SLIDER

What I'm reading
Tampilkan postingan dengan label What I'm reading. Tampilkan semua postingan

How to be a mindful muslim; beraktifitas dengan sadar

Minggu, 06 Agustus 2023

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
 

Sejak beberapa tahun yang lalu, mungkin tepatnya tahun 2018 saya mulai aware dengan isu mental health. Salah satu sebabnya ketika buku Ikigai mulai populer di Indonesia, dan akun-akun psikologi bertebaran di Instagram. Lalu ibu mertua saya yang mengalami Anxiety Disorder tanpa bisa disembuhkan, membuat saya makin penasaran dengan masalah kesehatan mental.

Macam-macam artikel saya baca --tentu yang ringan saja--, video-video youtube juga saya simak sampai saya mulai mengenal beberapa istilah yang selama ini tidak pernah saya ketahui sama sekali sebagai hal-hal yang berkaitan dengan mental health.

Segala pembahasan mengenai mental health yang berseliweran di sosial media saya baca. Tapi ternyata makin banyak saya membaca, makin aneh saya menangkap pesan mental health awareness yang dikampanyekan orang-orang di sosial media itu. Lalu sampailah masanya saya membaca buku Stop Pretending Start Practicing. Sebuah buku yang berisi transkrip ceramah Syaikh Hamza Yusuf, seorang ulama terkenal di Amerika Serikat yang juga merupakan presiden Zaytuna College, institusi pendidikan tinggi yang jurusan-jurusannya khusus tentang Islamic Knowledge. Jujur saja, institusinya itu menawarkan program-program belajar yang sangat menarik.




Pada salah satu tulisan yang berjudul "Doa sebagai senjata andalan orang mukmin" Syaikh Hamza Yusuf membahas tentang pentingnya doa dalam kehidupan seorang Muslim, serta bagaimana doa dapat menjadi sumber kekuatan dan keberkahan. Beliau juga membahas tentang beberapa doa yang disebutkan dalam Al-Quran dan Hadis, serta bagaimana cara untuk memperdalam hubungan kita dengan Allah melalui doa. Namun ada beberapa kutipan yang sangat membekas dalam pikiran saya, yaitu;

Doa secara harfiah juga adalah cara untuk membangunkan kesadaran orang. Dengan kata lain, Anda memulai tindakan Anda sebagai manusia yang sadar, bukan sebagai pejalan tidur seperti yang terjadi pada kebanyakan orang. (Hlm 111)

Ketika membaca bagian itu, pikiran saya langsung teringat dengan teori mindfulness. Dalam teori psikologi, mindfulness didefinisikan sebagai sebuah moment-to-moment awareness of one's experience without judgement. Sebagian orang mengasosiasikan mindfulness dengan meditasi, walaupun sebenarnya tidak. Mindfulness is a state, not a trait.



Sebagai seorang muslim, seluruh aktifitas keseharian kita hampir selalu diiringi dengan panduan doa dan zikir. Selain itu, hampir setiap amalan pun ada aturannya. Di halaman 113, Syaikh Hamza Yusuf mengatakan;

Kemudian, Nabi membaca doa saat beliau berpakaian. Beliau pun berpakaian dengan cara tersendiri. Beliau mengenakan sirwal (kain) sambil duduk di lantai. Beliau tidak mengenakan sirwal sambil berdiri. Beliau benar-benar duduk dan mengenakannya sambil duduk di lantai. Beliau mengikat serbannya dengan cara tersendiri. Beliau melakukan takwir (memutar) terhadap serbannya dari kanan ke kiri. Sangat menarik. Cara yang sama seperti Anda mengitari Ka'bah. Setiap hal tersebut, tak perlu diragukan lagi, memiliki makna. Tidak perlu diragukan lagi. Sebab, ini adalah proses untuk "bangun tidur" sebagai manusia.

Setiap doa dan adab ini sesungguhnya adalah 'meditasi' khusus bagi orang beriman untuk menjaga kita tetap 'sadar' ketika beramal. Agar setiap aktifitas yang kita lakukan memiliki nilai/makna bahkan pahala. Dan setelah menuntaskan satu bab di buku tersebut, saya sungguh menyayangkan diri sendiri dan umat muslim saat ini yang banyak mencari ketenangan dan makna kehidupan dari berbagai macam teori self-help di luar Islam.

Photo by Nick Page on Unsplash

Dalam artikel di Yaqeen Institute disebutkan bahwa Islam mengenal mindfulness dengan istilah Muraqabah. Sebuah istilah yang berasal dari akar kata yang berarti "melihat, mengamati, memperhatikan dengan penuh perhatian." Sebagai istilah teknis spiritual, muraqabah didefinisikan sebagai "pengetahuan hamba yang konstan dan keyakinan dalam pengawasan Al-Haq, memujiNya, atas kondisi lahiriah dan batiniah seseorang." Artinya, seorang Muslim yang berada dalam keadaan muraqabah berada dalam pengetahuan penuh yang terus menerus bahwa Allah Maha Mengawasi dirinya, baik secara lahir maupun batin. Ini adalah keadaan penuh kesadaran diri yang penuh kewaspadaan dalam hubungan seseorang dengan Allah dalam hati, pikiran, dan tubuh. Dasar dari muraqabah adalah pengetahuan kita bahwa Allah selalu mengawasi kita setiap saat dan, sebagai konsekuensinya, kita mengembangkan perhatian dan kepedulian yang lebih besar terhadap tindakan, pikiran, perasaan, dan kondisi batin kita. Sebagaimana firman Allah, "Ingatlah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam jiwamu, maka bertakwalah kepada-Nya." (QS Al-Baqarah: 235)

Dalam praktik keseharian seorang Muslim, sesungguhnya shalat adalah sarana meditasi terbaik untuk menjaga diri agar tetap berkesadaran penuh dan terkendali. Namun bukan hanya itu, doa, zikir, tilawah Al-Qur'an dan tafakkur juga merupakan sarana-sarana 'meditasi Islam' yang seharusnya menyehatkan bukan hanya pikiran tapi juga jiwa kita.

Mudah-mudahan kita mampu menjadikan shalat, doa dan zikir-zikir kita sebagai sarana 'meditasi' agar hidup kita tetap 'mindfulness' dan tidak tertinggal dengan trend mental health yang sedang berkembang sekarang 😜.


Catatan Membaca; Six Thinking Hats

Senin, 31 Juli 2023


Judul: Six Thinking Hats
Penulis: Edward de Bono
Penerjemah: Yuniasari Shinta Dewi
Format: Paperback, 229 halaman
Penerbit: Elex Media Komputindo, 2017
Harga: Rp. 25.000

Awalnya saya pikir ini buku self-help. Well, saya sebenarnya juga kurang paham dengan ruang lingkup genre self-help, sih. Tapi yang jelas, buku ini berisi panduan mengelola hubungan dalam sebuah organisasi. Cocok banget untuk para pimpinan di kantor yang kita hormati.

