SLIDER

Tiba-tiba ngajar lagi

Tiba-tiba ngajar lagi

Rabu, 24 Juli 2024

10 Juli 2024

It's like I'm joking, tapi nyatanya hari ini saya datang ke calon sekolah baru, interview, dan menyetujui kontrak yang ditawarkan. Padahal waktu itu di postingan ini sudah yakin banget nggak akan kembali. Hmmm, mungkin maksud saya dulu tuh nggak kembali ke sekolah itu(?!)

Awalnya gara-gara suami. Tiba-tiba suatu hari menawarkan untuk jadi guru bahasa Arab SMA. Sejujurnya, saya sendiri nggak terlalu pede untuk ngajar bahasa Arab karena ya memang nggak punya kompetensi. Terakhir kali tes bahasa Arab pakai web tes gratisan di internet, level bahasa Arab saya hanya setara A2 dengan standar CEFR. Tapi kan guru-guru bahasa Arab di luar sana juga banyak yang nggak pernah pakai bahasa Arab kalau lagi ngajar? Dan saya selalu penasaran pengen tahu gimana rasanya ngajar anak SMA. Jadi, saya coba deh daripada nganggur di rumah dan nggak bisa jajan buku seenaknya.

Ternyata, faktanya saya diminta ngajar pelajaran lain. PAI. Nggak susah, sih. Cuma ya.... bosen sebenernya. Tapi ya sudahlah, toh memang itu salah satu bidang yang saya kuasai. Jadi kita lihat saja nanti.

The Apothecary Diaries; another favorite I couldn't resist

Rabu, 17 Juli 2024

Saya nggak punya ekspektasi apa-apa waktu menonton anime ini. Nggak ada satupun yang merekomendasikan, nggak ada satu pun informasi tentangnya. Pokoknya murni ngasal klik aja karena gabut, seperti biasa. Bahkan awalnya saya pikir nggak pengen nonton karena style gambarnya yang lebih mirip anime China, entah saya lupa apa istilahnya. Tapi ya itu tadi, kalau sudah jodoh tuh akan ada saja jalan yang dipilihkan Tuhan supaya ketemu. 😜

A young maiden is kidnapped and sold into servitude at the emperor's palace, where she secretly employs her pharmacist skills with the help of the head eunuch to unravel medical mysteries in the inner court.

Berlatarbelakang Kekaisaran China di masa Dinasti Tang, The Apothecary Diaries bercerita tentang Maomao, seorang apoteker amatir yang tinggal di Distrik Hiburan, semacam lokalisasi nggak jauh dari Istana. Maomao hidup bersama seorang tabib tua di balik Distrik dan sangat akrab dengan rumah bordil yang paling prestisius. Minatnya pada ilmu pengetahuan dan racun membuat dia jadi sangat cerdas di usianya yang masih 17 tahun. Suatu pagi, dia diculik oleh sekelompok preman dan dijual menjadi pelayan di istana harem. Salah satu bagian istana yang berisi selir-selir raja dan para kasim.


Selama di istana, dia sengaja menyembunyikan kecerdasannya karena ingin hidup tenang. Selain itu, gajinya sebagai pelayan akan selalu dibagi dengan para penculik yang mengaku sebagai walinya. Kalau pihak istana tahu dia cerdas, maka gajinya akan lebih besar dan itu artinya mereka akan dapat jatah uang lebih juga. Maomao nggak rela berbagi uang dengan para penculik itu, sehingga dia pura-pura bodoh saja. Hanya sesekali dia membantu temannya membaca label di tumpukan pakaian yang harus mereka cuci.

Namun keadaan berubah ketika 2 bayi anak selir tertinggi mengalami sakit yang sama. Tabib istana harem yang tidak kompeten tidak mampu mengobati dan terjadi perseteruan antar 2 selir itu. Mereka menyangka masing-masing telah mengutuk anak mereka sehingga anak mereka sakit. Maomao yang cerdas dan kepoan langsung bisa menebak penyebab sakitnya 2 bayi itu, dan berusaha meninggalkan pesan untuk para selir tentang cara mengobati bayinya melalui surat yang dia tulis di kain seragamnya dan diikatkan pada ranting bunga di paviliun masing-masing selir.

