SLIDER

Setelah bikin kelas menulis Arab, lalu...

Minggu, 27 Agustus 2023

Beberapa tahun belakangan ini, seiring dengan makin berkembangnya berbagai komunitas journaling terutama melalui sosial media, aktifitas menulis dengan tangan mulai kembali diminati. Banyak kursus-kursus handlettering bermunculan. Banyak artikel dan konten-konten di sosial media mengenai manfaat belajar handlettering saya temukan.

Saya pun sempat tertarik dan meminta suami untuk mengajari, tapi ternyata kemampuan saya tidak sebaik dia dalam mengayunkan pena di atas kertas. Meskipun sering dibilang bahwa tulisan tangan saya bagus, tapi sepertinya saya belum siap untuk meluangkan waktu belajar membuat tulisan kursif menggunakan kuas. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak menyibukkan diri dengan keahlian tersebut. Lagipula, kegiatan journaling yang biasa saya lakukan hanya merupakan curhatan biasa -seperti saat ini, misalnya- dan saya tidak pernah merasa bosan meskipun hanya melihat deretan huruf berjejer dalam tumpukan kertas ratusan halaman.

Photo by eleni koureas on Unsplash

Seiring berjalannya waktu, sampailah saya pada satu momen kehidupan bernama 'menjadi guru bahasa Arab'. Pada saat-saat inilah saya mulai mengeksplorasi tentang pendidikan literasi dengan lebih dalam. Saya mulai penasaran bagaimana cara menjelaskan perbedaan bahasa Arab dengan membaca Al-Quran, bagaimana struktur/urutan mengajar bahasa Arab agar mudah dipahami dan akhirnya mencoba mencari-cari pembanding dengan mulai belajar kembali bahasa Mandarin dan Jepang agar saya punya gambaran seperti apa silabus pendidikan bahasa dalam konteks 'akademik' seharusnya diajarkan.

Setelah mengajar beberapa lama, saya mulai menyimpulkan satu hal yang mungkin bisa saja tidak valid tapi saya yakini memiliki peran besar mengapa kebanyakan pendidikan bahasa Arab tidak berhasil diajarkan di sekolah-sekolah; Karena pengajarannya tidak komprehensif. Mungkin ini berlaku juga untuk bahasa Inggris, saya tidak terlalu yakin. Tapi saya merasakan sekali bahwa banyak anak-anak yang bisa berbahasa Arab tapi tidak bisa membaca bahkan menulis kata-kata yang mereka hafal. Dalam konteks ini, saya mengajar di sekolah, yang menurut saya sistem dan tujuan belajarnya pun seharusnya lebih komprehensif ketimbang kursus-kursus bahasa yang biasanya hanya fokus pada beberapa kompetensi tertentu.

Bahkan saya juga merasakan dampak dari tidak mampunya anak-anak menulis arab ini ke dalam pelajaran membaca Al-Qur'an. Seringkali saya sulit menjelaskan tentang sebab-sebab hukum tertentu yang berkaitan dengan kaidah penulisan bahasa Arab, dan ujung-ujungnya saya hanya bisa menjawab, "itu akan kalian pahami kalau kalian mengerti bahasa Arab." Akhirnya saya pun mencoba untuk mewajibkan latihan menulis pada murid halaqoh selama 1 semester. Saya minta mereka menyiapkan satu buku khusus untuk latihan menulis, dan setelah beberapa bulan sudah terlihat bagaimana perbedaan tulisan mereka yang tadinya acakadut menjadi lebih rapi dan teratur.

Apakah hal itu membantu dalam proses belajar bahasanya? Saya belum bisa memastikan karena sekarang sudah tidak mengajar di sekolah lagi. Tapi dari hasil pengamatan terhadap Aqsha -anak saya- setiap kali mau menuliskan huruf di buku dia pasti selalu mengucapkan dulu bacaannya. Dan saya melihat itu sebagai sebuah proses yang sangat baik. Wajar kalau kemudian banyak studi mengatakan bahwa menulis dengan tangan membantu hafalan dan pemahaman. Karena ketika menulis dengan tangan kita membaca dan memproses informasi tersebut dengan lebih pelan sehingga mungkin akan lebih mudah dicerna otak. (?)

