SLIDER

Mengapa generasi muda kita begitu lemah?

Selasa, 31 Oktober 2023


Photo by tabitha turner on Unsplash

Di media sosial, terutama instagram banyak sekali saya menemukan konten tentang perbedaan antar generasi. Paling banyak saya temui adalah yang temanya tentang parenting dan dunia kerja. Rata-rata intinya menunjukkan bahwa generasi Z adalah generasi yang lemah, mudah mengeluh dan sangat rapuh. Sebagai guru selama kurang lebih 10 tahun, saya pun setuju bahwa makin ke sini anak-anak yang lahir setelah tahun 1995 lebih sulit untuk dihadapi. Dan ternyata ada kajian menarik mengenai fenomena ini.

Setiap generasi suka mengeluh tentang generasi yang akan datang. Hal itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Kita yang muslim pasti pernah mendengar tentang percakapan Ali bin Abi Thalib ketika ditanya salah seorang warganya ketika menjadi khalifah,

'Abidatu as-Salmaini berkata kepada Ali bin Abi Thalib, "Wahai Amirul Mukminin! Apakah gerangan Abu Bakar dan Umar, mengapa semua rakyat tunduk dan patuh kepada keduanya? Wilayah kekuasaan yangg semula lebih sempit dari satu jengkal lalu meluas dalam kekuasaan mereka? Lalu saat engkau dan Utsman menggantikan posisi keduanya, rakyat tidak lagi tunduk dan patuh terhadap kalian berdua, sehingga kekuasaan yang luas ini menjadi sempit buat kalian?"

Ali bin Abi Thalib menjawab, "Karena rakyat mereka berdua adalah orang-orang yang seperti aku dan Utsman, sementara rakyatku sekarang adalah kamu dan orang-orang yang sepertimu."

Dalam hadits Rasulullah saw juga sudah mengisyaratkan bahwa generasi yang datang setelah generasi sahabat akan makin menurun kualitasnya, "Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian setelahnyna, kemudian setelahnya." (HR Bukhari & Muslim)

Photo by Yuri Shirota on Unsplash

Dalam sebuah video Youtube yang menghadirkan seorang Social psychologist -Jonathan Haidt, disebutkan bahwa salah satu penyebab anak-anak di Amerika menjadi rapuh adalah karena mereka dibesarkan dengan prinsip "moral dependency". Mereka jarang bermain ke luar rumah dengan teman-temannya. Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan gawainya dan berinteraksi dengan cara itu. Generasi Z adalah anak-anak yang mengenal media sosial sejak usia 13 tahun atau bahkan kurang dari itu. Mereka mendapatkan materi dan konten anti-bullying bahkan di sekolah, dan mendapatkan lebih banyak pengawasan dari manusia dewasa. Secara umum, generasi Z tidak mendapatkan kebebasan yang didapat oleh generasi sebelumnya. Karena selalu ada orang dewasa yang bisa mereka datangi setiap menghadapi masalah akhirnya mereka menjadi lebih kesulitan untuk menyelesaikan masalah sendiri.

When we protect children from unpleasantness, from conflicts, from insults, from teasing, from exclusion, we are setting them up to be weak, to be more easily damaged, to be more easily discouraged.

Lalu mengapa generasi Z begitu dilindungi?

Pada tahun 1980an, ada beberapa kasus penculikan terkenal dan diberitakan di televisi. Lalu muncul iklan layanan masyarakat tentang bahayanya anak yang dibiarkan sendirian di luar rumah atau berbicara dengan orang asing. Hingga akhirnya para orangtua merasa panik dan berpikir bahwa jika anak-anak berada diluar jangkauan perhatian mereka maka anak-anak akan diculik. Hal ini terus berlanjut hingga masuk di tahun 1990an, ada semacam konsensus para orang tua bahwa anak-anak tidak bisa bermain sendiri ke luar rumah sebelum berusia 14 atau 15 tahun.

Saya sendiri masih ingat dulu ada beberapa kali masanya kasus penculikan anak begitu marak diberitakan di televisi maupun dari mulut ke mulut. Ada beberapa saatnya ketika bapak dan mamak berinisiatif menjemput sendiri setiap saya pulang sekolah. Namun itu tidak berlangsung lama, mungkin karena kondisi masyarakat Indonesia yang secara ekonomi jauh di bawah Amerika sehingga propaganda dengan cara seperti itu tidak terlalu berhasil.

