Memeriksa Hobonichi Techo 2025 yang saya beli tahun lalu, membawa saya pada satu kesimpulan pasti; saya tidak butuh planner fancy. Karena nyatanya, walaupun sudah beli planner seharga lebih dari setengah juta saya tetap nggak konsisten ngisinya. Padahal saya sudah dengan sangat PeDe nulis di sini kalau saya berharap banyak dengan kehadirannya, tapi ternyata sama saja.
Sepertinya ini pertama kalinya saya melakukan refleksi tengah tahun. Entah kesambet apa kemarin tiba-tiba kepikiran untuk bikin, dan setelah buka-buka planner saya pikir memang ada beberapa peristiwa yang sepertinya akan saya lupakan kalau harus nunggu akhir tahun untuk dibahas.
Saya nggak ingat kapan dan di mana saya menulis target tahun ini, tapi beberapa hal yang saya tuliskan di Notion adalah; Tilawah, Muroja'ah, Dars Khat, Translation Project, Quran Study Resume, Arabic, Japanese, Mandarin. That's a lot! Saya baru sadar sekarang kalau saya terlalu ambis dengan target-target ini. Dan ini belum ditambah dengan TBR yang saya buat lewat video ini.
Bisa dibilang, tahun ini memberikan saya banyak insight yang membuat saya tetap bertahan dengan pilihan hidup yang saya ambil dan beberapa peristiwa membuat saya berencana untuk membangkitkan lagi mimpi-mimpi lama yang sempat terkubur. Let’s see what comes up!
Januari
Karena masih awal tahun, saya masih semangat ngisi planner. Hal-hal kecil dan seru masih banyak yang tercantum di situ. Dari momen saya mulai nyetir motor sendiri, bikin cutting line stiker, baca ulang The Apothecary Diaries, sakit, sampai jadi panitia seminar parenting sekolah di akhir bulan.
Yang saya ingat, meskipun kewalahan saya masih menikmati bulan ini dengan semangat.
Februari
Bulan ini, saya sudah kehabisan energi 😂. Nggak ada apa-apa di planner selain daftar lagu di album barunya ONE OK ROCK. Untuk pertama kalinya, saya lebih suka nyimak album versi Internasional mereka daripada yang versi Japanese. Mungkin karena di telinga saya, mereka memang sudah kehilangan Japanese Taste-nya sehingga nambahin lirik berbahasa Jepang di lagu yang awalnya dibuat berbahasa Inggris nggak bikin lagunya jadi Japanese.
Sejujurnya saya masih berharap mereka akan kembali jadi Japanese Rock Band ketimbang Rock Band from Japan. Tapi dengan semua kritik, nyatanya mereka bisa meraih banyak pencapaian sampai jadi living legend di Jepang. Dan fans rewel macam saya pun tetap setia nyimak semua lagu mereka. Puppets Can't Control You jelas jadi lagu favorit saya di album ini.
Kalau tidak salah, di bulan ini juga saya mulai ngide untuk daftar beasiswa AAS dan mulai riset sana-sini soal beasiswa ini. Lalu,...
Maret
Awal bulan saya langsung latihan tes TOEFL gratisan di internet, dan dapat nilai 490. Sebenarnya nilai segitu sudah cukup karena saya berasal dari daerah tertinggal yang masuk priorotas AAS, tapi kalau saya tes TOEFL beneran dengan nilai segitu berarti nanti sertifikatnya nggak akan berguna untuk daftar beasiswa lain. Makanya saya buat target pribadi untuk dapat nilai 550. Terus janjian sama teman untuk minta bantuan milih jurusan, karena saya sebenernya juga nggak ada minat buat kuliah ke Australia jadi nggak tahu mau pilih jurusan apa 😅.
Pengalaman daftar beasiswa ini jadi momen yang paling enlighten buat saya. Karena saya jadi merasa sangat optimis dan bersemangat untuk mencoba walaupun nggak terlalu berminat sama subjeknya. Lalu saya tes TOEFL beneran di tanggal 21, dan hasilnya sesuai dengan harapan. Saya jadi makin PeDe dengan kemampuan bahasa Inggris saya 😊.
April
Bulan ini cuma ada 2 hal penting yang terjadi; lebaran dan sertifikat TOEFL.
Saya berharap di akhir tahun nanti kemampuan selain listening akan sampai pada level C1 juga.
Mei-Juni
Saking sibuk dan overwhelmingnya saya sampai nggak mengisi apapun di planner. Yang paling saya ingat adalah momen ketika saya kepo banget dengan pekerjaan freelancer yang berkali-kali saya lihat iklannya di Instagram, dan akhirnya saya mencoba membuat akun di Upwork. Saya nggak menyangka sama sekali kalau dalam percobaan pertama saya langsung dapat tawaran pekerjaan, dan sekarang saya terjebak dengan pekerjaan ini sampai entah kapan kontraknya berakhir 😂.
Kok gajinya kecil? Soalnya saya kerjanya cuma jadi admin, bukan designer atau yang keren-keren itu. Saya sendiri belum nemu tawaran pekerjaan sebagai virtual assistant yang menawarkan gaji sampai jutaan. Mungkin karena saya masih entry level, bisa jadi untuk yang expert gajinya lebih besar.
Disela-sela libur sekolah dan kerja, satu momen lain yang harus disimpan tentu saja adalah pulang kampung.
Awal tahun ini saya nggak bikin resolusi atau target apa-apa, hanya melanjutkan apapun yang sudah saya kerjakan sebelumnya. Nggak punya buku journal dan hanya ngandelin Google Calendar yang ternyata juga nggak terlalu dipakai, pokoknya ngalir aja kayak air comberan. Nyatanya hidup saya tetap baik-baik saja dan semua kegiatan tetap berjalan walaupun saya nggak yakin kalau semuanya lancar. Dan setelah saya bolak-balik ngintip refleksi tahunan di postingan tahun-tahun sebelumnya, memang kekacauan saya ketika punya planner masih jauh lebih baik daripada ketika saya nggak merencanakan apa-apa. Jadi saya memutuskan untuk membeli Hobonichi Techo Original yang harganya bikin nangis bulan Oktober kemarin. Beneran saya ngedumel sendiri setelah transfer ke jastipnya karena belagu banget beli journal semahal itu, tapi setelah barangnya datang ya senang-senang aja sih.
Jadi, apa yang terjadi selama tahun 2024 ini? 6 bulan pertama jujur saya nggak terlalu ingat. Nggak ngejournal, sih! Yang saya ingat adalah momen pertemuan saya dengan Maomao yang membuat saya bahagia luar biasa sampai baca novelnya berhari-hari tanpa jeda. Walaupun itu bukan pencapaian, tapi bagi saya itu adalah salah satu masa yang paling membahagiakan di tahun ini.
Kalau membicarakan pencapaian, sepertinya nggak banyak yang bisa dibanggakan tapi setidaknya peristiwa-peristiwa penting yang ingin saya ingat kurang lebih seperti ini;
Fami bi Syauqin
Setelah lebaran, saya bertekad untuk meningkatkan kuantitas tilawah harian into the next level. Saya nggak mau cuma khatam sebulan sekali. Karena saya tahu bahwa saya paling malas muroja'ah, maka cara paling efektif untuk menjaga hafalan adalah memperbanyak tilawah. Dan alhamdulillah ada program namanya Fami bi Syauqin yang dibimbing oleh seorang pengasuh pondok pesantren di Riau. Beliau bikin komunitas di WA dimana membernya wajib membaca Al-Quran sesuai dengan yang sudah dijadwalkan dan harus laporan tiap hari. Saya berhasil menjalani program itu sampai akhirnya pekerjaan menjadi guru menyerang.