Photo by Paradigm Visuals on Unsplash

Sebenarnya awalnya saya ragu untuk membuka kelas menulis arab ini karena saya sadar bahwa tulisan tangan saya tidak indah. Saya juga tidak pernah belajar menulis arab secara formal. Kemampuan menulis arab saya tumbuh bersama kegiatan belajar saya sejak masih di madrasah depan rumah sampai masuk pesantren yang semuanya berlangsung alamiah saja. Kesalahan-kesalahan yang saya lakukan dikoreksi hanya sekilas oleh para guru atau seringkali hanya oleh senior. Jadi, bisa dibilang saya tidak punya kompetensi. Tapi karena saya tidak menemukan ada orang lain yang membuka kelas seperti ini akhirnya saya memberanikan diri.

Belakangan baru saya temukan beberapa iklan kelas menulis, tapi itupun kelas menulis kaligrafi.

Diawal-awal pun saya bingung harus mematok harga berapa untuk kelas ini karena sebenarnya ini adalah ilmu yang sangat basic. Dan sebenarnya bisa dipelajari secara gratis, terutama jika bisa berbahasa Arab. Karena saya menemukan beberapa youtuber yang mengupload konten belajar menulis arab walaupun tidak terstruktur. Orang lain yang saya dapati membuat kelas semisal ini pun memakai bahasa pengantar bahasa Inggris. Jadi mungkin memang orang-orang Indonesia belum banyak yang menyadari pentingnya belajar secara terstruktur sehingga konten-konten belajar menulis arab biasanya hanya seputar kaligrafi. Padahal, bagaimana mau menulis kaligrafi kalau menulis khot standarnya saja tidak bisa?!

Bismillah saja, ternyata sampai saat ini ada 55 orang yang sudah mendaftar kelas ini. Walaupun saya perhatikan sepertinya mereka tidak terlalu berkomitmen dengan proses belajarnya, tapi saya bersyukur setidaknya ada orang-orang yang tertarik untuk mempelajari cara menulis arab dengan benar.

Dan pada akhirnya justru yang paling mendapat benefit dari kelas ini adalah saya. Setelah menamatkan worksheet dan rumusan belajar, saya mulai mengevaluasi kembali proses belajar sebelumnya dan sekarang berencana untuk memperbaikinya. Saya memutuskan untuk membuat level belajar menulis ini lebih banyak dan menjadikannya sebagai platform dalam mendokumentasikan proses belajar saya sendiri. Bagi para peserta tentu saja ini bisa jadi sarana investasi belajar seumur hidup yang menguntungkan, tapi bagi saya ini adalah sebuah tantangan untuk mengupgrade diri sebagai seorang pembelajar. Apalagi setelah membaca buku Al-Muhadditsat, dan menemukan bahwa banyak ulama-ulama wanita di zaman dulu yang memiliki kemampuan kaligrafi, membuat saya makin penasaran dan mulai berniat untuk mempelajarinya lagi.

Photo by Jay-Pee Peña 🇵🇭 on Unsplash

Saya berharap nantinya bisa menguasai khat naskhi dan riq'ah dengan baik, dan peserta belajar yang mendaftar kelas ini bisa mengikuti perkembangan saya. Ada semacam ambisi dalam diri saya untuk mengenalkan kaligrafi arab sebagaimana kaligrafi latin saat ini diminati begitu rupa. Ada kecemburuan dalam diri saya ketika muslim-muslimah begitu semangat belajar kaligrafi latin sementara mereka tidak mampu menulis huruf arab tanpa bantuan. Mestinya menulis arab adalah kemampuan dasar yang dimiliki semua anak muslim, bukan terlupakan dan baru disadari urgensinya ketika mereka sudah menjadi orang tua.

You don't have to do a reset to start over

Jumat, 11 Agustus 2023

Awalnya dari lagunya ONE OK ROCK yang berjudul Ketsuraku Automation (欠落オートメーション) yang saya sukai iramanya. Lalu tadi iseng ngecek arti lagu itu, ada satu baris lirik yang menarik perhatian saya;

リセットなんてしなくたってリスタート

No need to reset, just restart
Photo by Jose Antonio Gallego Vázquez on Unsplash

Saya jadi terpikir, apa bedanya reset dengan restart. Nggak penting banget, ya?! Tapi memang begitulah saya. Kadang suka mikirin sesuatu yang nggak ada gunanya. Maka saya pun meluncur berwisata ke Google.