Di Amerika, Lenore Skenazy, yang menulis buku "Free Range Kids" menjadi terkenal sebagai "ibu terburuk di Amerika" karena pada tahun 2009, ia membiarkan putranya yang berusia 9 tahun menaiki kereta bawah tanah New York City. Padahal anaknya baik-baik saja, bahkan merasa senang karena dia merasa telah belajar sesuatu yang baru. Dia merasa bisa keluar melihat dunia. Sama persis seperti waktu pertama kali saya naik angkot sendirian dari sekolah ke pasar. Ketika saya muncul sendirian ke toko orang tua saya di pasar, mereka sangat kaget dan khawatir. Tapi melihat saya baik-baik saja akhirnya mereka malah mengatakan, "oh kamu sudah besar sekarang."

Jonathan Haidt menjelaskan dalam video tersebut, dalam sepanjang sejarah manusia, normalnya usia 8-12 tahun adalah masa dimana anak-anak melatih kemandirian, berpetualang, membuat rakit dan mengarungi sungai. Namun kita merampas periode itu dan mengatakan kepada mereka, "kamu belum boleh melakukan ini/itu" hingga semuanya sudah terlambat dan tiba-tiba ketika anak kita berusia 17-18 tahun kita berkata, "sekarang pergilah kuliah." Mereka tidak siap, karena mereka tidak terbiasa mandiri. Ketika mereka masuk kuliah, mereka butuh lebih banyak bantuan.

They are asking adults for more help. 'Protect me from this. Punish him for saying that. Protect me from that book.' Students are thinking in terms of safety and danger. Students say, by their own admission, they are more fragile. They use a language of fragility, weakness, trauma, triggering. They see triggers all over the world.

Waktu menyimak video itu, saya merasa sangat relate dengan pemaparannya. Kita pun di sini sering sekali mendapati anak-anak yang mudah ketrigger, kan? Kena kritik sedikit langsung stress, dikasih beban tugas agak banyakan langsung depresi, capek sedikit langsung merasa butuh healing. Mengapa? Karena mereka menganggap dunia ini penuh dengan trigger. Memangnya trigger itu apa sih?

Salah satu definisi dari trigger adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang merasa kesal, takut atau cemas. Haidt menjelaskan, kita seharusnya tidak mengajarkan kepada anak bahwa dunia ini tempat yang berbahaya. We should teach them to live in a world that is physically quite safe, but full of offensive statements and ideas, especially on the internet.

Lalu di salah satu video lain yang saya temukan, ada satu asumsi lain tentang alasan dibalik lemahnya generasi Z. Yaitu mereka tidak pernah merasakan 'delay of gratification". Generasi Z adalah anak-anak yang lahir dengan berbagai kemudahan. Mereka tidak perlu menunggu satu minggu untuk menikmati acara TV favorit ditayangkan. Mereka lahir ketika bimbingan belajar privat sedang tumbuh menjamur. Dan ditambah dengan kehadiran internet, apa saja yang mereka butuhkan -bahkan yang tidak dibutuhkan- bisa dengan mudah mereka akses lewat gawai dalam genggaman. Menariknya, sebenarnya konsep ini adalah sebuah prinsip hidup yang sangat melekat dengan ajaran Islam. 

Pekan lalu ketika meeting pekanan bersama Rahmah Study Club, kami membahas surat Adh-Dhuha. Dan ketika menyimak kajian Ustadz Budi Ashari mengenai ayat 5 beliau mengatakan bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang bagaimana Allah menanamkan konsep pendidikan pada diri Rasulullah saw. yaitu dengan kesabaran. Bahwa Allah berjanji akan memberi kepada Rasulullah saw, tapi nanti. Dan janji Allah pasti ditepati. Menjadi miris jika ternyata prinsip pendidikan ini ternyata tidak kita terapkan juga kepada anak-anak kita karena pola pikir 'yang penting anak saya bahagia.'

Photo by Hannah Busing on Unsplash

Pada intinya, jika kita ingin membesarkan generasi yang dapat menghadapi segala jenis tantangan, kita perlu menyelaraskan praktik pendidikan kita dengan beberapa prinsip psikologis yang sangat mendasar dan penting. Lagi-lagi Jonathan Haidt mengingatkan;

We are all prone to motivated reasoning and the confirmation bias, and we're all prone to tribalism, and black-and-white thinking. We need to be educating kids so that they do less of this stuff.

