SLIDER

Mencatat dengan pena, antara dalil dan sains

Selasa, 21 November 2023

Dengan kemajuan teknologi saat ini, menulis dengan tangan mungkin sudah bukan cara yang menarik lagi dalam belajar. Saya sendiri mulai menyadari bahwa tradisi menulis mulai luntur sejak semakin canggihnya kamera yang tertanam di smartphone. Di setiap kajian yang saya hadiri, makin jarang orang yang mencatat dengan buku dan pena. Kebanyakan hanya memotret apa yang ditampilkan di layar proyektor. Jika ada yang cukup rajin mencatat di aplikasi note di HPnya. Tidak berbeda jauh ketika kajian online, pertanyaan "nanti slidenya akan dishare, kan?" seperti sudah jadi tradisi.

Lebih jauh lagi, sekarang bahkan ada fitur baru -yang sebenarnya tidak terlalu baru juga- yang bisa mengubah suara menjadi tulisan. Pertama kali saya melihat hal seperti itu di film Body of Lies yang dibintangi DiCaprio tahun 2008. Nggak pernah menyangka kalau itu beneran bakal jadi kenyataan. Akhirnya sekarang, alih-alih mengetik dengan jari kita bisa memilih untuk langsung bicara dan gawai akan langsung mengubah suara kita menjadi tulisan.

Tapi seiring dengan perkembangan teknologi catat-mencatat itu, ternyata ada orang-orang yang merasa bahwa tradisi menulis dengan tangan tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Lalu dilakukanlah berbagai penelitian untuk mencari tahu apa manfaat menulis dengan tangan dan bagaimana hubungannya dengan latihan kognitif.

Photo by eleni koureas on Unsplash

Dari sebuah artikel saya merangkum 20 manfaat yang akan kita dapatkan ketika menulis atau mencatat ilmu dengan tangan;

1. Menstimulasi area otak yang bertanggungjawab untuk belajar

Menulis catatan dengan tangan melibatkan bagian otak yang disebut Reticular Activating System (Sistem Pengaktifan Retikuler). Ini adalah semacam filter untuk segala sesuatu yang diproses oleh otak kita. Sistem ini menetapkan prioritas yang lebih tinggi untuk materi yang sedang kita fokuskan saat ini, sehingga menghasilkan retensi informasi yang lebih baik. 

2. Mencegah distraksi

Ada alasan mengapa sekarang muncul begitu banyak aplikasi untuk membantu kita fokus. Karena ada terlalu banyak gangguan ketika kita bekerja di depan komputer atau menggunakan smartphone. Dengan menggunakan pena dan kertas, kita meniadakan semua gangguan yang mungkin terjadi sehingga bisa fokus pada pikiran dan materi pelajaran.

Beberapa orang yang rutin mengupload video study vlog di instagram ada yang mengatakan bahwa mereka merekam proses belajar dengan menggunakan HP agar ketika belajar tidak diganggu dengan notifikasi HP sehingga bisa fokus belajar.

3. Peningkatan fungsi kognitif

Ketika masih kecil, kita pasti sering mendengar peribahasa tentang pentingnya belajar yang disamakan seperti pisau yang tidak pernah diasah. Makin lama tidak diasah, otak akan menjadi tumpul seperti pisau yang berkarat. Ya, otak kita tidak akan bertambah tajam seiring bertambahnya usia. Namun seperti halnya kulit yang mengalami penuaan, otak juga mengalaminya. Salah satu cara untuk mencegah atau menunda proses penuaan otak adalah dengan menulis. Berlatih menulis dengan tangan melibatkan keterampilan motorik, meningkatkan proses berpikir, dan meningkatkan daya ingat, yang semuanya memiliki pengaruh positif pada otak secara keseluruhan.