Salah satu selir (Selir Gyokuyo) menuruti pesan itu dan bayinya sembuh. Lalu dia meminta pemimpin kasim (Jinshi) untuk mencari tahu siapa pengirim surat yang telah menyelamatkan anaknya. Nggak butuh waktu lama, Maomao langsung diangkat menjadi pelayan khusus Selir Gyokuyo sebagai pencicip makanan. Jinshi yang tertarik dengan kemampuan Maomao juga jadi sering meminta bantuan setiap kali ada kasus baru yang terjadi di lingkungan istana.

Menarik sejak episode pertama

Like I said, saya nggak tahu apa-apa waktu nonton anime ini. Awalnya saya pikir anime ini bergenre romance semacam My Happy Marriage simply karena posternya cuma berisi gambar Maomao dan Jinshi. Tapi ternyata saya salah besar. The Apothecary Diaries adalah salah satu contoh cerita yang bisa langsung ngasih plot menarik dengan karakter yang beragam dan dukungan musik yang sukses membuat tema berat jadi terkesan ringan. Ditambah dengan animasi yang cute dan dialog-dialog sarkas, bikin saya berkali-kali ketawa geli. Bisa dibilang The Apothecary Diaries ini bertema Sherlock Holmes dengan vibe ringan dan lucu. Dengan tema misteri pembunuhan yang selalu baru di tiap episode, saya jadi nggak bosen seperti ketika nonton Demon Slayer. #eh

Karena judulnya diary, maka cerita yang disajikan pun nggak jauh-jauh dari keseharian Maomao di istana dan kita akan selalu mendengar 'isi hati' Maomao ketika berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan gaya cerita seperti itu, kita jadi mudah mengenali karakter Maomao yang memang sudah kuat. I mean, karakter perempuan cerdas memang selalu menarik kan?! Ditambah dengan sifat yang ceplas-ceplos dan polos, membuat Maomao menjadi karakter yang mudah disukai. Jauh berbeda dengan Sherlock Holmes yang terkesan sombong dan arogan, Maomao justru digambarkan polos pada hal-hal tertentu walaupun punya banyak pengalaman dengan para pelacur di Distrik Hiburan. Selain itu, dia sangat tahu bagaimana menempatkan diri ketika berinteraksi. Padahal biasanya, orang-orang dengan karakter seperti Maomao itu jadi anomali. Tapi melihat Maomao, saya seperti disemangatin kalau orang-orang seperti kami akan bisa diterima jika berada di lingkungan yang tepat. Yang paham pada kalimat-kalimat sarkas dan sindiran halus. 😁

Interrelated mysteries

Setiap satu misteri terpecahkan, akan langsung disusul dengan kejadian lain. Pada episode-episode awal, kasus-kasus ini membantu kita memahami latar belakang Maomao dan kehidupan macam apa yang dijalaninya. Kita dikenalkan dengan bagaimana cara Maomao menganalisis situasi dan orang-orang di sekitarnya sekaligus dibuat penasaran dengan karakter-karakter itu. Siapa Maomao sebenarnya, apakah Jinshi benar-benar seorang Kasim, kehidupan para selir dan kompetisinya, dan segala kondisi sosial yang diceritakan lewat POV Maomao. Setelah cukup bikin penasarannya, barulah misteri yang saling berkaitan muncul yang nanti akan mengungkap sedikit demi sedikit kenyataan yang selama ini ditutupi oleh Maomao dan Jinshi.