Kita semua rentan terhadap motivated reasoning dan bias konfirmasi, dan kita semua rentan terhadap kesukuan, dan pemikiran hitam-putih. Kita perlu mendidik anak-anak agar mereka mengurangi hal-hal ini.

Motivated reasoning(?)

Always trust your feelings. Dengarkan kata hatimu. Terdengar bijaksana dan romantis, ya? Ternyata pemikiran seperti ini tidak sepenuhnya benar. Orang-orang bijak di seluruh dunia telah memperhatikan bahwa kita tidak bereaksi terhadap dunia sebagaimana adanya, melainkan melalui konstruksi dan persepsi.

Epictetus berkata, "Bukan hal-hal itu yang mengganggu kita, melainkan interpretasi kita terhadap hal-hal tersebut yang mengganggu kita." Jonathan Haidt mengutip perkataan Homer Simpson -karakter di The Simpson- yang menurut saya cukup menarik. "Shut up, brain! Or I'll stab you with a Q-tp!" Self-talk!!! Otak kita tidak pernah berhenti, dia terus bekerja dan dalam aktifitasnya otak bekerja untuk melindungi diri kita. Jika kita tidak mengendalikannya, maka kita akan dikalahkan oleh persepsi kita terhadap dunia luar yang terkadang dipengaruhi oleh emosi. Maka, tradisi self-talk yang mengarah pada self-control yang sudah diwariskan para ulama kita sejak generasi salaf, mestinya kita lestarikan lagi. Bukan self-talk yang justru melemahkan diri karena kita tunduk pada emosi.

Mari kita simak bagaimana Fudhail bin Iyadh melakukan self-talk untuk mengendalikan dirinya;

Wahai orang yang malang, engkau berbuat buruk sementara engkau memandang dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan

Engkau adalah orang yang bodoh sementara enggkau justru menilai dirimu sebagai orang berilmu

Engkau kikir sementara engkau mengira dirimu orang yang pemurah

Engkau dungu sementara engkau melihat dirimu cerdas

Ajalmu sangatlah pendek, sedangkan angan-anganmu sangatlah panjang.

Haidt mengatakan bahwa di kampus-kampus saat ini para mahasiswa didorong untuk mengikuti perasaan mereka. Jika mereka merasa tersinggung oleh sesuatu, maka mereka merasa telah diserang. Mereka seharusnya tidak mengikuti perasaan itu. Tetapi orang yang bijaksana akan berkata, "sebentar, apakah ada cara lain untuk menghadapi ini?" 

These are crucial skills for critical thinking. These are crucial skills for mental health. And we need to be teaching young people at all stages to question their first interpretations, look for evidence, and improve the way they interpret the world.

Cognitive Behavioral Therapy/CBT (Terapi Perilaku Kognitif)

CBT merupakan cara untuk mengajarkan orang melakukan persis seperti apa yang disebutkan di atas. Mempertanyakan perasaan mereka dan mencari bukti. Dalam CBT, kita akan mempelajari sekitar 15 distorsi/kesalahan logika dalam berpikir; memburuk-burukkan, berpikir hitam-putih, memberi label, atau menebak pikiran. Aaron Beck, seorang psikiater pada tahun 1960an memperhatikan bahwa orang yang depresi dan cemas memiliki cara berpikir bahwa, "Saya buruk. Masa depan itu buruk. Masa depan saya - dan dunia adalah tempat yang buruk." Cara berpikir seperti ini, bertemu dengan lingkungan yang tidak mendukung akan semakin menguatkan perasaan depresi.

Jika kita bisa memperbaiki pemikiran dan mematahkan keyakinan-keyakinan yang melemahkan maka kita akan terbebas dari depresi. Haidt menjelaskan bahwa ada cara-cara lain untuk mengatasi pola pikir keliru namun CBT adalah praktik yang paling mudah dan sudah terbukti memiliki dampak yang besar terhadap berbagai penyakit mental, terutama yang berhubungan dengan depresi dan kecemasan. Dan jika kita melihat kembali ke Islam, sesungguhnya CBT ini juga bukan hal yang asing bagi kita.

