Buku yang Saya Baca di Tahun 2018

by - January 03, 2019



Buku-buku yang saya baca di tahun 2018 tidak banyak. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Beberapa hari yang lalu ketika saya memosting sebuah template di Instagram Story tentang target jumlah buku yang ingin dibaca tahun ini, seorang teman berkomentar, “Dikit amat, Ka. Dulu kan dikau predator?”

Sejujurnya saya juga menyesal kenapa sekarang jadi begitu malas membaca buku. Padahal buku-buku milik suami pun banyak, belum semua saya lahap. Saya tetap membaca, tapi yang dibaca caption instagram. Paling mentok baca koran digital. Makanya saya jadi merasa sangat ketinggalan jaman ketika teman-teman saya cerita soal macam-macam teori parenting terbaru misalnya.

Nah karena tahun ini saya bertekad untuk membaca buku lagi, maka saya memutuskan untuk review dulu tentang buku-buku yang sempat saya baca di 2018. Dan kemarin seharian saya bongkar semua buku yang saya punya di rumah. Ternyata walaupun tidak satupun buku selesai saya baca, tapi lumayan banyak kok. –lega--. Saya jadi tidak terlalu merasa bersalah karena tahun 2018 buku-buku yang saya baca termasuk genre yang membosankan semua. Tapi walaupun ‘berat’ dan nggak kelar dibaca, ilmu yang saya dapat lumayan banyak. Setidaknya untuk modal sok tahu di depan murid.

Di foto ini adalah buku-buku yang paling banyak saya buka. Ketika saya mulai menulis postingan ini, saya baru sadar kalau ternyata ada beberapa buku lain yang sudah saya baca juga. Mungkin nanti akan saya buatkan reviewnya sendiri. Setuju?! Untuk kali ini, saya mau cerita yang ada dulu. Jadi, inilah 9 buku yang saya baca di 2018.


Segenggam Iman Anak Kita

Saya mengenal sosok Ust. Mohammad Fauzil Adhim ketika usia 16 tahun. Waktu itu saya menemukan sebuah buku kecil milik kakak yang judulnya cukup menggelitik, “Salahnya Kodok”. Dari membaca buku itulah saya mulai mengenal istilah parenting, dan mulai tahu bahwa ternyata model-model parenting yang sering dipraktikkan orang tua Indonesia kebanyakan bermasalah.

Sebelum ini saya sudah pernah membaca beberapa buku parenting, tapi tak satupun yang membuat saya tertarik. Alasannya karena banyak dari teori-teori itu bertentangan dengan nilai yang saya miliki bahkan ketika mereka –para master parenting itu—mengklaim bahwa teori mereka berasal dari Islam.

Buku ini, dengan gaya tulisan khas beliau sangat bersesuaian dengan apa yang saya ingin kenalkan pada anak saya. Ust. M. Fauzil Adhim tidak hanya membawa dalil untuk mendukung teorinya tapi juga mengenalkan dengan teori psikologi kontemporer yang banyak digandrungi orang saat ini. Bedanya, orang-orang banyak yang salah kaprah mengambil nilai sains dan mencari pembenaran dalil. Sementara Ust. M. Fauzil Adhim menemukan dalil baru memberi contoh praktik yang sudah berhasil. Sehingga tidak ada pembandingan di dalam buku ini. Kita sebagai orang tua diajak untuk merefleksi ulang orientasi kita dalam mendidik anak.

Saya sendiri agak heran mengapa beliau jarang sekali diundang di seminar-seminar pernikahan atau parenting di daerah saya. Sebagai guru, yayasan di tempat saya bekerja selalu mengundang pakar parenting 6 bulan sekali untuk mengisi pelatihan guru tapi tak pernah sekalipun mengundang beliau. Bahkan tak pernah sekalipun beliau dijadikan rujukan oleh para pakar parenting yang saya kenal itu. Mungkin karena nilai yang diusung berbeda, jadi tak mau dijadikan rujukan?! Entahlah. Yang pasti saya merasa sangat puas setelah membaca buku ini sekaligus malu karena ternyata sungguh saya hanyalah orang tua apa adanya.