Ngajar lagi
Episode hidup yang ini sudah lumayan sering saya tuliskan ceritanya. Sejak Agustus kemarin saya mulai kerja lagi. Ngajar di sebuah SMA IT di kota saya. Kenapa kok ngajar lagi? Kok malah IT lagi? Ya karena adanya itu, dan saya butuh uang buat jajan 😄. Ternyata buat ngongkosin jajan buku itu mahal, gaes. Saya yang cuma manusia pinggiran ini nggak bisa minta sama suami untuk jadi sponsor keborosan yang bisa bikin kami gagal kaya.
Alasan lainnya karena dari dulu sebenarnya saya penasaran apakah saya bisa jadi guru SMA. Karena selama ini cuma ngajar SMP, saya merasa kalau saya bisa lebih banyak diskusi dengan anak SMA yang secara usia sudah sedikit lebih matang. Mungkin nggak sepenuhnya terbukti benar, karena nyatanya anak-anak SMA yang saya temui saat ini kebanyakan masih bocah juga pola pikirnya, tapi paling nggak saya punya teman-teman kerja yang baik. Itu saja cukup. Oh, gaji juga.
Muraja'ah
Setelah ngajar lagi, program fami bi syauqin jadi kacau balau. Tapi saya berhasil setoran muraja'ah ke teman ngajar. Alhamdulillah itu bikin saya semangat.
***
Untuk tahun 2025, saya sudah merencanakan beberapa hal tapi masih agak segan untuk menulisnya di sini. Tapi yang jelas, planner saya saat ini ada di Hobonichi dan Notion. Saya suka banget sama kedua planner itu dan berharap banyak, mudah-mudahan ada progress yang cukup signifikan dari diri saya di tahun depan.
Ceritanya saya dijadikan panitia konsumsi acara Pemira di sekolah. Karena ini pertama kali saya bergabung di dalam tim di sekolah ini, saya masih kikuk dan bingung mau gimana kerjanya. Secara aslinya saya memang kurang pintar bekerja sama, jarang banget bergabung di kepanitiaan di sekolah lama, plus punya masalah adaptasi di sekolah ini seperti yang saya ceritakan di sini. Apalagi ini panitia konsumsi. Panitia yang biasanya bagian wira-wiri sana-sini buat beli makanan. Terus terang begitu baca susunan panitia saya langsung anxious. Jadi panitia konsumsi semacam teror buat saya, karena saya nggak suka makan jadi saya nggak tahu selera umumnya manusia itu makanan yang macam apa. Sudah begitu saya sendirian pun, nggak ada teman kerjanya. Kalau sewaktu-waktu saya butuh beli makanan mendadak njuk gimana?! Nggak bisa bawa motor, masa harus ngerepotin orang lain?!
![]() |
| Photo by Aldrin Rachman Pradana on Unsplash |
Untungnya teman-teman kerja saya ini mau berbaik hati ngasih tahu saya kontak langganan mereka biasa beli konsumsi acara. Tugas pertama saya harus beli makanan untuk agenda rapat panitia. Karena cuma rapat kecil dan sebentar, saya cuma beli minuman dan alhamdulillah nggak ada masalah.
Nah, yang menginspirasi saya untuk nulis postingan ini adalah pengalaman kedua. Jadi, saya lupa (karena nggak terlalu peduli) bahwa ada perubahan jadwal pelaksanaan debat kandidat. Untungnya ibu bendahara panitia mengingatkan saya malam sebelum acara dimulai. Dia juga langsung ngasih kontak catering langganan mereka beli snack. Nggak nunggu waktu lama saya langsung ngechat ibu admin. Butuh waktu agak lama akhirnya chat saya dibalas,
"ndadakan, Bun,
mo berapa macem?"
Sejujurnya saya agak bingung pesanan saya dibilang dadakan. Kan biasanya orang usaha catering ya pasti punya stok. Tapi saya berhusnuzhon mungkin ini usaha rumahan yang nggak terlalu besar. Sambil minta maaf saya lanjutkan pesanan. Sampai saya mau bayar, nggak dikasih juga totalan harga yang harus saya bayar. Akhirnya saya inisiatif sendiri memastikan jumlah yang harus saya transfer. Dan transaksi selesai. Besoknya snack datang dan dimakan panitia dengan gembira. Sambil menikmati jajanan, saya mencoba menggali informasi dari para guru, di mana tempat favorit mereka untuk beli snack supaya jadi referensi saya belanja di rangkaian acara berikutnya. Dan ternyata tempat catering ini adalah favorit mereka. Alasannya karena snacknya besar-besar dan enak. Saya yang merasa rasanya biasa saja mencoba memahami, tapi dalam hati saya nggak pengen berurusan lagi sama admin WA si ibu catering. Nggak ada ramah-ramahnya.
Di rangkaian acara berikutnya, saya menawarkan untuk belanja di tempat lain. Dan teman-teman panitia tidak mempermasalahkan. Di tempat baru ini, chat saya direspon dengan sangat ramah. Sebenarnya proses order berjalan tidak lancar, si admin yang melayani saya salah hitung dan akhirnya jumlah uang yang saya transfer kurang Rp. 5.500,- bikin saya harus mampir ke tokonya untuk menuntaskan pembayaran karena transfer kurang dari 10.000 kan nggak bisa. Tapi karena gaya komunikasi adminnya sangat ramah, saya sama sekali nggak masalah. Dan sejujurnya, snack di tempat ini menurut saya justru lebih enak walaupun memang lebih kecil. Entah apakah karena ada faktor kenyamanan dan saya makan waktu kondisi masih hangat. Tapi seriusan, saya merasa risol mayo di tempat ini lebih terasa mayonya dibanding dengan tempat pertama.
Karena saya menghargai selera teman-teman panitia yang lain, di rangkaian acara berikutnya saya memesan ke tempat yang pertama. Kali ini saya pesan sehari sebelum acara, bukan malam-malam. Ternyata responnya masih sama dong 😩,
"Kok mendadak
Buat jam berapa?
Banyak mbak?"
Baca responnya tuh hampir saja bikin saya membatalkan pesanan. Kalau pesan sehari sebelum acara dibilang mendadak jadi harus H- berapa supaya nggak mendadak? Kalau ternyata acaranya memang dadakan gimana?! Tapi karena masih memprioritaskan teman-teman, saya berusaha nggak menghiraukan jawaban itu dan langsung memberi informasi jumlah pesanan. Nah, setelah itu sepertinya adminnya beda orang karena merasa tone dari bahasa chatnya agak berubah. Dan saya jadi dipanggil Bu. Tapi sampai malam saya tunggu, masih nggak ada juga totalan jumlah harga yang harus saya bayar, dan saya yang harus inisiatif menghitung sendiri orderan saya. Setelah saya hitung termasuk biaya ongkir pun balasannya "ongkir 8k". I was like, 'ya itu saya totalin sudah sama ongkiiiiir' 😈. Dan ndelalahnya kok pas mau transfer m-bankingnya lagi gangguan, persis seperti waktu orderan pertama.
Sambil menulis ini pun saya masih bertanya-tanya, apakah saya yang terlalu sensitif atau memang ada yang kurang baik dengan pelayanan si ibu catering? Saya nggak berani membayangkan bagaimana nada bicara si ibu admin kalau misalnya saya mencoba menelponnya. Tapi yang jelas kejadian ini jadi pelajaran penting buat saya, bahwa bekerja di bidang pelayanan itu memang butuh skill komunikasi yang sangat baik. Sesuatu yang saya nggak punya, tapi sepertinya saya juga masih nggak gitu-gitu amat ketika komunikasi itu berkaitan dengan pekerjaan. Mudah-mudahan saya mampu bertahan kalau ternyata ke depan masih harus terus berhubungan dengan ibu catering itu dan masih dilayani dengan cara yang sama.