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ

"...Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan bisa jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu..." (Al-Baqarah 216)

Ayat di atas berbicara tentang kewajiban perang yang tidak mungkin disukai oleh manusia. Namun Allah mengajarkan kepada kita pada hal ini, bahwa sesungguhnya hal yang tidak kita sukai tidak selalu buruk bagi kita. Dan selama kita percaya kepada Allah, tidak ada yang buruk bagi orang yang beriman. Bahkan musibah dan kesulitan hidup adalah berkah dan kasih sayang dari Allah jika kita memiliki persepsi yang benar terhadap takdir Allah.

Pertanyaannya adalah, bisakah kita mengajarkan kepada anak-anak kita tentang konsep ini? Karena tentu saja kita tidak bisa meminta sekolah untuk mengambil alih semua tugas pendidikan ini. Jika kita bisa mengajarkan bagaimana cara berpikir yang benar tentang hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka, maka insyaallah anak-anak kita akan menjadi lebih tahan terhadap gangguan-gangguan yang mungkin lebih besar di masa yang akan datang.

Photo by Nik on Unsplash

Kesukuan/Rasisme

Jika kita pikirkan lagi, manusia selalu ingin bersaing dengan manusia lainnya. Haidt mengatakan bahwa sifat manusia sangat cocok untuk konflik antarkelompok atau antar suku. Dan ini terbukti dari sejarah nenek moyang kita, bahkan hingga saat ini.

Secara umum, kita berusaha untuk mengubah sejarah kelam itu tanpa menghilangkan naluri bersaing kita. Kini kita memiliki olimpiade, lomba persaudaraan dan bermacam-macam kompetisi. Hal ini tentu menyenangkan dan baik untuk kita, namun di sisi lain kadang bisa menjadi bumerang jika diiringi dengan kefanatikan. Di sekolah atau kampus, kita melihat bentuk-bentuk pendidikan yang mengajarkan siswa untuk membuat semakin banyak perbedaan dan membuat mereka -lagi-lagi- membuat persepsi bahwa orang-orang yang kaya biasanya buruk dan yang lebih rendah biasanya baik. Atau persepsi-persepsi lain.

Saya setuju bahwa ego kesukuan ini adalah pedang bermata dua. Jika terlalu fanatik maka bisa jatuh pada rasisme, namun jika dinegasikan seluruhnya akan menghilangkan identitas diri seorang manusia. Lalu apa hubungannya dengan kelemahan mental generasi kita?

Generasi Z hidup di masa tembok-tembok perbatasan nasional sudah tidak terlihat. Qia, anak saya misalnya (generasi Alpha) sudah memiliki teman dari berbagai negara melalui game Roblox. Dia perlu untuk menyiapkan dirinya dalam berinteraksi dengan teman-temannya yang merupakan masyarakat dunia, maka ego kesukuannya harus ditekan. Namun di sisi lain, identitasnya sebagai muslim dan orang Indonesia seharusnya tidak hilang agar kebanggaan terhadap identitas dirinya tidak hilang.

Masalah yang sering dihadapi generasi Z berkaitan dengan hal ini adalah diantara 2 hal; mereka yang terlalu membanggakan diri dan kelompoknya sehingga fenomena bullying semakin marak terjadi di mana-mana, atau justru yang kehilangan jati diri karena merasa dirinya tidak bisa fit in dengan lingkungan dimana dirinya berada. Anak-anak kita butuh self-awareness yang kuat agar tidak mudah terjebak pada salah satunya.

Photo by Susan Wilkinson on Unsplash

Jika kita menengok pada tujuan manusia diciptakan bersuku-suku, dalam Al-Qur'an Allah mengatakan bahwa tujuannya adalah supaya kita saling mengenal. Lebih awal sebelum ayat tersebut, kita diperintahkan agar tidak mudah berprasangka. Perasaan menganggap golongan atau orang lain berbeda dalam keutamaan membuat kita mudah merasa kecil atau justru jumawa. Maka pemahaman yang tepat tentang QS Al-Hujurat ayat 12-13 sangat diperlukan agar anak-anak kita bisa membawa dirinya dengan persepsi yang benar tentang manusia lain, tentang kesetaraan dan pergaulan. Dengan begitu, semoga mereka menjadi anak yang lebih percaya diri namun juga penuh toleransi.

