SLIDER

Pengalaman ruqyah mandiri setahun yang lalu

Jumat, 15 September 2023

Tepatnya 1 Agustus 2022 jam 5:01 PM, berdasarkan archive story instagram yang saya lihat hari ini. Karena saya pikir ini salah satu pengalaman yang penting untuk diingat, saya putuskan untuk tuliskan di sini.

Jadi ceritanya sejak hari pertama di lokasi sekolah yang baru, saya merasa kurang enak badan. Saya pikir karena saya kelelahan dan belum terbiasa dengan jadwal kerja yang baru. Jadi saya tidak terlalu ambil pusing, dan tetap bekerja seperti biasa. Hanya saja, kalau saya merasa ada potensi sakit bakal makin parah kalau saya paksakan ke sekolah saya pilih untuk istirahat di rumah. Saya sudah agak lupa bagaimana kronologi tepatnya, tapi yang saya ingat sejak 15 Juli sampai 1 Agustus itu saya tidak setiap hari masuk kerja. FYI, saya wali asrama jadi tidak ada hari libur.

Yang saya ingat pasti adalah, suatu hari ketika di asrama saya merasa tiba-tiba badan saya terasa sangat berat digerakkan. Karena kondisinya saat itu memang masih sakit, saya tidak berpikiran macam-macam. Hanya kemudian izin untuk istirahat di rumah secara total sampai saya merasa benar-benar membaik. Tapi ternyata bukannya membaik, kondisi saya malah makin memburuk. Dan itu adalah kondisi paling menakutkan yang pernah saya alami selama hidup sakit-sakitan selama ini.

Saya selalu kedinginan dan badan saya kaku luar biasa. Jalan saja sampai seperti robot dan tidak mampu sholat sambil berdiri. Suami saya akhirnya berhasil memaksa saya untuk memeriksakan diri ke klinik karena kurang lebih 3 hari saya sudah tidak ada nafsu makan. Bahkan tiap malam saya makin menggigil karena kedinginan. Saking parahnya rasa dingin yang saya rasakan, suatu malam saya bangun dan merebus air. Begitu mendidih saya pindahkan airnya ke gelas kaca dan ketika saya pegang gelasnya saya nggak merasakan panasnya.

Begitu di klinik, saya langsung diminta untuk periksa darah karena kondisinya sudah memprihatinkan. Tapi sepertinya dokter juga agak kaget karena ternyata nggak ada tanda-tanda sakit dari hasil tes. Lalu saya dibuatkan resep obat yang setelah saya cek hanya sekadar obat flu dan beberapa vitamin biasa. Saya tetap minum obatnya, tapi setelah 2 hari dan tidak ada perubahan saya mulai berpikir bahwa pasti ada yang tidak beres dengan tubuh saya.

Saya tidak sampai berpikir bahwa ada jin yang mengganggu. Yang saya pikirkan saat itu hanyalah 'kalau badan tidak sakit tapi terasa sakit, pasti ada yang salah'. Lalu, terjadilah tanggal 1 Agustus itu saya berpikir untuk mencari alternatif pengobatan lain yang saya yakini pasti berhasil. Setelah suami dan anak-anak berangkat sekolah saya duduk di kasur menyimak video ruqyah dari ustadz Muhammad Faizar di Youtube. Dan benar saja, setelah 20 menit menyimak saya mulai merasa mual. Ketika ustadz sudah mulai membaca dzikir ruqyah sambil menunjuk ke kamera, saya sudah tidak tahan dan akhirnya muntah. Karena nggak mengira akan muntah saya cuma menadahkan tangan lalu baru mencari tisu untuk membersihkan muntahan. Ada sedikit bercakan darah di situ. Lalu secara tiba-tiba saya merasakan ada yang bergerak keluar dari arah punggung naik sampai ubun-ubun, dan badan saya yang tadinya kedinginan langsung merasa panas luar biasa. Saya langsung lepaskan jaket karena tidak tahan dengan panasnya, lalu teringat karena masih menyimak dzikir ruqyah maka saya langsung mengambil selimut tipis untuk membungkus badan. Sambil menuntaskan menyimak bacaan saya merasakan badan yang tadinya terasa berat perlahan mulai ringan dan perut saya mulai lapar ๐Ÿ˜.