Buku ini sudah lama saya beli, hanya saja memang tertunda dibaca karena isinya agak kurang sesuai dengan ekspektasi saya. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya saya hanya kurang meminati kegiatan berorganisasi sehingga pembahasan tentang rapat tidak terlalu saya sukai. Sungguh aneh, sebagai seorang organisatoris ketika kuliah, dan sekarang mengelola sebuah komunitas yang sedang berkembang mungkin kalian akan tidak percaya pada fakta bahwa saya sangat tidak menyukai berinteraksi dengan orang lain.

Tapi mau bagaimana lagi?! Pada kenyataannya hidup ini nggak bisa selalu mengikuti kemauan sendiri, kan?! Meskipun saya sangat tidak suka basa-basi dan segala interaksi yang berbelit-belit, pada akhirnya saya harus menerima bahwa saya butuh orang lain untuk membantu hidup. Dan beginilah jadinya, saya yang super introvert jadi founder komunitas dengan member ratusan 😅.

***

Jadi, sesungguhnya awal penyebab saya beli buku ini adalah karena nama buku Edward de Bono yang judulnya How to Have a Beautiful Mind. Saya ingin beli karena sejujurnya saya ingin sekali mengajarkan cara berpikir kepada orang lain, terutama anak saya. Biar saya bisa menularkan rasa curiosity kepada mereka, gitu lah. Ketika mau beli buku itu, kalau tidak salah ada tulisan yang mengatakan bahwa konsep 6 topi berpikir harus sudah dipahami dulu. Maka saya belilah buku ini.

Singkatnya, metode enam topi yang dibahas di buku ini adalah sebuah teknik sederhana yang sangat efektif berdasarkan ragam cara berpikir otak. Kecerdasan, pengalaman, dan pengetahuan yang dimiliki setiap orang dimanfaatkan guna mencapai kesimpulan-kesimpulan yang tepat dengan cepat. Demikian sinopsis di bagian belakang buku menjelaskan. Lalu, bagaimana pengalaman saya membaca bukunya?!


Kita mulai dari Pengantar. Saya akan menuliskan kembali bagian-bagian yang saya highlight dan mungkin akan saya bahas kemudian. Berpikir adalah sumber daya manusia yang mendasar. Begitu saya membaca kalimat itu, rasanya bahagia sekali. Dan kalimat-kalimat berikutnya menjelaskan bahwa manusia pada umumnya selalu berpikir untuk berusaha menjadi lebih baik. Hanya manusia rendahan yang merasa bahwa tujuan berpikir adalah untuk mendapatkan pembenaran. Nah, kesulitan utama dari berpikir adalah kebingungan. Kita berusaha melakukan terlalu banyak secara bersamaan. Merasa relatable nggak kalimatnya?! Enam topi berpikir ini mengajarkan kita untuk memisahkan emosi dari logika, kreativitas dari informasi dan seterusnya. Pokoknya keenam topi berpikir ini memungkinkan kita untuk mengatur pemikiran kita layaknya seorangg konduktor memimpin sebuah orkestra.

Baru satu halaman lewat, sudah ada catatan khusus untuk si topi hitam. Katanya, topi hitam adalah topi yang sering disalahpahami. Lho, kok kayak saya?! Padahal topi hitam adalah topi yang paling berharga dan mengenakannya berarti bersikap waspada dan hati-hati. Membaca bagian itu saya langsung curiga, jangan-jangan saya pemilik topi hitam 😏.

Berlanjut ke bagian Pendahuluan, di sinilah mulai dijelaskan tentang maksud dari enam topi berpikir. Dengan pengantar sejarah tentang awal mula pemikiran Barat dan logika berpikir, dijelaskan bahwa nilai dari topi sebagai sebuah simbol adalah menyatakan peran. Topi-topi adalah arah, bukan penjabaran. Ketika pemimpin rapat mengatakan, "Saya ingin topi merah dipakai untuk hal ini." berarti kita membutuhkan perasaan, intuisi, dan emosi terhadap situasi tersebut. Atau ketika dikatakan, "Mari kita mengenakan sebentar topi berpikir putih di sini." berarti semua harus berfokus pada informasi.

Penjabaran berurusan dengan apa yang telah terjadi. Sementara arah berurusan dengan apa yang akan terjadi. "Saya ingin Anda melihat ke arah timur" sangat berbeda dengan "Anda telah melihat ke arah timur." Ada godaan sangat besar untuk menggunakan topi-topi guna menggambarkan dan menglompokkan orang-orang.  Memang, orang-orang mungkin lebih suka satu cara daripada cara yang lain. Meskipun begitu, topi-topi bukanlah kategori orang-orang. (h. 7-8)

Jadi intinya, metode enam topi berpikir adalah meminta semua yang hadir dalam rapat untuk  mengenakan topi tertentu pada waktu yang ditentukan. Sehingga kita bisa memanfaatkan semaksimal mungkin kecerdasan dan pengalaman semua orang.

***

Enam topi memiliki warnanya masing-masing sesuai dengan kegunaannya. Topi putih, netral dan objektif. Topi putih berurusan dengan fakta-fakta dan angka-angka yang objektif.

Topi merah menandakan kemarahan (rasa jengkel), murka, dan emosi. Topi merah memberikan pandangan emosional.

Topi hitam berarti suram dan serius. Topi hitam berarti bersikap waspada dan hati-hati. Ini menunjukkan kelemahan-kelemahan pada setiap gagasan.

Topi kuning berarti cerah dan positif. Topi kuning berarti bersikap optimistis dan mencakup harapan dan berpikir positif.

Topi hijau berarti rumput, tumbuh-tumbuhan, dan pertumbuhan yang subur, berlebihan. Topi hijau menandakan kreativitas dan gagasan baru.

Topi biru berarti tenang, dan juga merupakan warna langit, yang lebih tinggi dari segalanya. Topi biru berurusan dengan kendali, pengaturan dari proses berpikir dan pemakaian topi-topi lainnya.

Kita juga harus mengingat tiga pasang topi;

Putih dan merah
Hitam dan kuning
Hijau dan biru

Penggunaan topi bisa dengan beberapa cara. Apakah terpisah, berurutan, atau dengan cara-cara lain yang disampaikan di dalam buku ini. Menurut saya, jika buku ini dibaca oleh sebuah tim atau orang-orang yang bekerja sama dan mereka bisa berkomitmen untuk melaksanakannya dalam setiap rapat, maka aktivitas rapat bisa jadi lebih efektif. Karena gagasan yang disampaikan dalam buku ini sangat aplikatif.

Setelah buku ini, saya ingin mencoba membaca buku Edward de Bono yang lain; Kursus Lima Hari dalam Berpikir. Saya sudah tidak peduli apakah buku itu nanti akan membahas tentang rapat lagi atau sesuai dengan harapan saya; mengajari kaidah berpikir yang saya bayangkan. Yang jelas, panduan-panduan tersebut saya yakini akan bermanfaat untuk aktivitas sosial saya.