Ketika mencari di Google dengan keyword 'difference between reset and restart', setiap artikel yang dirujuk selalu mengasosiasikan kedua istilah itu dengan komputer. Nggak salah, karena memang istilah itu paling sering kita pakai untuk mengoperasikan komputer atau alat elektronik lainnya. Saya menemukan sebuah artikel yang menjelaskan perbedaannya. Di lifewire.com dijelaskan bahwa Restart berarti mematikan sesuatu. Secara mudahnya, merestart berarti kita memutus/mematikan daya lalu menyambungkannya kembali. Saya pun sering melakukannya, terutama kalau komputer sudah mulai hang dan tidak merespon sama sekali. Restart adalah cara paling mudah untuk mengulang pekerjaan dari sebelum segala drama terjadi, dengan harapan ketika komputer menyala lagi saya bisa melanjutkan pekerjaan. Program-program atau software yang tadi dipaksa mati bisa diakses kembali, bahkan jendela situs internet yang tadinya tertutup pun bisa diakses ulang.

Reset berarti menghapus dan mengembalikan. Reset sama saja dengan menghapus semua isi perangkat kita dan mengisinya lagi dengan yang baru. Biasanya kalau dalam aktivitas sehari-hari, kita menyebutnya menginstall ulang, entah itu PC atau laptop. Reset kita lakukan terutama kalau permasalahan di komputer sudah demikian berbahaya sehingga beberapa sistem atau software tidak bisa digunakan atau tidak beroperasi dengan benar. Setelah direset, perangkat kita akan kembali menjadi baru, nggak ada isinya atau kembali ke setelan pabrik. Makanya kenapa biasanya ini adalah pilihan paling akhir yang diambil ketika akan memperbaiki PC/laptop karena itu artinya bisa jadi kita akan megorbankan file-file penting yang pasti akan terhapus selama proses ini berlangsung.

Lalu, kalau sudah tahu bedanya terus apa? Menurut saya, lirik ini menarik karena secara keseluruhan lagu æ¬ è½ã‚ªãƒ¼ãƒˆãƒ¡ãƒ¼ã‚·ãƒ§ãƒ³ bercerita tentang seorang yang kebingungan mencari arah dalam hidupnya. Karena berjalan tanpa arah dan tujuan, dia tersesat. Lalu ketika sadar, dia sudah melangkah terlalu jauh. Karena langkah yang dituju sudah dia pahami, maka tidak perlu melakukan reset, hanya perlu direstart.

Menyanyikan lagu ini saya jadi terpikir tentang konsep taubat. Dalam Islam, ketika kita bertaubat maka Allah mengampuni dosa-dosa kita dan kita akan seperti bayi baru lahir -kembali ke setelan pabrik-. Tapi sebagai manusia, keberadaan kita dalam lingkungan tetap tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu.

Dan pilihan paling mudah yang bisa kita terima tentang kenyataan itu adalah melakukan restart untuk diri kita sendiri. Kita tidak mungkin menghapus semua memori tentang diri kita dari pikiran orang-orang, tapi yang bisa kita lakukan adalah merestart diri kita sendiri. Matikan daya, putuskan semua koneksi yang membuat kita rusak selama ini lalu nyalakan lagi diri kita dengan sumber daya yang baru. Dan ketika semua sistem sudah aktif kembali, kita bisa pilih program apa yang akan kita gunakan.

Sejujurnya lirik-lirik lagu ONE OK ROCK yang menggunakan bahasa Jepang cukup sulit untuk dimaknai secara integral sebagai sebuah cerita yang utuh. Tapi justru jika dimaknai secara umum, kebanyakan lagu-lagu yang berbahasa Jepang-lah yang lebih bisa menyentuh di hati. Mungkin karena itu para fans garis keras biasanya tidak begitu peduli dengan lagu-lagu mereka yang International Version.