Photo by Tanya Syf on Unsplash

Seketika saat merasakan sesuatu yang bergerak di punggung itu saya langsung sadar kalau selama 2 pekan ini saya tidak sakit. Saya langsung yakin bahwa memang ada jin yang usil kepada saya. Dan setelah video ustadz Faizar selesai, saya langsung lanjutkan dengan menyimak murottal surat Al-Baqarah. Saya pilih menyimak murattal karena saya sangat lelah, dan tidak sanggup menegakkan punggung. Dan benar saja, selama menyimak murattal itu badan saya terasa seperti melayang dan sangat panas tapi tidak berkeringat sama sekali. 3 jam saya tuntaskan menyimak surat Al-Baqarah sampai saya merasa mendingan dan meminta tetangga untuk memasakkan sesuatu untuk saya karena sama sekali nggak bisa bergerak.

Setelah segala proses 'ruqyah mandiri' itu selesai, saya sempat termenung agak lama. Antara percaya dan tidak bahwa yang barusan saya alami adalah proses ruqyah dan yang menjangkiti badan saya selama 2 pekan terakhir adalah gangguan jin. Saya chat suami untuk meyakinkan diri saya sendiri, bahwa saya orang beriman dan percaya bahwa gangguan jin memang ada dan yang saya alami sama sekali tidak wajar untuk penyakit normal. Saya bilang ke suami kalau saya kena gangguan jin, dan saya sudah sembuh setelah ruqyah mandiri. Saya tahu kalau dia tidak percaya, tapi ya nggak pa-pa. Untungnya saya sempat upload story di instagram, jadi ingat lagi tanggal tepatnya kejadian itu sehingga bisa saya arsipkan lebih baik di postingan ini.

Qia dan Aqsha Hate School

Rabu, 06 September 2023

Seperti biasa ketika Qia dan Aqsha pulang sekolah, saya sudah kehabisan energi. Sehingga saya hanya tiduran di kasur sementara mereka main atau nonton Youtube. Tapi sore itu obrolan mereka sedikit berbeda.

"I hate school." Kata Aqsha

"Kenapa?"

"I got bullied."

Saya yang mendengar langsung pasang telinga lebih tajam dari kamar.

Aqsha cerita kalau beberapa temannya ada yang suka mencubit dan memukulnya, lengkap dengan nama-nama mereka. Saya bisa rasakan hal itu meninggalkan memori cukup penting dalam ingatannya karena biasanya Aqsha tidak ingat nama-nama temannya.

Qia di sisi lain ternyata kemudian mengungkap cerita yang sama. Ada juga beberapa temannya yang suka berbuat demikian. Dan di akhir ceritanya dia mengatakan, "I kinda want to back to gindergarten."

***

Saya kemudian mencoba untuk memastikan cerita Aqsha. Dan menyampaikan hal tersebut ke wali kelasnya. Tapi dari sepotong obrolan Qia dan Aqsha, ada beberapa hal yang menarik untuk saya pikirkan.

Pertama, cara Aqsha menceritakan pengalamannya. Dia memilih untuk menceritakan pengalaman buruknya kepada Qia, bukan kepada saya. Sejujurnya hal itu membuat saya cukup sedih. Mungkin Aqsha tidak cukup percaya kepada saya untuk menjadi pendengar kisah sedihnya? Atau mungkin bisa juga karena dia tidak ingin saya ikut sedih karena mendengar kisahnya?!

Aqsha anak yang sangat halus perasaannya. Setiap kali dia mengalami hal yang menyenangkan, dia akan antusias menceritakannya kepada saya. Tapi dia tidak terlalu ekspresif. Maka, antusiasme yang dia tunjukkan kadang hanya bisa dibaca oleh orang-orang terdekatnya; saya dan Qia. Sebenarnya dia juga dekat dengan Abinya, tapi Abi nggak punya perasaan jadi kita lupakan saja.

