Hi, welcome to my digital diary

Saya ingin memperkenalkan diri dengan cara dan informasi yang tepat, supaya tidak ada salah paham di antara kita 😉. 

1. Call me Zuzu, but Tika is also my name

Di sosial media saya memakai nama Zuzu Syuhada. Kebanyakan mengira bahwa itu adalah semacam 'nama panggung', padahal bukan. Zuzu Syuhada adalah akronim dari nama asli saya, Siti Zuhrah Asiyah dan nama Ayah saya; Yusuf Syuhada. Saya mendapat nama Tika dari orang tua angkat. Dan karena sejak kecil sudah biasa dipanggil Tika, maka itu jadi nama paten. Hanya saja sejak kenal sosial media, ketika saya membuat akun dan memilih username nama Tika selalu saja sudah ada yang memakai. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil nama asli sebagai username di berbagai media sosial itu. Btw, ketika akad nikah pun suami saya diharuskan menyebut kedua nama tersebut.

2. I am a millennial generation

Lahir tahun 1990, saya bersyukur masih mengalami serunya (ngeliatin teman-teman) mandi di sungai, main BP-an, gobak sodor, dan berbagai permainan tradisional lainnya. Pun ketika dunia berubah menjadi serba digital seperti sekarang, saya tidak lantas shock dan gagap dengan percepatan dalam perkembangan teknologi. Tentu saja saya juga mengalami quarter life crisis yang belakangan sedang hype pembahasannya. Tapi lagi-lagi Alhamdulillah sejauh ini saya masih sadar bahwa saya punya tujuan hidup yang jelas.

3. Menjadi guru Al-Qur'an sejak usia 16 tahun

Satu lagi kelebihan menjadi generasi milenial adalah pengalaman mengaji di surau atau guru ngaji di kampung setiap hari ketika masih kecil. Bahkan saya bisa mengatakan bahwa saya jauuuuuh lebih beruntung dibanding teman-teman seusia saya, karena ketika kecil saya (atau tepatnya anak-anak di kampung kami) mendapat guru ngaji yang sangat cakap dan berpengetahuan luas. Banyak ilmu agama yang dulu kami pelajari ternyata tidak didapatkan oleh anak-anak lain. Kami belajar mengaji dengan panduan kitab-kitab pesantren. Dan setelah dewasa saya baru tahu kalau ternyata di TPA pada umumnya hanya belajar membaca Iqra' dan Fiqh ibadah yang sangat umum.

Saya sempat masuk pesantren selama 10 bulan. Karena tidak betah, saya kabur dari pesantren dan berusaha sekolah lagi tanpa dukungan orang tua. Salah satu usaha pertama yang saya lakukan untuk menyambung hidup pada saat itu adalah menjadi guru ngaji. Ternyata tanpa saya sadari hal itu berlanjut sampai hari ini.

4. I loooooove reading and studying

Saya bisa membaca sejak usia 3 tahun, demikian kata Bapak dan Mamak saya. Karena kemampuan ini maka orang tua saya memutuskan untuk memasukkan saya ke TK di usia 4 tahun. Dulu usia segitu belum boleh masuk TK sehingga data tanggal kelahiran saya harus dipalsukan. Tapi ternyata saya merasa tidak cocok sekolah di TK, hanya 3 bulan saja saya sudah ngambek dan tidak mau masuk sekolah lagi. Alasannya, di TK tidak belajar. Hanya diajak menyanyi, menari dan lompat-lompat. Saya mau belajar. Lalu tahun ajaran berikutnya Bapak mendaftarakan saya ke SD. Dan saya membaca 'Ini Budi' dengan bahagia. 

Sampai hari ini saya masih sangat suka belajar dan membaca. Beberapa orang termasuk suami menganggap saya sebagai orang yang terlalu serius karena jadi sangat kritis terhadap segala sesuatu. But it's ok, selama saya bisa mengendalikan diri untuk tidak menyampaikan semua isi pikiran kepada orang yang tidak tepat maka InsyaAllah saya akan selamat.