Kisah cinta yang bukan sekadar bumbu

Dengan latar belakang lokalisasi dan istana harem, cerita Maomao tentu tidak pernah jauh-jauh dari interaksi laki-laki dan perempuan dengan motivasi transaksional. Namun di episode 3 kita disuguhi kisah cinta syahdu yang membuat Selir Gyokuyo iri. Interaksi Maomao dan Jinshi pun memberi warna lain tentang ekspresi cinta dan kasih sayang. Dan tentu saja, bagian akhir anime bikin saya meneteskan air mata bahagia dan lega. Ending yang nggak nggantung walaupun disampaikan dengan samar-samar oleh Maomao justru membuat saya makin penasaran, seperti apa kelanjutan kehidupannya di istana setelah identitasnya diketahui oleh Jinshi.

Overall, saya sangat suka The Apothecary Diaries dan sekarang sedang melanjutkan membaca manganya. Semenarik itu ceritanya sampai saya nggak sabar menunggu tahun depan untuk menonton animenya. Tapi, setelah mengajak suami nonton sampai 10 episode tadi malam sepertinya saya bisa bilang bahwa anime ini bukan untuk semua orang. Apalagi orang-orang yang nggak suka mikir. Karena bahkan dengan bantuan pembawaan ringan pun, suami saya masih nggak paham apapun dari anime ini dan menyerah, nggak mau ngelanjutin lagi. Jadi, kalau kalian nggak suka sama cerita Sherlock Holmes bisa dipastikan kalian juga nggak akan suka sama anime ini.

What I want in Jannah

Rabu, 10 Juli 2024

Beberapa waktu lalu saya  melihat video di Instagram, seseorang menyebutkan keinginan-keinginannya jika nanti dia berada di surga. Saya lalu merasa ingin juga membuat bucket list tentang harapan-harapan yang pernah terpikir atau saya ucapkan tentang surga. Pernah kan kita ngobrol-ngobrol sama teman atau siapa gitu, bahas tentang akhirat? Beberapa kali pasti bahas tentang surga. Tapi pernah nggak nulisin impian dan keinginan yang ingin kita dapat nanti di surga? Kalau afirmasi positif di dunia saja diseriusin, apalagi akhirat, kan?! 

Sebenarnya ini keinginan yang sudah lama saya pendam. Tapi saya selalu ragu untuk menulisnya karena saya yakin orang yang baca akan salah paham. Seolah-olah saya ini orang yang nggak bersyukur. However, kembali ingat sama tujuan saya mengaktifkan blog ini adalah supaya jujur pada perasaan maka saya putuskan untuk benar-benar menulisnya kali ini.

What is Jannah to you? It might be different for everyone to an extent because in this life, we don't all like the same things or necessarily want the same things, but you have to realize that you're dealing with Allah subhanahu wa'ta'ala who created you, who knows what pleases you and is promising you a paradise that will forever please you. -Jannah: Home at Last, Yaqeen Institute-

Kerjaannya AI

Kita semua tahu bahwa kita bisa minta apapun di surga. Imam Omar Suleiman mengatakan, batasannya hanyalah imajinasi kita. Tapi sampai saat ini, saya masih sering berpikir apakah mungkin satu keinginan saya ini bisa terwujud? Karena sepertinya keinginan saya justru sangat bertolak belakang dengan janji Allah untuk para penghuni surga. Dan ini bukan benda. Beberapa teman saya ada yang pernah bilang kalau mereka nggak suka sungai, nggak suka perhiasan, dan lain-lain yang bisa kita temukan janji-janji itu di Al-Qur'an. Sementara saya, saya ingin sendirian di surga. Apakah mungkin?

Pikiran tentang kemungkinan ini selalu muncul setiap kali saya merasa suntuk dan menyendiri di kamar karena pusing mendengar suara orang rumah. Saya selalu berdoa dalam hati, semoga saya bisa tinggal sendiri di surga. Tapi apakah mungkin? Bisa saja Allah akan membuat saya jadi menyukai keluarga dan manusia pada umumnya nanti di surga, sebagaimana Allah menghilangkan ghill pada hati orang-orang beriman? Tapi bukankah itu berarti Allah mengerdilkan harapan saya? Begitu juga orang-orang yang nggak menyukai perhiasan di dunia, bisa saja Allah buat mereka jadi menyukainya nanti di surga? At this point, saya sadar lagi betapa kurang ajarnya saya. 😞