Tadi lihat lembar presensi, ternyata saya belum ada sebulan kerja. Baru 18 hari. Tapi rasanya lama sekali. Apakah ini tanda-tanda kalau saya tidak betah bekerja?! 😅 No, ini bukan tentang tempat kerjanya. Saya sadar sepenuhnya kalau memang naturalnya, saya nggak suka kerja. Maunya rebahan di rumah dan jadi orang kaya.
Hal pertama yang saya sukai dari tempat kerja baru adalah kamar mandinya. Gara-gara keran wudhunya yang tinggi, saya jadi yakin kalau yang bertanggung jawab terhadap pembangunannya paham fiqih. Jarang-jarang lho nemu tempat wudhu yang kerannya wudhu friendly, bahkan masjid sekalipun seringnya nggak memperhatikan faktor penting itu ketika dibangun. Suasana sekolah ini juga nyaman. Nggak rindang memang, tapi juga nggak gersang. Secara fisik, lokasi sekolah ini juga cukup strategis. Meskipun nggak di pusat kota, tapi nggak terpencil banget.
Teman-teman kerjanya nih yang masih agak bikin ganjel. Bukan karena mereka nggak asik. Tapi ada sesuatu yang saya nggak tahu, yang bikin interaksi saya dengan mereka terasa kurang luwes bagi saya. Mungkin karena memang saya masih orang baru, mungkin juga karena gap usia yang lumayan jauh, atau mungkin ada alasan lain yang belum saya temukan. Yang pasti, guru-guru di sekolah ini saya lihat benar-benar dipilih oleh kepala sekolahnya. Mereka bukan hanya orang random yang melamar kerja lalu ikut tes dan interview, tapi dilihat dari gerak-geriknya saya bisa merasakan bahwa mereka adalah aktivis LDK dulunya. Mungkin bahkan beberapa masih ada yang jadi pembina(?!) Sehingga suasana ketika di kantor pun selalu sangat kondusif. Komunikasi antara guru ikhwan dan akhwat memang lebih longgar, tapi tetap tidak berlebihan.
Sepertinya salah satu hal yang masih membuat saya galau adalah tentang kejelasan status saya sebagai guru tahsin/tahfidz, atau sebagai guru baru secara umum. Entah mengapa, saya merasa kurang disambut di sini. Bukan berarti saya minta dibentangi karpet merah dan dirayakan kehadirannya, tapi sebagai guru baru saya merasa nggak dikasih tahu apa-apa tentang kebiasaan dan budaya sekolah oleh para guru lama. Entah mungkin karena mereka lupa, atau mungkin karena mereka juga nggak dapet 'sambutan' itu ketika dulu baru bergabung. Bahkan dengan teman sejawat sesama guru tahsin/tahfidz, sampai hari ini saya masih belum tahu bagaimana dan apa yang harus diajarkan kepada murid-murid. Berapa targetan hafalan, seperti apa majelis dilaksanakan, bagaimana sistem penilaian, tidak ada yang memberi tahu. Di komunitas WA pun ada grup untuk guru tahsin/tahfidz, saya belum dimasukkan ke sana. Entah mereka lupa atau memang nggak peduli. Atau mungkin mereka mengira saya tidak perlu diajari karena sudah berpengalaman(?!) 😐 Informasi tentang tugas dan pekerjaan selalu saya dapat dari kepala sekolah.
Tapi terlepas dari ganjelan itu, saya mencoba menikmati pekerjaan baru ini. Walaupun saya masih merasa maju-mundur setiap kali ingin mengajar dengan standar pribadi, setidaknya sekarang saya punya jawaban kalau ditanya orang 'kerja apa?' Sejujurnya saya sih berharap nggak perlu lama-lama kerja seperti ini. Saya masih mendambakan suatu saat akan datang masanya saya bisa santai membaca buku dan cukup mencari uang dari rumah saja.
![]() |
| Photo by Donald Giannatti on Unsplash |
10 tahun lebih menikah, satu hal yang paling sering bikin saya jengkel sama suami adalah kebiasaannya menyimpan barang-barang yak tidak terpakai. Tidak terkecuali pakaian. Mungkin memang mitos yang disampaikan kakak saya tentang orang Padang yang suka fashion adalah benar, suami saya juga menjadi salah satu orang Padang yang saya kenal yang punya banyak sekali pakaian. Kadang kalau suami sudah mengeluh bingung pakai baju apa, saya rasanya pengen bilang, "sebenernya yang istri tuh siapa sih?!" Lemari sebesar itu isinya baju dia sendiri, tumpukan baju kotor didominasi bajunya, gunungan gombalan minta disetrika selalu ada bajunya, di jemuran pasti ada bajunya, di belakang pintu penuh sama bajunya, di kardus barang nggak terpakai isinya baju punya dia dan dia masih bilang nggak punya baju untuk dipakai.
Tapi yang jadi inti postingan kali ini adalah dua kejadian yang baru saya alami belum lama ini. Jadi ceritanya saya punya rencana ingin mendonasikan pakaian bekas ke Jagatera supaya rumah nggak penuh dengan 'sampah', entah itu baju atau lainnya. Saya ceritakan lah rencana itu ke suami, dan bilang kalau biayanya Rp. 10.000 per kg untuk sampah pakaian.
"Mahal amat?" Kata suami merespon penjelasan saya.
"Kan kita pakai jasa mereka, ya wajarlah kalau bayar."
"Kita udah kasih barang ke mereka, masa kita juga yang bayar?" Masih nggak terima, lanjut protesnya.
"Kita kalau buang sampah juga kan bayar tiap bulan?!" Saya coba ngasih analogi.
"Tapi kan itu sampah."
"Emangnya ini bukan sampah?" Saya sambil nunjuk tumpukan baju yang sudah bertahun-tahun bau tikus masih berusaha menjelaskan.
"Bukan lah!"
Saya mulai bingung, "lho tapi kan udah nggak pernah dipakai. Sama aja kayak sampah dong."
"Beda dong. Kalau sampah kan memang sudah jelas nggak dipakai lagi. Kalau ini kan masih bisa dipakai." Suami masih saja dengan bakat ngeyelnya seperti mau menjelaskan sesuatu juga ke saya.
"Tapi kan udah nggak dipakai sama kita. Sampah yang biasa kita buang itu juga sebenernya masih bisa dipakai juga kok, tapi kita tetep nyebutnya sampah. Dan kita bayar orang yang bantu buangin sampah itu kan?!"
"Ya tapi beda sama ini. Kalau ini kita masih bisa pakai."
"Mana buktinya? Nyatanya ini udah bertahun-tahun numpuk di sini nggak dipakai juga."
Sadar kalau suami saya cuma nggak mau ngeluarin uang untuk membuang sampahnya, saya memilih untuk tidak meneruskan obrolan.
Lalu beberapa waktu kemudian saya ngide lagi, membuang tumpukan kertas dan buku lewat salah satu jasa pelayanan pengelolaan sampah di kota kami. Saya coba tawarkan ke sekolah tempat saya bekerja dulu, karena saya yakin mereka pasti punya banyak sampah yang kalau dikelola bisa lebih mengurangi sampah di sekolah. Ternyata respon yang didapat juga agak lucu. Ada yang komen begini; "Kalau lewat lembaga itu sih rugi, harganya murah banget. Saya sih udah kapok."