Untuk lirik lagu ini pun, yang membuat saya tertarik pada satu baris kalimat ini pun karena terasa terpisah dari kisah lagunya secara keseluruhan. Saya merasa ini adalah inti pesan dari lagu yang sayangnya sering salah pengartian 180° dari makna aslinya. Di salah satu situs yang mengartikan lagu ini, sayangnya baris ini malah diartikan 'say reset instead of restart', kan maunya ke kiri jadinya malah ke kanan tuh!

Nah, karena saya suka dengan lagu ini maka saya tuliskan saja liriknya di sini. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa menerjemahkannya dengan terjemahan yang lebih smooth.

欠落オートメーション

Ketsuraku Automation
Missing Information

いつ どんな時 どんなタイミングで

Itsu donna toki donna taimingu de

When and at what time?

僕はそれを失ってしまったんでしょう?

Boku wa sore o ushinatte shimatta ndeshou?

I lost it, didn't I?

深層心理を探ったところで 何の意味も無くて

Shinsou shinri wo sagutta tokoro de nanno imi mo naku te

It doesn't make any sense to search the depths of my psyche


腐って落ちた果実 狂って実った現実

Kusatte ochita kajitsu kurutte minotta genjitsu

Rotten and fallen fruit. Crazy ripened reality.

月が照らしだした方角 時に忘れそうな感覚

Tsuki ga terashi dashita hougaku-ji ni wasure sou na kankaku

The moon shines in a direction I sometimes forget

みんな全部しょい込んで 気づきゃもう今日が終わっていて

Minna zenbu shoikonde kidzukya mou kyou ga owatte ite

I'm soaked in it all, and before I know it, today is already over

求めてた日々はこんなモンだっけ?

Motome teta hibi wa konna mon dakke?

Was this the kind of day I was looking for?


With my speechless calm eyes

Nothing is coming to rise

道しるべにと落とした小さい石

Michishirube ni to otoshita chiisai ishi

I dropped a small stone to help me find my way

暗くて辺りが見えなくなりそうなとき 迷った僕を軌道修正さ!

Kurakute atari ga mienaku nari sou na toki mayotta boku o kidou shuusei sa!

When it's dark and I can't see what's around me, I'm lost and I need to get back on track

リセットなんてしなくたってリスタート

Risetto nante shinakutatte restart

I don't need to reset, I just need to start again.


ここはどこで僕はさぁ誰だ?

Koko wa doko de boku wa saa dareda?

Where am I, and who am I?

たまに分かんなくなんだ!だってさ

Tamani wakan'nakuna nda! Datte sa

Sometimes I don't know! Because, you know...

周りが思うよりもずっともっと凄いスピードで

Mawari ga omou yori mo zutto motto sugoi speedo de

Things are moving a lot faster than people think

物事は動いているんだ そうだ!これは罠だ!思わぬ落とし穴だ!

Monogoto wa ugoite iru nda sōda! Kore wa wanada! Omowanu otoshianada!

Things are moving. Yah... It's a trap! An unexpected pit!

自分の夢探しのために掘り進んできた穴はもはや

Jibun no yume sagashi no tame ni horisusunde kita ana wa mohaya

The hole you've been digging to find your dream is no longer there


光すらささなくなって 落ちたら最後

Hikari sura sasanaku natte ochitara saigo

Even the light no longer shines, and if you fall, it's the end

生ける屍

Ikerushikabane

walking dead


何気なくつけたテレビに映る愛想笑いしたその小さい子に

Nanigenaku tsuketa terebi ni utsuru aisou warai shita sono chiisai ko ni

To that little child with an affectionate smile on the casually turned-on TV

僕は実際一切癒やされることなく

Boku wa jissai issai iyasa reru koto naku

I was never actually healed at all

自分を重ね合わせてみたりなんかしちゃったりして Aah....

Jibun o kasaneawasete mi tari nanka shi chattari shite... Aah...

I tried to put myself in her shoes... Aah...


With my speechless calm eyes

Nothing is coming to rise

道しるべにと落とした小さい石

Michishirube ni to otoshita chiisai ishi

I dropped a small stone to help me find my way

暗くて辺りが見えなくなりそうなとき 迷った僕を軌道修正さ!

