Apa yang Terjadi di 2018, Bagaimana 2019?!

by - December 31, 2018

Tidak membuat resolusi sepertinya sebuah kesalahan bagi saya. Bagi orang yang suka menunda, hidup mengalir apa adanya itu sungguh sebuah bencana. Lihat saja, tahun 2018 saya cuma 8 kali posting tulisan di blog. Mubazir banget kan?! Bahkan gara-gara itu, kemarinan saya sempat berpikir untuk nggak memperpanjang domain. Pikir saya, 'buat apa toh saya tetep males nulis?!'. Tapi alhamdulillah pikiran busuk itu cepat saya buang. Udah punya blog pun masih nggak produktif, apalagi dianggurin. Mau ngapain saya?!

Oke, satu kegagalan di atas sudah cukup dievaluasi. Selama ini memang problem utama saya cuma satu, malas. Makanya saya selalu cari cara supaya sifat satu ini bisa musnah dari muka bumi ini. Browsing punya browsing, bulan November lalu saya nemu artikel atau pin gitu -saya lupa- tentang sesuatu yang bernama bullet journal. Seru banget gitu kayaknya, mencatat secara manual aktifitas-aktifitas yang sudah dan akan dilakukan. Dan itu menginspirasi saya untuk ikut bikin bullet journal. Insyaallah nanti akan saya bahas lebih lanjut, tapi sebelumnya saya mau refleksi dulu hal-hal yang terjadi di hidup saya selama 2018.

Belongs to anjahome.com
Resign

Ini adalah resolusi tahun 2017 yang baru terlaksana tahun 2018. Banyak kendalanya, waktu itu sudah pernah saya singgung di sini. Gimana rasanya jadi full ibu rumah tangga?! Nggak enak. 😂. Makanya baru berapa pekan nganggur saya langsung cari kegiatan lagi. Akhirnya saya ngajar ngaji di salah satu lembaga tahsin. Secara finansial, ngajar privat sebenarnya lebih banyak hasilnya lho. Tapi ternyata saya nggak nyaman karena kalau ngajar harus bawa anak. Atau kalau saya nggak mau bawa anak, mereka saya titipkan ke suami yang sebenarnya juga kerja. Wes lah jadi njelimet akhirnya. Tapi ya dijalanin aja, karena sudah jadi pilihan kan?!

Pindah Rumah

Karena sudah nggak ngajar lagi, otomatis saya nggak jadi wali asrama lagi. Otomatis harus keluar dari asrama. Dan akhirnya menempati rumah sendiri, Alhamdulillah. Banyak hikmah yang saya rasakan sejak tinggal di rumah sendiri. Saya banyak sekali belajar lebih dalam tentang karakter suami, karena selama ini ketemu dia cuma malam dan itupun langsung tidur. Yang paling melegakan adalah Qia akhirnya bisa lepas pospak karena sudah punya kamar mandi sendiri. 

Daftar PNS

Ini adalah hal yang paling tidak saya harapkan dalam hidup. 😃 Awalnya karena penasaran aja dan dukungan dari orang tua akhirnya saya coba daftar. Namanya juga iseng, pas gagal yasudah biasa saja. --nyesek juga sih karena nilai TKP cuma kurang 3 poin--. Eh nggak tahunya Allah masih kasih kesempatan buat belajar, saya lulus SKD dengan perankingan. Begitu lihat list nilai, saya mulai galau takut lulus lagi. 😅 Tiap hari curhat sama suami tapi malah sama dia dikira ngebet PNS, duh. Akhirnya karena merasa nggak yakin sanggup jadi PNS, belajar apa adanya menjelang SKB buat nyenengin orang tua saja. Dan benar, saya nggak lulus dengan nilai lumayan tinggi, Alhamdulilllah. Paling nggak buat pengalaman. Kalau tahun depan disuruh daftar lagi sama orang tua dan merasa siap, saya sudah tahu caranya. Daftar PNS ini juga membawa hikmah besar, saya jadi sering telponan sama orang tua baik yang kandung maupun angkat. Terharu loh ketika tahu ternyata mereka punya harapan juga dari anak durhaki (n. istilah anak durhaka untuk perempuan dalam keluarga kandung saya) ini. Bikin saya jadi agak merasa bersalah gitu pas tahu nggak lulus SKB. Tapi mau bagaimana lagi, saya belum siap jadi ASN. Maaf saja ya, saya termasuk yang nggak percaya kalau jadi ASN itu enak. Orang terdekat saya nggak ada yang membuktikan itu. Kakak ipar saya selalu bawa kerjaan kantor ke rumah. Sahabat saya selalu sibuk Senin-Jumat sampai nggak bisa curhat-curhatan sama saya, Sabtu-Ahad hari keluarga buat kami. Pokoknya saya belum pengen, done.