Karena bukan pertama kali mendapat respon aneh tentang sampah, saya pun mencoba mengkonfirmasi cara berpikir saya ke seorang teman, "bukannya yang penting sampah di rumah terbuang ya? Kenapa jadi ada untung ruginya, sih? Emangnya kalau sampah itu tetep numpuk di rumah atau jadi mengotori lingkungan sekitar kita jadi untung?" Teman saya cuma ketawa menanggapi saya dan menyetujui pertanyaan saya.
Dan kejadian lagi. Setelah 40kg kertas dan buku diangkut dari rumah kami, suami tanya jumlah uang yang kami terima. Sama persis respon yang saya dapat dari suami, dia bilang kalau itu terlalu sedikit. Lebih aneh lagi dia bilang, "mending dibakar aja kalau begitu."
Saya yang sudah malas ribut hanya membalas, "bodo amat, yang penting aku nggak mau hidup sama sampah di rumah." 😔 Sejujurnya, saya benar-benar penasaran apakah mungkin permasalahan sampah di Indonesia ini nggak pernah kelar mungkin memang karena banyak yang punya pemikiran seperti suami saya itu. Bahkan mendapat uang dari sampah yang dibuang kalau tidak banyak dianggap rugi. Padahal itu sampah, lho.
10 Juli 2024
It's like I'm joking, tapi nyatanya hari ini saya datang ke calon sekolah baru, interview, dan menyetujui kontrak yang ditawarkan. Padahal waktu itu di postingan ini sudah yakin banget nggak akan kembali. Hmmm, mungkin maksud saya dulu tuh nggak kembali ke sekolah itu(?!)
Awalnya gara-gara suami. Tiba-tiba suatu hari menawarkan untuk jadi guru bahasa Arab SMA. Sejujurnya, saya sendiri nggak terlalu pede untuk ngajar bahasa Arab karena ya memang nggak punya kompetensi. Terakhir kali tes bahasa Arab pakai web tes gratisan di internet, level bahasa Arab saya hanya setara A2 dengan standar CEFR. Tapi kan guru-guru bahasa Arab di luar sana juga banyak yang nggak pernah pakai bahasa Arab kalau lagi ngajar? Dan saya selalu penasaran pengen tahu gimana rasanya ngajar anak SMA. Jadi, saya coba deh daripada nganggur di rumah dan nggak bisa jajan buku seenaknya.
Ternyata, faktanya saya diminta ngajar pelajaran lain. PAI. Nggak susah, sih. Cuma ya.... bosen sebenernya. Tapi ya sudahlah, toh memang itu salah satu bidang yang saya kuasai. Jadi kita lihat saja nanti.
26 Juli 2024
Faktanya, saya diminta ngajar Tahsin/Tahfidz lagi. Itupun setelah suami nanya kepastian ke pihak sekolah, karena setelah saya datang 'ngobrol' waktu itu nggak ada follow up apa-apa. Hari ini saya datang ke sekolah jam 07.36 dan disambut beberapa guru yang rupanya lagi-lagi adalah adik tingkat di kampus. Jadi tampaknya nanti meskipun saya jadi guru baru, posisi saya akan jadi senior di sekolah baru ini.
Pengalaman pertama kali mengajar di kelas, hmmm..... makin mengingatkan diri bahwa saya memang sudah tua. Ditandai dengan makin senangnya saya bercerita hal-hal yang nggak ada hubungannya dengan pelajaran. 😂 Dari 2 kelas yang saya masuki, sepertinya mereka santai-santai saja dengan adanya guru baru. Mungkin sudah terbiasa gonta-ganti guru.
Tulisan kali ini terinspirasi Tuesday Love Letter edisi Rabu, 8 Mei 2024.
Lebaran ini adalah kedua kalinya saya ke Padang, dan sebagai orang goa saya paling nggak bisa menceritakan pengalaman perjalanan dengan baik karena saya belum pernah menikmati perjalanan. Bagi saya travelling itu susah banget. Susah karena sholatnya repot, susah karena makan jadi nggak enak, dan banyak alasan-alasan lain yang bikin saya selalu berusaha menghindari ajakan jalan ke luar.
Lalu hari ini ketika membuka email, Love Letter dari Aida menceritakan tentang pelajaran yang dia dapat ketika travelling selama Ramadan dan Idul Fitri yang lalu. Setelah membaca email itu, saya merasa perlu untuk menuliskannya kembali untuk jadi pengingat diri dan refleksi.
1. Jalan yang dipilihkan Allah selalu terbaik
![]() |
| Photo by Tamas Tuzes-Katai on Unsplash |
Dua kali ke Padang, dua kali juga kami berbekal Google Maps sebagai penunjuk jalan. Lebaran tahun lalu, kami lewat jalan yang menyeramkan di Sumatera Selatan yang bikin kami deg-degan karena sepanjang jalan hanya ada kebun sawit dan hutan. Beberapa kali melewati jembatan yang kondisinya kurang baik, dan sempat nyasar ketika sudah sampai di Padang. Sementara lebaran tahun ini, kami mencoba memilih jalan yang agak berbeda, karena pada dasarnya memang banyak pilihan jalan menuju ke Padang. Kali ini tidak ada hutan dan dan kebun sawit, tapi justru kami harus istirahat lebih awal di Sumatera Selatan karena hujan yang mengguyur sangat deras dan anginnya sangat kuat. Dua kali kami melewati mobil kecelakaan sehingga kami memutuskan untuk istirahat di masjid saat tengah malam dan baru melanjutkan perjalanan setelah subuh.
Saya ke Padang numpang mobil kakak ipar. Buat mereka, ini adalah ketiga kalinya ke Padang dan memang selalu berbekal Google Maps. Dan katanya, selama tiga kali ke Padang jalan yang dilalui selalu berbeda walaupun semuanya adalah pilihan Google Maps. Dan masing-masing jalan mempunyai scenery masing-masing. Kami yakin kalau masih ada jalan lain lagi yang bisa dilalui untuk menuju arah yang sama, tapi pilihan-pilihan yang dibuat Google Maps selama ini tidak pernah salah. Kami jadi rombongan yang paling awal sampai dibanding mobil lainnya karena mereka nggak mau pakai Google Maps dan memilih untuk bertanya sepanjang jalan kalau kesulitan dan akhirnya terjebak macet.
Jika dianalogikan dengan perjalanan hidup kita, bukankah Allah sudah menyiapkan Maps dengan pilihan-pilihan jalannya untuk kita?! Sebenarnya kita tinggal mengikutinya dan memilih jalan mana yang ingin kita tempuh, toh semuanya mengarah pada surga yang sama. Tapi masih ada saja orang-orang yang tidak percaya pada panduan itu, dan memilih untuk memikirkannya sendiri dengan akalnya yang terbatas dan akhirnya kebingungan dan mencari jawaban lewat orang lain yang sama bingungnya. Coba bayangkan, kita bertanya ke mana arah jalan ke Padang kepada orang random yang kita temui di pinggir jalan sementara orang itu sendiri belum pernah ke Padang atau mungkin lebih parah --nggak tahu mana timur dan barat--? Hal itu benar-benar kejadian ketika sedang jalan-jalan sore di dekat rumah saudara kami, dan karena saya bukan orang sana maka saya nggak bisa memberi jawaban. Bayangkan kalau waktu itu saya iseng dan memberikan jawaban ngawur? Bisa saja orang yang bertanya itu akan tersesat.