Saya ingin perpustakaan yang berisi semua cerita di dunia dan menghabiskan waktu selamanya di sana. Itu mudah. Saya ingin berkebun di halaman rumah dan menanam bunga, buah-buahan dan sayuran. Itu juga mudah. Tapi sendirian? Tidak bertemu dengan siapapun? Kalau dipikir-dipikir, boleh nggak ya? Atau gini deh, nggak pa-pa sesekali ketemu orang-orang dan keluarga tapi tinggalnya tetap sendirian ya Allah. Itu aja, please. Saya udah capek banget hidup di dunia berurusan sama orang. Masa di surga harus ketemu orang lagi?!

Tips memilih pesantren untuk anak dari alumni pesantren

Rabu, 03 Juli 2024

Meskipun tips memilih pesantren banyak bertebaran di internet, iklan-iklan sekolah Islam/pesantren juga muncul terus di media sosial, sepertinya memang rekomendasi dan review dari mulut ke mulut masih tetap jadi pertimbangan terbesar orang memilih sekolah, atau apapun lah! Dulu waktu masih jadi guru, biasanya kalau sudah masa-masa pendaftaran siswa baru, atau seputaran bulan September-Desember teman-teman lama akan menghubungi saya meminta rekomendasi sekolah atau pesantren. Kebanyakan sih buat keponakannya, dan mereka minta saran saya bukan hanya karena saya guru pesantren sekaligus alumni pesantren tapi juga karena saya paling brutal kalau sudah berpendapat. Nggak mikir jaga perasaan, pokoknya apa adanya saja. That's why, saya nggak pernah merekomendasikan sekolah tempat saya bekerja kepada mereka. Karena menurut saya, tempat kerja saya bukanlah pesantren. Kita akan bahas itu nanti.

Photo by Nicate Lee on Unsplash

Setiap kali diminta rekomendasi, saya pasti akan menanyakan dulu tujuan orang tua menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren. Hal ini penting, karena ternyata sekarang definisi pesantren itu sudah jauh bergeser dari yang dulu -setidaknya saya pahami-. Dulu seingat saya, yang namanya pesantren itu pasti santrinya pinter ngaji, bisa memimpin doa dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang agama. Karena dulu jenis-jenis pesantren juga hanya ada 2, pesantren biasa (yang belajar ilmu agama seluruhnya) dan pesantren khusus (yang khusus menghafal Al-Qur'an, khusus belajar kaligrafi, dll). Yang jenis kedua ini pun nggak terlalu populer, tapi justru sekarang pesantren tahfidz jadi yang paling ramai dicari orang. Oh iya, pesantren modern menurut saya masuk ke kategori pertama, karena pada dasarnya di sana ya belajar ilmu agama juga. Hanya saja pemakaian bahasa sehari-harinya bukan bahasa daerah, tapi bahasa Arab dan Inggris. Gontor jadi salah satu contohnya.

Ternyata seiring berjalannya waktu, setelah dewasa saya baru tahu kalau ada jenis pesantren yang ketiga. Namanya Islamic Boarding School. Keren banget nggah tuh, namanya? Kalau secara etimologi sih sebenarnya nggak terlalu berbeda dengan pondok pesantren. Tapi ternyata praktiknya beda jauh, saudara-saudara. Maka dari itu, sangat penting untuk Anda mengetahui perbedaan itu. Supaya nggak salah paham, menyangka anaknya akan belajar agama dengan baik padahal sekolahnya 'hanya' di Islamic Boarding School.

Jadi, apa tujuan memasukkan anak ke 'so-called' pesantren?