Drama sakit gigi di Klinik Imam Bonjol Bandar Lampung

Sabtu, 21 Oktober 2023

Hari ini saya memeriksakan gigi untuk ketiga kalinya setelah 2 kali sebelumnya saya lakukan sejak setahun lalu. 3 kali periksa, 3 kali juga ganti dokter. Sungguh sebuah petualangan buat saya karena rasanya aneh saja ketika satu gigi ini harus ditangani 3 orang dokter yang punya pendapat beda-beda.

Jadi ceritanya setahun yang lalu saya memutuskan untuk memeriksakan gigi karena mulai merasakan ngilu luar biasa setiap kali makan. Saya memutuskan untuk pindah faskes dulu sebelum periksa karena tahu biaya ke dokter gigi itu tidaklah murah. Tapi karena satu dan lain hal, prosesnya butuh waktu agak lama jadi akhirnya saya ikhlaskan diri untuk periksa tanpa tanggungan BPJS.

Sore hari, sekitar jam 5 saya ke klinik Imam Bonjol dekat pasar gintung. Di sana saya harus menunggu dulu sekian lama sampai dokternya datang. Alhamdulillah antrean saat itu tidak banyak, saya masuk ruangan setelah sebelumnya seorang anak cabut gigi. Begitu masuk, saya sempat kaget karena dokter giginya seorang perempuan muda. Bukan apa-apa, selama ini saya selalu diberi tahu bahwa dokter gigi di klinik ini adalah seorang "ummahat tertarbiyah". Tapi karena sudah terlanjur masuk, yasudah saya tetap konsultasi saja.

Pemeriksaan pertama ini paling berkesan buat saya. Saya cukup yakin bu dokter ini masih baru karena dia terlihat tidak terlalu familiar dengan alat-alat yang ada di klinik tersebut. Tapi yang menyenangkan, cara dia memeriksa dan menjelaskan membuat saya ingin melanjutkan tindakan sama dia. Waktu lihat kondisi gigi saya, dia langsung tahu kalau saya tidak pernah ke dokter gigi. Dan menjelaskan, "jangan dikira gigi yang terlihat bersih itu nggak bisa berlubang lho, Bu." 

Meskipun saya bilang yang sakit di gigi kiri, dia sampai periksa semua area mulut saya. Dan dari situlah terkonfirmasi kalau saya punya 2 gigi bungsu atas yang harus segera dicabut. Bahkan yang di kanan sudah mulai membusuk. Saya nggak tahu karena memang posisinya sangat tersembunyi di belakang dan nggak akan terlihat kalau cuma dengan bercermin sambil mangap. Dan melihat gigi lainnya yang bersih, makanya bu dokter menyimpulkan kalau saya terlalu PD dengan kondisi kesehatan mulut saya.

Gigi saya cenderung bersih. Entah kenapa, nggak terlihat ada lubang apapun. Makanya pas saya merasa sakit gigi, saya agak curiga. Kok bisa sakit padahal nggak ada lubang. Ternyata pemirsa, bakterinya cuma buat lubang kecil dan menggerogoti dari dalam. Jadi gigi saya bolong di dalam tapi terlihat sehat dari luar. Dan bu dokter bilang kalau dia curiga bukan cuma gigi yang sakit saja yang seperti itu kondisinya. Sambil mukul-mukul gigi yang lain, dia menyarankan untuk cabut gigi bungsunya dulu karena nanti bisa berakibat fatal. "Tapi nggak bisa di sini cabut giginya ya, Bu."

Singkat cerita, pemeriksaan periksa menghabiskan biaya Rp. 175.000 dan saya harus kembali sepekan kemudian. Saya puas karena pemeriksaannya sangat edukatif walaupun tindakannya agak bikin horor. 😅 

Sepekan kemudian, saya kembali ke klinik dengan bekal BPJS. Ternyata salah dong. Rupanya dokter yang saya temui pertama kali itu hanya dokter pengganti dan jadwal sebenarnya untuk dokter gigi itu adalah pagi hari. Kecewa, batin saya waktu itu, "kok ya nggak bilang dari awal toh, mbak? Padahal kan waktu ambil obat waktu itu saya udah bilang disuruh balik lagi sama dokternya."