2. Apakah kita terlalu cepat atau terlalu lambat?
Waktu tempuh kami kali ini sekitar 30 jam, lebih lama 4 jam dibanding tahun lalu. Jika sesuai petunjuk Google Maps, waktu tempuh normal dari Lampung ke Bukittinggi mestinya sekitar 24 jam. Namun karena memang arus mudik-balik lebaran kali ini cukup ramai dan kondisi cuaca yang seperti itu, wajar saja waktu tempuh jadi melambat. Tapi apalah artinya berjalan cepat jika mempertaruhkan keselamatan diri? Dalam pepatah kita tentu sering mendengar, 'alon-alon asal kelakon' atau 'biar lambat asal selamat, tak kan lari gunung dikejar'. Dan yang penting, memang seperti itulah rencana Allah untuk kami.
Dalam hidup kita tidak berhak sama sekali untuk menentukan waktu tempuh seseorang dalam mencapai sebuah tujuan. Karena sejatinya waktu adalah milik Allah. Kita semua hidup dan berjalan dalam waktuNya. Bahkan ketika berangkat bersama beriringan sekalipun, 2 kendaraan tidak akan sampai tujuan pada waktu yang sama. Salah satu harus mengalah agar bisa melalui jalan yang tersedia. Pada akhirnya tujuan utama manusia adalah mencapai tujuan yang sudah Allah tetapkan untuk dirinya. Dan Ia tidak pernah terlambat, pun terlalu cepat dalam menetapkan takdir hambaNya.
3. Siapa teman dalam perjalananmu?
Seringkali perjalanan menjadi menyenangkan bukan karena tujuannya, tapi dengan siapa kita melakukannya. Pergi dengan orang yang sudah berpengalaman tentu akan lebih menenangkan dibanding sendirian. Atau dalam pengalaman saya, pergi dengan orang yang lebih open-mind dan sevisi membuat perjalanan menjadi lebih nyaman. Salah satu hal yang membuat saya malah bepergian adalah susahnya shalat di jalan. Apalagi kalau menyewa mobil/sopir, biasanya susah untuk bernegosiasi soal waktu istirahat. Itu yang terjadi dengan mobil rombongan lain, mereka terlambat bukan hanya terjebak macet tapi juga karena sopirnya terlalu lama beristirahat ketika tidur. Sementara kami memilih untuk memaksimalkan waktu pada jam-jam makan dan shalat. Istirahat siang pada waktu shalat Dzuhur sekalian makan siang, istirahat malam menyesuaikan kapan waktu kami lapar sekaligus shalat jama'. Dan yang paling penting, kami harus dalam kondisi santai ketika shalat subuh, sehingga kami memilih untuk tidak melakukan perjalanan malam terlalu lama. Jam 3 pagi maksimal, kami harus sudah menepi di masjid untuk tidur sampai subuh, dan jam 6 pagi baru melanjutkan perjalanan.
Demikian juga, perjalanan kita dalam hidup mestinya ditemani dengan orang-orang yang satu visi. Teman yang akan selalu mengingatkan ketika kita salah jalan, memberi masukan, mendukung pilihan-pilihan atau bahkan memahami candaan dan selorohan recehan kita.
Semoga kita berhasil menemukan teman-teman itu, dan tidak melepaskannya ketika telah bersama dengan mereka. Semoga Allah mengaruniakan kesabaran seluas samudra bagi orang-orang yang memilih bersama orang-orang shalih dalam perjalanan hidupnya.
--
Rasanya lega sekali bulan April sudah berakhir. Perjalanan panjang menjalani Ramadhan yang penuh tantangan dengan acara online dan diteruskan dengan Lebaran dan segala printilan aktifitas bersosialnya yang melelahkan akhirnya selesai. Saking banyaknya energi yang terkuras di bulan ini, saya sampai nggak punya tenaga lagi untuk sekadar me time di rumah, terlebih karena liburan sekolah dan suami yang menjadi pengangguran sementara membuat saya nggak pernah bisa sendirian di rumah. Capek banget, ya Allah.... 😵
![]() |
| Photo by Laura Chouette on Unsplash |
Karena terlalu banyak energi yang terkuras, akibatnya saya jadi lupa dan abai dengan target-target pribadi yang ingin saya kerjakan. I don’t think any ground-breaking progress was made with my habits and routines. I really didn’t do that great with my workouts – life was just so busy. Dan untuk menutupi rasa bersalah itu, saya ingin menuliskan hal-hal apa saja yang saya lakukan selama bulan April kemarin dan mensyukuri produktifitas saya selama sebulan ini.
Ramadhan Intensive Class
Kelas ini memang berlangsung di bulan Maret, tapi karena persiapannya butuh maraton sejak bulan Desember tahun lalu, rasa capeknya berlanjut sampai bulan April mulai datang. Dan meskipun saya nggak punya banyak andil, tapi acara ini jadi cikal bakal kelelahan ekstra yang saya rasakan di hari-hari yang saya lalui berikutnya. Secapek itu saya tiap lihat WhatsApp dan isi chat di grup maupun komunitas. Sampai-sampai, kayaknya HP saya jadi ikutan introvert. Entah kenapa sekarang semua chat nggak bisa masuk kalau aplikasinya nggak saya buka. Padahal saya nggak pernah matiin notifikasi.
Tarawih, buka bareng dan semacamnya
Menjelang idul fitri saya jadi ikut terus tiap suami jadi imam shalat tarawih ke rumah kakak ipar. Dan karena rumahnya jauh, kami harus menghabiskan waktu 2 jam perjalanan pulang-pergi hampir tiap hari; 1 jam berangkat dan 1 jam pulang. Kalau jalanan macet, bisa lebih. Itu capeknya luar biasa buat saya. Sejujurnya saya penasaran sampai kapan suami saya akan terus bertahan kayak gitu, menempuh perjalanan jauh tiap Ramadan karena mushola di sana nggak ada imamnya. Saya masih nggak habis pikir kenapa nggak pernah ada kepikiran di kepalanya untuk cari tempat tinggal yang agak dekat dengan rumah kakak ipar supaya dia nggak terlalu kerepotan tiap Ramadan.
Untungnya tahun ini cuma ada 1 acara buka bareng yang harus saya ikuti. It was OK. Kayaknya saya nggak ngomong sesuatu yang bikin saya overthinking, jadi insyaAllah aman-aman aja.
So far, Ramadhan saya lalui dengan baik-baik saja meskipun lelah. Kalau dibandingkan dengan Ramadhan tahun lalu jelas tahun ini jauh lebih baik karena saya menjalaninya di rumah, bukan di sekolah. 😂
Menjadi 34
Satu hal ini nggak terpikirkan sebelumnya sampai saya nulis postingan ini. Yang saya perhatikan belakangan ini saya jadi lebih perhatian dengan penampilan. Nggak tahu kenapa, apa karena saya lagi puber kedua?! 😆 Tapi selain itu, nggak ada hal istimewa lainnya yang saya rasakan di usia 34 ini selain uban yang bertambah dan badan yang makin gampang lelah.
Idul Fitri dan ceritanya
Ini biang kerok semua kelelahan saya bulan ini. Saya shalat 'Id di masjid dekat rumah baru kemudian mengunjungi ibu kandung di kampung. Menginap satu malam dan balik ke Bandar Lampung, besoknya lagi berangkat ke Lampung Timur, lalu besoknya lagi berangkat ke Padang. Di sela-sela timeline itu, ada cerita lucu yang saya alami ketika berada di masjid.