4. Mendapat manfaat meditasi

Penelitian membuktikan bahwa menulis dengan tangan memiliki pengaruh yang mirip dengan meditasi pada otak. Alasannya adalah karena proses menulis meningkatkan tingkat aktivitas saraf di bagian otak tertentu. Maka tidak heran kalau sekarang banyak sekali kelas-kelas atau workshop menulis dengan tujuan healing atau meditasi. Saya sendiri banyak sekali melihat iklan-iklan kelas seperti itu di beranda instagram.

If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. - Steve Jobs-

5. Memperlambat proses berpikir secara positif

Tidak seperti mengetik yang cepat, menulis dengan tangan dapat meningkatkan kesadaran (mindfulness) dan mencegah kita dari sikap terburu-buru dalam berpikir. Hal ini tentu berdampak positif karena memungkinkan otak untuk beristirahat lebih banyak, yang kemudian dapat meningkatkan kreativitas.

6. Integrasi dan kombinasi beberapa fungsi tubuh dan otak

Menulis dengan tangan meningkatkan efisiensi otak. Proses menulis dengan tangan membantu otak mengembangkan spesialisasi fungsional. Proses ini mengintegrasikan pemikiran, kontrol gerakan dan sensasi. Dengan kata lain, beberapa bagian otak terlibat dalam tugas pada saat yang bersamaan.

7. Peningkatan keterampilan motorik

Tulisan tangan yang baik membutuhkan koordinasi mata dan tangan yang khusus. Tidak hanya itu, kebutuhannya pun berbeda-beda untuk setiap huruf dalam alfabet. Oleh karena itu, menulis dengan tangan juga berfungsi sebagai latihan untuk keterampilan motorik yang dibutuhkan untuk melakukan gerakan yang tepat.

8. Meningkatkan daya ingat

Menulis catatan dengan tangan membantu kita mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang informasi dan mengingatnya kembali. Menggunakan tulisan tangan tidak hanya membantu kita mengingat informasi dengan lebih baik, tetapi juga memungkinkan kita menafsirkannya dengan lebih leluasa, mengungkapkan pemahaman yang lebih dalam tentang materi.

Oleh karena itu, mencatat atau menulis ulang kitab menjadi salah satu tradisi belajar yang masih dijaga di pesantren-pesantren tradisional di Indonesia sampai hari ini. Karena kekuatan ilmu seorang muslim datang dari kuatnya hafalan, maka menulis dengan tangan menjadi salah satu alat paling utama untuk menjaga ilmu.

I like the process of pencil and paper as opposed to a machine. I think the writing is better when it's done in handwriting. -Nelson DeMille-

9. Meningkatkan rasa percaya diri

At some point, tulisan tangan adalah sebuah tantangan yang menarik. Pada awalnya hanya merupakan tantangan untuk belajar menulis, tapi kemudian kita dapat melatih diri kita untuk menulis lebih cepat atau lebih kaligrafis. Mengatasi tantangan yang berhubungan dengan tulisan tangan akan membuat kita lebih percaya diri, bersama dengan peningkatan memori, daya ingat dan ketangkasan.

10. Meningkatkan kemungkinan mencapai tujuan belajar

Studi menunjukkan bahwa orang yang menuliskan tujuan mereka cenderung memiliki peluang lebih tinggi untuk mencapainya. Salah satu alasannya adalah karena mereka dapat berbagi tujuan yang telah mereka tulis dengan orang lain. Oleh karena itu, mereka memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk benar-benar mencapainya.

11. Membantu proses belajar bahasa

Ada hubungan yang kuat antara bahasa lisan dan tulisan; perkembangan bahasa yang satu mengarah pada peningkatan bahasa yang lain. Menulis dengan tangan berdampak pada proses neurologis yang mendukung kemampuan literasi (termasuk bahasa lisan, menulis, dan membaca) dan membantu penulis untuk mendapatkan keotomatisan dan kefasihan. Oleh karena itu, orang yang belajar bahasa selalu memiliki buku catatan. Dan kalau kita ingin belajar bahasa baru tapi tidak punya buku catatan, kesempatan untuk berhasil dalam belajar sudah turun dengan sendirinya. Jika ingin belajar bahasa baru, siapkan buku catatan!

