Reading Radio Silence as an adult (Book Review)

by - Juni 15, 2021

 


Judul : Radio Silence
Penulis : Alice Oseman
Bahasa : Inggris
Format : EPub, 358 halaman
Penerbit : HarperCollins Publisher (2016)
Harga : Rp. 55.169

Blurb:
What if everything you set yourself up to be was wrong?  
Frances has been a study machine with one goal. Nothing will stand in her way; not friends, not a guilty secret – not even the person she is on the inside. Then Frances meets Aled, and for the first time she's unafraid to be herself.  
So when the fragile trust between them is broken, Frances is caught between who she was and who she longs to be. Now Frances knows that she has to confront her past. To confess why Carys disappeared…

Frances is going to need every bit of courage she has.

Engaging with themes of identity, diversity and the freedom to choose, Radio Silence is a tour de force by the most exciting writer of her generation.

Saya perlu berpikir agak lama untuk membuat review novel ini. Sebagai orang dewasa (ceileh), jarang membaca fiksi, tidak kenal dunia remaja, apa saya cukup capable untuk mereview sebuah novel Young Adult?! Tapi novel ini membuat saya nggak berhenti berpikir. Berpikir tentang kemampuan penulisnya yang luar biasa, tentang isu yang termuat di dalamnya, dan tentang diri saya sendiri yang juga pernah menjalani masa remaja. 

...

Oke, sudah cukup kontemplasinya. Langsung saja kita bahas novelnya.

Radio Silence bercerita tentang Frances, seorang anak SMA yang gila belajar. Dia pintar, head girl di sekolah, dan mau masuk Cambridge. "I was going to get a good job and earn lots of money, and I was going to be happy." Dari deskripsi ini kita bisa lihat kalau Frances adalah anak muda yang punya cita-cita dan tahu apa yang harus dia lakukan untuk masa depannya. Tapi ternyata tidak, saudara-saudara. Frances tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak mengerti mengapa dunia harus (terlihat) berjalan seperti itu. Dia menjalani hidupnya dengan semangat belajar yang tinggi hanya karena dia melihat bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan cara itu; belajar dan bekerja keras, kuliah di kampus ternama, pekerjaan tetap, karir cemerlang, penghasilan yang banyak. Itulah kebahagiaan yang dia lihat.

Tapi jauh di lubuk hatinya, sebenarnya dia sama sekali tidak peduli dengan itu semua. Dia menjadi study machine hanya karena ingin mencapai kebahagiaan yang sama dengan kebanyakan orang. Walaupun kebahagiaan versi dirinya sendiri adalah menyimak video podcast favoritnya di YouTube, Universe City lalu membuat fan art dan mempostingnya di Tumblr dengan memakai nama akun samaran. Dia tidak mau memakai nama aslinya karena tidak ingin terlihat orang sudah melakukan hal sia-sia, walaupun membuatnya bahagia. Tidak ada yang tahu bahwa School Frances hanyalah apa yang dia tampilkan di hadapan orang lain. Real Frances dia sembunyikan di dalam kamarnya, jauh dari jangkauan orang lain bahkan ibunya sendiri.

Kita akan menyimak cerita Frances menjalani tahun terakhir di sekolahnya sepanjang novel ini, dari sudut pandangnya. Semuanya bermula dari pertemuannya dengan Aled Last, cowok aneh yang sebenarnya adalah tetangga depan rumahnya tapi tidak pernah bertegur sapa. Mereka seumuran, tapi Aled setahun lebih tinggi level sekolahnya sehingga ketika Frances baru naik jadi senior Aled sudah masuk Universitas. 

Tidak ada yang aneh. Semua berjalan sesuai rencana. Hingga suatu hari, Frances mendapat DM di Twitter dari kreator Universe City yang meminta dia menjadi animator untuk acara podcast tersebut. Tentu saja Frances kegirangan dan menerima tawaran itu. Surprisingly, tak lama setelahnya Frances tidak sengaja mengetahui bahwa Aled adalah kreator Universe City. Dari situlah, persahabatan dua anak muda ini dimulai.

Semakin sering ngobrol, Frances menyadari bahwa ternyata dia memiliki banyak kesamaan dengan Aled. Dia merasa mereka punya selera yang sama dalam banyak hal, sehingga Frances merasa bisa menjadi dirinya sendiri ketika bersama Aled. Aled menjadi satu-satunya sahabatnya. 