Pertama, waktu shalat 'Id. Menjelang shalat dimulai, kan biasanya ada pengumuman tuh. Kebetulan saya kok lagi nyimak dengan saksama, lalu penjelasan bapak pengumuman bikin saya mikir keras. Jadi si bapak jelasin tata cara chalat 'Id ke jamaah. Wajar kan, biasanya ada aja yang nggak pernah shalat dan nggak tahu caranya. Nah, bapaknya tuh bilang, "nanti pas imam baca Al-Fatihah, Bapak-Ibu baca doa iftitah. Pas imam baca surat-suratnya entah panjang atau pendek, Bapak-Ibu baca surat Al-Fatihah." Saya dengernya kayak, 'eh, nggak salah tuh penjelasannya?!' Saya celingak-celinguk nyari orang yang kira-kira nangkep keanehan penjelasan si bapak supaya bisa diajak bingung bareng, tapi kayaknya semua orang sibuk masing-masing, entah sibuk sama anak-anaknya yang kelayapan atau selfi cantik pakai mukena baru. Jadilah saya bingung sendiri sampai shalat mulai dan imam mulai baca surat Al-A'la di rakaat pertama, saya pengen ngelus dada tapi takut batal. Bukan karena tajwid pak imam yang kurang bagus, kalau cuma soal tajwid sih udah biasa. Ini lebih keren lagi. Si bapak baca suratnya disingkat. Jadi lompat-lompat gitu loh. Dia nggak mulai dari ayat 1, tiba-tiba langsung ke ayat 7 abis itu digabung ke ayat 12. Pokoknya chaotic banget deh. Sampai rumah saya coba cerita ke suami, dan ternyata dia bilang memang ada yang shalat jamaahnya kayak penjelasan bapak tadi. Yang makmumnya bacaannya beda sama imamnya. Dia sih nasihatin saya, 'ya begitulah Islam nusantara, harus dimaklumi.' Nah berkaitan dengan bacaan surat yang dirangkum, ternyata suami saya nggak ngerasa begitu. Tapi karena saya lebih pinter dari suami kalo urusan hafalan Qur'an, saya berkesimpulan kalau suami saya yang nggak nyimak dengan benar. Dan baruuu banget beberapa hari yang lalu kejadian waktu kami shalat jamaah di rumah, suami saya merangkum surat Al-Fatihah tanpa dia sadar. Jadi dia baca ayat 6 & 7 jadi satu ayat, kayak gini...
اهدنا الصراط اللذين أنعمت عليهم ...
Dan dia nggak sadar dong kalau dia bacanya gitu, njuk aku kudu piye? 😔
Cerita kedua, waktu ke Lampung Timur kami mampir shalat Asar di salah satu masjid. Alhamdulillah kami mampir di masjid pas lagi azan jadi bisa ikut shalat jamaahnya. Nah ternyata di rakaat terakhir pak imam pake doa Qunut dong. 😁 Sehabis shalat jadi bahan obrolan baru lagi deh antara saya dan suami, dan kali ini kami sepakat kalau ini pengalaman pertama kali shalat Asar pakai doa Qunut.
Selebihnya, idul fitri yang saya jalani masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya di mana saya selalu dibuat takjub dengan keanehan suami saya dalam memahami dan memaknai kehidupan bersosial, baik dengan teman maupun saudara. Kadang kalau dipikir-pikir, rasanya lebih baik saya lebaran sendiri saja tanpa suami saking nggak ngertinya dia sama konsep berkeluarga besar dan bersilaturahim di hari lebaran. Bisa jadi yang bikin saya capek kayaknya ya salah satunya adalah suami saya sendiri. 😂
Padang
Maunya sih cerita panjang kali lebar tentang 10 hari perjalanan ke Padang, kayak orang-orang gitu. Tapi karena saya orangnya nggak suka jalan-jalan jadi nggak ada yang menarik bagi saya untuk diceritakan. Jadi ya foto-foto aja yang saya titipkan di sini. Selebihnya, cukup disyukuri saja atas keberhasilan saya menjalaninya dengan tabah.
Cabut gigi bungsu
Alhamdulillah gigi bungsu bagian kanan atas sudah dicabut. Saya pikir bakal butuh rujukan dan operasi di rumah sakit, ternyata cuma dicongkel dan ditarik-tarik sebentar di klinik dan nggak sakit sama sekali. Sekarang dramanya tinggal ngilu-ngilu yang tersisa di gigi kiri atas yang saya curiga gara-gara gigi bungsu juga. Tapi mau periksa lagi masih malu takut dokternya bosen. 😆 Mungkin bulan depan aja saya ke klinik lagi sambil pura-pura ngeluh lagi supaya gigi bungsu bagian kiri dicabut juga (kalau memang benar ada).
Ke pantai
Saya berjanji kepada diri sendiri ini adalah terakhir kalinya saya ketemu orang di bulan ini. Secapek itu saya ketemu orang tapi tiba-tiba suami bilang mau ke pantai ikut acara rihlah sekolah buat perpisahan dia. Nggak tahunya sudah sampai pantai acara perpisahannya juga nggak jadi lagi karena nggak ada waktunya. Jadi mungkin nanti akan diagendakan di lain waktu, lagi.
Reset untuk bulan Mei
Dengan nulis postingan ini saya sedang berusaha mengembalikan energi untuk kembali menjalani rutinitas seperti sebelumnya dan kembali fokus dengan target-target yang ingin saya capai untuk tahun ini. Let's see...
Wrapping Up 2023; What an adventurous year to go through
It's been a short year but slow. For context, saya memulai paragraf pertama ini di bulan Oktober karena nggak mau kehilangan memori sebelum akhir tahun. Ada banyak hal terjadi selama tahun ini yang membuat perasaan saya naik-turun, tapi juga saya merasakan banyak kekosongan di hati. Pada saatnya nanti, tepatnya bulan Desember, saya ingin merangkum semuanya tanpa ada yangg tertinggal. Makanya mau saya cicil pelan-pelan mulai saat ini.
So, what happened in 2023? Banyak, sebagian menyenangkan dan sebagiannya lagi membuat saya ingin menyerah. Tapi memang seperti itulah hidup, kan?! Kadang sedih, kadang bahagia. Tadinya saya berencana menceritakan semuanya di sini, tapi setelah dipikir-pikir kok ya agak nggak pantes. Apalagi bagian yang sedih-sedihnya. Apa urusannya orang baca cerita sedih saya? Kayak mereka nggak punya masalah sendiri aja kok harus tahu masalah saya juga. Sepertinya saya memang butuh terapi supaya bisa menormalisasi cerita-cerita sedih kayak orang-orang sekarang.
JANUARI
Saya memulai 2023 dengan sangat opstimis. Bikin planner sendiri, mulai dari cover, monthly spread sampai daily journal. Baca buku sampai tuntas, nonton First Love dan The Glory dan seperti yang sudah saya duga di pertengahan bulan mulai terlihat tanda-tanda dramanya. Untungnya saya sudah lupa apa hal buruk yang terjadi di bulan ini, tapi karena tercatat suasana hati saya di planner jadi akhirnya tahu deh... Ini sih salah satu manfaat journaling, jadi terdata segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita sesuai dengan apa yang kita inginkan.
FEBRUARI
Peristiwa besar yang terjadi di bulan ini tentu saja adalah kaos merch Linkin Park saya sampai, di tanggal 13 😂. Saking sayangnya saya sampai nggak mau pakai karena takut kotor. Ya salah saya sendiri kenapa beli kaos warna putih. Selebihnya, nggak ada yang spesial.
MARET
Adalah bulan di mana saya sudah benar-benar kehilangan motivasi. Monthly spread saya kosong dan daily journal hanya terisi di tanggal 1, 4, dan 8. Mungkin karena menjelang Ramadhan jadi saya mulai burn out karena pekerjaan. Tapi yang saya ingat dari bulan ini adalah saat saya memutuskan untuk resign. Setelah itu, semua berjalan apa adanya.