Maraqi’ Al-‘Ubudiyyah & Ta’lim Muta’allim

Kedua buku (kitab) saya gabung karena sebenarnya alasan utama saya membelinya hanya karena penasaran dengan terjemahannya. Saya sudah pernah mengaji kedua kitab ini ketika masih di pesantren, jadi sedikit banyak sudah mengerti isinya. Maraqi’ Al-‘Ubudiyyah ditulis oleh salah satu tokoh Islam Indonesia yang berpengaruh. Beliau, Imam Nawawi Al-Bantany pernah menjadi imam di Masjidil Haram. Kitab ini hanyalah salah satu dari ratusan kitab yang pernah beliau tulis. Isinya tentang adab-adab seorang muslim dalam beribadah sehari-hari. Di dalamnya tertulis panduan lengkap bagaimana adab tidur hingga cara bergaul dengan sesama makhluk Allah. Di dalamnya juga ditulis nasihat untuk pendidik bagaimana cara bersikap terhadap murid, dan anjuran untuk bersabar terhadap kekurangannya.

Oh iya, beberapa bulan lalu saya sempat kaget gara-gara ada isu bahwa cawapres nomor urut 01 dikabarkan adalah keturunan Imam Nawawi ini. Shock sekaligus nggak percaya dong, karena sebagai santri NU tradisional yang saya tahu para keturunan kyai tidak pernah mau dekat dengan pejabat atau bahkan dunia politik. Saya masih ingat betul ketika suatu hari dalam kajian, Abah berpesan kepada kami, "Jangan pernah kalian merendahkan diri di hadapan pejabat (penguasa), karena kita lebih utama dibanding mereka. Jangan sampai kita menjual agama hanya untuk mendapat selembar uang mereka." Sombong?! Ya makanya muridnya kayak saya. 😃 Dan wajar kalau pesantren saya lambat berkembangnya karena Abah tidak mau menerima bantuan apapun dari pemerintah untuk pesantrennya. Belakangan saya tahu kalau isu hanya hoax. Nah kalau orang-orang NU berdarah biru yang berpolitik itu gimana?! Saya ingin menjelaskan tapi mungkin nanti ya. 😉

Kalau kitab Ta’lim Muta’allim saya yakin banyak yang sudah tahu, minimal mendengar namanya. Kitab ini juga sudah sering dibuat syarahnya orang ulama zaman dulu. Isinya tentang adab seorang penuntut ilmu. Tapi kalau yang kalian pikirkan adalah adab dalam majelis, itu salah besar. Bukan hanya adab di dalam majelis saja yang dibahas dalam kitab ini, melainkan adab secara keseluruhan seorang penuntut ilmu. Misalnya disampaikan bahwa seorang penuntut ilmu itu tidak diperbolehkan jajan sembarangan di pinggir jalan, karena hal itu bisa merusak wibawanya sebagai ahli ilmu. Di dalamnya juga dijelaskan jenis makanan yang harus dihindari karena bisa menurunkan daya ingat. Ada juga anjuran untuk selalu membawa tinta dan pena untuk mencatat segala hal ilmiah yang didapat. Sayang sekali kitab ini tidak menjadi rujukan di lembaga pendidikan Islam modern, padahal di dunia pesantren justru ini menjadi kitab wajib sebelum para santri belajar ilmu yang lainnya.

Ruqyah, Jin, Sihir dan Terapinya

Buku ini saya beli karena keluarga angkat saya tak juga selesai menghadapi permasalahan sihir. Saya ingat betul, kehidupan keluarga angkat saya tak pernah lepas dari dunia mistis ini. Pengalaman-pengalaman mistis juga sudah sering saya alami sejak kecil. Dari melihat bola api jatuh di halaman rumah, Ibu yang kena pelet, sekeluarga disantet sampai kedua motor dicuri tapi tidak berhasil dibawa pergi. Dan ternyata setelah saya tidak tinggal di rumah hal-hal seperti itu masih saja terjadi. Keponakan saya yang sakit tanpa tahu apa penyebabnya, bisnis kakak yang selalu rugi, sawah yang tidak pernah menghasilkan panenan seperti seharusnya, dan seterusnya.

Sebagai anak angkat tentu saja saya tidak menerima akibat dari segala jenis teluh yang pernah dialami keluarga angkat. Tapi saya tidak tega melihat keluarga saya selalu dijahati orang. Sayangnya sampai saat ini saya masih belum berhasil membujuk mereka untuk ruqyah, malah orang tua dan kakak sudah terlanjur pergi ke Jawa. Katanya sih mereka mau tinggal di sebuah pesantren. Saya berharap itu pesantren sungguhan, bukan padepokan abal-abal yang justru akan menambah penderitaan.