Menemukan Hal-hal Baru

Yang paling menyenangkan dari tahun 2018 adalah hal-hal menarik yang baru saya temukan. Sejak iseng download aplikasi pinterest saya jadi tahu bahwa ada yang namanya bullet journal. Sampai ada komunitasnya, video tutorialnya berseliweran di youtube, sampai ada quran journal dan seterusnya. Lalu saya juga mulai tertarik untuk belajar tahsin bersanad, dan mulai merasa butuh dengan syahadah. Sebagai guru ngaji, ternyata mendapat lisensi lisan dari para masyayikh itu nggak cukup. Butuh sertifikat juga. Bahkan ternyata sertifikat itu adalah salah satu budaya dalam keilmuan Islam yang kemudian diadopsi oleh dunia pendidikan saat ini. Terus saya jadi inget kan kalau tahun 2018 akhirnya berhasil kursus bahas Inggris, harusnya ditulis di atas tapi males ngedit. --tepok jidat--. Mungkin sertifikatnya sudah hilang, 😐

Hal baru lain yang saya temukan adalah bahwa ternyata ada kuliah online yang terjangkau dan diakui. Buat kalian yang ingin cari tempat kuliah keislaman online, coba deh kunjungi Islamic Online University. Di situ ada program S1 dan S2 super terjangkau full online dan ijazahnya diakui di Indonesia. Tadinya saya juga berencana untuk daftar, tapi berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah bahwa saya adalah orang konservatif dan konvensional yang mana kalau belajar harus tatap muka langsung akhirnya niat itu saya urungkan. Tahan-tahan sampai tahun 2019 semoga masih ada kesempatan untuk kuliah di kampus beneran.

Lalu, 2019 mau ngapain?!

Saya masih nggak mau muluk-muluk, tahun ini ingin buat resolusi yang masuk akal juga seperti tahun lalu tapi lebih terstruktur. Salah satu target saya tahun ini adalah NGAJAR LAGI. "Loh?!" Iya, setelah beberapa bulan di rumah saya mulai banyak refleksi diri bahwa sepertinya saya memang bukan tipe ibu rumahan. Walaupun bukan peminat ibu bekerja juga, tapi yang pasti jadi stay at home mom jelas bukan pilihan bijak untuk saya. Saya lebih banyak stress dan buntu karena jarang ketemu orang yang bisa diajak diskusi. Kalau dulu waktu masih ngajar, paling nggak saya bisa ajak diskusi teman kerja saya tentang banyak hal bahkan tentang sesuatu yang mereka nggak tahu. Tapi karena diskusinya sama orang yang terpelajar (aka. hidup di lingkungan orang belajar) jadi nyambung gitu loh. Sementara jadi ibu rumah tangga saya harus bergelut dengan kejulitan tetangga setiap hari yang saya rasa sudah cukup saya lihat di sosmed saja. 

Awal bulan Desember lalu saya sudah bilang ke suami kalau saya mau ngajar di SMA yang sedang dibangun yayasan tempat saya bekerja dulu. Saya pikir kalau ngajar SMA akan lebih mudah dibanding SMP. Dan ini bukan sekadar bayangan saya saja. Dulu waktu masih kuliah juga saya lebih memilih ngisi sanlat untuk anak SMA karena lebih bisa menyentuh mereka lewat diskusi-diskusi yang mungkin agak berat untuk anak SMP. Dan saya juga inginnya mengajar mata pelajaran biasa, bukan Tahsin/Tahfidz supaya jam kerjanya nggak terlalu banyak. Tapi ya lihat saja nanti.

'Ya berarti sama aja dong, jadi ibu bekerja juga bakalan ninggalin anak-anak?' Iya dan tidak. Iya karena berarti saya harus ninggalin anak-anak. Mungkin nanti pilihannya adalah titipkan Aqsha ke daycare sementara Qia insyaallah tahun ini mulai sekolah. Tapi paling tidak saya memilih bekerja di lingkungan yang saya yakin nggak akan memberi efek negatif untuk saya yang lemah iman ini. Tempat kerja baru ini juga dekat dengan rumah dan sekolah Qia. Ada daycare juga di dekatnya. Jadi pada dasarnya saya tetap bisa ketemu sama anak-anak di jam-jam tertentu. Saya pikir akan lebih baik anak-anak bahagia main dengan teman daripada manja dengan Uminya.