![]() |
| Photo by LOGAN WEAVER | @LGNWVR on Unsplash |
Karena planner saya berakhir di bulan Maret, maka setelah itu saya nggak punya data lagi apa yang terjadi. Kalau diingat-ingat, hal-hal yang paling memorable sepertinya nggak banyak;
ONE OK ROCK Merchandise
Saya beli jaket Luxury Disease Japan Tour dengan memberanikan mengirim DM orang random di Instagram. Hmmm.... Nggak random-random amat sih. Saya pelajari dulu akun dan orang dibaliknya, dan memutuskan untuk nanya. Ternyata ada temennya yang buka jastip merchandise, akhirnya jadilah saya punya produk kedua merchandise dari artis favorit. Dan mungkin karena ketagihan sama kualitasnya (walaupun harganya bikin nangis), bulan November saya beli lagi dong, kaos konsernya ONE OK ROCK & My First Story. Janji, tahun depan nggak gini lagi. Bangkrut rekening orang gara-gara jajan beginian.
Jalan-jalan
Yang pertama ke Padang, yang kedua ngintilin suami field trip ke Jawa. Masing-masing udah saya ceritain walaupun nggak lengkap. Tahun ini sepertinya bakal balik lagi ke Padang, dan who knows mungkin ada tempat lain yang akan saya kunjungi.
***
Anehnya, tahun 2024 ini saya justru memulai dengan mood yang sangat buruk. Padahal malah lagi sibuk-sibuknya. Sekarang saya lagi rajin-rajinnya belajar bahasa Jepang lagi, dapet beasiswa belajar nulis khot, dan Alhamdulillah suami dapet pekerjaan baru. We'll see, mungkin anomali ini justru akan diakhiri dengan kebahagiaan di akhir tahun nanti?!
Setelah drama sakit gigi di klinik berakhir di season pertama (karena saya yakin akan ada season berikutnya), petualangan saya berlanjut ke Rumah Sakit yang jarak tempuhnya butuh sekitar 45 menit dari rumah. Saya tahu kalau 45 menit itu nggak lama buat sebagian orang di kota-kota besar, tapi buat saya yang tinggal di Bandar Lampung, waktu tempuh 45 menit itu jauh banget.
Jadi ceritanya saya dirujuk ke Rumah Sakit Airan Raya, sebuah rumah sakit baru di Bandar Lampung. Awalnya sih katanya mau dirujuk ke Advent, tapi ternyata ketika mau didaftarkan tidak berhasil. Akhirnya dengan pasrah saya mengiyakan saja untuk dirujuk ke rumah sakit di ujung Bandar Lampung itu. Sesuai keterngan mbak resepsionis klinik, saya cukup datang ke rumah sakit dan menunjukkan aplikasi JKN ke petugas rumah sakit.
Sambil menanti kepastian jadwal kosong suami, saya pun mulai mencari-cari info tentang rumah sakit itu. Karena jaraknya yang jauh, saya nggak mau dong kena zonk. Dari Google sampai instagram, tidak banyak informasi yang saya dapat. DM nggak terbalas, website juga nggak update. Jadi yasudah, bermodal bismillah saya berangkat.
Sampai di rumah sakit, karena baru pertama kali ke sana kami butuh muter-muter dulu untuk menemukan area lobi rumah sakitnya. Dengan ragu-ragu saya langsung menemui seorang petugas di loket-loket yang berbaris. Ternyata saya salah. Sebelum ke loket harus registrasi dulu untuk mendapatkan nomor antrean. OK, pindah ke petugas registrasi ternyata saya tidak bisa dilayani. 😂
Untungnya mamas petugasnya dengan sabar dan ramah menjelaskan dengan sangat detil. Waktu saya bilang mau periksa gigi, dia kayaknya langsung tahu kalau saya baru pertama kali ke sana dan seketika saya dipersilakan duduk. Dari mamas inilah saya tahu kalau semua rujukan untuk pemeriksaan gigi di Lampung sekarang hanya ada di rumah sakit Airan Raya. Waktu saya dengar itu, sebenarnya saya pengen nanya, "lho, kok bisa? Aneh banget? Jadi apa gunanya rumah sakit umum sebesar itu ada dua njogrok di sana?" tapi saya tahan karena pasti buang-buang waktu. Saya dikasih tahu kalau saya harus mendaftar dulu di aplikasi, dan dia menyarankan untuk mendaftar sejak pagi sekali karena di rumah sakit hanya ada 2 dokter gigi setiap harinya dan masing-masing mereka hanya bisa menangani 20 pasien. Bayangkan 2 orang dokter harus melayani pasien BPJS se-provinsi dong, itu gimana antrenya? Sejak tengah malam, saudara-saudara. Nggak bisa pagi-pagi.
Sesuai instruksi mamas registrasi, besoknya saya coba daftar lewat aplikasi. Dan ternyata sang dokter sudah full booked sampai 3 hari ke depan. Besoknya saya coba lagi daftar lewat aplikasi setelah shalat subuh, sudah full booked lagi. Begitu terus sampai akhir pekan dan akhirnya jadwal tindakan untuk gigi saya tertunda karena saya tiba-tiba jalan-jalan ke Jawa selama 10 hari. Selama perjalanan inilah saya secara nggak sengaja berhasil mendaftar. Gara-gara nggak bisa tidur di bus, saya coba buka aplikasi dan mendaftar pas jam 12 malam. Akhirnya saya tahu waktu yang tepat untuk mendaftar.
Pulang dari Jawa, jadilah saya ke rumah sakit untuk pemeriksaan yang pertama. Kali ini saya nggak berharap gimana-gimana sama dokternya. Sudah pasrah saja lah. Dan jujur, saya cukup kagum dengan pelayanan di rumah sakit ini. Mungkin karena proses pendaftarannya yang harus lewat aplikasi jadi yang datang ke rumah sakit memang orang-orang yang benar-benar akan ditangani jadi rumah sakitnya tidak terlihat sumpek. Dari proses registrasi sampai saya masuk ke ruang poli, semua petugas melayani dengan cekatan dan cepat serta ramah. Begitu masuk ke ruangan juga saya nggak berharap akan diajak ngobrol sama dokternya. Rasanya udah kasihan aja sih kalau teringat bu dokter harus menangani 20 orang pasien BPJS setiap hari tanpa tahu akan dapat bayaran atau nggak. #eh
Tindakan pertama saya nggak sengaja menelan obat yang disemprotkan ke gigi gara-gara nahan napas karena terlalu tegang. Sepanjang perjalanan pulang mulut saya rasanya kayak ngemut Byclean dan mual luar biasa. Tindakan kedua, karena gagal bangun tengah malam saya terpaksa mendaftar dengan dokter yang lain. Tapi alhamdulillah dokter yang baru ini pun nggak ribet.
Di tindakan terakhir yang bikin saya agak gimanaaaa gitu ya, karena saya pikir akan butuh waktu lama. Ternyata tambalan gigi saya cuma seperti tambalan aspal jalanan yang bolong itu lho, gaes 😆. Nggak ada seninya sama sekali. Saya juga nggak berharap bakal kayak yang di video-video Youtube para dokter gigi itu sih, tapi saya juga nggak nyangka bakal sesederhana itu. Untungnya suami saya menenangkan, sudah disyukuri saja bisa berobat gratis yang aslinya butuh biaya jutaan. Dan kalau dipikir-pikir memang iuran BPJS saya kalau ditotalkan seluruhnya pun nggak akan bisa menutupi pelayanan kesehatan yang saya dapat. Walaupun saya nggak pernah pakai BPJS kalau berobat biasa, tapi biaya melahirkan 2 anak saya saja sudah bisa buat DP rumah kalau nggak dicover BPJS.