Pesantren sebagai bengkel anak rasanya bukan lagi hal baru yang perlu kita bicarakan, ya? Saya juga nggak merasa perlu melakukan klarifikasi apa-apa tentang hal itu karena nyatanya saya adalah salah satu produk rusak hasil reparasi pesantren 😂. Maka, menurut saya nggak pa-pa banget kalau orang tua menjadikan pesantren sebagai salah satu ikhtiar dalam memperbaiki keadaan anaknya. Dalam kasus ini, apapun pesantren yang dipilih nggak akan terlalu berpengaruh, mau ke pesantren modern, tradisional, tahfidz atau Islamic Boarding School sama saja. Karena tujuan utamanya adalah pada perbaikan akhlak dan budi pekerti, dan itu sepertinya jadi satu-satunya kesamaan dari semua jenis pesantren yang ada sekarang. Tapi yang perlu dan pentiiiing sekali diingat oleh orang tua adalah, anak bukan barang. Pada akhirnya yang memperbaiki hati dan jiwa anak kita adalah Allah. Jadi kalau ternyata setelah masuk pesantren anak kita masih begitu-begitu saja, bukan berarti pesantrennya yang nggak becus mendidik anak. Bisa jadi memang belum waktunya kesadaran itu muncul pada diri anak kita. Atau karena memang Anda nggak layak punya anak bener. #eh Saya sendiri keluar pesantren di usia 15 tahun dan baru mulai bener di usia 18.

Yang sangat penting dimiliki oleh orang tua yang punya tujuan memperbaiki anaknya adalah; berdoa teruuuus! Karena pendidikan sudah diserahkan kepada pesantren, maka tugas Anda adalah mendoakan. Siapa yang didoakan? Bukan cuma anak, tapi juga guru-gurunya. Jangan pelit dan mengerdilkan dahsyatnya doa. Kan Allah sesuai prasangka hambanya?!

Tapi kalau sudah punya tujuan yang jelas tentang kemampuan seperti apa yang diharapkan dari anak, bisa deh mulai dipilih jenis pesantren yang cocok untuk mengembangkan kompetensinya. Model-model orang tua visioner nih cocok banget diajak ngobrol beginian. Coba diajak ngobrol dulu anaknya. Cita-citanya mau jadi apa, atau minimal sukanya belajar apa. Kalau anaknya pemalu macam anak saya, berarti orang tua yang harus lebih perhatian dikit. Dilihat selama ini anaknya paling suka pas lagi belajar apa. Atau kalau Anda adalah orang tua yang beruntung itu, yang punya anak super penurut, setidaknya tetap minta pendapatnya tentang masa depan yang dia inginkan, atau cari tahu bakat dan keterampilan anak. Bekal itu akan memudahkan kita dalam memilih jenis pesantren yang cocok untuk anak.

Kalau anak punya kecerdasan dibidang akademik, pilihannya jadi lebih mudah. Banyak pesantren tradisional yang jaringannya sudah sampai timur tengah. Yang latar belakang NU, biasanya lulusannya yang berprestasi punya kesempatan belajar ke Yaman dan sekitarnya. Pesantren modern lebih luas lagi, bisa ke negara-negara Barat juga. Tapi kalau ternyata anak lebih suka pada bidang-bidang non-akademik, maka yang perlu kita perhatikan adalah ada atau tidaknya sarana-dukungan untuk mengembangkan bakat itu di pesantren nantinya. Guru ngaji saya dulu punya kemampuan splash painting. Setelah masuk pesantren beliau berhenti melukis karena tidak ada waktu untuk berlatih. Memang beliau nggak menyesali itu, tapi kalau Anda peduli sebaiknya pertimbangkan juga hal-hal seperti itu. Kalau anak Anda suka membaca dan ingin jadi penulis, misalnya, jangan dimasukkan ke pesantren yang melarang bacaan diluar buku pelajaran. Pesantren saya contohnya, nggak boleh santri membaca selain buku pelajaran kecuali pada jadwal rukhsah.

Tapi, masalahnya adalah...

Selama 10 tahun menjadi guru saya menemukan banyak orang tua yang ternyata nggak punya cita-cita yang jelas untuk anaknya. Setiap interview atau ngobrol, perbincangan yang paling sering diucapkan hanyalah tentang harapan agar anaknya jadi hafidz Qur'an, sopan kepada orang tua atau shalat 5 waktu tanpa diperintah. Hanya 3 hal itu. Sejujurnya itu membuat saya sedih.