Kurakute atari ga mienaku nari sou na toki mayotta boku o kidou shuusei sa!

When it's dark and I can't see what's around me, I'm lost and I need to get back on track!

リセットなんてしなくたってリスタート

Risetto nante shinakutatte restart

I don't need to reset, I just need to start again

Nothing there, no one there 

Buat saya cukup susah untuk memahami lagu ini sebagai sebuah cerita. Menerjemahkannya pun PR banget, apalagi kalau ke bahasa Indonesia. Jadinya saya menyerah saja, cukup ke bahasa Inggris. Mudah-mudahan suatu saat nanti saya bisa benar-benar bisa memahami struktur kalimat tiap bait lirik lagu mereka. Bahkan mungkin membaca novel Jepang melalui bahasa aslinya 😌.

How to be a mindful muslim; beraktifitas dengan sadar

Minggu, 06 Agustus 2023

بِسْمِ اللهِ الرَّØ­ْمٰنِ الرَّØ­ِيْمِ 
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
 

Sejak beberapa tahun yang lalu, mungkin tepatnya tahun 2018 saya mulai aware dengan isu mental health. Salah satu sebabnya ketika buku Ikigai mulai populer di Indonesia, dan akun-akun psikologi bertebaran di Instagram. Lalu ibu mertua saya yang mengalami Anxiety Disorder tanpa bisa disembuhkan, membuat saya makin penasaran dengan masalah kesehatan mental.

Macam-macam artikel saya baca --tentu yang ringan saja--, video-video youtube juga saya simak sampai saya mulai mengenal beberapa istilah yang selama ini tidak pernah saya ketahui sama sekali sebagai hal-hal yang berkaitan dengan mental health.

Segala pembahasan mengenai mental health yang berseliweran di sosial media saya baca. Tapi ternyata makin banyak saya membaca, makin aneh saya menangkap pesan mental health awareness yang dikampanyekan orang-orang di sosial media itu. Lalu sampailah masanya saya membaca buku Stop Pretending Start Practicing. Sebuah buku yang berisi transkrip ceramah Syaikh Hamza Yusuf, seorang ulama terkenal di Amerika Serikat yang juga merupakan presiden Zaytuna College, institusi pendidikan tinggi yang jurusan-jurusannya khusus tentang Islamic Knowledge. Jujur saja, institusinya itu menawarkan program-program belajar yang sangat menarik.




Pada salah satu tulisan yang berjudul "Doa sebagai senjata andalan orang mukmin" Syaikh Hamza Yusuf membahas tentang pentingnya doa dalam kehidupan seorang Muslim, serta bagaimana doa dapat menjadi sumber kekuatan dan keberkahan. Beliau juga membahas tentang beberapa doa yang disebutkan dalam Al-Quran dan Hadis, serta bagaimana cara untuk memperdalam hubungan kita dengan Allah melalui doa. Namun ada beberapa kutipan yang sangat membekas dalam pikiran saya, yaitu;

Doa secara harfiah juga adalah cara untuk membangunkan kesadaran orang. Dengan kata lain, Anda memulai tindakan Anda sebagai manusia yang sadar, bukan sebagai pejalan tidur seperti yang terjadi pada kebanyakan orang. (Hlm 111)

Ketika membaca bagian itu, pikiran saya langsung teringat dengan teori mindfulness. Dalam teori psikologi, mindfulness didefinisikan sebagai sebuah moment-to-moment awareness of one's experience without judgement. Sebagian orang mengasosiasikan mindfulness dengan meditasi, walaupun sebenarnya tidak. Mindfulness is a state, not a trait.



Sebagai seorang muslim, seluruh aktifitas keseharian kita hampir selalu diiringi dengan panduan doa dan zikir. Selain itu, hampir setiap amalan pun ada aturannya. Di halaman 113, Syaikh Hamza Yusuf mengatakan;

Kemudian, Nabi membaca doa saat beliau berpakaian. Beliau pun berpakaian dengan cara tersendiri. Beliau mengenakan sirwal (kain) sambil duduk di lantai. Beliau tidak mengenakan sirwal sambil berdiri. Beliau benar-benar duduk dan mengenakannya sambil duduk di lantai. Beliau mengikat serbannya dengan cara tersendiri. Beliau melakukan takwir (memutar) terhadap serbannya dari kanan ke kiri. Sangat menarik. Cara yang sama seperti Anda mengitari Ka'bah. Setiap hal tersebut, tak perlu diragukan lagi, memiliki makna. Tidak perlu diragukan lagi. Sebab, ini adalah proses untuk "bangun tidur" sebagai manusia.