Selanjutnya mungkin agak mengejutkan. Saya sudah memutuskan untuk nggak melanjutkan bisnis Oriflame. Sejak belajar tentang dunia kecantikan, saya jadi makin aware dengan ingredients produk sampai bagaimana proses produksi hingga ke distribusi. Dan bismillah saya mantap untuk GOING CRUELTY FREE mulai tahun 2019. 'Bukannya Oriflame itu halal?' Nah soal ini sepertinya saya mau bahas khusus di blog satunya saja. Di sini bukan tempatnya. 😉

Selanjutnya yang mau saya lakukan adalah MERAPIKAN BLOG. Salah satu usahanya sudah saya selesaikan kemarin, yaitu ganti template. Saya sudah puas dengan template yang baru ini. Lebih ringan dan aesthetic menurut saya. Kalau menurut kalian nggak begitu ya maafkan, jangan nyinyir. Dan karena saya sedang keranjingan bullet journal, sepertinya saya ingin buat label khusus tentang bullet journal di blog ini. Selain itu juga postingan-postingan yang nyerempet-nyerempet agama mungkin akan saya labeli dengan qur'an journal. Pokoknya nanti kalian akan lihat label di list Categories di sidebar akan lebih rapi, insyaallah.

Hal personal dan yang terakhir ingin saya lakukan di tahun 2019 adalah STOP BEING SILENT MAJORITY. Istilah ini saya dengar dari adik kita yang terkenal, Gita Savitri Devi. Sebenarnya ini bukan personal ya, kan akhirnya saya jadi harus sering speak up. Tapi maksud saya adalah membangun karakter untuk lebih berani mengutarakan pendapat di ruang publik gitu loh. Entah kenapa sejak menikah saya jadi lebih sering menahan diri untuk speak up. Untuk bicara atau menanggapi masalah-masalah sensitif yang sekarang sering viral jadi agak ragu gitu. Mungkin karena usia, jadi banyak pertimbangan?! Entahlah. Tapi setelah dengar omongan adik Gita saya jadi ingat kalau saya dulu lumayan vokal ketika masih mahasiswa. Harusnya semangat itu nggak boleh punah setelah nggak kuliah lagi kan?! Apalagi di tengah dunia yang makin carut marut ini, saya ingin sedikit berkontribusi untuk menyiapkan generasi yang lebih peka dan bertanggungjawab. Mungkin nanti saya juga akan buat label sendiri untuk menuangkan buah pikiran tentang isu-isu sosial yang saya lihat. Jadi please jangan ilfeel kalau nanti kalian akan lebih sering baca konten politik di blog ini ya, harap maklum karena saya alumni filsafat politik.

Sebenarnya saya punya banyaaaak sekali keinginan untuk diraih. Seperti baca buku lagi, kuliah lagi, bikin buku, kursus ini itu, dll dll. Tapi yang harus diprioritaskan sepertinya itu dulu. Kalau terlalu banyak nanti terbengkalai lagi. Jadi harus didahulukan yang paling rasional dan mungkin untuk diaplikasikan. Kalau kalian, punya planning apa di 2019?! 

You May Also Like

5 komentar

  1. iya...speak up itu gak hny butuh keberanian tapi juga pemahaman terhadap issu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya makanya sering ragu kalo mau komentar. Tapi kalo diem aja juga jadi gak bagus. 😊 Makasih udah mampir ya Mbak, seneng gitu didatengin orang kece 😁

      Delete
  2. Halo mbak, salam kenal :)
    Keren bgt alumni filsafat politik. Looking forward to read more your blog nih. Semoga resolusi tahun 2019 tercapai ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan gak bikin bingung ya nanti opini-opininya 😂. Salam kenal juga

      Delete
  3. Huaaaa, saya jg lagi maju mundur utk belajar bullet journal Mbak. Gegara lihat blog Mbak Evva yg selalu bahas BuJo, saya jg jadi pengen buat tapi sampai hari ini belum mulai, hoaaaam.

    Ayooo Mbak, semangat untuk resolusi 2019 nya yaaahh. ;)

    ReplyDelete