Konflik mulai muncul ketika Frances dan Aled ribut karena suatu hal. Aled yang sudah mulai masuk kuliah dan tinggal di asrama kampus, akhirnya menarik diri dan tidak bisa dihubungi lagi. Frances yang merasa sangat bersalah berusaha memperbaiki hubungan persahabatan mereka disela-sela kesibukannya sendiri mendaftar ke Cambridge.

***

Kalau cuma membaca sinopsis di atas, mungkin yang terbayang di benak kita adalah "yaaa..... tipikal cerita anak remaja jaman sekarang laaah....". Tapi saya berani bilang, "No, no, ini beda." Memang novel ini menceritakan permasalahan anak remaja yang kesannya biasa saja. Tapi karena kita membacanya dari sudut pandang Frances, kita bisa benar-benar merasakan apa yang dia rasakan, precisely

Kalau selama ini kita sering kebingungan menghadapi anak remaja dan tidak mengerti apa maunya mereka, bacalah novel ini. Karena di sini kita akan tahu apa yang sebenarnya dipikirkan mereka ketika berhadapan dengan orang dewasa. Saya sendiri sering tersenyum-senyum sendiri ketika bertemu dialog-dialog Frances dengan orang-orang di sekitarnya. Di mulut dia bilang begini, padahal dalam hatinya dia sendiri tidak setuju dengan dirinya sendiri.

She asked me, "Remind me why you wanted to be head girl?"
And I said, "Because I'm great at it," but I was thinking, because universities love it.

Atau ketika Frances merasa putus asa untuk menjelaskan sesuatu kepada kepala sekolahnya,

I stopped speaking. There was no point trying to argue. There was no way she was going to even attempt to listen to me.
They never do, do they? They never even try to listen to you.

Dua kutipan itu hanya sebagian kecil dari sempurnanya Alice Oseman meng-capture karakter Frances sebagai representasi jiwa remaja yang kebingungan. Dan di sepanjang novel ini, kita akan melihat bagaimana Frances mencoba memahami kejadian-kejadian penting dalam hidupnya yang sulit untuk dia hadapi. Kita akan menyaksikan Frances menertawakan keputusan-keputusannya sendiri, menangisi kebodohannya sendiri, merasa tidak berguna karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong orang yang dia sayangi, dan masih banyak lagi gejolak perasaan yang tergambar cantik dengan narasi-narasi yang pas.

Begitu tepat sampai pada titik tertentu saya ikut menangis melihat Frances yang putus asa karena benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Saya bahkan sampai menahan nafas ketika menyaksikan scene tentang abusive parent dari kacamata Frances yang memiliki ibu terbaik di dunia. Frances yang ketakutan, ingin menolong tapi juga tidak berdaya. Kita benar-benar diajak untuk berempati dengan anak-anak muda ini menghadapi kegagalan dalam hidup dan berdamai dengan kondisi-kondisi yang tidak mereka harapkan.

***

Di 2 bab pertama sejujurnya saya agak bosan membaca novel ini, karena tidak terlalu banyak yang terjadi dan menurut saya karena hal itu Alice justru jadi terlalu terburu-buru di bagian akhir. Hal ini yang membuat saya -awalnya- jadi malas melanjutkan ketika pertama kali membacanya. Novel ini sempat saya tinggalkan selama 2 bulan. Untungnya saya memutuskan untuk melanjutkan karena memang sejak awal sudah suka dengan penggambaran karakternya. Dan karena memang saya adalah character-focused reader, di bagian tengah cerita saya mulai merasakan emosi dari cerita ini.

Karena ini pertama kalinya saya baca novel luar negeri bergenre Young Adult, terus terang saya sangat kagum dengan gaya penulisannya. Apalagi jika dibandingkan dengan novel-novel Teenlit/Chicklit milik murid-murid yang sering saya temukan di asrama. Kualitas narasi novel ini jelas jauuuuuh melampaui itu semua. Kita bukan hanya diceritakan tentang kisah anak remaja yang remeh-temeh, tapi juga diajak mendalami perasaan mereka, memahami permasalahan yang mereka hadapi, dan peduli dengan pilihan-pilihan hidupnya.

Rating : 4/5 🌟🌟🌟🌟

You May Also Like

0 komentar