Student Hidjo dan Bagaimana Kita Mengapresiasinya

Rabu, 07 Juli 2021


Judul
: Student Hidjo
Penulis : Mas Marco Kartodikromo
Bahasa : Indonesia, Belanda
Format : Paperback, 140 halaman
Penerbit : Narasi (2010) 
pertama terbit sebagai buku tahun 1919
Harga : Rp. 30.000,-

Menelisik sosok Mas Marco yang cukup berpengaruh terhadap pergerakan nasional sebelum kemerdekaan, awalnya saya mengira akan membaca sebuah karya sastra perlawanan. Tapi ternyata tidak. Setidaknya, karakter perlawanannya tidak sekuat Bumi Manusia. Buku ini berkisah tentang Hidjo, anak saudagar kaya di Solo yang oleh Ayahnya disuruh untuk melanjutkan studinya ke Belanda. Selain karena anaknya memang cerdas, kekayaan saja tidaklah akan cukup untuk menaikkan status sosial keluarganya jika dibanding dengan bangsawan alami yang dekat dengan Gouvernement. Jika Hidjo lulus sekolah dari Belanda dan menjadi pegawai Gouvernement, maka mereka akan lebih dihormati seperti para priyayi lainnya. Di zaman dulu, memiliki status sosial yang tinggi dan diakui oleh pemerintah menjadi sesuatu yang penting. Dan sepertinya sampai hari ini hal itu juga tetap menjadi hal yang sangat penting, kan?! 

"Kadang-kadang saudara kita sendiri, yang juga turut menjadi pegawai Gouvernement, dia tidak mau kumpul dengan kita. Sebab dia pikir derajatnya lebih tinggi daripada kita yang hanya menjadi saudagar atau petani."

Ibunda Hidjo, Raden Nganten Potronojo sangat khawatir anaknya akan terpengaruh budaya Eropa yang tidak beradab. Selain itu, sekolah di Belanda tentu butuh waktu yang tidak sebentar. Setidaknya 7 tahun ia harus berjauhan dengan Hidjo dan dia tidak yakin akan bisa menahan rindu selama itu untuk tidak bertemu dengan anak semata wayangnya. Ditambah lagi Hidjo telah dijodohkan dengan Biroe, anak kerabatnya sendiri. Bagaimana kalau nanti Hidjo malah jatuh cinta dengan gadis Belanda yang cantik-cantik dan tidak tahu adab itu?!

Tapi meskipun berat hati melepas putranya, Raden Nganten Potronojo tetap harus rela mengantar kepergian Hidjo demi kebaikan masa depan anak kesayangannya itu. Bersama dengan Biroe dan keluarganya, Ayah dan Ibu Hidjo mengantar keberangkatan Hidjo hingga kapal meninggalkan Tanjung Priok. Hidjo sendiri berangkat bersama gurunya dan di Belanda nanti akan dititipkan kepada seorang pengusaha Belanda, saudara dari gurunya tersebut.

Konflik mulai muncul ketika sepulang dari mengantar Hidjo, rombongan keluarga Biroe dan Raden Potronojo menginap sebentar di sebuah hotel di Djarak. Di sana mereka bertemu dengan keluarga Regent Djarak yang ternyata anak laki-lakinya, Raden Mas Wardojo adalah teman dekat Hidjo di HBS. Pertemuan itu membuka fakta bahwa Raden Ajeng Woengoe, adik Wardojo selama ini menaruh hati pada Hidjo. Dan ketika melihat kecantikan Biroe, Wardojo yang tidak mengetahui bahwa ia adalah tunangan Hidjo, pun langsung tertarik pada Biroe. Jadi, kisah cinta macam apa ini? Cinta bujur sangkar?! 😁

Keruwetan kisah cinta ini tidak berhenti pada 4 orang ini saja. Di Belanda, Hidjo yang selalu berusaha bersikap santun pun akhirnya jatuh pada godaan Betje, anak perempuan induk semangnya sendiri yang sudah tergila-gila padanya sejak pertama kali bertemu. Lalu di Indonesia, Raden Ajeng Woengoe yang jelita itupun dilamar oleh Controleur Walter yang baik hati dan begitu mencintai budaya Hindia terutama Jawa.

***

Secara narasi maupun plot, Student Hidjo bukanlah sebuah masterpiece. Bahkan bisa dibilang, ending kisah ini sangat payah karena hanya sebuah epilog ringkas sepanjang 7 baris di akhir novel. Padahal jika mau fokus pada tema kisah cinta Hidjo dan orang-orang di sekitarnya itu, mungkin novel ini bisa menjadi sebuah kisah romance yang cantik lalu melegenda seperti Sitti Nurbaya. Tapi sepertinya memang Mas Marco bukan tipe penulis yang seperti itu. Karena meskipun Student Hidjo adalah kisah roman, kita tetap akan merasakan aroma kritik pedas terhadap penguasa menyelisip di sela-sela keruwetan kisah cinta anak-anak priyayi Jawa itu.

Secara halus, Mas Marco ingin menunjukkan bahwa kedudukan manusia sesungguhnya setara. Baik orang Hindia maupun Belanda, pada dasarnya adalah sama-sama manusia. Hal itu ditunjukkan dalam sebuah adegan singkat ketika Hidjo baru sampai di Belanda,

"Kalau di Negeri Belanda, dan orang-orangnya cuma begini saja keadaannya, apa seharusnya, orang Hindia musti di perintah oleh orang Belanda," begitu kata Hidjo dalam hati.

Student Hidjo juga menunjukkan bahwa ada orang Belanda yang baik hati, demikian pula banyak pribumi yang tidak tahu diri. Kita bisa lihat bagaimana Walter membela seorang jongos yang dihina oleh sesama orang Belanda dan membeberkan kelebihan-kelebihan orang Hindia dibanding Belanda. Di bagian ini sejujurnya saya merasa sedang membaca laporan jurnalistik ketimbang sebuah cerita. Di beberapa bagian juga Mas Marco menyinggung sedikit tentang mulai munculnya pergerakan Sarekat Islam di Jawa.

Hal lain yang juga membedakan Student Hidjo dengan karya sastra pada masanya adalah penggambaran tentang tradisi perjodohan yang tampak normal-normal saja di buku ini. Tidak ada perlawanan dari anak terhadap perjodohan yang disiapkan orang tuanya, -mungkin karena jodohnya juga rupawan dan sesama bangsawan?- tidak ada pertentangan kaum muda dan kaum tua, semuanya berjalan mulus-mulus saja. Mas Marco seolah ingin menyampaikan bahwa tidak selamanya perjodohan itu sebagai wujud sikap egoisme orang tua. Dan orang tua bukanlah manusia batu yang tidak bisa membaca hati anaknya. Cinta juga bukan satu-satunya hal yang paling penting di dunia, sehingga Mas Marco dengan seenaknya membuat ending yang 'begitu saja'. 

Jadi kalau mau menyimak kisah cinta menarik dengan plot yang rumit dan gaya penulisan yang puitis, novel ini jelas bukan pilihan. Bagi saya narasi di buku ini terlalu deskriptif, plotnya pun mengalir ringan saja tanpa ada tambahan konflik yang berarti. Tapi penggambaran karakter tokohnya cukup kuat sehingga saya bisa membayangkan tokoh-tokoh di novel ini. Dengan hanya 140 halaman saya bisa menyaksikan pergolakan batin Hidjo yang cerdas, kalem bahkan cenderung lugu menghadapi genitnya Betje dan diam-diam memendam rindu pada tanah airnya. Demikian juga karakter-karakter Biroe, Woengoe, Wardojo dan lain-lain.