Akhirnya saya pulang lagi, dan menyusun jadwal baru lagi sambil berpikir kapan bisa izin periksa kalau harus menyesuaikan jadwal sama dokter yang cuma menerima pasien pagi hari? Singkat cerita, saya baru kembali ke klinik beberapa pekan kemudian. Tepatnya bulan Februari tahun ini. Dan akhirnya ketemu sama dokter asli yang bertugas. 

Terus terang, pengalaman kedua ini agak kurang menyenangkan buat saya. Di awal ketika tahu bahwa tidak ada dokter gigi di klinik pada sore hari, saya diberi tahu bahwa harus buat janji dulu untuk periksa gigi. Tapi admin chat klinik agak kurang menyenangkan. Dan begitu juga admin resepsionis di klinik ketika saya datang pun, tidak terlalu ramah. Saya juga bukan tipe orang yang minta disenyumin dan dihormati, lho. Tapi entah kenapa pokoknya saya merasa pelayanan waktu itu kurang nyaman buat saya.

Dan yang bikin tambah males adalah ketika sudah masuk ruangan pemeriksaan, dokternya nggak banyak ngomong. Harapan saya untuk melanjutkan konsultasi pun kandas. Bu dokter kali ini cuma nanya tindakan apa yang saya dapat di pertemuan pertama lalu langsung minta saya rebahan di kursi panasnya dokter gigi yang serem itu. Tanpa ba bi bu, gigi saya di odol-odol sambil saya disuruh kumur-kumur beberapa kali. Setelah selesai saya dikasih resep dan diminta kembali 2 pekan kemudian. Nggak ada cerita ngecek kondisi kesehatan mulut secara keseluruhan, nggak ada penjelasan apa-apa.



Pertemuan yang kurang menyenangkan ini yang jadi salah satu alasan saya nggak melanjutkan pemeriksaan sampai hari ini. Beberapa pekan sebelumnya saya coba untuk buat jadwal lewat chat WA seperti seharusnya. Cuma dijawab salam doang. 😐 Tapi karena 3 hari belakangan gigi saya sudah mulai kumat lagi, akhirnya saya terpaksa coba buat jadwal lagi. Surprisingly, jawabannya enak dibaca. Dan di chat adminnya bilang kalau bisa periksa gigi di hari sabtu, padahal sebelumnya jadwal dokter gigi cuma hari Senin-Jumat. Jadilah tadi pagi saya dianter suami ke klinik untuk periksa.

Begitu sampai klinik, kami disambut salah satu admin yang ternyata kenal sama kami. Tapi kami nggak kenal dia. (Maaf ya, mbak admin). Saya sih curiga dia salah satu wali murid kami tapi kaminya aja yang nggak tahu. Suasana klinik juga jauh berbeda dengan waktu pertama dan kedua saya ke sana. Petugas kali ini beda dengan sebelumnya, dan mereka nggak terlihat judes walaupun nggak ramah juga. I mean, mereka ramah tanpa dibuat-buat. They just being themselves gitu, lho. Nggak maksain senyam-senyum dan nggak juga berusaha nutupin capeknya. Pokoknya santai aja. Saya juga diajarin cara buat pendaftaran pakai aplikasi BPJS.

Saya sudah menyiapkan diri untuk ketemu sama bu dokter irit. Tapi ternyata dokternya beda lagi, cuy. 😆 Kali ini dokter muda lagi dan bu dokter langsung tanya kenapa baru kembali setelah sekian bulan. Dengan ingah-ingih saya jelaskan sambil sedikit improvisasi alasan. Bahwa susah minta izin dari tempat kerja sampai akhirnya saya lupa. Nggak bohong kok, cuma nggak bilang aja alasan sebenarnya. 🤪

Setelah diperiksa dan dipukul-pukul giginya, bu dokter bilang kalau gigi saya harus mendapat tindakan perawatan akar. Agak bingung saya jawab kalau tindakan sebelumnya juga disebut perawatan akar sama dokternya. Lalu bu dokter bilang yang saya artikan bahwa tindakan perawatan akar yang sekarang beda sama yang dulu karena kondisi gigi saya udah bahaya. Jadi harus dirujuk ke Rumah Sakit yang ternyata bukan RSU. Agak lega dengarnya karena sejujurnya saya belum pernah punya pengalaman bagus sama Rumah Sakit Umum di Bandar Lampung. Dan saya dikasih antibiotik sama paracetamol, untuk kembali lagi beberapa hari kemudian untuk minta surat rujukan.

