Sudah jadi rutinitas saya untuk membaca ulang buku ini tiap akhir/awal tahun sejak pertama kali membelinya tahun 2020. Buku ini menjadi salah satu buku yang membantu saya menemukan hikmah Islam di dunia luar dan membuat saya begitu mensyukuri nilai-nilai agama ini dalam hidup saya.
Di tahun kelima ini, saya baru sadar kalau selama ini saya belum pernah membahasnya di blog. Padahal seharusnya tempat ini jadi penyimpan memori-memori penting semacam ini. Dan rasa-rasanya, kesalahkaprahan konsep Ikigai yang sudah terlanjur ramai tersebar perlu juga dibenahi agar kemuliaan konsep ini tidak makin tercemar. --halah, bahasanya 😂--
Mungkin seperti yang lainnya, saya pertama kali mendengar istilah Ikigai lewat internet dan mulai benar-benar tertarik setelah menonton videonya Gita Sav. Kalau tidak salah, di video itulah saya melihat Ikigai versi diagram venn yang nantinya jadi viral itu. Seiring berjalannya waktu, saya makin penasaran. Di masa-masa itu juga saya mulai berkenalan dengan Quran Journal dan ingin melakukan hal yang lebih bermakna sejak resign dari kerja. Pada akhirnya, saya baru bisa membeli bukunya setelah kembali bekerja di sekolah ketika kondisi sedang pandemi. Dan saya bersyukur bahwa buku yang saya beli bukanlah buku Héctor GarcÍa melainkan buku karya Ken Mogi ini. Awalnya saya memang berniat membeli Ikigainya Héctor GarcÍa karena buku itu yang terus disebut orang-orang, tapi ketika mencari di Shopee buku Ken Mogi ini juga muncul di beranda pencarian. Waktu itu saya berpikir, 'Ikigai dari Jepang, mestinya orang Jepang yang lebih tahu tentang konsep itu.' Dan tampaknya saya tidak salah.
Beli The Book of IKIGAI di sini
Sejak pertama kali tahu konsep Ikigai dengan format diagram venn, saya sudah penasaran apakah jalan hidup seperti itu benar-benar bisa diwujudkan? Pasalnya, dalam konsep diagram venn Ikigai kita baru bisa disebut mendapatkan Ikigai jika bisa mendapat semua elemen dalam diagram itu. Saya membeli buku ini untuk tahu bagaimana caranya. Tapi ternyata yang saya dapat justru sangat berbeda dengan yang ramai dibicarakan di internet.
![]() |
| Image from Freepik |
IKIGAI tidak berbentuk Diagram
Halaman pertama buku ini sempat membuat saya berpikir, 'jangan-jangan saya salah beli buku?' Karena yang disampaikan adalah lima pilar Ikigai yang sama sekali berbeda dengan diagram venn;
- Awali dengan Hal yang Kecil
- Bebaskan Dirimu
- Keselarasan dan Kesinambungan
- Kegembiraan dari Hal-hal Kecil
- Hadir di Tempat dan Waktu Sekarang
Illusory Truth Effect; Bagaimana kita Makin Jauh dari Kebenaran?
Yang menarik pada Ikigai versi Ken Mogi, sejak awal dia mengatakan bahwa Ikigai tidak ada hubungannya dengan pencapaian atau keberhasilan dalam konteks materi.
