Semua Menang, Semua Senang

by - Agustus 20, 2021

 

Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu sekolah Aqsha mengadakan lomba dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam sekaligus Hari Kemerdekaan Indonesia. Lombanya ada 2, nyanyi lagu nasional sama mewarnai. Tentu saja Aqsha ikut lomba mewarnai karena dia nggak bisa nyanyi dan orang tuanya terlalu sibuk untuk nyanyi bareng dia.

Hasil lomba diumumkan tadi siang, dan seperti yang sudah saya duga Aqsha juara. Juara apa gitu tadi saya lupa. Nah, persoalan juara ini yang mau saya bahas kali ini.

Saya sudah punya masalah dengan konsep perlombaan di lembaga tempat saya mengajar ini sejak dahulu kala. Awalnya dulu waktu saya pertama kali mengalami jadi panitia lomba sekolah dan harus membuat kriteria pemenang yang bejibun. Saya heran kan, "kalau pemenangnya banyak ya nanti menang semua dong?" Muncullah pertanyaan itu. Dan Anda tahu bagaimana jawabannya saudara-saudara?! 'Kita mau mengapresiasi usaha mereka, Bu. Lagipula semua anak itu juara.'

Sampai 2017, seingat saya tradisi lomba ala-ala itu masih ada. Tapi belakangan sepertinya sudah mulai hilang. Terbukti ketika lomba Muharram dan HUT RI kemarin pemenangnya sudah mulai lebih dikurasi. Tapi yang SD dan TK ini yang masih belum berubah. Saya perhatikan, sejak Qia sekolah sampai sekarang Aqsha mengalami lomba masih saja mereka dapat juara.

Yang membuat saya penasaran adalah, darimana orang-orang ini punya pemikiran aneh seperti itu. Saya paham tentang logika 'semua anak adalah juara'. Tapi mbok yo lihat konteksnya. Yang namanya lomba itu memang harus ada yang menang, Qia saja tahu tanpa perlu diajarin soal itu. Kalau bagi rapor tanpa peringkat itu juga saya paham, karena yang dinilai bukan satu atau dua kompetensi. Sementara yang namanya lomba, tentu saja spesifik. Lomba nyanyi, lomba ngaji, lomba nulis, dll. Pesertanya haruslah sudah merasa punya kompetensi untuk mengikutinya. Sehingga ketika ada yang lebih unggul dari dia hal itu akan memacunya untuk berjuang menjadi lebih baik lagi. Lha kalau usaha minimal saja sudah jadi juara terheboh, juara termanis, juara tersopan, kapan dia belajar gagalnya?!

Satu alasan yang pernah saya dengar dari salah satu rekan guru yang sebenarnya juga tidak setuju dengan konsep aneh ini tapi tidak punya daya dan upaya untuk berbuat sesuatu adalah bahwa kasihan kalau anak-anak yang masih kecil harus mengalami hal yang menghancurkan hatinya. Dan alasan itu justru membuat saya semakin heran, sekaligus menyimpulkan sesuatu juga sih. Heran karena saya tidak mengerti bagaimana mungkin orang-orang dengan pengalaman bertahun-tahun menjadi pendidik kok bisa tidak tahu bahwa kalau anak sejak kecil tidak pernah mengalami kegagalan justru dia akan menjadi rentan ketika dewasa. Dan disaat yang bersamaan saya pun jadi maklum kenapa anak-anak Islam Terpadu itu rata-rata daya juangnya rendah sekali. Karena memang jarang mengalami kegagalan. Pokoknya juara. Selama lombanya di lingkungan sendiri pasti menang. Lihatlah anak-anak IT yang ikut lomba di luar lingkungannya, jarang yang menang kan?!

Jadi ya gitu. walaupun diminta untuk mengambil bingkisan juara saya pun tidak terlalu semangat untuk ke sekolah karena saya tahu kualitas Aqsha belum cocok untuk jadi juara. Saya hanya berharap tradisi aneh ini suatu saat akan disadari oleh mereka dan diperbaiki.

You May Also Like

1 komentar

  1. Halo Mbak salam kenal ya~

    Setuju sih, harusnya kalau yang namanya lomba ya memang ada juaranya. Justru dengan begitu kita ikut melatih mental anak-anak juga, mental berkompetisi dan juga ngelatih buat bersikap sportif menerima kekalahan.

    BalasHapus