5. I'm a graduate of Islamic political thought who is disgusted by politics

Bukan berarti saya jadi anti politik, bahkan saya masih mengikuti perkembangan berita politik saat ini walaupun hanya lewat media. Sesekali saya juga masih mencari tahu tentang peristiwa-peristiwa penting di dunia. Tapi, siapa sih yang nggak muak dengan sistem dan praktisi politik saat ini?! Jujur saja, sejak memasuki semester 5 kuliah saya sudah memutuskan untuk tidak terjun ke dunia politik setelah lulus nanti. Bertemu orang-orang bermuka dua yang berlidah ular itu membuat saya yakin bahwa memperjuangkan perbaikan negeri melalui jalur politik bukanlah bidang yang harus saya ambil.

6. INTJ person yang super melankolis

It's not confirmed, by the way. Saya hanya mencoba tes online gratisan yang ada di internet. Ada 3 website dulu yang saya coba, hasilnya sama semua. Kalau kalian tahu tentang IMTB, pasti bisa membayangkan betapa tidak menyenangkannya saya in real life. 😂

Saya tidak suka basa-basi atau menahan diri hanya karena berbeda opini. Beberapa teman dulu menganggap saya songong, tapi saya menyebut diri saya; sadar diri. Kadang-kadang perkataan saya membuat orang lain sakit hati, dan teman-teman saya bilang itu menghina. Tapi apakah disebut menyakiti jika kita hanya berusaha mengatakan yang sebenarnya?!

Tapi meskipun tidak menyenangkan, saya mudah sekali terharu dan menangis hanya karena hal-hal yang mungkin tidak terlalu menyentuh bagi sebagian orang. Mungkin karena saya biasa berpikir mendalam, jadi ketika melihat sesuatu pikiran saya jadi ke mana-mana membuat skenario lalu akhirnya sedih sendiri.

7. a Gryffindor who desperately want to be on Ravenclaw

Yang ini random memang, tapi ya begitu. Saya ingin sekali satu asrama dengan Luna Lovegood. Siapa coba yang nggak pengen jadi temannya Luna?! Nerdy, aneh tapi cerdas. Yang memalukan adalah sampai saat ini saya belum pernah membaca Harry Potter walaupun sudah menonton filmnya berkali-kali.

8. Saya guru ngaji, bukan ustazah

Seringkali orang-orang sekarang dengan seenaknya menyempitkan makna ustaz/ustazah kepada orang yang kebetulan mengajar membaca Al-Quran. Tapi menjadi ustaz/ustazah bukanlah hanya bersyarat bisa ngajarin baca Al-Quran lho. Saya mengakui bahwa bisa jadi saya paham lebih banyak tentang agama jika dibanding orang-orang pada umumnya, tapi untuk kualifikasi sebagai ustazah saya tahu saya tidak ada di level itu. Jadi jangan pernah memanggil atau menganggap saya sebagai ustazah ya...

9. Suka makan, tapi nggak suka masak

Kerandoman lain dari saya adalah selera makan yang tidak cocok untuk orang Indonesia. Waktu masih kecil saya sering dibilang sok londo karena tidak suka makan nasi. Sampai sekarang kalau makan juga, -pakai istilah teman- sayur pakai nasi, bukan nasi pakai sayur. Sedihnya lagi, karena selera makan yang tidak sesuai itu akhirnya saya jadi malas masak. Ya ngapain masak sesuatu yang kita sendiri malas makannya? Tapi anehnya kalau adik saya yang masak, saya akan makan. Apa karena nggak capek ya?! Tinggal makan gitu nggak perlu usaha buat bikinnya.

Selain itu kalau makan di restoran atau rumah makan saya pasti akan memubazirkan makanan karena selalu nggak habis, tapi kalau menunya makanan Indonesia. Kalau diajak ke restoran Jepang, Korea atau menunya beda InsyaAllah saya adalah teman makan yang menyenangkan.

10. Susah move on dari masa lalu

Masa kecil dan remaja saya terlalu berharga untuk dilupakan begitu saja. Memang tidak indah, bahkan banyak kenangan menyakitkan tapi saya merasa justru masa-masa itulah yang membuat saya bangga menjadi diri saya yang sekarang. Jadi jangan heran kalau nanti di sini saya banyak cerita tentang masa lalu. Kalau orang lain akan bahas drama Korea terkini, mungkin saya akan menceritakan Inuyasha. Kalau di blog lain buku yang direview adalah buku-buku terbaru, mungkin saya akan membahas novel-novel klasik. Termasuk musik, saya akan lebih tertarik dengan One OK Rock daripada BTS. 


I hope you'll gain something positive from this blog. Now, it's your turn to tell me about yourself. 😇

Share
Tweet
Pin
Share