Ikigai digunakan dalam berbagai konteks, dan dapat diterapkan pada hal-hal kecil di keseharian selain target-target dan prestasi-prestasi besar... Ikigai itu memungkinkan, meski kita tidak sukses dalam kehidupan profesional kita. (hlm. 5)
Pada cerita Jiro Ono yang mengatakan bahwa dia berharap untuk mati selagi membuat sushi, batin saya terusik sambil menunjuk diri, 'kamu, mau mati dalam keadaan apa?' Ono bisa menemukan gairah hidup dari melakukan kerja-kerja sepele, monoton, dan menghabiskan waktu demi bisa melihat senyum para customernya. Lalu apakah saya bisa tahan dengan rutinitas ibadah harian yang itu-itu saja dan membosankan? Padahal saya tahu bahwa imbalan saya tentu bukan sekadar senyuman dan ucapan selamat. The Book of Ikigai langsung menohok saya sejak halaman-halaman pertama. Membuat saya mempertanyakan pengetahuan keIslaman saya selama ini karena seolah-olah saya diajarkan tentang nilai-nilai Islam dari buku ini. Lewat cerita-cerita Ken Mogi, saya disadarkan kembali bahwa menjadi muslim adalah mengumpulkan rutinitas dan aktifitas sederhana menjadi habit. Ini adalah pilar Ikigai pertama dan keempat. Tidak masalah jika niat awal kita beramal tidaklah terlalu mulia, Jiro Ono juga memulai restoran sushi hanya karena modalnya lebih kecil jika dibanding membuka restoran lain. Awalnya dia hanya ingin bertahan hidup. Sepanjang membangun bisnisnya dia harus terus menyemangati dirinya sambil melakukan perbaikan-perbaikan kecil agar kualitas produknya lebih diminati orang. Hingga lama-lama dia menemukan makna dari pekerjaannya itu dan makin bahagia melakukannya.
Jiro Ono memang dijadikan contoh pemilik Ikigai yang sukses. Namun Ken Mogi juga menambahkan banyak contoh lain dari orang-orang biasa saja dan bahkan yang terlihat gagal dalam hidup mereka. Orang-orang ini tetap memiliki Ikigai. Bahkan kadang Ikigai mereka adalah sesuatu yang sangat sederhana. Salah satu yang paling awal dia ceritakan adalah kursi sang profesor.
Ikigai adalah tentang menemukan, menjelaskan, dan menghargai kesenangan-kesenangan hidup yang memiliki arti bagi Anda. Tidak masalah jika tak ada seorang pun yang melihat arti khusus itu. (hlm. 17)
Saya akan rangkum semua hal penting yang saya dapat dari membaca buku ini. Jika postingan ini terlalu panjang, saya sarankan langsung beli bukunya dan nikmati sendiri keindahan Ikigai lalu terapkan dalam prinsip hidupmu sendiri.
Keberkahan di Waktu Pagi
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
"Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya."
Ikigai seringkali diterjemahkan secara bebas dengan "alasan untuk bangun pagi". Alasannya tidak perlu yang muluk-muluk karena semangat Ikigai adalah menemukan kebahagiaan dari hal-hal kecil. Representasi dari hal kecil itu adalah bangun pagi. Karena sangat peduli pada hal-hal kecil yang tampak sepele itulah, kebiasaan bangsa Jepang jadi terlihat sangat teratur. Mereka tidak mau melakukan sesuatu dengan serampangan. Saya cukup terkejut mengetahui bahwa ada batas waktu tertentu untuk mengucapkan sapaan おはよう di Jepang. Seketika saya teringat pada zikir pagi bagi muslim. Salah satu guru saya pernah mengatakan bahwa zikir pagi dan petang adalah ibadah yang sangat khusus. Kamu tidak bisa membaca zikir pagi setelah waktu dhuha, begitu juga tidak bisa membaca zikir petang setelah maghrib, itu bukan petang lagi namanya. Meskipun sampai saat ini saya tidak menemukan landasan/dalil dari ucapan guru saya tersebut, tapi secara umum banyak sekali ibadah-ibadah dalam Islam yang dibatasi oleh waktu. Yang paling utama tentu shalat wajib. Jika waktu mengucapkan selamat pagi saja dianggap sangat serius oleh orang Jepang, apa alasan orang Islam menyepelekan ibadahnya?
Dalam meningkatkan semangat beraktifitas pagi, orang Jepang memiliki beberapa cara yang melibatkan komunitas sehingga sampai saat ini kita cenderung melihat bangsa Jepang sebagai negara yang berorientasi kelompok. Tapi sebagai muslim kita juga sama. Bagaimana kalau setelah bangun pagi, kita langsung berangkat ke masjid untuk shalat subuh berjama'ah, mengobrol sedikit dengan jama'ah di sana. Temukan hikmah dari ibadah-ibadah kecil di pagi hari yang penuh berkah, dan amalkan dengan gembira.