Setiap doa dan adab ini sesungguhnya adalah 'meditasi' khusus bagi orang beriman untuk menjaga kita tetap 'sadar' ketika beramal. Agar setiap aktifitas yang kita lakukan memiliki nilai/makna bahkan pahala. Dan setelah menuntaskan satu bab di buku tersebut, saya sungguh menyayangkan diri sendiri dan umat muslim saat ini yang banyak mencari ketenangan dan makna kehidupan dari berbagai macam teori self-help di luar Islam.

Photo by Nick Page on Unsplash

Dalam artikel di Yaqeen Institute disebutkan bahwa Islam mengenal mindfulness dengan istilah Muraqabah. Sebuah istilah yang berasal dari akar kata yang berarti "melihat, mengamati, memperhatikan dengan penuh perhatian." Sebagai istilah teknis spiritual, muraqabah didefinisikan sebagai "pengetahuan hamba yang konstan dan keyakinan dalam pengawasan Al-Haq, memujiNya, atas kondisi lahiriah dan batiniah seseorang." Artinya, seorang Muslim yang berada dalam keadaan muraqabah berada dalam pengetahuan penuh yang terus menerus bahwa Allah Maha Mengawasi dirinya, baik secara lahir maupun batin. Ini adalah keadaan penuh kesadaran diri yang penuh kewaspadaan dalam hubungan seseorang dengan Allah dalam hati, pikiran, dan tubuh. Dasar dari muraqabah adalah pengetahuan kita bahwa Allah selalu mengawasi kita setiap saat dan, sebagai konsekuensinya, kita mengembangkan perhatian dan kepedulian yang lebih besar terhadap tindakan, pikiran, perasaan, dan kondisi batin kita. Sebagaimana firman Allah, "Ingatlah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam jiwamu, maka bertakwalah kepada-Nya." (QS Al-Baqarah: 235)

Dalam praktik keseharian seorang Muslim, sesungguhnya shalat adalah sarana meditasi terbaik untuk menjaga diri agar tetap berkesadaran penuh dan terkendali. Namun bukan hanya itu, doa, zikir, tilawah Al-Qur'an dan tafakkur juga merupakan sarana-sarana 'meditasi Islam' yang seharusnya menyehatkan bukan hanya pikiran tapi juga jiwa kita.

Mudah-mudahan kita mampu menjadikan shalat, doa dan zikir-zikir kita sebagai sarana 'meditasi' agar hidup kita tetap 'mindfulness' dan tidak tertinggal dengan trend mental health yang sedang berkembang sekarang 😜.


3 helai uban untuk disyukuri

Jumat, 04 Agustus 2023

Kemarin, satu helai lagi uban menyembul di kepala bagian depan. Kali ini di bagian kanan. Beberapa waktu lalu ketika melihat helai demi helai rambut saya mulai memutih, saya sudah berpikiran untuk menuliskan sebuah refleksi. Hari ini, saya memutuskan untuk mengeksekusinya; menulis kekhawatiran saya tentang fakta penuaan ini.

Photo by Abdiel Ibarra on Unsplash

Ketika pertama kali menemukan uban di rambut, saya merasakan 'sesuatu' yang sulit saya jelaskan. Rasanya berbeda dengan ketika stretchmark di perut makin melebar dan tidak bisa diselamatkan. Pun berbeda juga ketika merasakan tiap persendian memainkan iramanya setiap shalat. Ada perasaan takut yang 'aneh' ketika melihatnya. Dan saya sempat bertanya-tanya, apakah ini juga yang dirasakan orang-orang ketika pertama kali melihat uban di kepalanya?