Saya tidak bisa melihat bagaimana air muka Aqsha ketika sedang cerita kepada Qia. Tapi dari intonasinya, saya bisa merasakan ada kekecewaan di dalamnya. Dan yang unik saya malah tidak bisa merasakan kesedihan. Mungkin Aqsha hanya kecewa karena sekolah yang dia harap akan menyenangkan justru ada selipan bullying di dalamnya?

Photo by Michael Dziedzic on Unsplash

Kedua, ucapan Qia yang ingin kembali ke TK. Saya langsung teringat masa kecil ketika mendengarnya. Dan saya cukup bersyukur Qia mendapat pengalaman TK yang menyenangkan.

Saya justru merasakan pembullyan ketika masih TK. Dan karena saat itu masih sangat polos, saya tidak paham kalau apa yang saya alami adalah bullying. Sampai saat ini, memori saya tentang sekolah TK tidak banyak. Bahkan saya tidak punya banyak kenangan selama di SD.

Seingat saya, dulu saya selalu berharap ingin segera jadi dewasa agar bisa terbebas dari kekangan masa kecil. Maka mendengar Qia yang ingin kembali ke TK membuat saya tersenyum kecil tapi juga sedikit miris. Apakah Qia merasa berada di SD sudah sedemikian berat hingga dia ingin kembali ke TK? FYI, Qia selalu melihat saya sebagai sosok ibu yang kelelahan jadi sepertinya wajar kalau dia tidak ingin segera dewasa.

Dan sekarang Qia sudah mulai menyimpan rahasia dari saya. Rasanya seperti semuanya berlalu sangat cepat. Mungkin suatu saat saya akan merasa tidak lagi mengenal anak-anak saya sendiri. ๐Ÿ˜ถ

***

Apapun itu, saya berharap akan membaik seiring dengan berjalannya waktu. Karena yang Qia dan Aqsha alami menurut saya masih merupakan perundungan yang umum, saya hanya berharap mereka bisa mengatasinya sendiri. Karena suatu saat mereka harus menghadapi bentuk perundungan yang lebih parah dari sekadar mencubit. Dan ketika saat itu tiba, saya ingin mereka sudah menjadi orang yang resistensinya lebih baik dari saya.

is it OK curhat di media sosial?!

Senin, 04 September 2023

Salah satu alasan saya menutup blog pertama adalah ketika membaca postingan-postingannya, rasanya seperti membuka aib orang-orang yang saya bicarakan dalam postingan tersebut. Padahal saya jaraaaaaang sekali menyebut nama di setiap postingan blog -bahkan kayaknya nggak pernah- tapi tetap saja saya merasa mereka tidak berhak saya ghibahin meskipun hanya lewat blog.

Pun ketika beberapa teman dekat ada yang meminta saya menuliskan pengalaman hijrah dalam bentuk prosa, saya tidak melakukannya sampai saat ini karena menurut saya akan ada banyak hati yang terluka kalau mereka mengetahui tragedi itu diumbar ke mana-mana.

Photo by Nathan Dumlao on Unsplash

Beberapa tahun yang lalu saya menemukan Sophia Mega, salah seorang content creator yang suka berbagi konten tentang buku. Karena saya suka dengan cara reviewnya, saya follow akun instagramnya. Belakangan dia sering menceritakan pengalamannya ketika menjalani terapi, dan banyak memposting bagaimana interaksinya dengan keluarga. Sesekali saya membacanya, dan terpikir 'ini kalau orang tuanya baca curhatan dia, apa nggak sedih ya?'. Karena terus kepikiran seperti itu, setiap kali stories dari Sophia Mega muncul dan menceritakan tentang strugglenya menghadapi keluarga, saya skip saja supaya tidak berlanjut menjadi prasangka buruk.

Lalu ada salah satu blog yang masih aktif sampai hari ini, yang sering saya temukan di halaman pertama mesin pencari memiliki kebiasaan yang sama; suka curhat pengalaman hidupnya. Lama-lama karena penasaran, saya pun menanyakan di salah satu kolom komentarnya.


