SLIDER

Fitrah: Sifat bawaan setiap anak

Mengapa anak-anak tidak mengalami kesulitan untuk beriman kepada Allah dan risalah-Nya, meskipun mereka tidak dapat melihat-Nya? Mengapa seorang anak merasa begitu mudah dan alamiah untuk berdoa, berpuasa, dan mengenakan hijab, dan seringkali menikmati prosesnya? Mengapa seorang anak yang baru berusia dua tahun mampu salat sendiri, melindungi dirinya dari segala bentuk gangguan?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini sangat jelas dan sederhana -Allah telah menempatkan di dalam diri kita masing-masing sebuah anugerah yang menarik dan istimewa yang tidak akan kita sadari jika bukan karena Islam. Ini adalah anugerah fitrah (kecenderungan bawaan untuk mengenal Allah). Ini adalah salah satu cara agar kita dapat memahami keberadaan Allah (selain alam, wahyu, dan akal) dan menyadari tujuan penciptaan kita. Ini juga merupakan nikmat yang penting bagi orang tua ketika mereka berusaha untuk mengajarkan anak-anak mereka tentang Allah dan agama Islam. Ini adalah fondasi yang menjadi dasar dari segala sesuatu yang dibangun, yang sudah ada sejak lahir. Ini adalah benih yang ditanam di dalam diri setiap anak kita yang perlu dipelihara untuk menghasilkan tanaman yang berbunga indah. Sebagai orang tua, kita hanya perlu menyediakan air dan sinar matahari. Dengan pemahaman ini, pendekatan pengasuhan anak menjadi lebih positif dan penuh harapan.

Photo by Wil Stewart on Unsplash

Apa itu fitrah?

Fitrah biasanya digambarkan sebagai sifat bawaan dan murni dalam diri manusia yang membuat manusia mampu mengenal Allah dan menerima agama-Nya. Fitrah adalah kecenderungan bawaan menuju kesadaran akan Allah dan penegasan akan keberadaan-Nya; pengetahuan bahwa ada Dzat Yang Maha Esa yang menciptakan kita dan dunia di sekitar kita. Ini adalah kemampuan yang diciptakan oleh Allah di dalam diri manusia yang terukir di dalam jiwa kita. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an oleh Allah .

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًۭا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS Ar-Rum:30)

Pada dasarnya, maksudnya adalah bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan suci di mana tauhid menjadi pusatnya. Hal ini kemudian mendorong seseorang untuk tunduk sepenuhnya pada kehendak Allah dan mencari cara untuk lebih dekat dengan-Nya. Islam sendiri disebut sebagai din al-fitrah (agama fitrah manusia) karena Islam adalah agama yang akan membimbing manusia menuju keimanan yang benar kepada Allah dan pemenuhan potensi ini secara sempurna. Para nabi diutus untuk mengingatkan manusia akan fitrah ini dan mengajarkan mereka hukum Islam sebagai panduan komprehensif untuk hidup dalam ketundukan kepada Allah. Para nabi sendiri, sebagai berkah dari Allah, mempraktikkan panduan ini dan menjadi contoh yang teguh dan patut diteladani bagi umat manusia.

Perjanjian tauhid yang tertulis pada setiap jiwa

Pada saat jiwa-jiwa diciptakan, setiap orang membuat perjanjian dengan Allah. Allah  menyebutkan perjanjian tersebut dalam ayat berikut:

هَـٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍۢ. مَّنْ خَشِىَ ٱلرَّحْمَـٰنَ بِٱلْغَيْبِ وَجَآءَ بِقَلْبٍۢ مُّنِيبٍ

"(Dikatakan kepada mereka,) “Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang bertobat lagi patuh. (Dialah) orang yang takut kepada Zat Yang Maha Pengasih (sekalipun) dia tidak melihat-Nya dan dia datang (menghadap Allah) dengan hati yang bertobat." (QS Qaf:32-33)

Dalam ayat lain, Dia  menjelaskan perjanjian ini,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,” (QS Al-A'raf:172)

Dengan demikian, salah satu cara kita mengetahui tentang Allah adalah bahwa Allah ada di dalam jiwa kita sendiri; Allah ada di dalam fitrah kita. Keyakinan akan tauhid (keesaan Allah) terukir di dalam diri kita. Ini adalah perjanjian kita dengan Allah. Setiap anak dilahirkan dengan kecenderungan alami untuk percaya dan menyembah Allah, untuk menjadi orang yang saleh dan berbudi luhur, dan untuk memiliki pemahaman yang benar tentang posisinya di alam semesta. Dia yang berserah diri secara alami akan menjadi seorang Muslim, karena semua manusia dilahirkan sebagai Muslim. Jika tidak ada perubahan yang terjadi pada pembawaan anak, ia secara alami akan condong kepada Allah dan akan mengikuti kehendak-Nya. Ketika ia mencapai usia baligh, ia akan dengan mudah memilih agama Islam daripada sistem kepercayaan lainnya. Inilah hubungan dengan Sang Pencipta yang akan membimbing anak pada pemahaman tentang kebaikan dan keburukan, serta kebenaran dan kebatilan sepanjang hidupnya.