12. Melibatkan kedua belahan otak (kanan dan kiri)

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tulisan tangan memerlukan kombinasi fungsi kognitif dan keterampilan motorik. Tidak heran jika tulisan tangan melibatkan kedua belahan otak. Sementara mengetik hanya menuntut sedikit sekali fungsi otak, menulis dengan tangan lebih menantang karena menuntut otak kita untuk lebih banyak bekerja.

My handwriting was nothing to write home about, and I had this idea that calligraphy was like taking latin in high school: that it was one of the bricks, the building bricks, that you had to understand about the forms of writing. -Katherine Dunn-

13. Meningkatkan motivasi

Yang satu ini sebagian besar bisa diterapkan pada anak-anak yang belum bisa menulis dengan baik. Ini adalah keterampilan yang perlu dikuasai setiap anak, dan mengetahui bahwa menulis dengan baik adalah hal yang mungkin dilakukan akan membantu mereka tetap termotivasi. Setelah itu, perasaan berhasil akan membantu mereka bertahan dalam tantangan-tantangan selanjutnya.

Sejujurnya saya sedikit kecewa melihat kenyataan saat ini pelajaran menulis tidak mendapat porsi yang cukup banyak di tingkat pendidikan dasar. Qia, yang sekarang sudah kelas 3 tidak pernah tuntas mendapat pelajaran menulis di sekolah. Ketika saya perhatikan Aqsha yang sekarang duduk di kelas 1, pun terulang kembali. Di awal tahun ajaran saya sudah senang ketika guru kelasnya mengatakan akan fokus pada belajar menulis dan membaca. Tapi ternyata setelah masuk bulan September Aqsha sudah mulai belajar mata pelajaran lain dan menulis mulai disingkirkan dari kegiatan belajar sekolah. Sangat berbeda dengan saya dulu yang masih belajar menulis tegak bersambung sampai kelas 4 SD.

14. Meningkatkan disiplin diri

Mempelajari tulisan kursif juga membantu mengembangkan disiplin diri. Setelah berhasil beberapa kali, akan muncul keinginan untuk beralih ke penguasaan keterampilan yang lebih menyeluruh. Pengetahuan untuk memperoleh keterampilan akan menjadi tujuan akhir, dan untuk mencapainya hanya mungkin dilakukan dengan disiplin yang cukup.

15. Lebih banyak kreativitas

Menulis kata-kata di atas kertas memberi kita perasaan yang lebih kuat untuk benar-benar menciptakan sesuatu. Kombinasi dari sifat meditatif, gerakan tanga yang lambat dan stabil membantu tulisan tangan kita meningkatkan kreatifitas.

Handwriting is a spiritual designing, even though it appears by means of a material instrument. -Euclid-

16. Keterampilan komposisi yang lebih baik

Studi yang dilakukan pada siswa sekolah menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan pena dan kertas dapat menulis esai yang lebih panjang dengan kalimat yang lebih lengkap. Tidak mengherankan jika banyak penulis yang memuji tulisan tangan dan lebih memilihnya daripada mengetik naskah mereka.

17. Peningkatan kinerja akademik

Ada hubungan antara prestasi akademik yang baik dan tulisan tangan yang baik. Ketika tulisan siswa terbaca dan terlihat meyakinkan, prestasi akademik mereka biasanya dapat mengarah pada peningkatan bidang lain dalam bentuk pencapaian yang konsisten.

Saya sendiri menemukan anak-anak yang kecerdasannya di atas rata-rata memang biasanya memiliki tulisan tangan yang rapi, meskipun tidak selalu indah. Dan anak-anak dengan tulisan rapi atau indah dengan kemampuan kognitif yang standar bahkan rendah, biasanya adalah anak-anak yang tekun belajar.