Jujur, saya benar-benar hanya penasaran. Sejauh ini tidak ada prasangka apalagi sampai seperti yang biasa di komen-komen sosmed itu dengan dalih 'sekedar mengingatkan' yang sebenarnya justru seperti menghakimi. Lalu membaca balasan ini, saya merefleksi diri 'hah, bukankah ini juga alasan saya menulis blog?' untuk mengungkapkan isi hati secara terbuka tanpa ada rasa khawatir? Bahkan ketika pertama kali membuat blog baru ini, saya sudah janji lho untuk menyampaikan uneg-uneg tanpa ragu dan curhat sepuas hati. 

Setelah Hari yang Panjang

Yang membedakan antara saya dengan Mega dan Rey sepertinya adalah mereka yakin bahwa orang-orang yang menyakiti mereka itu tidak peduli dengan mereka. Maka menceritakannya di sosial media pun tidak akan berpengaruh apa-apa. Sementara saya meyakini bahwa orang-orang itu peduli kepada saya, bahkan ketika mereka menyakiti sekalipun. Sehingga saya merasa tidak adil kalau menceritakan 'keburukan' mereka di tempat umum. Seseorang yang sengaja menyakiti tidak sama dengan yang tidak sengaja. Mungkin karena saya sendiri sangat berpengalaman sebagai orang yang selalu disalahpahami, maka saya selalu berhati-hati ketika akan menilai niat dibalik perbuatan orang lain.

Lalu saya berpikir, 'kalaupun mereka peduli, memangnya mereka akan baca tulisan di blog ini?' ๐Ÿ˜† Lagi-lagi, bukankah karena itu juga saya menulis di blog? Karena tidak ada yang ke sini. Saya jadi agak kasihan kepada diri saya sendiri. Mungkin karena terlalu banyak menyakiti orang lain selama 10 tahun terakhir ini, saya jadi terlalu judgemental terhadap diri sendiri. Jangan-jangan saya juga butuh terapi?! ๐Ÿ˜‚ Sepertinya saya terlalu mengkhawatirkan orang lain dan malah kurang peduli kepada diri sendiri. 

Photo by Kaitlyn Baker on Unsplash

Karena terlalu overthinking, saya menunda menuntaskan curhatan ini padahal seharusnya bisa melegakan pikiran. Toh, itu merupakan autokritik yang baik kalau orang-orang yang bersangkutan dalam tulisan itu mau menanggapinya dengan lapang hati. Dan saya juga yakin 1000% keluarga saya tidak akan pernah sekepo itu dengan apa yang saya tulis di blog ini. Bahkan suami saya nggak pernah membaca tulisan-tulisan saya. Dengar cerita yang nggak butuh effort saja dia tidak sanggup apalagi harus membuka browser, mengetikkan nama saya dan membaca beberapa menit hanya untuk mengetahui isi hati saya?! Saya jadi tertawa sendiri menulis ini.

Saya masih yakin bahwa sosial media berbeda dengan blog. Maka saya masih merasa tidak perlu menceritakan hal-hal yang tidak mengenakkan di sana. Tapi, Mega dan Rey sudah mengingatkan saya pada tujuan utama saya membuat blog ini. Jadi, apakah tidak apa-apa curhat di sosial media?! Tidak, saya masih tidak setuju. Tapi kalau di sini, tidak apa-apa. Sepertinya saya perlu berkali-kali diingatkan bahwa di sinilah tempat paling aman untuk saya menceritakan semuanya dan menggali sampah-sampah di dalam hati saya lalu membuangnya.

Tentang Manga, Anime, dan Live Action One Piece; sebuah review

Jumat, 01 September 2023

cover manga yang pakai warna

So.... where to start?!

Semua akan One Piece pada waktunya, kan?! Seperti suami saya yang awalnya ragu untuk menonton One Piece, saya pun demikian. Seingat saya, suami mulai nonton One Piece pas bulan puasa tahun 2021. Dia selalu nonton sambil makan sahur atau buat selingan pas tilawah ba'da isya. Satu hal yang membuat saya penasaran dengan One Piece adalah karena melihat suami saya menangis di salah satu episode yang dia tonton. Dia bukan orang yang mudah menangis. Dia nggak nangis waktu melihat pengorbanan Kagome untuk Inuyasha, dia nggak nangis waktu Rengoku mati, tapi dia nangis nonton anime konyol tentang manusia karet. That's interesting.