Photo by Collabstr on Unsplash

Pengaruh orang tua

Anda mungkin bertanya pada diri sendiri, “Mengapa begitu banyak orang yang menjauh dari sifat alami mereka? Mengapa begitu banyak orang memilih penindasan di bumi?” Hal ini dapat dijelaskan oleh hadis Nabi  berikut ini, yang mengatakan: “Setiap anak yang baru lahir dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana seekor binatang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Apakah kamu melihat ada di antara mereka yang dilahirkan dalam keadaan dimutilasi?” Hadits ini menjelaskan fakta bahwa pengaruh lingkungan setelah kelahiran membuat seseorang menyimpang dari fitrah dan jalan Allah. Penyimpangan ini tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang salah dalam diri seseorang, karena fitrah itu murni dan baik. Mereka yang menolak agama Islam, pada dasarnya, melawan fitrah mereka. Jika dibiarkan sendiri, tanpa campur tangan, seseorang akan secara alamiah beriman kepada Allah, tauhid, dan Islam.

Seperti yang disebutkan dalam hadis, orang tua adalah faktor lingkungan utama yang menjauhkan seseorang dari fitrahnya. Orang tua yang membesarkan anak sebagai seorang Yahudi, Nasrani, Majusi, atau penganut agama lain, seringkali mewariskan agama yang sama dengan yang diajarkan oleh orang tua mereka. Orang tua berbagi keyakinan, nilai, moral, dan cita-cita dengan anak-anak mereka. Hal ini dilakukan melalui pemodelan, interaksi, pengajaran, dan sebagainya. Penelitian, pada kenyataannya, telah menunjukkan bahwa ketika anak muda memasuki usia dewasa, mereka membawa nilai dan moral yang sama atau serupa dengan yang diajarkan oleh orang tua mereka. Efeknya umumnya menarik dan bertahan lama. Penting untuk dicatat bahwa meskipun orang tua adalah faktor kunci dalam penyimpangan dari fitrah, pengaruh lingkungan lainnya juga dapat berperan. Sekolah, guru, teman, anggota keluarga besar, dan media semuanya memberikan pengaruh terhadap pikiran dan perilaku seorang anak.

Pengaruh setan

Setan juga berperan dalam upaya mengganggu fitrah. Tekanan dan kekuatan setan dan para pendukungnya dalam kehidupan manusia sangat jelas. Setan akan berusaha menipu kita dengan cara apa pun yang ia bisa, dan ia mulai bekerja pada anak-anak sejak mereka dilahirkan. Kita diperingatkan dalam Al-Qur'an,

قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لَـَٔاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَـٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَـٰكِرِينَ

"Ia (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS Al-A'raf:16-17)

Sarana yang telah Allah berikan kepada orang-orang beriman dirancang untuk melindungi fitrah dari tipu daya dan jebakan setan.

Tanggung jawab orang tua dalam kaitannya dengan Fitrah

Pengetahuan ini secara eksplisit menyoroti peran penting orang tua dalam membesarkan anak-anak mereka. Orang tua bertanggung jawab untuk memelihara kecenderungan fitrah dan melindunginya dari kerusakan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajarkan anak tentang Allah dan Islam sejak ia dilahirkan. Kata-kata pertama yang didengar oleh seorang bayi adalah “Allahu akbar, Allahu akbar”, bagian dari adzan, yang diucapkan di telinga anak pada saat ia lahir. Kehidupan anak harus ditanamkan dengan mengingat Allah sejak saat itu dan seterusnya. Ia harus melihat orang tuanya berdoa dan membaca Al Qur'an setiap hari dan mendengar mereka mengucapkan bismillah, alhamdulillah, dan bentuk-bentuk pujian lainnya kepada Allah. Semua bentuk keburukan harus dihindari sejauh mungkin. Jika hal-hal ini tercapai, anak akan mengembangkan iman dan taqwa dan akan berusaha untuk menaati Allah. Pengembangan pemikiran dan perilaku Islami pada anak kemudian akan menjadi tugas yang mudah, hampir tanpa usaha.

Benih fitrah membutuhkan sinar matahari dan air yang dapat disediakan oleh orang tua. Hal ini akan memungkinkan iman tumbuh menjadi tanaman yang kuat dan indah. Adalah tanggung jawab orang tua untuk menjadi tukang kebun dan pemelihara fitrah ini. Orang tua berkewajiban untuk mengarahkan wajah anaknya ke arah agama Islam. Mereka tidak boleh membiarkan pengaruh lingkungan merusak tanaman yang sedang tumbuh ini. Allah telah menciptakan kita dengan cara tertentu dan Dia telah memberi kita alat untuk menyelesaikan tugas tersebut. Sebagaimana tanaman yang dipelihara akan tumbuh dengan mudah, demikian juga dengan iman anak Anda. Dengan dasar fitrah, pertumbuhan iman merupakan pengalaman alamiah manusia.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Zuzu Syuhada • Theme by Maira G.