18. Mengurangi 'mindless information processing'

Ketika kita mengetik kata-kata di keyboard, kita hanya mengandalkan jari-jari untuk memilih huruf yang diperlukan tanpa proses berpikir yang sebenarnya. Di sisi lain, menulis dengan tangan membuat otak kita terus aktif, mencegah kita melamun dan menyalin informasi tanpa berpikir.

19. Latihan motorik sensorik

Gerakan yang terjadi saat menulis dengan tangan bertindak sebagai latihan motorik sensorik yang luar biasa. Otak menerima umpan balik dari tindakan tubuh, yang membantu membangun hubungan yang lebih kuat antara apa yang sedang ditulis sekarang dan apa yang akan dibaca nanti.

20. Keterampilan problem solving yang lebih baik

Tulisan tangan dianggap sebagai variasi dalam menerjemahkan ide ke dalam gambar (atau sketsa kasar) untuk meningkatkan proses pemecahan masalah. Representasi visual dari pemikiran kita yang dibuat dengan tangan dapat membantu dalam memahami materi.

Photo by Jay-Pee Peña 🇵🇭 on Unsplash

Ketika menyimak kajian tafsir dan tadabbur Surat Al-'Alaq, salah satu yang membuat saya merenung adalah tentang pena. Urgensi mencatat ilmu, bagi saya bukan sesuatu yang perlu dimuraja'ah karena sudah diajarkan sejak kecil dan merupakan kewajiban tidak tertulis ketika masih belajar di pesantren. Tapi saya sempat termenung sebentar ketika ustadz menjelaskan bahwa pena ini tidak bisa digantikan dengan yang lainnya.

Cobalah menulis dengan pena sungguhan, bukan diganti dengan aplikasi catatan di HP, apalagi sekadar screenshot. Jujur, saya dulu sempat berpikir bahwa tidak apa-apa menulis dengan catatan digital. Toh sama-sama mencatat. Ternyata, bahkan menulis tangan dengan tablet masih tidak lebih baik dibanding menulis tangan dengan pena dan kertas.

Jadi tidak heran kalau para ulama tidak meremehkan perintah Rasulullah saw untuk mencatat ilmu. Karena ilmu yang hanya didengar, hati akan sulit untuk mengingatnya. Jika hati sudah lupa, maka ilmu akan hilang perlahan-lahan. Oleh karena itu, penting sekali untuk mencatat ilmu. Bahkan di beberapa pesantren, mencatat ilmu memiliki beberapa persyaratan. Harus dengan tinta tertentu, ditulis dengan cara tertentu hingga jenis penanya pun ditentukan. Tujuannya tidak lain adalah untuk memaksimalkan hasil belajar. Agar ilmu yang dipelajari semakin tertanam di hati.

Maka saya tidak habis pikir ketika mendapati murid-murid yang tidak punya buku catatan dan merasa cukup dengan hanya buku pegangan yang diberikan sekolah. Saking mentoknya, saya pernah tanyakan kepada mereka apakah tidak ada keinginan untuk punya catatan dari tulisan tangan sendiri. Ternyata mereka bilang tidak pernah mencatat selama sekolah. Sejak kelas 1 SD sampai SMP tidak pernah ada tugas untuk mencatat.

Dulu, mungkin kita menganggap tugas merangkum atau menulis kembali isi buku adalah tugas aneh yang tidak ada manfaatnya. Tapi sekarang lihatlah, anak-anak kita bahkan tidak bisa mengambil intisari dari sebuah kalimat. Tidak bisa menilai mana yang penting dan mana yang hanya merupakan tambahan dalam sebuah buku teks. Lebih jauh lagi, anak-anak seumuran anak saya bahkan tidak diajarkan menulis dengan tuntas, tidak diajarkan membaca sampai tuntas, tapi ujug-ujug punya buku pegangan dengan teks dan narasi-narasi yang panjang. Kurikulum kita benar-benar sudah gila.