***

Pertama kali kemunculannya sebagai cerita bersambung di Harian Sinar Hindia tahun 1918, Student Hidjo diterbitkan dengan embel-embel "tak boleh dikoetip". Maka kita akan tahu mengapa tidak ada banyak tema perjuangan maupun perlawanan di novel ini. Dan ini menunjukkan keberanian Mas Marco dalam membuat sebuah karya sastra yang berbeda dengan sastra keluaran Balai Pustaka. Sayangnya, sampai seabad sejak Student Hidjo terbit baru tahun lalu saya mengenalnya. Itupun karena saya iseng mencari di google dengan keyword "sastra lama Indonesia". Sebelumnya, sastra lama Indonesia yang saya tahu hanyalah karya-karya penulis Balai Pustaka.

Menurut saya Student Hidjo cocok untuk dijadikan bacaan untuk siswa-siswa SMA agar nilai-nilai tradisi maupun semangat kesetaraan yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu di bangsa kita bisa lebih dikenali oleh generasi muda bangsa ini. Kita butuh pandangan lebih objektif mengenai sejarah bangsa kita yang tercermin dari karya sastra yang beragam, bukan hanya tentang penindasan laki-laki atas perempuan atau tentang keegoisan kaum muda dan ketidakberdayaan anak muda. Yang mana nyatanya negara kita dibebaskan oleh anak-anak muda.

Islam itu ramah, bukan marah; sebuah review

Kamis, 24 Juni 2021

 





Judul : Islam itu Ramah, Bukan Marah
Penulis : Irfan Amalee
Format : Paperback, 197 halaman
Penerbit : Noura Publishing (2017)
Harga : Rp. 20.000

Dari judulnya saja saya sudah bisa menebak bahwa buku ini akan membahas tentang karakter muslim yang dianggap 'sumbu pendek' belakangan ini. Entah memang begitu, atau stereotype itu memang sengaja ditampilkan untuk merusak citra Islam, saya tak tahu.

Pertama kali tahu buku ini dari seorang bookstagramer Malaysia. Katanya bukunya bagus, dan karena harganya juga murah yaudah checkout saja. Apalagi endorse preface-nya Prof. Komaruddin Hidayat. 😅 Entahlah sampai sekarang saya masih saja terlena sama endorse preface. Padahal kan itu bisa saja cuma akal-akalan orang jualan.


Tampaknya, buku ini merupakan kumpulan tulisan di blog atau platform lainnya. Karena kalau dilihat dari sistematikanya menurut saya kurang teratur. Jadi, kita bisa baca secara acak tanpa harus memulai dari awal bab sampai akhir. Terbagi menjadi 2 bagian, penulis membahas tentang perdamaian di bagian 1 dan character building di bagian 2. Tapi sebelum membahas isinya, saya ingin bahas dulu pengantarnya.

Jadi, seperti buku-buku pada umumnya di sini juga ada kata pengantarnya. Kunci Sukses Dakwah Nabi, judul pengantar yang katanya dari penerbit. Membacanya membuat hati saya sedikit terganjal. There's no wrong sama pengantarnya, hanya saja sang perwakilan penerbit, Ahmad Najib kok membandingkan dakwah persuasif Nabi Muhammad dengan perlawanan rakyat Palestina yang menurutnya frontal. Menurut saya yo nggak nyambung. Lalu di bagian akhir dia bilang, "Sebagian umat Islam pada zaman kini lebih senang menggunakan cara kekerasan dalam menampilkan Islam..." Entah kenapa kok saya jadi merasa tertuduh. Karena kalau berkaitan dengan non-muslim, selama ini kegaduhan yang saya lihat di kalangan umat Islam itu justru karena para pengusung Islam ramah itu malah menyudutkan saudaranya sesama Muslim. Kan jadi agak gimana gitu ya?! 


Masuk ke bagian 1, ada 12 tulisan pendek yang masuk kategori All About Peace. Tulisan pertamanya, "Hati yang Sakit, Cenderung Menyakiti" saya suka sekali. Apalagi gaya penulisannya yang ringan membuat pesannya mudah dipahami. Penulis mengangkat sebuah fenomena yang terjadi di kalangan umat Islam dan menyampaikan analisisnya terkait hal itu didukung dengan argumen-argumen yang kokoh. Dan gaya penulisan itu berlanjut terus. Di bab 2 misalnya, penulis menceritakan pengalamannya mengikuti sebuah workshop lalu mengaitkannya dengan fenomena tawuran di kalangan remaja kita.

Lalu sampailah kita pada bab "Unsur Menakut-nakuti dalam Pendidikan Kita". Penulis mengaitkan pola dalam dunia advertisement dengan dunia pendidikan. 

Orangtua kita dulu sering menakut-nakuti anaknya dengan hantu, agar anaknya tak keluyuran malam-malam. Untuk menjaga hutan lindung, para sesepuh adat membuat mitos kualat yang menyeramkan yang membuat warganya tak berani menjarah hutan. Agar umat taat beragama, para da'i sering mengancam dengan pedihnya siksa neraka. (hlm 60)

Sekali lagi, nggak ada yang salah sepertinya dari pernyataan itu. Tapi masalahnya adalah, 2 hal yang pertama adalah mitos, sementara yang terakhir adalah fakta. Saya sering merasa heran dan penasaran sama orang-orang yang anti neraka, semengerikan apa sih dulu gurunya bercerita tentang neraka sampai-sampai nggak mau denger tentang neraka?! Padahal di awal-awal dakwahnya, Nabi Muhammad itu justru sering sekali membahas tentang kiamat dan neraka. Lihat saja surat-surat di juz 30 itu isinya rata-rata ancaman semua.


Lalu penulis mengatakan bahwa Allah lebih memilih kata بشّر ketika membahas tentang kabar gembira di dalam Al-Quran, yang itu tandanya berulang-ulang kabar gembiranya. Tapi sependek pengetahuan saya, tiap ayat tentang kabar gembira dan peringatan selalu menggunakan redaksi بشيرا و نذيرا. Lagi-lagi, saya juga nggak bisa menjudge pernyataan penulis karena bisa jadi saya yang kurang jauh ngajinya. (Yaiyalah, saya baru lahir dia udah nyantri...🙄)


Yasudah itu saja hal-hal yang menurut saya kurang cocok sama prinsip saya. Sisanya, buku ini isinya bagus dan cukup padat. Bukan sekadar mengajak kita untuk lebih selow dalam beragama, tapi juga mengajak kita untuk belajar dan membaca sebagaimana para ulama kita dulu menjalankan agama. Dengan harganya yang murah, buku ini bisa jadi bacaan ringan dan renyah tapi tetap berbobot dan bergizi.