The Golden Story of Umar bin Khaththab

Membaca sejarah tokoh Islam selalu menarik bagi saya. Terkhusus Umar bin Khaththab. Karena saya juga sama seperti dia. Bukaaaan, bukan level keimanannya. Tapi sama-sama hijrah. Kalau sahabat-sahabat lain banyak yang memang sudah baik di awal, Umar adalah salah satu penentang Islam yang paling penasaran untuk membunuh Rasulullah. Bandingkan diantara 4 sahabat utama, semuanya adalah orang terdekat Rasulullah selain Umar. Membaca kitab ini, dan menonton serial Omar adalah sebuah paket lengkap. Bukunya yang tidak monoton, banyak menunjukkan gambar dan peta kondisi Jazirah Arab pada saat itu membuat saya bisa membayangkan seperti apa kondisi dakwah Rasulullah dan para sahabatnya. Apalagi kalau sudah pernah ke sana langsung ya?! Pasti bakal tambah terharu rasanya hati ini.

Saya sangat merekomendasikan buku-buku terbitan Maghfirah untuk kalian yang gampang bosan membaca buku teks. Karena penyusunannya benar-benar memanjakan mata. Walaupun harga bukunya lumayan tinggi, menurut saya itu sebanding dengan hikmah yang bisa kita resapi lebih dalam dibanding hanya membaca teks di buku tanpa gambar pendukung.

Pendidikan Anak dalam Islam

Saya mendapatkan buku ini gratis, dari sebuah kuis iseng-iseng di grup WA guru. Alhamdulillah rejeki saya yang memang sudah penasaran dengan buku ini sejak lama. Saya pikir juga tidak perlu menulis reviewnya karena ini buku wajib parenting Islam, pasti banyak yang sudah membaca. Kalau ingin mengetahui tentang konsep dasar pendidikan anak dalam Islam, ini bukunya. Tapi karena di dalamnya hanya memuat konsep dasar ya jadi normatif sekali. Contoh-contoh yang diberikan juga tidak se-up to date buku-buku parenting kekinian yang banyak beredar. Tapi kembali lagi, yang namanya buku induk tetap wajib dimiliki supaya kita tidak kehilangan konsep dan ide dasar sebuah teori. Iya kan?!

Al-Aqidah Ath-Thahawiyah

Ini juga buku wajib seorang muslim, karena ilmu yang paling wajib dipelajari seorang muslim adalah ilmu tauhid. Tidak ada alasan khusus saya membeli buku ini. Hanya karena saya muslim, saya harus punya referensi untuk menguatkan kembali aqidah supaya tidak melenceng dari tujuan diciptakan saya sebagai makhluk Allah.

Mukaddimah

Ini bukan buku baru. Saya membelinya tahun 2012 ketika sedang menyusun skripsi karena ini jadi salah satu rujukan utama. Buku ini benar-benar jadi bantal paling setia saat itu. Tahun 2018 lalu saya iseng baca-baca lagi karena dulu yang saya baca hanyalah bab yang dibutuhkan untuk skripsi. Dan ternyata setelah dibaca lagi, ada banyak hal di dalam buku ini yang menarik untuk dikaji. Sayangnya saya sudah tidak punya forum lagi untuk mengkaji bab-bab di buku ini lebih dalam. Jadi buku ini saya simpan lagi dan cukup jadi pajangan di rak buku pribadi.

Selain buku-buku berat di atas saya juga membaca beberapa buku ringan, diantaranya Rentang Kisah dan Dilan. Ya saya harus baca karena kedua buku itu nge-hype banget dikalangan murid, jadi sebagai guru saya kan harus update. Dan karena tidak ada yang menarik dari kedua buku itu, jadi saya merasa tidak perlu membahasnya.

Tahun 2019 saya berencana membaca buku-buku yang lebih duniawi. Beberapa rekomendasi sudah masuk dari teman-teman saya, seperti The Geography of Genius sampai buku Purpose-nya Alamanda Santoso. Kalau kalian baca postingan ini, please kasih rekomendasi juga ya...

You May Also Like

3 komentar

  1. Wahhh banyak bacaannya.. sedih aku mah tahun kemarin bolong banyak, ke distraksi sama drama korea yg lagi hits.. hahaha tahun ini semoga bisa lebih banyak buku yang dibaca..

    ReplyDelete
  2. wow mantab.. disela-sela kesibukan masih bisa membaca, saya jarang banget baca, paling baca blog aja

    ReplyDelete
  3. Bacaannya berat semuaaa �� akumah apa atuh Mbak.. bacaanku mah masih romance ajaaa haha

    Semoga tahun ini makin semangat baca ya Mbak :)

    ReplyDelete