Makin jauh memikirkan nasib pendidikan anak-anak kita, makain khawatir saya dengan masa depan generasi yang akan datang. Dulu, orang tua kita akan menyerahkan urusan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah dan mengawal pembentukan karakter dan perangai kita dari rumah. Sekarang, sejujurnya saya sudah sangat kasihan dengan guru sekolah. Betapa besar tanggung jawab yang harus mereka pikul, mendidik anak-anak yang kehilangan orang tua di rumah dan masih harus dituntut tugas-tugas negara yang tidak ada habisnya.

Kalau dibandingkan dengan saya sendiri, rasanya Qia kelas 3 SD saat ini masih belum mengerti apa-apa dibanding saya kelas 3 dulu. Bukan hanya dalam pelajaran, tapi yang paling mendasar itu; menulis dan membaca. Masih banyak yang harus dia kejar. Dan ini sejujurnya membuat saya kadang merasa hopeless dengan sekolah dan biayanya yang selangit itu.

Tiba-tiba jalan-jalan

Minggu, 05 November 2023

 


Perjalanan kali ini sebenarnya sudah saya perkirakan walaupun nggak terlalu diinginkan. Sejak awal tahun ajaran baru suami saya sudah menyampaikan kalau dia akan jadi pendamping field trip lagi, dan dia bilang akan pergi selama 10 hari. Awalnya dia bilang kalau saya harus nyiapin ini-itu selama dia pergi. Tapi aslinya saya tahu kalau dia nggak akan bisa ninggalin saya di rumah sendiri sama anak-anak. Jadi ketika dia akhirnya bilang kalau saya dan anak-anak harus ikut, saya udah tahu.

Yang saya nggak tahu adalah pengalaman nggak menyenangkan selama perjalanan. Well, setiap jalan-jalan memang nggak pernah menyenangkan sih, buat saya. Tapi khusus untuk kali ini ternyata lebih parah dari yang biasanya. Bukan cuma saya merasa nggak nyaman selama di jalan, ternyata saya malah sakit berat sejak hari ke-3 sampai pulang ke rumah. Padahal awalnya saya sudah berencana untuk bikin tulisan bagus untuk blogpost ini, tapi karena sibuk sakit akhirnya malah cuma rebahan dan nahan sakit aja di bus dan yang dipikirin cuma pengen cepet-cepet pulang.

Jadi, di postingan kali ini saya nggak bisa banyak cerita (kayak biasanya banyak cerita aja?! 😅) dan hanya akan share foto-foto yang sempat saya ambil selama perjalanan.

Langit Jakarta yang menakutkan


Sejak naik kapal, saya sudah curiga waktu melihat kabut tebal di luar. Karena biasanya kami bisa melihat pulau Jawa dengan cukup baik ketika masih di laut. Tapi selama perjalanan berangkat, yang terlihat hanya kabut (atau asap?). Saya sempat berpikir kalau itu adalah jejak bekas hujan. Tapi karena selama beberapa bulan ini tidak ada berita tentang hujan, akhirnya saya cukup yakin kalau itu adalah kabut asap. 

Awalnya saya pikir mendung, tapi cuaca sedang sangat panas.


Benar-benar nggak bisa lihat apa-apa.


Cuma kabut asap sepanjang mata memandang.


Setelah memasuki daerah Jakarta, dugaan saya tentang kabut asap yang kami lihat di kapal jadi makin kuat karena jelas-jelas langit Jakarta sangat kotor. Sayangnya saya nggak sempat ambil foto ketika bus kami melewati Jakarta, tapi sekarang saya jadi mengerti betapa berbahayanya kualitas udara di Jakarta.