Seperti orang-orang kebanyakan, saya juga merasa sudah terlambat untuk mengikuti serial ini. Apakah layak untuk dikejar? Satu pertanyaan itu yang saya ajukan kepada suami sebelum memulai. Dan dia memastikan saya akan tertarik karena unsur politik di dalam ceritanya. Lalu, awal tahun ini saya mencoba membaca manganya. Satu-satunya medium bacaan yang saya paling tidak mengerti konsepnya. Saya menantang diri membaca manga karena saya pikir akan terlalu banyak waktu terbuang kalau menonton anime, biasanya kan satu episode anime hanya memuat beberapa scene dari manga. Dan tentunya saya akan bisa memahami cerita dengan lebih utuh lewat manga. Kalau memang One Piece sebagus itu, dia layak untuk diusahakan. Dan ternyata benar.

Saya suka chapter 1 dan 2. Saya tidak merasa kesulitan sama sekali membacanya. Urutannya jelas, dan gambarnya menyenangkan. Entahlah, padahal saya tidak merasakan kesenangan yang sama ketika mencoba membaca manga yang lain. There's something special about those pictures that makes me happy to look at them. Lalu saya mencoba menonton animenya. Sampai saat ini baru di episode 20, dan masih asik-asik aja. Belum ada emosi yang gimana-gimana. Tapi itu sudah saya antisipasi karena seperti permulaan cerita yang panjang, bagian awal adalah yang paling krusial meskipun tampak membosankan. 

Dan kemarin sore saya menonton live action One Piece season pertama, sekali duduk. Tentu saja berdua dengan suami. Dan setelah menyelesaikan nonton live actionnya, saya benar-benar tertarik untuk membahas serial ini.

poster live action

Menurut para fans, live action One Piece merangkum East Blue Saga yang terdiri dari 12 volume manga (100 chapter) dan 61 episode anime. Tentu saja saya banyak tertinggal. Menonton live action sampai selesai rasanya jadi berbuat curang karena sudah mengintip isi cerita tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Untungnya, karena sudah punya cicilan anime dan manga, saya jadi tahu bahwa 3 medium ini benar-benar bisa dinikmati sendiri tanpa perlu dukungan satu dari yang lain.

Ketika menonton anime sambil membaca manga, saya jadi tahu bahwa ada beberapa plot yang diatur berbeda porsi dan urutannya. Ada bagian di manga yang tidak ditampilkan di anime, begitupun sebaliknya. Dan tentu saja, live action yang hanya 8 episode tidak akan bisa merangkum keseluruhan cerita dengan lengkap kalau kita mau sempurna. Itulah mengapa dinamakan adaptasi. Banyak hal yang diubah, banyak cerita yang  dipangkas. Tapi bagian-bagian yang penting dijaga dengan baik sehingga saya bisa menangkap inti cerita dan merasakan emosi para karakter dengan baik. 

poster anime

Dan di postingan kali ini saya akan membahas One Piece live action sebagai seseorang yang bukan fans. Meskipun sudah membaca sebagian kecil manga dan menonton animenya, saya belum layak dan merasa menjadi penggemar serial ini. Saya bisa melihat saat-saat itu akan datang, tapi saat ini saya masih ingin menilai serial ini sebagai orang baru.

Gold Roger

dari manga ๐Ÿ‘‰anime๐Ÿ‘‰live action

Dalam manga maupun anime, scene eksekusi Gold Roger adalah adegan utama. Maka wajar kalau di live action scene ini tetap dijaga. Karena memang dari dialah cerita One Piece bermula. Dari setting tempat sampai ke karakter/aktornya, udah pas banget. Hanya saja sayangnya, Gold Roger nggak nyebut istilah One Piece di momen eksekusi itu. Padahal setahu saya, istilah One Piece ya awalnya dari dia itulah. Tapi yaudah lah ya, lupakan saja.

Alur

Di manga, Luffy kecil muncul pertama kali sebelum karakter yang lain. Masuk akal karena memang dia tokoh utamanya. Kita akan disuguhi adegan Luffy yang merengek minta bergabung ke dalam kru bajak lautnya Shanks, dan seterusnya. Alur maju mundur memang cocok untuk merangkum jalan cerita yang panjang supaya kita nggak kebingungan dengan latar belakang dari tiap-tiap karakter.