Kodawari, atau Itqanul 'amal
Kodawari adalah standar personal yang dipatuhi seorang individu dengan sangat teguh... Kodawari adalah pendekatan ketika kita memberi perhatian sangat besar terhadap detail-detail terkecil. (hlm. 40)
Ketika menulis ini, saya menemukan satu blog/podcast yang khusus membahas konsep ini. Luar biasa sekali ketika satu pilar Ikigai ini bisa dikaji begitu dalam dan sangat luas. Menunjukkan betapa detilnya orang Jepang dalam mempelajari sesuatu. Jika kita membaca kembali cerita Jiro Ono, sepertinya motivasinya dalam membuat sushi terlezat datang dari orang lain. Tapi sesungguhnya tidak selalu begitu.
Satu aspek penting dari kodawari adalah bahwa orang-orang mengejar target mereka sendiri... (hlm 43).
Agak sulit merangkum penjelasan Ken Mogi dengan kisah-kisahnya di dalam buku, namun yang bisa saya tulis di sini adalah bahwa prinsip kodawari membuat seseorang selalu ingin meraih kesempurnaan dalam pekerjaannya, meskipun tidak pernah ada konsep yang jelas tentang kesempurnaan. Karena semangat itulah, bangsa Jepang sangat peduli pada detail-detail kecil. Mereka tahu bahwa kesuksesan yang besar hanya bisa diperoleh dari keberhasilan-keberhasilan kecil yang terakumulasi. Mereka paham bahwa mereka harus mengeksekusi tiap langkah hingga sempurna. Apapun profesimu, apakah penjual ramen, pegulat sumo, atau petani semangka.
Melihat kondisi sosial saat ini dengan hustle culturenya, tampaknya kodawari juga sama seperti itu. Tapi tidak. Sebagai muslim, kita juga dituntut untuk melakukan amal dengan sebaik-baiknya, dan prinsip kodawari ini sepertinya cocok untuk menggambarkannya.
Kodawari tidak sama dengan hustle culture dimana kita selalu berusaha sibuk untuk bisa merasa produktif. Saya pikir bangsa Jepang pun mulai terbawa arus ini dan kehilangan makna kodawari sampai ada istilah baru, Karoshi --mati karena terlalu banyak bekerja--. Seseorang dengan kodawari, tidak akan keberatan menghabiskan waktu lama untuk menyempurnakan satu detail kecil dalam pekerjaannya. Ini adalah hal yang tidak akan diterima dalam hustle culture yang menuntut kecepatan hasil. Karena mendambakan kesempurnaan, mereka harus menaruh konsentrasi yang tinggi pada apa yang mereka kerjaan saat itu. Ini adalah pilar kelima Ikigai; hadir di tempat dan waktu sekarang. Menariknya, Ken Mogi tidak hanya menjelaskan nilai kodawari melalui kebiasaan bangsa Jepang. Dia juga menyebut sedikit dari kebijaksanaan bangsa-bangsa lain dan mengatakan, "Setiap kebudayaan memiliki inspirasi masing-masing untuk ditawarkan."
Sebagai muslim, kita seringkali mendengar nasihat untuk lebih fokus pada akhirat. Namun di bukunya, Syaikh Muhammad Al-Ghazali mengatakan bahwa hidup pada hari ini bukan berarti mengabaikan masa depan atau tidak bersiap-siap menghadapinya. Justru karena kita sangat mengharap kebaikan di akhirat, kita harus benar-benar memperhatikan apa yang kita lakukan hari ini. Inilah kodawari seorang muslim. Menghadirkan hati dengan niat yang benar, beramal dengan landasan yang kuat, agar perbuatannya menjadi bernilai. Dan demi mewujudkan Islam yang tegak di muka bumi, kita tidak bisa menanggung beban ini sendiri. Kita perlu mewariskan semangat ini kepada generasi berikutnya, sebagaimana Soukichi Nagae mewariskan mimpi leluhurnya untuk membuat mangkok bintang.