Rating: 3/5 ⭐⭐⭐

Reading Radio Silence as an adult (Book Review)

Selasa, 15 Juni 2021

 


Judul : Radio Silence
Penulis : Alice Oseman
Bahasa : Inggris
Format : EPub, 358 halaman
Penerbit : HarperCollins Publisher (2016)
Harga : Rp. 55.169

!!!!
Trigger Warning:
Anxiety
Emotionally abusive parent
LGBTQ+ characters
!!!!!

Blurb:
What if everything you set yourself up to be was wrong?  
Frances has been a study machine with one goal. Nothing will stand in her way; not friends, not a guilty secret – not even the person she is on the inside. Then Frances meets Aled, and for the first time she's unafraid to be herself.  
So when the fragile trust between them is broken, Frances is caught between who she was and who she longs to be. Now Frances knows that she has to confront her past. To confess why Carys disappeared…

Frances is going to need every bit of courage she has.

Engaging with themes of identity, diversity and the freedom to choose, Radio Silence is a tour de force by the most exciting writer of her generation.

Saya perlu berpikir agak lama untuk membuat review novel ini. Sebagai orang dewasa (ceileh), jarang membaca fiksi, tidak kenal dunia remaja, apa saya cukup capable untuk mereview sebuah novel Young Adult?! Tapi novel ini membuat saya nggak berhenti berpikir. Berpikir tentang kemampuan penulisnya yang luar biasa, tentang isu yang termuat di dalamnya, dan tentang diri saya sendiri yang juga pernah menjalani masa remaja. 

...

Oke, sudah cukup kontemplasinya. Langsung saja kita bahas novelnya.

Radio Silence bercerita tentang Frances, seorang anak SMA yang gila belajar. Dia pintar, head girl di sekolah, dan mau masuk Cambridge. "I was going to get a good job and earn lots of money, and I was going to be happy." Dari deskripsi ini kita bisa lihat kalau Frances adalah anak muda yang punya cita-cita dan tahu apa yang harus dia lakukan untuk masa depannya. Tapi ternyata tidak, saudara-saudara. Frances tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak mengerti mengapa dunia harus (terlihat) berjalan seperti itu. Dia menjalani hidupnya dengan semangat belajar yang tinggi hanya karena dia melihat bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan cara itu; belajar dan bekerja keras, kuliah di kampus ternama, pekerjaan tetap, karir cemerlang, penghasilan yang banyak. Itulah kebahagiaan yang dia lihat.

Tapi jauh di lubuk hatinya, sebenarnya dia sama sekali tidak peduli dengan itu semua. Dia menjadi study machine hanya karena ingin mencapai kebahagiaan yang sama dengan kebanyakan orang. Walaupun kebahagiaan versi dirinya sendiri adalah menyimak video podcast favoritnya di YouTube, Universe City lalu membuat fan art dan mempostingnya di Tumblr dengan memakai nama akun samaran. Dia tidak mau memakai nama aslinya karena tidak ingin terlihat orang sudah melakukan hal sia-sia, walaupun membuatnya bahagia. Tidak ada yang tahu bahwa School Frances hanyalah apa yang dia tampilkan di hadapan orang lain. Real Frances dia sembunyikan di dalam kamarnya, jauh dari jangkauan orang lain bahkan ibunya sendiri.

Kita akan menyimak cerita Frances menjalani tahun terakhir di sekolahnya sepanjang novel ini, dari sudut pandangnya. Semuanya bermula dari pertemuannya dengan Aled Last, cowok aneh yang sebenarnya adalah tetangga depan rumahnya tapi tidak pernah bertegur sapa. Mereka seumuran, tapi Aled setahun lebih tinggi level sekolahnya sehingga ketika Frances baru naik jadi senior Aled sudah masuk Universitas. 

Tidak ada yang aneh. Semua berjalan sesuai rencana. Hingga suatu hari, Frances mendapat DM di Twitter dari kreator Universe City yang meminta dia menjadi animator untuk acara podcast tersebut. Tentu saja Frances kegirangan dan menerima tawaran itu. Surprisingly, tak lama setelahnya Frances tidak sengaja mengetahui bahwa Aled adalah kreator Universe City. Dari situlah, persahabatan dua anak muda ini dimulai.

Semakin sering ngobrol, Frances menyadari bahwa ternyata dia memiliki banyak kesamaan dengan Aled. Dia merasa mereka punya selera yang sama dalam banyak hal, sehingga Frances merasa bisa menjadi dirinya sendiri ketika bersama Aled. Aled menjadi satu-satunya sahabatnya. 

Konflik mulai muncul ketika Frances dan Aled ribut karena suatu hal. Aled yang sudah mulai masuk kuliah dan tinggal di asrama kampus, akhirnya menarik diri dan tidak bisa dihubungi lagi. Frances yang merasa sangat bersalah berusaha memperbaiki hubungan persahabatan mereka disela-sela kesibukannya sendiri mendaftar ke Cambridge.

***

Kalau cuma membaca sinopsis di atas, mungkin yang terbayang di benak kita adalah "yaaa..... tipikal cerita anak remaja jaman sekarang laaah....". Tapi saya berani bilang, "No, no, ini beda." Memang novel ini menceritakan permasalahan anak remaja yang kesannya biasa saja. Tapi karena kita membacanya dari sudut pandang Frances, kita bisa benar-benar merasakan apa yang dia rasakan, precisely

Kalau selama ini kita sering kebingungan menghadapi anak remaja dan tidak mengerti apa maunya mereka, bacalah novel ini. Karena di sini kita akan tahu apa yang sebenarnya dipikirkan mereka ketika berhadapan dengan orang dewasa. Saya sendiri sering tersenyum-senyum sendiri ketika bertemu dialog-dialog Frances dengan orang-orang di sekitarnya. Di mulut dia bilang begini, padahal dalam hatinya dia sendiri tidak setuju dengan dirinya sendiri.

She asked me, "Remind me why you wanted to be head girl?"
And I said, "Because I'm great at it," but I was thinking, because universities love it.

Atau ketika Frances merasa putus asa untuk menjelaskan sesuatu kepada kepala sekolahnya,

I stopped speaking. There was no point trying to argue. There was no way she was going to even attempt to listen to me.
They never do, do they? They never even try to listen to you.

Dua kutipan itu hanya sebagian kecil dari sempurnanya Alice Oseman meng-capture karakter Frances sebagai representasi jiwa remaja yang kebingungan. Dan di sepanjang novel ini, kita akan melihat bagaimana Frances mencoba memahami kejadian-kejadian penting dalam hidupnya yang sulit untuk dia hadapi. Kita akan menyaksikan Frances menertawakan keputusan-keputusannya sendiri, menangisi kebodohannya sendiri, merasa tidak berguna karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong orang yang dia sayangi, dan masih banyak lagi gejolak perasaan yang tergambar cantik dengan narasi-narasi yang pas.