Sementara di anime, scene pertama yang kita lihat hanyalah tong ikannya Luffy yang kalau nggak baca manga pasti nggak dapet clue apa-apa. Jadi, bisa dibilang orang pertama yang dilihat di anime adalah Nami.

Nami's first appearance

Di live action, scene pertama adalah Luffy yang lagi kerepotan buangin air dari perahunya yang bocor. Abis itu baru masuk tong ikan, dan akhirnya sampai ke kapalnya Alvida ketemu Koby. 

Nah, yang baru buat saya adalah kemunculan Sixis Island. Yaaa karena saya belum jauh baca manga dan animenya, jadi nggak paham tentang latar belakang pulau ini. Tapi, justru ini jadi salah satu pro dari episode ini. Penonton live action dikasih tahu di awal tentang kehebatan Zoro. Sehingga kebayang sama kita tentang karakter dan kekuatannya.

Baik di manga maupun anime, pertemuan antara Luffy, Zoro dan Nami terjadi berurutan. Luffy dan Zoro duluan ketemu, sementara Nami sibuk dengan keperluannya di sekitar mereka berdua. Sementara di live action, mereka bertiga ketemu hampir barengan. And that's OK. Saya nggak menemukan masalah sama sekali di perubahan ini.

Banyak yang berubah di versi live action. Tapi menurut saya malah perubahan ini masuk akal. Misalnya di anime maupun manga Zoro diikat di halaman pangkalan marinir udah 3 minggu ketika ketemu Luffy. Itu kan mustahil yak?! ๐Ÿ˜† Sementara di live action, Zoro baru mulai ditahan dan nggak sampai sehari setelah itu untuk ketemu Luffy. 

So far, perubahan-perubahan yang dilakukan di live action nggak bikin inti cerita jadi aneh atau feelingnya berkurang. Alur di Syrup Village misalnya, justru jadi masuk akal ketika mereka ketemu Usopp pertama kali di tempat pembuatan kapal sehingga kita dapet bayangan Kaya itu bisa kaya karena apa. Nggak ujug-ujug ngasih kapal seperti di anime. 

Aktor

Aktor-aktor utamanya pun keren-keren aktingnya. Yang paling menarik perhatian saya adalah Koby. Karena kata suami nanti Koby akan jadi karakter penting, saya perhatiin banget tuh dia dari awal. Dan aktornya keren banget meranin karakter Koby yang pengecut dan selalu canggung. Saya penasaran gimana tampilannya nanti waktu udah gagah dan bisa berdiri tegak. Pasti kece banget.

Buggy, seperti yang sudah heboh di internet memang dapet banget. Konyol dan intimidatif, pas seperti yang seharusnya. Shanks, yang di trailer tampak nggak menjanjikan malah ternyata cocok. Menurut saya, Shanks memang seharusnya terlihat nggak menjanjikan, makanya bandit gunung bisa menyepelekan dia. Pas dia melototin naga laut itulah baru kelihatan sangarnya. Nggak gampang lho menampilkan dua kepribadian kayak gitu.

Arlong yang kata orang-orang kekecilan, menurut saya baik-baik saja. Again, ini adalah penilaian dari yang belum baca manga maupun anime. Saya tahu kalau badan Arlong harusnya kayak raksasa, tapi kalau dengan badan segitu udah bikin saya kesel sama karakternya, menurut saya itu sudah cukup.

Yang kurang adalah pemeran-pemeran figuran. Makino, yang imut dan perhatian di manga saya lihat agak flat. Entah kenapa saya merasa pemeran Alvida kurang banget. Garangnya kurang, ekspresi kaget pas lihat badan karetnya Luffy juga kurang. Dan karena saya nggak tahu apakah aktor-aktor ini juga masih baru, nggak bisa sembarangan ngejudge juga. Nojiko, sorry to say benar-benar diluar perkiraan. Saya nggak tahu ya dia seharusnya berkebangsaan apa. Tapi aktingnya nggak bagus.

