Kepadatan Penduduk; Sumber Masalah?

January 21, 2013


“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka; agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” QS Ar-Rûm:41
Judul sama dalilnya gak nyambung, ya?! :D
Setelah berdiskusi dengan mbak Yuni Haryati malam Ahad kemarin, saya mulai tertarik untuk kembali membuka kembali buku-buku yang sudah lama tidak saya baca. Dan mungkin ini sedikit jawaban atas kebingungan-kebingungan kita yang kemarin belum mendapatkan titik terang.
Rizky Ridyasmara dalam Novelnya yang berjudul Codex; Konspirasi Jahat Di Atas Meja Makan Kita mengemukakan fakta-fakta yang menunjukkan bahwa program Keluarga Berencana adalah salah satu konspirasi jahat para rasialis untuk memusnahkan ‘ras lemah’ dan memperbanyak ‘ras super’ sebagaimana yang dilakukan Nazi dengan salah satu programnya bernama Lebensborn.[1] Saya rekomendasi mbak Yuni baca novel ini.
Para ulama kita berbeda pendapat mengenai boleh atau tidaknya program Keluarga Berencana ini. Akan tetapi, -sebagai informasi untuk kita semua- Vatikan ternyata telah menolak program KB sejak awal diluncurkan sampai hari ini. Berdasarkan kajian dari perspektif Islam, program KB jika bertujuan untuk membatasi jumlah anak jelas bertentangan dengan salah satu tujuan disyariatkannya menikah, “Nikahilah wanita yang banyak anak lagi penyayang, karena sesungguhnya aku berlomba-lomba dalam banyak umat dengan umat-umat yang lain di hari kiamat dalam riwayat yang lain : dengan para nabi di hari kiamat”. [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Daud 1/320, Nasa'i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162 (lihat takhrijnya dalam Al-Insyirah hal.29 Adazbuz Zifaf hal 60) ; Baihaqi 781, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]
Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz menyatakan bahwa program KB yang bertujuan untuk membatasi jumlah anak, dilarang jika orang tuanya bermaksud agar kariernya tidak terganggu atau lain sejenisnya. Akan tetapi, jika dalam kondisi darurat diperbolehkan. Contohnya sang istri memiliki penyakit dalam rahimnya atau bagian tubuh yang lain yang akan mengancam nyawanya jika jarak kehamilan yang terlalu dekat.
Tidak boleh juga melakukan program KB jika hanya karena disebabkan kekhawatiran akan kemiskinan dan kelaparan. Hal ini disandarkan pada dalil QS Hûd:6, “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.”
Ternyata, masalah tentang kepadatan penduduk ini juga masih menjadi kajian menarik. Terbukti masih banyak kalangan yang menganggap bahwa kepadatan penduduk adalah sumber permasalahan yang ada di masyarakat kita. Ingat reklame di pinggir jalan sebelah terminal Rajabasa itu? Tulisannya kurang lebih memperingatkan kita untuk mewaspadai ledakan penduduk yang mengancam. Pertama kali membacanya, saya tersenyum kecut. Bagaimana mungkin kelahiran bayi menjadi ancaman bagi orang tuanya?
Diah juga menolak bahwa banyaknya anak akan mengakibatkan kualitas kesejahteraan sebuah keluarga menjadi menurun. Dalam Islam, sebuah keluarga dinilai sejahtera jika kebutuhan dasarnya telah bisa dipenuhi. Saya setuju. Jalaluddin Rakhmat juga pernah mengatakan bahwa Allah tidak miskin untuk menjamin makan penduduk walaupun jumlahnya sepuluh kali lebih banyak daripada hidup sekarang ini. Prof Roger Revelle dari Harvard, dunia ini masih sanggup memberi makan 40 sampai 50 milyar penduduk bumi.
Lalu saya teringat diskusi di sebuah forum yang saya ikuti siang kemarin. Sebuah pendapat mengemuka, bahwa salah satu penyebab kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini adalah karena banyaknya penduduk yang memerlukan rumah untuk tempat tinggal sehingga mengurangi daerah resapan air dan mengakibatkan bumi semakin berat. Sepintas, alasan ini terdengar rasional. Tapi tunggu dulu, apakah benar seluruh bumi kini telah begitu padat? Kalau menurut saya justru yang jadi masalah adalah pemerataan penduduk yang menyebabkan –sebagai contoh kemarin- Jakarta tenggelam. Sebagai pulau yang luasnya hanya 7% dari luas Indonesia, Jawa memikul beban 60% dari jumlah penduduk Indonesia. Sementara Kalimantan yang memiliki wilayah yang jauh lebih luas hanya dihuni oleh 5% penduduk. Artinya, ada kesenjangan yang mengakibatkan pulau Jawa selalu mendapat masalah terkait lingkungan hidup dan kependudukan.
Maka saya memilih untuk menyimpulkan bahwa kepadatan penduduk bumi sama sekali bukan masalah selama bisa dikelola dengan baik. Jika jumlah penduduk yang semakin bertambah ini sesuai dengan kualitasnya, maka bisa jadi sangat mungkin Indonesia akan mampu memperbaiki kondisi yang saat ini sangat menyiksa rakyat. Jika ada yang masih kurang sepakat, mari kita diskusi lagi di sini.


[1] Lebensborn merupakan program nasional Nazi untuk memperbanyak manusia-manusia dari darah murni Aryan. Caranya, semua anggota pasukan elit SS-Waffen yang telah diseleksi ketat kemurnian darah Aryannya sampai dengan abad ke-18, diharuskan menghamili banyak gadis-gadis Jerman yang juga murni darah Aryan. Bayi-bayi yang dilahirkan dipelihara dan dibesarkan oleh negara, tanpa harus tahu siapa orangtuanya.
Powered by Blogger.