Begitu tepat sampai pada titik tertentu saya ikut menangis melihat Frances yang putus asa karena benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Saya bahkan sampai menahan nafas ketika menyaksikan scene tentang abusive parent dari kacamata Frances yang memiliki ibu terbaik di dunia. Frances yang ketakutan, ingin menolong tapi juga tidak berdaya. Kita benar-benar diajak untuk berempati dengan anak-anak muda ini menghadapi kegagalan dalam hidup dan berdamai dengan kondisi-kondisi yang tidak mereka harapkan.

***

Di 2 bab pertama sejujurnya saya agak bosan membaca novel ini, karena tidak terlalu banyak yang terjadi dan menurut saya karena hal itu Alice justru jadi terlalu terburu-buru di bagian akhir. Hal ini yang membuat saya -awalnya- jadi malas melanjutkan ketika pertama kali membacanya. Novel ini sempat saya tinggalkan selama 2 bulan. Untungnya saya memutuskan untuk melanjutkan karena memang sejak awal sudah suka dengan penggambaran karakternya. Dan karena memang saya adalah character-focused reader, di bagian tengah cerita saya mulai merasakan emosi dari cerita ini.

Karena ini pertama kalinya saya baca novel luar negeri bergenre Young Adult, terus terang saya sangat kagum dengan gaya penulisannya. Apalagi jika dibandingkan dengan novel-novel Teenlit/Chicklit milik murid-murid yang sering saya temukan di asrama. Kualitas narasi novel ini jelas jauuuuuh melampaui itu semua. Kita bukan hanya diceritakan tentang kisah anak remaja yang remeh-temeh, tapi juga diajak mendalami perasaan mereka, memahami permasalahan yang mereka hadapi, dan peduli dengan pilihan-pilihan hidupnya.

Rating : 4/5 🌟🌟🌟🌟

Monte Cristo (Book Review)

Kamis, 10 Juni 2021

 


Judul : Monte Cristo
Penulis : Alexandre Dumas
Bahasa : Indonesia
Penerjemah : Ermas
Format : Paperback, 754 halaman
Penerbit : KPG (Agustus 2016)
Harga : Rp. 35.000

Pertama kali memegang buku ini, saya sangat terintimidasi karena jumlah halamannya. Memang ini bukan pertama kalinya saya membeli buku yang sangat tebal, tapi buku-buku tebal yang biasanya saya miliki bukanlah buku fiksi melainkan buku-buku referensi yang tidak akan membuat saya merasa wajib untuk menamatkan. Sementara saya baru saja memulai petualangan untuk mengenal buku fiksi, tapi malah memilih buku setebal ini. Rasanya seperti bunuh diri. Dua alasan yang membuat saya membeli buku ini waktu itu adalah; 1. Bookstagramer favorit saya memberinya bintang 5, dan 2. Harganya yang sangat murah, hanya Rp. 35.000 di marketplace. Saya menduga buku ini tidak terlalu laku di pasaran sehingga dijual dengan sangat murah.

Marseille masa kini, salah satu latar cerita Monte Cristo. Kampung halaman Dantes.

Bersetting di Perancis pada masa perebutan kekuasaan antara Napoleon Bonaparte dan Raja Louis XVIII tahun 1815, Monte Cristo berkisah tentang seorang pemuda lugu 19 tahun yang memiliki kehidupan biasa saja. Edmond Dantes, adalah seorang awak kapal yang jujur dan tulus. Dia sangat mencintai ayahnya yang sudah tua dan sakit-sakitan, dan juga seorang kekasih cantik yang selalu setia menanti kepulangannya, Mercedes. Begitu besar harapannya untuk membahagiakan kedua orang yang dicintainya itu, Edmond pun bekerja keras hingga pemilik kapal tempatnya bekerja, Tuan Morrel berniat menjadikannya kapten kapal untuk menggantikan kapten sebelumnya yang meninggal dunia selama perjalanan. Kehidupan Edmond Dantes terasa sempurna. Karir yang cerah, impian menikah, semua tampak begitu indah.

Namun menjadi orang yang terlalu baik kadangkala membuka pintu kebencian bagi orang lain yang berpenyakit hatinya. Dua orang yang merasa dirugikan dengan kesuksesan Edmond, diam-diam membuat rencana jahat untuknya dengan dibantu oleh tetangganya sendiri. Edmond pun ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara terpencil dengan tuduhan sebagai pengkhianat negara, tepat di hari pertunangannya. Hidup Edmond Dantes pun hancur seketika. 

Puri If (Chateau d’If), tempat Edmond Dantes dipenjara.

Di dalam penjara itulah, titik balik perjalanan hidup Edmond Dantes dimulai. Kita akan menyaksikan bagaimana Edmond belajar untuk lebih peka dalam menjalani kehidupannya, bahwa ternyata tidak semua orang sebaik dan setulus dirinya. Dia pun menemukan seorang guru di sana dan akhirnya setelah 14 tahun menyusun rencana dia berhasil kabur dari penjara. Selanjutnya, kita akan diajak mengikuti pembalasan dendam yang epik darinya untuk semua orang yang telah menghancurkan hidupnya di masa lalu. Tapi dia pun tidak lupa untuk membalas jasa orang-orang yang membelanya ketika dia masuk ke dalam penjara.


Sebelumnya, saya tidak tahu sama sekali siapa itu Alexandre Dumas. Sebegitu kosongnya pengetahuan saya tentang dunia sastra, sehingga tiap kali mau membeli novel saya selalu searching dulu di Google demi mendapat referensi yang meyakinkan bahwa buku yang saya pilih itu memang layak dibaca. Dan setelah mengetahui bahwa Dumas adalah penulis kisah legendaris Three Musketeers (yang saya juga belum tahu sama sekali kisahnya 😂) saya pun mantap untuk mencoba membaca buku ini. Tidak disangka, 4 hari saja saya sudah menamatkan cerita ini.

Membaca kisah sepanjang ini, kita dituntut untuk bersabar dengan detil cerita yang kompleks dan plot yang bertumpuk. Tapi bagi saya justru disitulah menariknya. Dengan rentang waktu sepanjang itu tentu banyak hal yang terjadi dan tidak mungkin diceritakan dengan singkat saja. Dumas mengajak kita berkenalan dengan tokoh-tokoh dalam kisahnya dengan rinci hingga karakter mereka terasa hidup. Tidak ada satupun tokoh yang tidak penting di sini, jadi jangan lupakan satupun dari mereka. Tapi kalaupun terpaksa lupa, jangan khawatir, karena Dumas sudah mengantisipasinya dengan sesekali mengulas kembali cerita yang sudah lalu dengan porsi yang pas sehingga kita bisa mengingat kisah yang terlewat tanpa merasa plotnya menjadi terlalu repetitif. Saya pun mencoba mencari lokasi-lokasi yang pernah dikunjungi Edmond Dantes di internet, beberapa diantaranya bisa dilihat di postingan ini.

Salah satu sudut jalan lokasi rumah Monte Cristo di Paris, kawasan paling elit di negara itu.