Aktor-aktor pemeran Straw Hat Crew masa kecil nggak ada yang istimewa. Tapi karena mereka semua anak-anak, saya nggak akan terlalu keras sama mereka. ๐Ÿ˜

nggak ada serem-seremnya, nggak keliatan jahatnya

The cons

Yang paling nggak saya suka adalah adegan actionnya Zoro. Geeeemeeeees banget lihatnya!! Pertama kali lihat Zoro gelut, respon saya adalah, "gelut macam apa itu, Mackenyu???" Samurai Jepang pasti malu lihatnyaaaa...... ๐Ÿ˜ญ Kalau kalian pernah nonton Rurouni Kenshin, pasti tahu bagaimana reputasi Mackenyu di franchise itu. Dan saya, sudah berharap bisa melihat aksi laga semacam itu lagi. Tapi sejak awal dia nongol di Sixis Island saya langsung tersadar kalau ini bukan aksi laga buatan orang Asia. Gerakannya kelihatan sama sekali nggak bertenaga, lambat dan boring.

Tapi karena katanya itu persis kayak di manga, jadi sepertinya saya yang salah sudah berharap terlalu tinggi. Soalnya dari awal suami saya bilang kalau Zoro itu keturunan samurai. Dengar kata samurai, otomatis bayangan saya langsung ke Rurouni Kenshin. Ternyata samurainya One Piece beda. ๐Ÿ˜…

Tapi lagi-lagi memang kita nggak bisa berharap banyak sama orang Barat kalo bikin adegan action. Masih inget kan bagaiman Yayan Ruhiyan yang harus ngurangin kecepatan gelutnya pas main di John Wick?! Jadi yaudah relakan saja.

Kebugilan Helmeppo juga adalah scene yang sama sekali nggak penting. Biar apa, gitu?! Hah?! ๐Ÿ˜  Kissingnya Kaya dan Usopp masih mending, tapi buat apa coba nampilin cowok bugil uget-uget begitu? 

Syrup Village di episode 3-4 bisa dibilang adalah hit and miss buat saya. Secara alur, proses perkenalan mereka dengan Usopp dan Kaya udah pas. Karakter Kuro yang serem pun udah pantes banget. Tapi sayangnya, lama banget. Rencana pembunuhan Kaya malah kayak cuma main-main. Udah gitu, adegan berantemnya aduuuuh. Masa iya Zoro yang sehebat itu bisa pingsan cuma gara-gara dipukul botol?! Udah gitu, dikira mati lagi. 

Favorites

Sebelum nonton serialnya, saya sudah dengar lagu soundtrack One Piece. Dan saya suka. Dari komentar-komentar para fans, lagu itu menunjukkan karakter Nami dan perjalanan hidupnya. Sepertinya dari situ saya mulai sangat penasaran dengan karakternya.

Bounty poster yang muncul di muka para bajak laut itu juga epic sih. Tiap kali muncul, seolah mengingatkan kita bahwa ini adalah serial fantasi yang cringe dan aneh. Ini bukan cerita seperti The Lord of The Rings atau a Game of Thrones. One Piece adalah cerita yang ada hanya untuk dinikmati dan membuat kita bahagia.

Hal lainnya adalah momen-momen kecil yang menunjukkan ikatan antar karakter yang bikin saya suka sama serial One Piece. Sepanjang serial, sampai di episode yang paling membosankan sekalipun selalu ada adegan-adegan yang bikin saya ketawa gemas sama Luffy, Zoro dan Nami, dan nantinya ditambah Usopp dan Sanji.

Episode 7 sukses bikin saya sesenggukan. Masuk di bagian ini saya mulai paham kenapa Emily Rudd seperti nggak total ketika menunjukkan ekspresi-ekspresi tertentu sebagai Nami. Karena ternyata memang Nami kayak gitu orangnya. Dia selalu memendam perasaannya, sehingga ketika sedih pun nggak kelihatan benar-benar sedih karena dia berusaha menahannya.

***

Jadi kesimpulannya, live action One Piece lumayan menghibur buat saya. Nggak yang bagus banget memang, tapi worth it buat ditonton menghabiskan waktu bareng suami. ๐Ÿ˜

Rating : 3/5  ⭐⭐⭐

© Zuzu Syuhada • Theme by Maira G.