Bukan berarti 3 hal itu nggak penting, tapi alangkah kecilnya cita-cita kita untuk generasi masa depan?! Pernah suatu hari saya curhat kepada sesama guru, "mungkin salah satu alasan kenapa kita sangat kesulitan mendidik juga karena orang tua yang terlalu receh harapannya?" Karena lihatlah tokoh-tokoh agama ini, baik yang berpengaruh besar (Shalahuddin Al-Ayyubi, Muhammad Al-Fatih, dll) maupun yang dikenal justru karena ketawadhu'annya (Uwais Al-Qarni, Abu Muslim, dll) mereka adalah orang-orang yang visinya jauh menembus langit melampaui kehidupan dunia. Kalau harapan kita hanya punya anak yang sopan kepada orang tua, alangkah banyak orang yang berwajah manis hanya di depan tapi sadis di belakang? Dan -I'm not sorry- itu yang banyak saya temukan pada anak-anak sekolah Islam, mereka manipulatif. Ketika ada tamu begitu sopan tapi luar biasa sulit diatur oleh guru dan orang tua. Lebih sedih lagi ketika orang tua yang ingin anaknya menjadi hafidz Qur'an supaya bisa mendapat jaminan masuk PTN. 😩

Saya kasih tahu ya, Bapak dan Ibu... Orang tua saya dulu, walaupun anaknya ini nakal begajulan tapi mereka selalu bilang kepada saya bahwa mereka berharap saya jadi da'i. Yes, di hadapan saya. Padahal mereka bahkan nggak ngerti alif, ba, ta. Dan meskipun sekarang saya nggak jadi ustadzah Nabilah tapi setidaknya ternyata harapan orang tua saya itu seperti menuntun jalan hidup yang saya tempuh selama ini. Jadi, jangan terlalu rendah lah cita-citanya. Kasihan anak-anak yang sebenarnya punya banyak kesempatan, jadi terhambat karena orang tuanya yang nggak punya visi masa depan.

***

Setelah masalah cita-cita dan tujuan selesai, selanjutnya baru memilih pesantren. And let me tell you, sekolah-sekolah Islam yang berlabel Islamic Boarding School itu menurut saya kebanyakan bukan pesantren. Sekalipun mereka mengklaim sebagai pesantren, itu hanya 'pesantren ala-ala'. Sekali lagi, istilah pesantren ala-ala ini bukan saya yang buat, ya. Adalah salah seorang coach pendidikan yang pernah mengucapkannya beberapa tahun lalu pada sebuah seminar pendidikan. Karena kalau kita kembalikan makna pesantren seperti awalnya dulu muncul, sebuah pesantren itu berdiri justru diawali dari adanya Kyai atau tokoh agamanya dulu. Baru kemudian santri hadir, disusul dengan bangunannya. Pesantren sekarang kan kebalik, ya? Sekolahnya dulu dibangun, pasang iklan di mana-mana, baru santrinya daftar.

Tapi anggaplah proses itu tidak penting, label pesantren yang banyak diklaim sekolah-sekolah Islam berbasis asrama sekarang sungguh membuat saya khawatir. Pernah di suatu podcast, saya lupa apa namanya pokoknya yang sama Gustika Jusuf -Hatta, temennya itu ngaku alumni pesantren dan setelah saya cari ternyata dia lulusan SMA IT Al-Kahfi. Lagi-lagi, I'm not sorry tapi Al-Kahfi bukan pesantren bagi saya. Kok bisa?! 

Jadi gini, karena saya adalah alumni pesantren maka saya punya standar tentang sebuah pesantren. Bagaimana mungkin seseorang bisa disebut sebagai santri kalau bahkan shalat 5 waktu saja, di pesantren, di pesantren nih ya, harus digiring sama gurunya. Saya kaget waktu berkunjung ke Asy-Syifa dan ternyata proses belajar agamanya di sana berbentuk kajian tematik bulanan. Kok bisa kayak gitu dibilang pesantren? Dengan porsi belajar yang hanya sebulan sekali begitu, kira-kira sebanyak apa si santri bisa belajar? Padahal ilmu agama itu luas dan banyak.