Satu hal lagi yang membuat saya sangat menikmati novel ini adalah kisahnya yang menurut saya tidak terlalu berlebihan. Pembalasan dendam yang terlalu rapi, memang benar. Tapi Dumas mengemasnya dengan backstory yang masuk akal sehingga pada akhirnya semua menjadi bisa diterima. Dan seperti mengetahui apa yang akan pembaca pikirkan jika kisahnya terlalu sempurna, Dumas seolah sengaja membuat beberapa kegagalan yang lagi-lagi cocok dan cukup adil.

Sepanjang membaca Monte Cristo saya sering tersenyum setuju dengan ungkapan-ungkapan yang ada di dalamnya. Dumas menyisipkan sisi religius yang menurut saya cukup unik, terlebih saya sama sekali tidak mengerti konsep teologi Kristen. Tapi beberapa dialog dan narasi yang membawa nama Tuhan, sangat relate dengan kenyataan bagaimana kebanyakan manusia menjalani dan meletakkan agama dalam kehidupan. Saya juga bisa mengenal banyak tipe dan karakter manusia dari tokoh-tokoh di novel ini. Dari mereka saya belajar tentang kesetiaan, kejujuran, ketulusan, tekad yang kuat, dan tentu saja dendam dan keserakahan.


Dengan kerapian plot dan kekuatan karakter yang luar biasa, wajar kalau kemudian kisah ini menjadi abadi hingga akhirnya diangkat menjadi film dan TV Series. Selesai membaca novel ini, saya melanjutkan mencari review-review dan informasi lain dan ternyata versi asli novel ini pertama kali terbit tahun 1844 dalam bentuk serial bersambung. Dan buku terjemahan bahasa Inggris edisi lengkapnya setebal 1276 halaman. Jadi saya cukup yakin sepertinya yang saya miliki ini hasil terjemahan versi ringkasan. Meskipun ada satu baris yang menurut saya terpotong di halaman 288 tapi sama sekali tidak mengganggu kenikmatan mencerna keseluruhan cerita ini.

Saya tidak mengerti kalimat dengan post it merah itu. Ada yang bisa menjelaskan?!

Rating : 5/5 🌟🌟🌟🌟🌟 

April - May Book Haul

Jumat, 04 Juni 2021

Selama bulan April saya beli cukup banyak buku. Niatnya sih untuk persiapan Ramadan. Dan karena sebagiannya sudah tidak terbit lagi, jadi tidak akan saya ikut sertakan di postingan ini. Nah, bulan Mei rencananya saya mau menghemat. Di awal bulan saya cuma beli 2 buku, tapi begitu peristiwa Syaikh Jarrah menjadi viral dan kesadaran dunia tentang tragedi penjajahan di Palestina makin meluas, saya memutuskan untuk kembali melihat lebih jauh juga ke sana.


Saya baru sadar kalau selama ini saya belum pernah membaca literatur yang khusus membahas atau menceritakan tentang Palestina. Lalu ketika beberapa akun bookstagram merekomendasikan buku-buku yang related dengan Palestina, saya pun khilaf. Totalnya jadi ada 11 buku yang akan kita intip isinya di book haul kali ini. 9 buku fisik dan 2 buku digital. Kita mulai pamernya ya...

The Phantom of The Opera (Gaston Leroux)

Sejujurnya saya juga kurang tahu (yakin) novel ini bercerita tentang apa. Sependek yang saya simak dari salah satu booktuber favorit saya, Emma, novel ini bercerita tentang kehidupan di balik panggung opera di Perancis. Pertama kali diterbitkan tahun 1911, novel ini sudah sangat sering diadaptasi dalam bentuk pertunjukan opera sampai saat ini. Bahkan ada filmnya juga, tapi saya belum nonton. Karena sefenomenal itu, saya penasaran banget sama novel satu ini. Sudah sempat cari-cari juga di marketplace dan ketemu terjemahannya. Tapi ternyata ketika kemarin iseng ngetik judulnya di Kindle, muncul satu versi ini yang gratis jadi saya langsung checkout deh. 

Ada banyak publisher yang menerbitkan novel ini, dan saya nggak tahu di Kindle masih gratis atau nggak karena sejujurnya saya benar-benar baru memakai Kindle. Kalau kalian penasaran juga sama novel ini dan ingin baca terjemahannya bisa cari di marketplace. Setahu saya Gramedia punya satu versi yang covernya lebih imut. Tapi di Google Play Book juga ada yang versi Serambi dan harganya hanya sekitar Rp. 15.000 saja.




Penyebab saya membuka Kindle adalah buku ini. Berawal dari postingan salah satu publisher buku-buku Islam di London, Kube Publishing yang menggratiskan buku ini khusus di Kindle jadi saya nggak mau melewatkan kesempatan itu. Sampai tulisan ini saya posting, buku ini masih gratis lho... Jadi lebih baik kalian segera buka akun Kindle. 


Buku ini tidak terlalu tebal, hanya 184 halaman. Merupakan laporan harian tentang tragedi penyerangan Israel di Gaza selama 22 hari di bulan Desember 2008 - Januari 2009. Penulisnya sendiri, Vittorio Arrigoni adalah seorang aktivis kemanusiaan berdarah Italia yang menjadi relawan ketika peristiwa itu terjadi, bergabung dengan Bulan Sabit Merah Palestina. Yang menjadi buku ini menjadi lebih menarik adalah adanya pengantar dari Ilan Pappé, seorang sejarawan berdarah Israel yang juga sedang saya incar buku-bukunya.

I Saw Ramallah (Murid Barghutsi)

Indonesia Version - EPub English Version - Kindle

Buku ini adalah salah satu Palestinian Literatur yang paling direkomendasikan yang ada terjemahan Bahasa Indonesia. Sejujurnya saya cukup kaget waktu mengetahuinya. Dan ketika membaca sinopsis Bahasa Indonesianya, saya cukup kecewa karena sinopsisnya merupakan terjemahan sinopsis dari yang berbahasa Inggris. Yaaa nggak pa-pa sih, tapi karena terjemahan sinopsisnya saja tidak teratur dan sulit dimengerti, jadi saya masih belum siap untuk membaca isi bukunya.


Dari sinopsisnya, kita bisa mengetahui bahwa I Saw Ramallah adalah sebuah memoir dari penulisnya sendiri. Terusir dari tanah kelahirannya, Murid mengungkapkan perasaannya tentang kenangan masa kecil dan tanah air yang tak dikenalinya lagi. Nanti kalau hati saya sudah lebih siap, insyaAllah saya akan baca buku yang mendapatkan penghargaan ini.

In Searh of Fatima (Ghada Karmi)



Tidak terlalu berbeda dengan I Saw Ramallah, In Search of Fatima menceritakan masa kecil penulis yang terusir dari Palestina. Tidak banyak informasi yang saya dapatkan tentang buku ini, tapi karena ada terjemahan Bahasa Indonesia saya cukup yakin kalau dulu sepertinya buku ini cukup penting bagi rakyat Palestina yang bernasib sama dengan penulis, seperti di sinopsisnya disampaikan; Berbicara untuk jutaan orang terlantar di seluruh dunia yang telah hidup tergantung di antara negara lama dan baru, tidak merasa cocok dengan keduanya, buku ini adalah eksplorasi yang intim dan bernuansa privasi yang lebih halus dari perpindahan psikologis dan hilangnya identitas.


