Serius dalam Bercanda

January 19, 2017


Sering saya mendengar teman-teman bicara, "Jangan terlalu serius lah..." atau, "Cuman bercanda aja lho..." untuk membenarkan candaan mereka yang berisi kedustaan.

Saya sebenarnya bukan orang yang anti dengan candaan. Saya juga suka mendengar atau menyaksikan banyolan, walaupun tak menjadikannya hiburan favorit. Hiburan utama buat saya adalah ketika saya punya waktu sendiri tanpa gangguan siapapun. Tiap orang berhak dong punya bahagia versinya masing-masing.



Mungkin karena karakter saya yang penyendiri itu, kemudian saya tidak terlalu suka bermain-main. Menurut ibu saya, sejak kecil saya tidak terlalu suka bermain. Ketika masuk TK, saya hanya bertahan 3 bulan sekolah. Selanjutnya saya tidak mau sekolah lagi. Alasannya, "masa' sekolah tiap hari cuma main-main, lompat-lompat, nyanyi-nyanyi. Kapan belajarnya?" Sounds weird? Percayalah, bukan cuma saya yang punya karakter seperti itu.

Qadarullah saya sudah mampu membaca di usia 3 tahun, bapak yang ajarkan. Sebagai anak pedagang di pasar, setiap hari saya ketemu dengan majalah dan koran bekas. Toko obat di depan toko saya juga banyak sekali memasang monster dan brosur di display tokonya. Jadi, saya sudah akrab dengan tulisan sejak umur setahun. Buku adalah mainan saya. Semenjak kenal komputer, buku berubah jadi teman dan komputer jadi mainan. Karena dibiasakan belajar sejak kecil oleh bapak, saya jadi anak yang serius. Malas bergabung bermain dengan anak-anak sebaya karena menurut saya itu tak bermanfaat. Saya lebih senang belajar membaca bersama bapak daripada harus bercapek-capek lari-larian kesana-kemari tak punya tujuan. Ketika dewasa pun saya juga bingung kok bisa anak usia balita punya pikiran seperti itu.

Tapi Alhamdulillah saya akhirnya tahu bahwa tidak cuma saya yang punya karakter seperti itu. Beberapa teman pun ada yang begitu. Salah satu teman kuliah saya pun, punya cerita seperti itu. Salah satu teman mengajar saya saat ini juga begitu. Bahkan mereka tidak mengalami sekolah TK. Karena mereka tidak suka. Main-main itu buang-buang waktu. Mereka beruntung, di tempat mereka dulu tak perlu punya ijazah TK untuk masuk SD.

Dengan mengetahui bahwa ada orang yang seperti saya, kemudian saya lumayan bersyukur sih. Artinya saya ini nggak aneh kan?! Makanya, kalau ternyata Anda punya anak yang tidak suka bermain ya jangan paksa mereka untuk bermain. Biarkan saja. Bisa jadi mereka adalah calon orang hebat. Lebih baik ajak anak unik itu untuk belajar. Pasti lebih bermanfaat.

Saya makin bangga punya masa kecil yang tak suka bermain ketika tahu bahwa salah satu ulama besar, Imam Nawawi juga tak suka bermain ketika kecil. Bayangkan saja, ketika Imam Nawawi masih kecil beliau justru menangis karena teman-temannya tak henti-henti mengajaknya bermain. Hingga seorang ulama menasihati ibunya, agar Imam Nawawi kecil dididik dengan benar karena ia calon orang besar. Kalau dulu saya dididik 'dengan benar' mungkin saya juga sudah jadi orang besar sekarang ya? Haha..

Kembali ke masalah bercanda tadi, saya sering sekali mendapati orang yang dalam kesehariannya selalu diisi dengan candaan. Setiap ada orang bicara, ia timpali dengan candaan. Bahkan hampir setiap ucapan yang keluar dari lisannya adalah candaan. Sehingga ketika dia bicara serius, orang lain tidak tahu. Ada lagi yang lebih parah. Bukan hanya suka bercanda tapi isi candaannya bisa dipastikan banyak mengandung kebohongan. Ini yang paling membuat saya tak suka.

Orang-orang seperti ini biasanya kalau ditegur, akan menjawab seperti yang saya tulis di awal tadi, 'ih, kan cuma bercanda sih. Serius amat hidup'. Hey, kita ini muslim. Jadi muslim itu harus serius. Iya benar Rasulullah juga bercanda, tapi Rasul tak pernah berdusta. Bahkan bercandanya Rasul suatu hari pernah membuat beberapa sahabat perempuan tua menangis. Kalian pasti sudah tahu ceritanya kan?

Entah kenapa, saya punya sudut pandang berbeda terhadap kisah ini. Ketika orang-orang menjadikan kisah ini sebagai dalil bolehnya bercanda, saya malah menganggap kisah ini menunjukkan mudharatnya bercanda. Bisakah kita bayangkan, kita menghadap Rasul dan meminta untuk didoakan masuk surga. Dengan harapan penuh kita meminta, ternyata Rasul menjawab bahwa di surga tak ada orang seperti kita. Bagaimana perasaan kita? Kalau saya sih, hancur lebur. Bukan lagi kaca pecah seribu. Mungkin jadi butiran debu. Saya akan merasa terluka, merasa sia-sia jadi manusia. Lebay? Nyatanya para sahabat wanita itu pada nangis kan?! Menangis sesenggukan lho. Bayangkan bagaimana hancurnya hati mereka kala itu. Hidup di jaman Rasul tapi tak bisa masuk surga. Ah, saya kok jadi mbrabak.

Ya, akhirnya Rasul menenangkan hati mereka kembali. Menjelaskan bahwa di surga semua orang akan jadi muda. Maka orang tua seperti mereka tak akan ada di surga, karena mereka akan muda kembali. Tapi bukan itu yang selalu jadi perhatian saya tentang bercanda. Bagi saya, sakitnya hati karena dicandai itu yang akan membuat saya kesal. Ya kalau Rasul yang bercanda pasti kita tak akan dendam. Tapi coba ingat-ingat, ketika teman kita ada yang mencandai kita dengan cara seperti Rasul itu tetap ada rasa kesal kan di hati? Ngaku aja. Rasanya di hati itu 'ih, ditanya serius kok jawabnya malah bercanda sih'. Bahkan kadang tidak hanya di hati, tapi sampai terucap juga. :)

Sekali lagi saya tak anti pada gurauan, hanya berusaha membatasinya. Sudah berusaha membatasi pun, masih ada orang yang menganggap omongan atau tulisan saya di status facebook -misalnya- adalah bercanda. Apalagi orang yang sehari-harinya suka bercanda? Bisa jadi ketika dia serius tak ada yang tahu karena biasa bercanda dalam setiap urusan. Dan saya rasa sebenarnya setiap kita tahu, bahwa bercanda pun ada adab-adabnya, apalagi bagi seorang muslim. Jangan sampai, kita menyesali kebiasaan bercanda selama hidup ini nanti di akhirat.


Powered by Blogger.