Bu dokter yang ketiga ini nggak terlalu ceria seperti dokter pertama dan nggak terlalu irit seperti dokter 'asli'. Tapi bikin saya lega akhirnya dapet kejelasan bahwa saya harus dapet tindakan yang pasti di Rumah Sakit. Nanti pengalaman di Rumah Sakit akan saya update lagi.

Tentang Palestina saat ini

Kamis, 19 Oktober 2023

Photo by Latrach Med Jamil on Unsplash

Terakhir kali tragedi yang cukup besar di Palestina yang saya ingat adalah peristiwa Sheikh Jarrah. Saya sampai beli beberapa buku tentang Palestina untuk mengedukasi diri tentang Palestina. Karena walaupun selama ini aware dengan isu Palestina, saya belum pernah mendapat pengetahuan melalui buku dan sumber yang bervariasi. Rata-rata hanyalah artikel atau kajian-kajian yang disampaikan oleh ustadz-ustadz atau para relawan yang banyak di Indonesia.


Lalu sekarang, setelah kejadian 7 oktober lalu dan penyerangan ke Gaza bertubi-tubi sampai jutaan warga terpaksa mengungsi dan dibombardir akhirnya banyak mata mulai melihat Palestina. Sampai-sampai beberapa influencer yang saya ikuti, yang biasanya tidak pernah berkomentar tentang Palestina, menautkan link donasi untuk Gaza. Penulis-penulis, artis pun mulai bersuara. Dan ini yang saya pikirkan; "Harus sebegitu besar pengorbanan rakyat Palestina supaya dunia mau melihat mereka."

Jadi begini isi pikiran saya. Palestina, baik itu di Tepi Barat maupun Gaza, selama ini sudah terjajah. Setiap kali ada tragedi penjarahan, pembunuhan, dan lain-lain kita selalu bersuara. Salah satu contohnya yang paling saya ingat ya Shaikh Jarrah itu. Tapi, pembicaraan mengenai Sheikh Jarrah tidak pernah sampai mendapat atensi sebesar ini. Dan kita semua tahu apa yang melatarbelakangi pembicaraan tentang Palestina saat ini. Ya, penyerangan Hamas di tanah Israel.

Kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa parah akibat yang ditimbulkan serangan itu, tapi yang jelas itu sangat membuat marah sampai-sampai Israel lalu meratakan Gaza dengan kejam. Banyak spekulasi muncul, salah satunya yang paling ekstrim adalah ini semua hanyalah rencana Hamas dan Israel untuk membersihkan Gaza. Bahwa Hamas adalah buatan Israel atau Amerika, dan lain-lain, dan sebagainya.

Jika Palestina yang diserang, media dan orang-orang tidak akan meliput dan membicarakan. Jika Palestina yang diusir, media dan orang-orang tidak akan peduli. Tapi ketika Israel yang diserang, media dan Amerika akan bicara dan orang-orang akan melihat. Orang yang dungu akan menonton berita dan membuat kesimpulan, tapi orang-orang yang bisa berpikir menonton berita dan mempertanyakan. Saya pikir dari situlah akhirnya kenapa sekarang banyak orang bersuara dan memilih kubunya masing-masing.

Dari situlah pikiran saya mengganggu tidur-tidur saya selama kurang lebih 10 hari ini. Betapa besar pengorbanan rakyat Gaza untuk mendapat perhatian dan pembelaan dari masyarakat dunia. Apakah memang itu rencana Hamas yang sesungguhnya? Terlepas dari kenyataan kita sebagai muslim yang harus membela dan justru lebih mengenaskan dibanding para syahid di sana, saya pikir tragedi ini diperlukan untuk kita bisa melihat dan memisahkan antara kebenaran dan kebathilan. Terlebih di dunia yang sudah makin tidak jelas warnanya sekarang ini.

Dengan pikiran seperti ini, perasaan saya jadi campur aduk. Senang karena akhirnya Palestina mendapat perhatian yang mereka layak dapatkan, tapi juga sedih dengan pengorbanan yang harus dilakukan untuk mendapatkannya. Senang karena mengetahui masih banyak orang-orang yang peduli dengan nasib Palestina, tapi juga miris dengan sesama muslim di Indonesia yang masih saja salah sasaran melakukan aksi boikot Israelnya. 😥


© Zuzu Syuhada • Theme by Maira G.