Dengan semangat meraih kesempurnaan ini juga, bangsa Jepang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi terhadap hal-hal baru yang berasal dari luar negeri. Rakyat Jepang pandai dalam menyerap, lalu menyesuaikan dan menguasai sesuatu yang telah diimpor lalu meraciknya menjadi khas milik mereka sendiri. Ramen misalnya, dari namanya yang tertulis menggunakan Katakana kita tahu bahwa sesungguhnya mie itu bukan makanan asli Jepang. Melainkan makanan China yang telah mereka modifikasi dan akhirnya menjadi salah satu makanan khas Jepang.
Free Yourself from Selfishness
Untuk memiliki kodawari, seseorang perlu memiliki semangat pemuda, atau bahkan anak-anak. Ken Mogi mengatakan, "alangkah menyenangkannya jika kita dapat mempertahankan cara pandang seorang anak sepanjang kehidupan kita." Ini adalah pilar Ikigai kedua; Membebaskan diri. Dari apa? Dari ambisi-ambisi duniawi yang merusak hati. Kita bekerja bukan untuk mendapatkan promosi, kompetisi, uang, atau validasi orang lain. Tapi untuk kepuasan diri sendiri.
Para Nabi pun berdakwah bukan untuk dihormati uamtnya. Kita melanjutkan perjuangan mereka juga sesungguhnya untuk menyelamatkan diri kita sendiri, dan niat itu tidak disalahkan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin. Pada hakikatnya ketika melakukan amal kebaikan, yang sedang kita kejar adalah 'kepuasan' diri. Tidak peduli imbalan apa yang akan diberikan orang lain karena itu tidak ada artinya. Dengan pola pikir seperti ini, kita tidak akan berkecil hati ketika kebaikan kita tidak dihargai. Dalam bukunya, Ken Mogi mengambil contoh pendeta-pendeta Buddha yang tidak mendapat penghargaan bagi tindakan terpuji. Karena melakukan tindakan terpuji bukanlah prestasi. Itu adalah kewajaran yang memang seharusnya dilakukan manusia bermoral. Dan dalam Islam, kita sudah diajari berkali-kali melalui banyak kisah tentang betapa pentingnya niat dalam doa-doa sebelum setiap perbuatan sehari-hari.
Meraih Keikhlasan dari Pekerjaan
Di bab kelima, pembahasan tentang pekerjaan mengingatkan saya tentang konsep bekerja dalam Islam. Ken Mogi banyak mengutip keterangan dari buku berjudul Flow di bab ini. Sedikit berbeda dengan kodawari yang menjadikan pekerjaan sebagai pusat aktifitas, muslim menjadikan Tuhan sebagai pusatnya. Jika hustle culture dan psikologi populer menjadikan diri sebagai pusat kognisi, Ikigai dan kodawari tidak begitu. Apalagi muslim. Para seniman di Jepang tidak membuat produk mereka untuk mengklaim hak mereka sebagai pencipta. Mereka bekerja dan berkarya, karena pekerjaan itu sendiri memberikan kesenangan yang sangat besar.
Lalu sebagai muslim, bukankah kita sudah tahu bahwa bekerja itu sendiri mengundang kemuliaan di mata Allah? Kita sudah punya petunjuk arahnya. Dan sama seperti Ikigai, mungkin yang kita lakukan tampak kecil di mata manusia. Tapi siapa yang peduli? Kita bekerja dan beramal untuk diri kita sendiri, bukan orang lain. Dan lagi-lagi itulah sebabnya kita menemukan banyak orang Jepang yang tetap aktif bekerja setelah masa pensiun. Dalam Islam pun, tidak ada istilah itu.
