Catatan Rihlah Akhir Tahun

January 03, 2013

Apa yang membuat PPM Darul Hikmah istimewa? Bukan karena kemampuan santri-santrinya yang di atas rata-rata. Bukan karena pengetahuan keIslaman mereka yang luar biasa. Kalau mengharapkan hal-hal seperti itu, rasanya akan kecewa jika Anda melihat institusi yang menyebut dirinya Pondok Pesantren Mahasiswa ini.

Saya juga awalnya agak heran dengan sistem di Pondok Pesantren ini. Nyatanya, proses belajar mengajar yang selama ini dijalankan terkesan ‘apa adanya’ dengan segala makna yang terkandung dalam frasa ‘apa adanya’ itu. Jika mengharap suasana Pesantren yang santri-santrinya selalu sibuk mengkaji ilmu, maka di DH tidak atau akan sulit ditemui saat-saat seperti itu.

Tapi ada satu hal yang kemudian membuat saya bangga berada di tengah-tengah komunitas santri ‘aneh’ ini. Dan rasa-rasanya akan sulit saya temui di tempat lain. Yaitu Ukhuwwah.

Bahkan Ustadz Tri sendiri pun menyatakan hal yang serupa. Bukan ilmu yang kita punya di sini, walaupun sebenarnya itulah yang diharapkan bagi para santri. Tapi karena dengan segala keterbatasan yang dimiliki, kita upayakan untuk memaksimalkan harmonisasi antar santri agar ada yang pantas untuk dikenang suatu saat ketika kita sudah tidak ada di tempat ini lagi.

Dan kami memulainya dengan program-program bersama yang dijalani selama ini. Mulai dari memasak bersama, bersih-bersih bersama, dan… rihlah bersama. Rihlah pertama hanya diikuti beberapa santriwati angkatan 2011 dengan tujuan kediaman Diah. Rihlah kedua ini, sebenarnya semua berharap agar dapat ikut meramaikan, tapi karena berbagai kondisi tidak memungkinkan maka harus tetap ada yang tertinggal di asrama dan jadilah pasukan santriwati DH berangkat dengan menunggangi kuda besi.

Awalnya saya sendiri juga berat untuk ikut agenda ini. Kondisi badan saya yang masih sangat lelah karena memang belum beristirahat total setelah safar ke Jogja, dan beberapa personel yang gagal turut serta membuat saya makin aras-arasen untuk ikut. Tapi saya sendiri tidak punya alasan apa-apa untuk mengundurkan diri dari agenda tersebut. Jadilah saya ikut dengan berpindah-pindah pembonceng.


 
Perjalanan pun dimulai. Tujuan pertama adalah kediaman Asih. Ini juga yang mesti jadi evaluasi ke depan. Ternyata, rute perjalanan pun baru dibentuk ketika sudah ada di perjalanan. (hadeuh…) Jadilah kami semua menuju ke 38 P Batanghari Lampung Timur yang lokasinya masih bersebelahan dengan Metro. Di rumah Asih, kami disambut Budenya Asih yang sudah merawatnya sejak kecil dan bahkan Asih sendiri sudah memanggil beliau dengan sebutan Mamak. Mbak Dewi dan Hilya menyusul hadir setelah kami semua sudah sampai. Tidak ada aktivitas berarti di sana, just silaturahim. Ngobrol-ngobrol dan makan. Tapi, setidaknya itu cukup memberi kesan yang baik bagi keluarga Asih bahwa kami mau berkunjung ke rumahnya walaupun jarak yang cukup jauh. Mudah-mudahan niatan itu terbaca. ^_^

The next destination adalah rumah Hilya di 21 Metro tepatnya di (ex) Pondok Pesantren Wahdatul Ummah. Yang datang menyusul di sini adalah mbak Deny. Setelah sholat dzuhur dan makan, barulah terjadi consensus tak terduga yang merubah rencana rihlah hari itu; berkunjung ke rumah saya.


Berbekal keinginan kuat untuk melihat budidaya jamur milik bapak, teman-teman pun sepakat untuk memutar haluan perjalanan melewati Pekalongan Lampung Timur menuju rumahku di Seputih Raman Lampung Tengah. Perjalanan yang saya prediksi hanya setengah jam sempat terhambat karena lambatnya laju motor dan harus muter-muter untuk mampir bertemu dengan orang tua mbak Deny demi ‘menyelamatkan’ dia. Jadilah satu jam kami habiskan di jalan. Tapi Alhamdulillah, saya senang ketika melihat teman-teman begitu heboh melihat kebun jamur di sebelah rumah. Mereka seperti mendapat tambahan tenaga setelah lelah berkendara.





Ba’da sholat asar, sedianya kami menuju rumah mbak Dewi di Untoro. Maka segera kami melaju kendaraan setelah sebelumnya mengganti ban motor Anis yang sudah miris kondisinya. Berharap dapat segera sampai, ternyata pengalaman berkendara menjadi kendala. Jalan Kotagajah-Punggur yang luar biasa membuat perjalanan pulang ini menjadi sangat panjang. Dan akhirnya di Punggur kami tertahan cukup lama karena hujan mengguyur dengan bebasnya. Setelah bermusyawarah lagi, kami memutuskan untuk nekat menembus hujan agar tak terlalu malam sampai Metro. Tapi lagi-lagi, ternyata insiden saling mendahului dan meninggalkan terjadi sehingga seringkali kami saling kehilangan jejak.



Maka, di pintu gerbang Metro kami berdiskusi kembali. Jam sudah menunjukkan 17.30 dan kami yakin tidak akan bisa sampai tepat waktu di Asrama jika tetap ingin ke rumah Mbak Dewi. Maka dengan sangat terpaksa niatan bersilaturahim ke sana tertunda untuk sementara. Dan kami pulang ke asrama dengan kesepakatan menjama’ sholat maghrib dengan ‘isya karena kondisi badan yang sudah basah.



Ada banyak yang perlu dievaluasi dari perjalanan kemarin. Salah satunya karena tidak adanya mas’ul perjalanan sehingga kita kebingungan ketika bermusyawarah. Kondisi kendaraan yang tidak diperiksa terlebih dahulu sebelum berangkat, dll. Tapi setidaknya yang bisa saya ingat adalah, kita menjadi lebih mengenal sedikit tentang karakter saudara kita dalam rihlah ini. Semoga ini bisa menjadi ingatan kita di masa depan.

Powered by Blogger.