Siapa sangka, seorang Syaikh yang kitab Sirahnya menjadi salah satu yang paling saya favoritkan ternyata pernah menulis kisah roman. Tapi, Mamu Zein bukanlah kisah fiksi. Kisah cinta remaja Kurdi di masa lalu ini ditulis ulang oleh Syaikh Al-Buthi ketika beliau bahkan belum menjadi ulama dan belum genap berusia 14 tahun. Bisa dibilang, Mamu Zein adalah karya pertama beliau dalam bidang kepenulisan. Membaca kata pengantar dari penerjemah buku ini membuat saya menjadi semakin kagum dengan beliau dan penasaran dengan kisah di dalam bukunya.


From Beirut to Jerusalem (dr. Ang Swee Chai)


Nama dr. Ang Swee Chai pertama kali saya temukan disebut oleh salah satu influencer muslimah yang saya follow di Instagram, Aida Azlin. Dan dari sekian banyak influencer yang bersuara tentang Palestina, hanya Aida yang menyebut namanya. Ternyata, dr. Ang Swee Chai adalah seorang Singaporean, sama sepertinya. Aida memberikan link video YouTube dimana dr. Swee memberikan speech di acara TedX Talk dan menyinggung tentang Palestina di pidato itu. Dan karena saya terlalu mudah dipengaruhi, seketika saya ketikkan namanya di Google, lalu muncullah sederetan gambar buku. Saya lebih tidak menyangka ketika mengetahui bahwa buku itu diterbitkan oleh Mizan, yang artinya bukunya berbahasa Indonesia.

Begitu buku ini saya terima, saya langsung membacanya. Sampai saya menulis ini, sudah 108 halaman saya baca dari total 476 halaman. Mirip dengan Gaza Stay Human, buku ini adalah catatan pengalaman pribadi dr. Swee selama menjadi dokter relawan di kamp pengungsian Palestina. Dan buku ini juga yang menjadi alasan saya untuk tidak segera membaca buku-buku tentang Palestina yang lain. Karena hanya dengan membaca saja, saya bisa merasakan sesak di dada dan lelah luar biasa. Energi saya dikuras habis menyaksikan (membaca) penderitaan yang harus dialami orang-orang itu. Bahkan ketika menuliskan ini saja, saya sudah merasakan sesak lagi. Saya belum sanggup melanjutkan. Kalau kalian tidak bisa menemukan buku fisiknya di marketplace, beli saja versi EPub di sini. Harganya tidak sampai Rp. 30.000'-.


Daerah Salju adalah sastra klasik dari Jepang yang lagi-lagi saya temukan dari review di video YouTube-nya Emma. Versi Bahasa Indonesia ini diterjemahkan oleh Matsuoka Kunio & Ajip Rosidi. Melihat kombinasi penerjemahnya, harusnya nilai sastranya tidak akan berkurang ya?! Tapi ketika membaca bagian awalnya, saya langsung kehilangan minat. Entahlah, mungkin karena terlalu banyak membaca kisah suram sebelumnya, jadi saya kurang tertarik. Padahal, Emma bilang dia tidak bisa berhenti memikirkan buku ini sejak selesai membacanya. 


Snow Country (English) berkisah tentang Shimamura, laki-laki Tokyo yang mencoba mencari ketenangan di sebuah daerah terpencil bersalju dan Geisha-nya, Kumiko. Setelah saya mencoba membaca review tentang novel ini, memang banyak yang mengaku kurang bisa memahaminya. Kawabata lebih banyak mengungkap sisi psikologis para karakternya yang gelap dan rapuh. Jadi sepertinya wajar kalau saya butuh perasaan yang 'lengkap' kalau mau membacanya.

Your Sin is Not Greater Than God's Mercy (Nouman Ali Khan)

Kalian tidak perlu membeli buku ini, karena versi digital gratis bisa didapatkan di IPusnas. Lagipula buku ini sudah tidak terbit lagi. Tapi saya tetap masukkan di postingan ini karena menurut saya buku ini layak dibaca. Just because this is from ustadz Nouman.


Sebenarnya ini bukan tulisan beliau, namun merupakan transkrip ceramah beliau yang ada di YouTube lalu dibukukan oleh Noura Publishing. Link video dari tiap judul ceramah dicantumkan di bagian akhir buku. Saya sendiri suka sekali dengan gaya ceramah ustadz Nouman dan karena memang isi ceramahnya semenarik itu maka saya sengaja membeli buku ini untuk bisa saya baca-baca lagi nanti kalau saya merasa membutuhkan nasihat.


Sejujurnya saya juga kurang tahu tentang buku ini. Hanya karena dia muncul ketika saya mencari buku Palestina maka saya membelinya. Harganya pun murah, hanya sekitar Rp. 40.000,-. Kalau dilihat sekilas, buku ini merupakan kumpulan hasil riset tentang sejarah Timur Tengah pada umumnya, lalu terus memfokuskan kajiannya menuju Palestina. Bukunya tipis, hanya 120an halaman tapi menurut saya sudah cukup bagi saya untuk menguatkan pemahaman tentang isu Palestina.



Mengisahkan kehidupan seorang laki-laki Iran bernama Ali Fattah yang jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Mahtab, puteri dari pembantunya sendiri. Di pengantar, novel ini disebut bergenre roman sufistik, dimana kisah cinta dibalut tradisi religius. Yang lebih menarik lagi, novel ini diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya, Persia. Kalau kalian peminat filsafat dan sufisme, pasti akan tertarik dengan novel ini.



Ketika Mephy Napier, salah satu booktuber favorit saya yang lain mereview buku ini sambil menangis, saya langsung tahu kalau saya akan menyukainya juga. Novel ini merupakan novel yang fokus dengan karakter yang kuat. Tidak banyak plot yang terjadi, tapi kita akan diajak untuk mengenali tokoh-tokohnya dan menaruh simpati bahkan berempati kepadanya. Saya baru membaca 10 halaman novel ini dan seketika merasa peduli kepada Ove. Ove adalah laki-laki tua 59 tahun yang tinggal sendiri dan kesulitan beradaptasi dengan dunia dan manusianya hari ini. Setelah Merphy mereview, secara kebetulan beberapa bookstagramer yang saya temukan ternyata juga pernah membaca novel ini dan mereka semua menyukainya. Di cover bukunya, ditulis; "Kau akan tertawa, menangis, bersimpati terhadap karakter temperamental yang kau temui dalam kisah ini" and I'm ready for that. Buku ini juga sudah diadaptasi menjadi film berbahasa Swedia, sesuai bahasa aslinya. Tapi belum lama ini saya dengar kabar angin kalau Hollywood mau membuat filmnya juga.




Sudah selesai pamernya. Saya minta maaf kalau kalian tidak bisa menemukan lagi buku-buku di atas, karena memang bukan buku populer. Tapi kalau kalian pernah dan ingin membaca salah satunya, please kasih tahu di kolom komentar ya...
© Zuzu Syuhada • Theme by Maira G.