Keselarasan dengan Sekitar
Bukan hanya manusia, bangsa Jepang sangat menghormati makhluk hidup lain bahkan sampai ke benda-benda di sekitar mereka. Hal ini mungkin dilakukan, karena semangat Ikigai yang selalu ingin tampil sempurna tanpa mengharap apa-apa dari orang lain. Pada saat yang bersamaan prinsip itu memberikan kesadaran tentang keberagaman. Mereka sadar bahwa untuk mengejar kesempurnaan dibutuhkan lingkungan yang mendukung. Oleh karena itu, mereka sangat hati-hati untuk tidak mengganggu orang atau makhluk lain.
Namun meskipun keadaan dan lingkungan tidak mendukung, bukan berarti kita tidak bisa mendapat Ikigai. Ken Mogi memberikan contoh yang apik melalui kisah para pegulat sumo. Di dunia yang makin keras dan jahat, kita bisa memosisikan diri seperti mereka. Kebanggaan untuk menjadi bagian kecil dari sesuatu yang besar mungkin cukup untuk membuat kita bertahan.
Dengan sistem peringkat yang kejam, para pegulat sumo tetap bertahan dan berlatih setiap harinya. Mereka tahu bahwa hanya ada beberapa orang saja yang akan berada pada tingkat tertinggi. Bahkan yang dikisahkan dalam bukunya, ada yang memang sudah tidak punya harapan lagi. Tapi mengapa mereka tetap bertahan? Karena mungkin, kebangaannya bukan pada kemenangan. Melainkan pada perannya ikut serta merawat tradisi, dan menjadi bagian darinya.
Ikigai mengajarkan kita untuk beradaptasi dengan dunia yang makin kacau. Kita tidak mencari Ikigai dari dukungan lingkungan, tapi kedamaian hati kitalah yang menciptakan kedamaian bagi sekitar.
Menjadi tangguh dalam hidup itu penting, terutama mengingat betapa dunia ini semakin tidak dapat diprediksi, bahkan kacau. (hlm. 141)
Menyelaraskan diri dengan sekitar berarti juga menjaga alam. Belum lama ini tentu kita sudah saksikan sendiri bagaimana prinsip ini benar-benar terinternalisasi dalam diri bangsa Jepang. Gedung yang dihancurkan karena menutupi pemandangan ke gunung Fuji, atau pohon yang dipindahkan seakar-akarnya dan butuh waktu satu tahun dalam pelaksanaannya untuk pembangunan jalan. Dalam legenda Jepang, setiap benda ada dewanya. Saya tidak ingin bilang bahwa Islam juga seperti itu, tapi tentu kita percaya bahwa kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Dari hal-hal yang besar sampai yang paling sepele dalam hidup kita.
Mestinya dengan kesadaran itu, seorang muslim tidak jauh berbeda dengan orang Jepang yang sekuler dalam praktik kehidupannya. Nilai-nilai dan prinsip bangsa Jepang yang menarik inilah sepertinya yang membuat praktik hidup mereka sangat mencerminkan keindahan Islam tanpa identitas Islam. Dan jika kebaikan ini sudah jelas-jelas tampak dihadapan kita, bukankah seharusnya kita ambil hikmah itu segera karena kita yang paling berhak memilikinya?
***
Ternyata agak sulit menulis tentang prinsip dan pilar-pilar Ikigai dengan runut dan praktikal. Dan memang tidak mungkin membuat tutorial untuk mendapatkan Ikigai karena Ikigai bukan ritual. Ikigai adalah pemaknaan pada ritual-ritual yang sudah jadi milik kita masing-masing, sehingga bisa berbeda ritualnya bagi satu orang ke orang lainnya. Bagi saya yang muslim, tentu pada ibadah-ibadah harian saya. Bagi orang lain, bisa beda lagi. Maka saya sangat menyukai buku ini karena kedalaman maknanya serta keluasan jangakauannya. Ken Mogi mampu memberikan gambaran tentang penemuan makna lewat aktifitas dan tradisi-tradisi bangsa Jepang dan mengajak kita --yang bukan orang Jepang-- untuk menemukan padanannya pada tradisi dan budaya kita sendiri.


.jpg)

0 Comments