Kediri yang panas


Tempat pertama yang dikunjungi adalah Kediri. Di sini anak-anak belajar bahasa Inggris selama 3 hari di sebuah lembaga bimbingan bahasa Inggris di Pare. Qia dan Aqsha lumayan merasa nyaman karena memang kami hanya tinggal di kos-kosan sementara anak-anak belajar. Qia dan Aqsha sempat membantu pembimbing ngajar anak-anak dan itu jadi kenangan cukup menyenangkan buat mereka.


Hal pertama yang saya ingat tentang Kediri adalah waktu shalat yang jauh lebih awal dari Lampung. Kami berangkat dari Lampung hari Kamis pagi dan diberi tahu bahwa akan tiba di Kediri besok paginya. Karena sudah berpengalaman dari perjalanan sebelumnya, di mana shalat subuh selalu jadi waktu shalat paling tricky selama di jalan maka saya mempersiapkan diri di bus untuk berjaga-jaga, kalau-kalau bus tidak akan tiba di tempat tujuan tepat waktu.

Dan benar saja, belum jam 4 pagi HP saya sudah azan. Seperti yang sudah saya duga, tempat singgah yang dituju masih jauh sehinga bus tidak akan berhenti di tempat random untuk shalat. Jadi saya wudhu dengan air mineral yang saya siapkan dan shalat di bus. Saya memutuskan untuk nggak peduli dengan anak-anak karena nggak mau bikin masalah dengan orang-orang yang berwenang. 😌

Selama di Kediri, saya selalu merasa salah setiap kali masuk waktu shalat. Seperti misalnya shalat dzuhur, saya selalu menunggu lewat jam 12 karena rasanya aneh kalau melaksanakan shalat dzuhur sebelum jam 12 😂. Shalat maghrib pun sebelum jam 6 sore. Bikin saya jadi berpikir lagi tentang hakikat waktu yang ternyata memang relatif sekali. Karena kalau dipikir-pikir, nggak ada bedanya shalat subuh jam 4 atau jam 4.30 karena pada dasarnya bukan Kediri yang shalat lebih awal tapi memang lokasinya yang lebih dekat dengan matahari terbit.




Hal lain yang saya notice selama di Kediri adalah cuacanya yang panas. Di Bandar Lampung, cuaca maksimal di tengah hari adalah 34° sementara di Kediri 37° dan tidak banyak angin berhembus. Mungkin ada kaitannya juga dengan lokasi saya yang tinggal di pegunungan sehingga Kediri terasa sangat panas.


Di Kediri kami sempat berkunjung ke salah satu tempat wisata yang menurut saya mirip Payungi di Metro, walaupun saya sendiri belum pernah juga ke Payungi 😅. Lalu main ke Simpang Lima dan foto-foto di sana. Walaupun saya sendiri cuma dapat 1 foto, tapi paling tidak ada bukti kalau pernah ke sana.







Bromo, lalu sudah


Minggu malam kami bertolak ke Bromo, dan sampai menjelang subuh. Kira-kira sekitar jam 3 pagi. Satu hal yang saya sesalkan tentang Bromo adalah karena saya tidak menyiapkan apapun untuk ke sana. Untungnya Qia dan Aqsha adalah anak-anak yang sangat mudah merasa kepanasan sehingga udara dingin di Bromo tidak terlalu mempengaruhi mereka. Dan tentu saja saya yang paling merasa menderita selama berada di sana. 

Saya adalah orang yang walaupun sekarang cuaca sedang sangat panas, tetap tidur pakai selimut setiap malam. Yang akan langsung masuk angin kalau sebentar saja kena kipas angin. Dan tiba-tiba ke Bromo tanpa membawa jaket dan persiapan yang lainnya. Di Bromo inilah saya mulai merasa tidak enak badan, diare, lanjut demam, sakit perut sampai tiba di rumah sepekan kemudian. Makanya foto-fotonya berakhir di sini karena setelah dari Bromo saya hanyalah ibu-ibu tidak berguna yang gegoleran di bus sambil sesekali mengganggu petugas kesehatan meminta obat.




© Zuzu Syuhada • Theme by Maira G.