akan datang. Hal itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Kita yang muslim pasti pernah mendengar tentang percakapan Ali bin Abi Thalib ketika ditanya salah seorang warganya ketika menjadi khalifah,

'Abidatu as-Salmaini berkata kepada Ali bin Abi Thalib, "Wahai Amirul Mukminin! Apakah gerangan Abu Bakar dan Umar, mengapa semua rakyat tunduk dan patuh kepada keduanya? Wilayah kekuasaan yangg semula lebih sempit dari satu jengkal lalu meluas dalam kekuasaan mereka? Lalu saat engkau dan Utsman menggantikan posisi keduanya, rakyat tidak lagi tunduk dan patuh terhadap kalian berdua, sehingga kekuasaan yang luas ini menjadi sempit buat kalian?"

Ali bin Abi Thalib menjawab, "Karena rakyat mereka berdua adalah orang-orang yang seperti aku dan Utsman, sementara rakyatku sekarang adalah kamu dan orang-orang yang sepertimu."

Dalam hadits Rasulullah saw juga sudah mengisyaratkan bahwa generasi yang datang setelah generasi sahabat akan makin menurun kualitasnya, "Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian setelahnyna, kemudian setelahnya." (HR Bukhari & Muslim)

Photo by Yuri Shirota on Unsplash

Dalam sebuah video Youtube yang menghadirkan seorang Social psychologist -Jonathan Haidt, disebutkan bahwa salah satu penyebab anak-anak di Amerika menjadi rapuh adalah karena mereka dibesarkan dengan prinsip "moral dependency". Mereka jarang bermain ke luar rumah dengan teman-temannya. Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan gawainya dan berinteraksi dengan cara itu. Generasi Z adalah anak-anak yang mengenal media sosial sejak usia 13 tahun atau bahkan kurang dari itu. Mereka mendapatkan materi dan konten anti-bullying bahkan di sekolah, dan mendapatkan lebih banyak pengawasan dari manusia dewasa. Secara umum, generasi Z tidak mendapatkan kebebasan yang didapat oleh generasi sebelumnya. Karena selalu ada orang dewasa yang bisa mereka datangi setiap menghadapi masalah akhirnya mereka menjadi lebih kesulitan untuk menyelesaikan masalah sendiri.

When we protect children from unpleasantness, from conflicts, from insults, from teasing, from exclusion, we are setting them up to be weak, to be more easily damaged, to be more easily discouraged.

Lalu mengapa generasi Z begitu dilindungi?

Pada tahun 1980an, ada beberapa kasus penculikan terkenal dan diberitakan di televisi. Lalu muncul iklan layanan masyarakat tentang bahayanya anak yang dibiarkan sendirian di luar rumah atau berbicara dengan orang asing. Hingga akhirnya para orangtua merasa panik dan berpikir bahwa jika anak-anak berada diluar jangkauan perhatian mereka maka anak-anak akan diculik. Hal ini terus berlanjut hingga masuk di tahun 1990an, ada semacam konsensus para orang tua bahwa anak-anak tidak bisa bermain sendiri ke luar rumah sebelum berusia 14 atau 15 tahun.

Saya sendiri masih ingat dulu ada beberapa kali masanya kasus penculikan anak begitu marak diberitakan di televisi maupun dari mulut ke mulut. Ada beberapa saatnya ketika bapak dan mamak berinisiatif menjemput sendiri setiap saya pulang sekolah. Namun itu tidak berlangsung lama, mungkin karena kondisi masyarakat Indonesia yang secara ekonomi jauh di bawah Amerika sehingga propaganda dengan cara seperti itu tidak terlalu berhasil.

Di Amerika, Lenore Skenazy, yang menulis buku "Free Range Kids" menjadi terkenal sebagai "ibu terburuk di Amerika" karena pada tahun 2009, ia membiarkan putranya yang berusia 9 tahun menaiki kereta bawah tanah New York City. Padahal anaknya baik-baik saja, bahkan merasa senang karena dia merasa telah belajar sesuatu yang baru. Dia merasa bisa keluar melihat dunia. Sama persis seperti waktu pertama kali saya naik angkot sendirian dari sekolah ke pasar. Ketika saya muncul sendirian ke toko orang tua saya di pasar, mereka sangat kaget dan khawatir. Tapi melihat saya baik-baik saja akhirnya mereka malah mengatakan, "oh kamu sudah besar sekarang."