Yang muncul dalam pikiran saya tentang perasaan aneh ini adalah mungkin karena uban memiliki kisah sendiri dalam sejarah kehidupan Rasulullah ï·º. Maka di postingan ini, saya ingin mencoba mengumpulkan dalil-dalil yang berkaitan dengan uban ini sebagai pengingat diri.

Uban sang pemberi peringatan

Ø£َوَلَمْ Ù†ُعَمِّرْكُم Ù…َّا ÙŠَتَØ°َكَّرُ Ùِيهِ Ù…َن ØªَØ°َكَّرَ Ùˆَجَآءَكُمُ Ù±Ù„Ù†َّØ°ِيرُ ۖ ÙَØ°ُوقُوا۟ Ùَمَا Ù„ِلظَّـٰلِمِينَ Ù…ِن Ù†َّصِيرٍ


"...dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun." (QS Fathir: 37)


Sesungguhnya perasaan aneh yang muncul ini agak kurang pas, karena orang-orang di sekitar saya sudah banyak yang beruban. Suami saya sudah banyak ubannya. Adik saya bahkan sejak masih usia awal 20-an sudah beruban. Tapi saya sama sekali tidak berpikir untuk beruban di usia 33 tahun. Padahal dulu saya sempat mengira tidak akan berumur panjang karena penyakitan 😅. Namun yang saya syukuri adalah bahwa saya menyadari uban ini adalah pemberi peringatan bahwa waktu saya di dunia semakin berkurang. 

Kalau membaca ayat di atas dengan lengkap, rasanya mengerikan sekali kalau nanti di akhirat saya meminta kepada Allah untuk dihidupkan kembali ke dunia dan berharap bisa memperbaiki keadaan. Meski belum membaca tafsirnya, tapi dengan terjemahannya saja sudah cukuplah bahwa 3 helai uban ini adalah peringatan dari Allah untuk saya bahwa sedikit lagi waktu saya di dunia akan habis.

Uban sebagai cahaya di hari kiamat

Photo by asim alnamat

Dari Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ï·º bersabda,

لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَØ´ِيبُ Ø´َيْبَØ©ً فِي الْØ¥ِسْلَامِ Ø¥ِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَØ©

"Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang memiliki sehelai uban, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti." (HR. Abu Daud)

Dalam riwayat lain disebutkan,

أنه نور المؤمن

"Sesungguhnya uban itu cahaya bagi orang-orang mukmin."

Ka'b bin Murrah berkata,"Saya pernah mendengar Rasulullah ï·º bersabda:

مَنْ Ø´َابَ Ø´َيْبَØ©ً فِي الإِسْلامِ كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَØ©ِ

"Barangsiapa yang telah beruban dalam Islam, maka dia akan mendapatkan cahaya di hari kiamat." (HR.  Tirmidzi)

Setidaknya, saat ini saya punya 3 helai cahaya yang bisa menerangi jalan nanti di hari kiamat. Cahaya lainnya mungkin bisa saya upayakan melalui amalan-amalan lain. 

Uban tanda kewibawaan

Bagian ini agak meragukan 😁. Saya menyadari di usia yang sudah 33 ini saya masih sangat kekanak-kanakan. Tapi lagi-lagi yang saya syukuri kali ini adalah saya menyadari bahwa seharusnya saya sudah bisa bersikap selayaknya manusia yang berwibawa dan layak dihormati orang-orang yang lebih muda. Sudah seharusnya saya berhenti sok muda, karena nyatanya saya sudah beruban.

Dari Sa'id bin Musayyib, berkata:

كام ابراهيم أول من ضيف الضيف وأول الناس كَانَ Ø¥ِبْرَاهِيمُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Ø£َوَّلَ النَّاسِ ضَيَّفَ الضَّيْفَ وَØ£َوَّلَ النَّاسِ اخْتَتَنَ وَØ£َوَّلَ النَّاسِ قَصَّ الشَّارِبَ وَØ£َوَّلَ النَّاسِ رَØ£َى الشَّيْبَ فَقَالَ يَا رَبِّ مَا هَØ°َا فَقَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَقَارٌ يَا Ø¥ِبْرَاهِيمُ فَقَالَ يَا رَبِّ زِدْنِي وَقَارًا

"Ibrahim adalah orang pertama yang menjamu tamu, orang pertama yang berkhitan, orang pertama yang memotong kumis, dan orang pertama yang melihat uban lalu berkata: Apakah ini wahai Tuhanku? Maka Allah berfirman: kewibawaan, wahai Ibrahim. Ibrahim berkata: Wahai Tuhanku, tambahkan aku kewibawaan." (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Maka saya pun ingin melantunkan doa yang sama kepadaMu ya Allah, ya Hakam. Tambahkanlah kebijaksanaan dalam diriku...

