Setelah Hari yang Panjang

by - Mei 30, 2021

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 
Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang



Hari-hari selama pandemi menjadi sangat melelahkan. Tapi di sisi lain, ada banyak keindahan dan kebaikan yang saya dapatkan darinya. Pagi ini saya memutuskan untuk membuat blog baru sebagai tanda bahwa saya ingin menjalani target kehidupan yang baru. Ya, walaupun tentu saja sebenarnya tidak butuh blog baru juga sih, tapi rasanya saya sudah kehilangan minat untuk menghias blog lama. Semacam perasaan ketika diary/journal lama milik kita sudah penuh, tentu kita butuh yang baru kan?! Blog itu sudah berusia 12 tahun, pasti dia sudah lelah dirombak terus. 😅

Intention

Beberapa waktu lalu, ketika saya ng-ide untuk ngeblog lagi sempat ada lintasan pikiran bahwa blog sepertinya sudah tidak relevan lagi saat ini. Orang-orang lebih banyak aktif di sosial media, saya sendiri tiap hari bisa berjam-jam scrolling Instagram tanpa melakukan apa-apa. Kalau sekadar mau sharing ide atau pengalaman, sosmed adalah tempatnya. Dan seperti biasa, karena saya selalu ragu dengan diri sendiri maka saya mencoba mencari tahu apakah memang blogging sudah tidak relevan lagi saat ini. Hasilnya, menyadarkan saya.

Saya menemukan sebuah blog yang baru berusia satu tahun, yang membahas relevansi blog saat ini jika dibandingkan dengan sosial media dalam menghasilkan rupiah. Tentu saja blog memang tidak secepat sosmed dalam menarik iklan atau sponsor, tapi blog bisa bertahan lama. Bahkan sebenarnya di luar negeri blog tetap menjadi salah satu sumber penghasilan yang menjanjikan. Saya setuju, seringkali ketika mencari ide dengan topik tertentu di Pinterest, saya selalu diarahkan menuju sebuah blog yang biasanya bagus dan menarik.

Lalu di artikel yang lain saya menemukan opini bahwa blog itu ibarat rumah, sementara sosmed itu hanya tempat nongkrong. Selama apapun kita nongkrong di Facebook, penting untuk kembali ke rumah. Sekeren apapun tampilan kita di Instagram, kalau punya blog pasti akan dianggap lebih profesional. Tapi bagi saya kalimat itu bermakna lain.


Saya menyadari sesuatu, bahwa selama ini saya selalu merasa tidak nyaman jika terlalu banyak bercerita di sosial media. Setiap kali membagikan story yang agak banyak, saya berpikir 'ah, udah kebanyakan'. Setiap kali ingin menulis opini yang mengganggu pikiran, saya khawatir akan menyinggung orang lain. Saya merasa tidak menjadi diri sendiri. Ternyata selama ini saya lupa untuk pulang ke 'rumah'. Saya lupa bahwa di sini saya bisa melakukan apa saja sesuka hati tanpa khawatir dengan penilaian orang lain. Karena biasanya yang berkunjung ke blog adalah orang-orang yang suka membaca. (if you know what I mean)😆

Lalu, setelah hari yang panjang saya memutuskan untuk membuat blog baru ini. Saya pun berjanji kepada diri sendiri untuk jujur di sini, menyampaikan uneg-uneg tanpa ragu dan mungkin nanti curhat sepuas hati. Lebih dari itu, semoga saya bisa mendokumentasikan hal-hal penting dalam hidup untuk nanti saya buka kembali 10 tahun yang akan datang. Saat itulah mungkin saya akan tersadar kembali betapa Allah begitu baik dan sayangnya kepada saya karena telah mengabulkan doa-doa yang tak terucap atau justru menyelamatkan saya dari keinginan-keinginan yang menjerumuskan.

You May Also Like

0 komentar