Jonathan Haidt menjelaskan dalam video tersebut, dalam sepanjang sejarah manusia, normalnya usia 8-12 tahun adalah masa dimana anak-anak melatih kemandirian, berpetualang, membuat rakit dan mengarungi sungai. Namun kita merampas periode itu dan mengatakan kepada mereka, "kamu belum boleh melakukan ini/itu" hingga semuanya sudah terlambat dan tiba-tiba ketika anak kita berusia 17-18 tahun kita berkata, "sekarang pergilah kuliah." Mereka tidak siap, karena mereka tidak terbiasa mandiri. Ketika mereka masuk kuliah, mereka butuh lebih banyak bantuan.

They are asking adults for more help. 'Protect me from this. Punish him for saying that. Protect me from that book.' Students are thinking in terms of safety and danger. Students say, by their own admission, they are more fragile. They use a language of fragility, weakness, trauma, triggering. They see triggers all over the world.

Waktu menyimak video itu, saya merasa sangat relate dengan pemaparannya. Kita pun di sini sering sekali mendapati anak-anak yang mudah ketrigger, kan? Kena kritik sedikit langsung stress, dikasih beban tugas agak banyakan langsung depresi, capek sedikit langsung merasa butuh healing. Mengapa? Karena mereka menganggap dunia ini penuh dengan trigger. Memangnya trigger itu apa sih?

Salah satu definisi dari trigger adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang merasa kesal, takut atau cemas. Haidt menjelaskan, kita seharusnya tidak mengajarkan kepada anak bahwa dunia ini tempat yang berbahaya. We should teach them to live in a world that is physically quite safe, but full of offensive statements and ideas, especially on the internet.

Lalu di salah satu video lain yang saya temukan, ada satu asumsi lain tentang alasan dibalik lemahnya generasi Z. Yaitu mereka tidak pernah merasakan 'delay of gratification". Generasi Z adalah anak-anak yang lahir dengan berbagai kemudahan. Mereka tidak perlu menunggu satu minggu untuk menikmati acara TV favorit ditayangkan. Mereka lahir ketika bimbingan belajar privat sedang tumbuh menjamur. Dan ditambah dengan kehadiran internet, apa saja yang mereka butuhkan -bahkan yang tidak dibutuhkan- bisa dengan mudah mereka akses lewat gawai dalam genggaman. Menariknya, sebenarnya konsep ini adalah sebuah prinsip hidup yang sangat melekat dengan ajaran Islam. 

Pekan lalu ketika meeting pekanan bersama Rahmah Study Club, kami membahas surat Adh-Dhuha. Dan ketika menyimak kajian Ustadz Budi Ashari mengenai ayat 5 beliau mengatakan bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang bagaimana Allah menanamkan konsep pendidikan pada diri Rasulullah saw. yaitu dengan kesabaran. Bahwa Allah berjanji akan memberi kepada Rasulullah saw, tapi nanti. Dan janji Allah pasti ditepati. Menjadi miris jika ternyata prinsip pendidikan ini ternyata tidak kita terapkan juga kepada anak-anak kita karena pola pikir 'yang penting anak saya bahagia.'

Photo by Hannah Busing on Unsplash

Pada intinya, jika kita ingin membesarkan generasi yang dapat menghadapi segala jenis tantangan, kita perlu menyelaraskan praktik pendidikan kita dengan beberapa prinsip psikologis yang sangat mendasar dan penting. Lagi-lagi Jonathan Haidt mengingatkan;

We are all prone to motivated reasoning and the confirmation bias, and we're all prone to tribalism, and black-and-white thinking. We need to be educating kids so that they do less of this stuff.

Kita semua rentan terhadap motivated reasoning dan bias konfirmasi, dan kita semua rentan terhadap kesukuan, dan pemikiran hitam-putih. Kita perlu mendidik anak-anak agar mereka mengurangi hal-hal ini.

Motivated reasoning(?)

Always trust your feelings. Dengarkan kata hatimu. Terdengar bijaksana dan romantis, ya? Ternyata pemikiran seperti ini tidak sepenuhnya benar. Orang-orang bijak di seluruh dunia telah memperhatikan bahwa kita tidak bereaksi terhadap dunia sebagaimana adanya, melainkan melalui konstruksi dan persepsi.