Kalau begitu, standar pesantren itu seperti apa? Bagi saya, sebuah pesantren yang standar itu bisa dilihat dari santrinya. Salah satunya ketika shalat, standarnya mereka hadir ke masjid tanpa diperintah dan tenang di masjid menunggu shalat. Standarnya, santri pesantren itu lancar membaca Al-Qur'an meskipun mungkin tidak sempurna. Dan tidak menyepelekan ilmu agama. Jujur saya merasa aneh nulis ini, tapi sampai sekarang masih sangat tidak masuk nalar buat saya bagaimana mungkin ada pesantren yang santrinya tidak bisa bahasa Arab. Bukan harus lancar bicara atau baca kitab kuning ya, tapi setidaknya basicnya saja lah. Bahkan banyak yang nggak bisa nulis Arab. Pesantren macam apa itu? Saya dulu bahkan pernah bilang kepada anak-anak murid yang sering mengeluh dengan jadwal belajar, 'kalian ini cuma sekolah sambil ngaji aja ngeluh melulu.' Nah, mungkin itu ungkapan yang cocok untuk kebanyakan sekolah Islam berasrama yang ada sekarang. Sekolah sambil ngaji. Bahkan TPA di depan rumah saya dulu lebih bagus kurikulumnya. 😪

Dosen saya dulu juga pernah menyampaikan keluhannya tentang Islamic Boarding School yang mahal-mahal itu. Karena beliau juga pernah sekolah berasrama jadi beliau bandingkan dengan sekolahnya dulu yang menurutnya lebih baik. Dengan uang pendaftaran puluhan juta, anaknya nggak bisa diajak ngobrol pakai bahasa Arab ketika mereka ketemu. Padahal itu 'jualan' sekolahnya lho... Jadi, menurut hemat saya untuk memilih pesantren yang berkualitas cara paling sederhana adalah dengan melihat jadwal belajar harian di sekolah maupun di asramanya. Bagi saya, setidaknya porsi belajar agama harus sama dengan ilmu lainnya. Kalau jadwal belajar agamanya hanya sepekan sekali apalagi sebulan sekali, sudah lupakan saja. 

Tapi lagi-lagi, kalau memang dari orang tuanya saja sudah cetek cita-citanya sepertinya saran saya nggak akan terlalu berguna. Apalagi bagi orang tua yang menjadikan pesantren hanya sebagai tempat penitipan anak. Yang terjadi pasti nanti orang tua ikut campur dan mengatur proses belajar. 

Bayangkan mobil kita sedang diperbaiki di bengkel, dan tiap montirnya megang kitanya ikut ngatur ini-itu. Pasti dibalikin tuh mobil ke kita, ya kan?! Atau misalnya si montir bilang butuh 3 hari diperbaiki, baru sehari kita mau pinjam mobilnya buat nganter istri jalan ke mall. Resiko tanggung sendiri.

Ini salah satu penyakit yang paling banyak saya temui selama mengajar. Orang tua yang nggak menghormati peraturan sekolah dan selalu mencari alasan untuk mengajak anaknya meninggalkan asrama. Orang tua semacam ini buat saya mending lempar ke laut saja. Mereka ini yang jauh lebih mengenaskan daripada orang tua yang bercita-cita rendah. Mereka bahkan merendahkan guru dan ilmu itu sendiri. Mereka menganggap bahwa sekolah berasrama hanyalah tempat untuk menitipkan anak yang aman, dan anak bisa mereka ambil kapan saja kalau mereka butuh. Mereka sama sekali nggak memahami kemuliaan ilmu dan ahli ilmu dalam Islam, dan mereka tidak peduli. Orang tua model begini yang saya juga tidak akan peduli sama anaknya. Makanya saya kemudian memilih resign, karena ternyata memang sebanyak itu orang tua yang berjenis seperti itu.

© Zuzu Syuhada • Theme by Maira G.