Ikut-ikutan berkemajuan, ternyata malah mundur kejauhan

by - Juni 05, 2021

Manusia adalah musuh bagi apa yang tidak dia ketahui. Gara-gara ribut sama suami barusan, saya merenungkan lagi kalimat itu. 

Saya dan suami tidak meributkan masalah penting sebenarnya. Hanya sebuah gambar dengan ungkapan J*nc*k dan sebuah kalimat "Jika ucapan j*nc*k bisa menyatukan umat, kenapa memakai ucapan Tauhid untuk memecah belah umat". Kurang lebih seperti itu kalimatnya. Tampaknya benar, tapi menyesatkan. Dan suami saya, seperti biasa tentu saja tidak setuju dengan saya. 

Saya heran bagaimana mungkin orang-orang sekarang begitu mudah mengucapkan ungkapan-ungkapan asing yang sebenarnya bisa saja merusak perangai mereka. Di zaman seperti sekarang, banyak sekali istilah-istilah asing yang terdengar keren tapi sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan kita, lebih jauh lagi bahkan bisa saja bertentangan dengan nilai keIslaman kita.

Kalau memang manusia akan memusuhi hal-hal yang tidak mereka ketahui, bukankah seharusnya mereka akan berhati-hati dengan istilah-istilah asing itu?! Harusnya mereka menaruh curiga dengan segala hal baru yang tiba-tiba lewat di beranda sosial medianya?! Harusnya mereka waspada dengan narasi-narasi -yang katanya- modern dari yutuber-yutuber terkenal yang muncul di deretan trending. Tapi kenapa yang terjadi justru malah sebaliknya?! Banyak muslim yang begitu bangga merasa open-minded dengan mengampanyekan istilah-istilah yang mereka tidak paham maknanya. Feminisme misalnya. Bukankah seharusnya mereka mencari tahu dulu makna istilah itu sebelum ikut-ikutan menjadi pejuangnya? Memangnya mereka tidak tahu bagaimana sejarah gerakan itu muncul dan perjalanannya sampai sekarang merembet ke mana-mana?!


Makin saya pikirkan, ternyata kesimpulannya justru sebaliknya. Mereka memang tidak tahu, tapi masalahnya adalah mereka tidak tahu kalau mereka tidak tahu. Mereka merasa tahu, mereka menganggap bahwa mereka sudah paham. Karena merasa sudah paham, jadi mereka bersikap sesuai dengan persepsi mereka. Demikian juga ketika berhadapan dengan ajaran Islam. Karena merasa sudah paham, mereka pun menilai ajaran Islam sesuai dengan persepsi dan pemahaman mereka.

Maka ketika kedua hal yang bertentangan ini ada di hadapan, mereka menilai dengan persepsi dan pemahaman yang samar-samar. Yang satu hadir dengan sedikit dukungan, sementara yang satunya lagi muncul dengan hingar bingar keindahan. Tentu saja mereka akan memilih yang lebih m
enarik di mata. Kenyataan ini membuat saya kembali teringat kepada satu fakta lagi tentang tanda-tanda hari akhir, yaitu ketika Dajjal sudah muncul di hadapan manusia. Pada saat itu bahkan manusia akan mengira bahwa dia telah berada di jalan yang benar karena saking meyakinkannya tipu daya Dajjal terhadap mereka.

Lha menghadapi tipu daya pendukung Dajjal saat ini saja kita sudah seperti sapi dicolok hidungnya, bagaimana nanti kalau benar-benar bertemu Dajjal?!

You May Also Like

2 komentar

  1. itulah mbak yang juga saya sangsikan. Saya pun memfollow beberapa akun feminisme itu karena penasaran, tapi dalam hati juga kobat kabit. Apalagi ilmu saya masih dangkal sekali dengan Islam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hidup di zaman sekarang seringkali membuat saya berpikir untuk lebih fokus sama diri sendiri tapi at the same time begitu khawatir dengan dunia. Dan sepertinya hal seperti itu wajar ya?! Karena memang kapasitas kita ya hanya sebatas ini.

      Hapus