Epictetus berkata, "Bukan hal-hal itu yang mengganggu kita, melainkan interpretasi kita terhadap hal-hal tersebut yang mengganggu kita." Jonathan Haidt mengutip perkataan Homer Simpson -karakter di The Simpson- yang menurut saya cukup menarik. "Shut up, brain! Or I'll stab you with a Q-tp!" Self-talk!!! Otak kita tidak pernah berhenti, dia terus bekerja dan dalam aktifitasnya otak bekerja untuk melindungi diri kita. Jika kita tidak mengendalikannya, maka kita akan dikalahkan oleh persepsi kita terhadap dunia luar yang terkadang dipengaruhi oleh emosi. Maka, tradisi self-talk yang mengarah pada self-control yang sudah diwariskan para ulama kita sejak generasi salaf, mestinya kita lestarikan lagi. Bukan self-talk yang justru melemahkan diri karena kita tunduk pada emosi.

Mari kita simak bagaimana Fudhail bin Iyadh melakukan self-talk untuk mengendalikan dirinya;

Wahai orang yang malang, engkau berbuat buruk sementara engkau memandang dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan

Engkau adalah orang yang bodoh sementara enggkau justru menilai dirimu sebagai orang berilmu

Engkau kikir sementara engkau mengira dirimu orang yang pemurah

Engkau dungu sementara engkau melihat dirimu cerdas

Ajalmu sangatlah pendek, sedangkan angan-anganmu sangatlah panjang.

Haidt mengatakan bahwa di kampus-kampus saat ini para mahasiswa didorong untuk mengikuti perasaan mereka. Jika mereka merasa tersinggung oleh sesuatu, maka mereka merasa telah diserang. Mereka seharusnya tidak mengikuti perasaan itu. Tetapi orang yang bijaksana akan berkata, "sebentar, apakah ada cara lain untuk menghadapi ini?" 

These are crucial skills for critical thinking. These are crucial skills for mental health. And we need to be teaching young people at all stages to question their first interpretations, look for evidence, and improve the way they interpret the world.

Cognitive Behavioral Therapy/CBT (Terapi Perilaku Kognitif)

CBT merupakan cara untuk mengajarkan orang melakukan persis seperti apa yang disebutkan di atas. Mempertanyakan perasaan mereka dan mencari bukti. Dalam CBT, kita akan mempelajari sekitar 15 distorsi/kesalahan logika dalam berpikir; memburuk-burukkan, berpikir hitam-putih, memberi label, atau menebak pikiran. Aaron Beck, seorang psikiater pada tahun 1960an memperhatikan bahwa orang yang depresi dan cemas memiliki cara berpikir bahwa, "Saya buruk. Masa depan itu buruk. Masa depan saya - dan dunia adalah tempat yang buruk." Cara berpikir seperti ini, bertemu dengan lingkungan yang tidak mendukung akan semakin menguatkan perasaan depresi.

Jika kita bisa memperbaiki pemikiran dan mematahkan keyakinan-keyakinan yang melemahkan maka kita akan terbebas dari depresi. Haidt menjelaskan bahwa ada cara-cara lain untuk mengatasi pola pikir keliru namun CBT adalah praktik yang paling mudah dan sudah terbukti memiliki dampak yang besar terhadap berbagai penyakit mental, terutama yang berhubungan dengan depresi dan kecemasan. Dan jika kita melihat kembali ke Islam, sesungguhnya CBT ini juga bukan hal yang asing bagi kita.

ูˆَุนَุณَู‰ٰٓ ุฃَู† ุชَูƒْุฑَู‡ُูˆุง۟ ุดَูŠْู€ًุۭٔง ูˆَู‡ُูˆَ ุฎَูŠْุฑٌۭ ู„َّูƒُู…ْ ۖ ูˆَุนَุณَู‰ٰٓ ุฃَู† ุชُุญِุจُّูˆุง۟ ุดَูŠْู€ًุۭٔง ูˆَู‡ُูˆَ ุดَุฑٌّۭ ู„َّูƒُู…ْ ۗ

"...Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan bisa jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu..." (Al-Baqarah 216)

Ayat di atas berbicara tentang kewajiban perang yang tidak mungkin disukai oleh manusia. Namun Allah mengajarkan kepada kita pada hal ini, bahwa sesungguhnya hal yang tidak kita sukai tidak selalu buruk bagi kita. Dan selama kita percaya kepada Allah, tidak ada yang buruk bagi orang yang beriman. Bahkan musibah dan kesulitan hidup adalah berkah dan kasih sayang dari Allah jika kita memiliki persepsi yang benar terhadap takdir Allah.