Yang berat adalah istiqomah

Surat Hud, terutama ayat 112 menurut riwayat dikabarkan sebagai ayat yang terberat bagi Rasulullah ï·º hingga membuat beliau beruban. Tentang istiqomah ini, sejak pertama kali saya mempelajari hadits tentangnya pun ia menjadi motto hidup bagi saya. Dan memang seberat itu untuk tetap istiqomah dalam ketaatan.

Yang saya syukuri dari kesulitan-kesulitan menghadapi hawa nafsu diri dan godaan syahwat adalah kesadaran ketika berbuat maksiat. Setidaknya saya masih sadar setiap kali berbuat salah, bahwa yang saya lakukan itu adalah sebuah kemaksiatan. Saya tidak pernah mencari-cari alasan atau pembenaran apapun atas kedurhakaan yang saya lakukan. Saya berharap kesadaran ini tidak pernah hilang dari hati, dan semoga saya bisa terus berupaya untuk meninggalkan hal-hal yang membuat Allah menahan rahmatNya untuk saya.

Sembari menulis postingan ini, saya pun sedang membaca sebuah artikel di muslimmatters.org dan mencoba merefleksikan pesan dalam artikel tersebut ke dalam diri saya pribadi. Rasulullah ï·º, memiliki hubungan yang begitu kuat dengan Al-Qur'an hingga turunnya wahyu bisa memberi dampak yang sangat besar kepada beliau. Bukan hanya dari mental dan kepribadian, tapi juga fisiknya. Bagaimana sebuah surat terasa sangat berat pesannya beliau terima, hingga tumbuh uban di kepalanya.

Di sisi lain, beliau adalah seorang ayah, suami dari banyak istri, pemimpin umat dan dengan urusan yang membuatnya sibuk itu bukanlah hal-hal tersebut yang membuatnya menua. Seringkali ketika orang lain mengatakan sesuatu tentang kondisi fisik saya yang sebenarnya dari dulu memang kurus-kurus saja, saya menjawab respon tersebut dengan alasan-alasan sederhana. Banyak pikiran, sedang sibuk, dan lain-lain. Tapi, bagi Rasulullah ï·º bukanlah urusan-urusan besar yang harus dihadapinya yang membuat beliau menua dan beruban. Adalah surat Hud dan saudara-saudaranya yang terasa berat sehingga membuat beliau menua.

Sembari mengingat kembali pesan tadabbur surat Al-'Alaq yang beberapa pekan ini saya pelajari. Bahwa Al-Qur'an ini turun dengan beban, dengan usaha yang berat dan bukan dengan kenyamanan dalam istana mewah. Maka mengemban amanahnya adalah sebuah usaha berat yang butuh kekuatan besar. Kadang saya berpikir, kebaikan apa yang pernah saya lakukan sampai-sampai Allah berikan salah satu ilmu tentang Al-Qur'an ini kepada saya. Apakah ada kesalihan dari leluhur saya yang terwariskan kepada saya? Atau apakah ini adalah jawaban dari kekurangajaran saya ketika masih remaja, menuntut kehadiran Allah dalam perjalanan hidup saya?

Apapun itu, saya ingin mengingat uban ini dengan kesyukuran. Bahwa saya di usia 33 tahun ini adalah seseorang yang bisa berbicara tentang Tuhan dengan lebih beradab. Membatin, berbisik memanggilNya dengan harap dan takut. Bukan lagi bocah 13 tahun yang mempertanyakan keberadaanNya, menuntut bimbinganNya, dan mengancam kekuasaanNya. Oh, alangkah memalukan saya 20 tahun yang lalu 😢.


© Zuzu Syuhada • Theme by Maira G.