Saya yakin drama gigi ini akan berlanjut karena nasib gigi bungsu saya belum juga ada kejelasan. Sayang sekali dari 5 dokter gigi yang memeriksa saya, hanya 1 orang yang mau dengan rela memeriksa mulut saya secara menyeluruh yang sebenarnya nggak butuh waktu lama. Akhirnya nggak ada satupun dari 4 dokter yang menyarankan saya untuk cabut gigi. Bayangkan kalau saya nggak ketemu sama dokter pertama waktu itu, saya nggak akan tahu kalau saya punya gigi bungsu dan mungkin baru akan ke dokter gigi lagi ketika sakit gigi, dan saya pernah dengar kalau tindakan gigi bungsu juga butuh effort bagi dokter gigi sendiri. Saya cuma berharap lain kali kalau saya periksa lagi, dokternya mau meluangkan sedikit waktu untuk melihat lebih dalam dan bilang, "lho, ada gigi bungsunya ini, Bu. Harus dicabut ya, bahaya kalau dibiarin."
Perjalanan kali ini sebenarnya sudah saya perkirakan walaupun nggak terlalu diinginkan. Sejak awal tahun ajaran baru suami saya sudah menyampaikan kalau dia akan jadi pendamping field trip lagi, dan dia bilang akan pergi selama 10 hari. Awalnya dia bilang kalau saya harus nyiapin ini-itu selama dia pergi. Tapi aslinya saya tahu kalau dia nggak akan bisa ninggalin saya di rumah sendiri sama anak-anak. Jadi ketika dia akhirnya bilang kalau saya dan anak-anak harus ikut, saya udah tahu.
Yang saya nggak tahu adalah pengalaman nggak menyenangkan selama perjalanan. Well, setiap jalan-jalan memang nggak pernah menyenangkan sih, buat saya. Tapi khusus untuk kali ini ternyata lebih parah dari yang biasanya. Bukan cuma saya merasa nggak nyaman selama di jalan, ternyata saya malah sakit berat sejak hari ke-3 sampai pulang ke rumah. Padahal awalnya saya sudah berencana untuk bikin tulisan bagus untuk blogpost ini, tapi karena sibuk sakit akhirnya malah cuma rebahan dan nahan sakit aja di bus dan yang dipikirin cuma pengen cepet-cepet pulang.
Jadi, di postingan kali ini saya nggak bisa banyak cerita (kayak biasanya banyak cerita aja?! 😅) dan hanya akan share foto-foto yang sempat saya ambil selama perjalanan.
Langit Jakarta yang menakutkan
Sejak naik kapal, saya sudah curiga waktu melihat kabut tebal di luar. Karena biasanya kami bisa melihat pulau Jawa dengan cukup baik ketika masih di laut. Tapi selama perjalanan berangkat, yang terlihat hanya kabut (atau asap?). Saya sempat berpikir kalau itu adalah jejak bekas hujan. Tapi karena selama beberapa bulan ini tidak ada berita tentang hujan, akhirnya saya cukup yakin kalau itu adalah kabut asap.
![]() |
| Awalnya saya pikir mendung, tapi cuaca sedang sangat panas. |
![]() |
| Benar-benar nggak bisa lihat apa-apa. |
![]() |
| Cuma kabut asap sepanjang mata memandang. |
Setelah memasuki daerah Jakarta, dugaan saya tentang kabut asap yang kami lihat di kapal jadi makin kuat karena jelas-jelas langit Jakarta sangat kotor. Sayangnya saya nggak sempat ambil foto ketika bus kami melewati Jakarta, tapi sekarang saya jadi mengerti betapa berbahayanya kualitas udara di Jakarta.
Kediri yang panas
Tempat pertama yang dikunjungi adalah Kediri. Di sini anak-anak belajar bahasa Inggris selama 3 hari di sebuah lembaga bimbingan bahasa Inggris di Pare. Qia dan Aqsha lumayan merasa nyaman karena memang kami hanya tinggal di kos-kosan sementara anak-anak belajar. Qia dan Aqsha sempat membantu pembimbing ngajar anak-anak dan itu jadi kenangan cukup menyenangkan buat mereka.
Hal pertama yang saya ingat tentang Kediri adalah waktu shalat yang jauh lebih awal dari Lampung. Kami berangkat dari Lampung hari Kamis pagi dan diberi tahu bahwa akan tiba di Kediri besok paginya. Karena sudah berpengalaman dari perjalanan sebelumnya, di mana shalat subuh selalu jadi waktu shalat paling tricky selama di jalan maka saya mempersiapkan diri di bus untuk berjaga-jaga, kalau-kalau bus tidak akan tiba di tempat tujuan tepat waktu.
Dan benar saja, belum jam 4 pagi HP saya sudah azan. Seperti yang sudah saya duga, tempat singgah yang dituju masih jauh sehinga bus tidak akan berhenti di tempat random untuk shalat. Jadi saya wudhu dengan air mineral yang saya siapkan dan shalat di bus. Saya memutuskan untuk nggak peduli dengan anak-anak karena nggak mau bikin masalah dengan orang-orang yang berwenang. 😌
Selama di Kediri, saya selalu merasa salah setiap kali masuk waktu shalat. Seperti misalnya shalat dzuhur, saya selalu menunggu lewat jam 12 karena rasanya aneh kalau melaksanakan shalat dzuhur sebelum jam 12 😂. Shalat maghrib pun sebelum jam 6 sore. Bikin saya jadi berpikir lagi tentang hakikat waktu yang ternyata memang relatif sekali. Karena kalau dipikir-pikir, nggak ada bedanya shalat subuh jam 4 atau jam 4.30 karena pada dasarnya bukan Kediri yang shalat lebih awal tapi memang lokasinya yang lebih dekat dengan matahari terbit.
Hal lain yang saya notice selama di Kediri adalah cuacanya yang panas. Di Bandar Lampung, cuaca maksimal di tengah hari adalah 34° sementara di Kediri 37° dan tidak banyak angin berhembus. Mungkin ada kaitannya juga dengan lokasi saya yang tinggal di pegunungan sehingga Kediri terasa sangat panas.
Di Kediri kami sempat berkunjung ke salah satu tempat wisata yang menurut saya mirip Payungi di Metro, walaupun saya sendiri belum pernah juga ke Payungi 😅. Lalu main ke Simpang Lima dan foto-foto di sana. Walaupun saya sendiri cuma dapat 1 foto, tapi paling tidak ada bukti kalau pernah ke sana.
Bromo, lalu sudah
Minggu malam kami bertolak ke Bromo, dan sampai menjelang subuh. Kira-kira sekitar jam 3 pagi. Satu hal yang saya sesalkan tentang Bromo adalah karena saya tidak menyiapkan apapun untuk ke sana. Untungnya Qia dan Aqsha adalah anak-anak yang sangat mudah merasa kepanasan sehingga udara dingin di Bromo tidak terlalu mempengaruhi mereka. Dan tentu saja saya yang paling merasa menderita selama berada di sana.
Saya adalah orang yang walaupun sekarang cuaca sedang sangat panas, tetap tidur pakai selimut setiap malam. Yang akan langsung masuk angin kalau sebentar saja kena kipas angin. Dan tiba-tiba ke Bromo tanpa membawa jaket dan persiapan yang lainnya. Di Bromo inilah saya mulai merasa tidak enak badan, diare, lanjut demam, sakit perut sampai tiba di rumah sepekan kemudian. Makanya foto-fotonya berakhir di sini karena setelah dari Bromo saya hanyalah ibu-ibu tidak berguna yang gegoleran di bus sambil sesekali mengganggu petugas kesehatan meminta obat.



















































.jpg)