Pertanyaannya adalah, bisakah kita mengajarkan kepada anak-anak kita tentang konsep ini? Karena tentu saja kita tidak bisa meminta sekolah untuk mengambil alih semua tugas pendidikan ini. Jika kita bisa mengajarkan bagaimana cara berpikir yang benar tentang hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka, maka insyaallah anak-anak kita akan menjadi lebih tahan terhadap gangguan-gangguan yang mungkin lebih besar di masa yang akan datang.

Photo by Nik on Unsplash

Kesukuan/Rasisme

Jika kita pikirkan lagi, manusia selalu ingin bersaing dengan manusia lainnya. Haidt mengatakan bahwa sifat manusia sangat cocok untuk konflik antarkelompok atau antar suku. Dan ini terbukti dari sejarah nenek moyang kita, bahkan hingga saat ini.

Secara umum, kita berusaha untuk mengubah sejarah kelam itu tanpa menghilangkan naluri bersaing kita. Kini kita memiliki olimpiade, lomba persaudaraan dan bermacam-macam kompetisi. Hal ini tentu menyenangkan dan baik untuk kita, namun di sisi lain kadang bisa menjadi bumerang jika diiringi dengan kefanatikan. Di sekolah atau kampus, kita melihat bentuk-bentuk pendidikan yang mengajarkan siswa untuk membuat semakin banyak perbedaan dan membuat mereka -lagi-lagi- membuat persepsi bahwa orang-orang yang kaya biasanya buruk dan yang lebih rendah biasanya baik. Atau persepsi-persepsi lain.

Saya setuju bahwa ego kesukuan ini adalah pedang bermata dua. Jika terlalu fanatik maka bisa jatuh pada rasisme, namun jika dinegasikan seluruhnya akan menghilangkan identitas diri seorang manusia. Lalu apa hubungannya dengan kelemahan mental generasi kita?

Generasi Z hidup di masa tembok-tembok perbatasan nasional sudah tidak terlihat. Qia, anak saya misalnya (generasi Alpha) sudah memiliki teman dari berbagai negara melalui game Roblox. Dia perlu untuk menyiapkan dirinya dalam berinteraksi dengan teman-temannya yang merupakan masyarakat dunia, maka ego kesukuannya harus ditekan. Namun di sisi lain, identitasnya sebagai muslim dan orang Indonesia seharusnya tidak hilang agar kebanggaan terhadap identitas dirinya tidak hilang.

Masalah yang sering dihadapi generasi Z berkaitan dengan hal ini adalah diantara 2 hal; mereka yang terlalu membanggakan diri dan kelompoknya sehingga fenomena bullying semakin marak terjadi di mana-mana, atau justru yang kehilangan jati diri karena merasa dirinya tidak bisa fit in dengan lingkungan dimana dirinya berada. Anak-anak kita butuh self-awareness yang kuat agar tidak mudah terjebak pada salah satunya.

Photo by Susan Wilkinson on Unsplash

Jika kita menengok pada tujuan manusia diciptakan bersuku-suku, dalam Al-Qur'an Allah mengatakan bahwa tujuannya adalah supaya kita saling mengenal. Lebih awal sebelum ayat tersebut, kita diperintahkan agar tidak mudah berprasangka. Perasaan menganggap golongan atau orang lain berbeda dalam keutamaan membuat kita mudah merasa kecil atau justru jumawa. Maka pemahaman yang tepat tentang QS Al-Hujurat ayat 12-13 sangat diperlukan agar anak-anak kita bisa membawa dirinya dengan persepsi yang benar tentang manusia lain, tentang kesetaraan dan pergaulan. Dengan begitu, semoga mereka menjadi anak yang lebih percaya diri namun juga penuh toleransi.

© Zuzu Syuhada • Theme by Maira G.