Mengenang Tentang Lagu

September 20, 2018

Hari ini saya bernostalgia lagi. Kalau kebanyakan orang menunggu tanggal 19 sebagai pengumuman pembukaan CPNS, bagi saya hari ini spesial karena penyanyi favorit saya sepanjang masa Avril Lavigne akhirnya merilis lagu baru. Saya bahkan sampai menunggu hingga dini hari untuk menonton official lyric videonya di YouTube.

Mendengar lagu Avril yang baru membuat saya mengenang lagi masa-masa remaja. Entah harus tersenyum atau menangis kalau mengingatnya. Saya kembali tersadar, ternyata itu sudah 14 tahun berlalu. Sekarang saya sudah jadi manusia yang sama sekali berbeda.

Semua orang yang pernah kenal cukup dekat dengan saya pasti tahu kalau saya mengidolakan Avril Lavigne lebih dari penyanyi manapun di dunia. Bagi yang mengenal saya dengan sangat baik, mereka tak akan heran. Tapi bagi yang kenal saya baru sekarang-sekarang ini, biasanya mereka akan kaget. “How did you know about her?” Semacam pertanyaan seperti itu yang akan muncul. Wajar, karena saya yang dulu sungguh jauh berbeda dengan saya yang sekarang. Biasanya saya akan menjelaskan dengan singkat saja. “Saya dulu seperti tokoh dalam lagu Nobody's Home nya Avril”. Se-homeless itu. Dan hampir semua lagu Avril menjadi semacam motivasi bagi saya dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup, saat itu.

Ah, kalau sedang mengingat masa lalu perasaan saya selalu campur aduk sampai bingung bagaimana mau mengungkapkannya. Yang jelas, di tulisan ini saya hanya mau membuat kenangan bahwa ada masanya saya begitu rapuh, lebih rapuh dari sekarang. Dan yang menguatkan adalah lagu. Sebenarnya bukan hanya lagu dari Avril saja. Dulu banyak sekali musisi-musisi yang membuat lagu powerful dan tegas di lirik-liriknya sehingga membuat hati yang mendengar jadi makin kuat.

Tadi ketika saya membaca komentar-komentar di video YouTube, tiba-tiba saya tersadar akan satu hal. Ternyata ada banyak sekali orang yang menemukan semangat hidupnya kembali hanya dengan mendengarkan sebuah lagu. Maka nggak heran kalau banyak juga orang yang menemukan hidayah dari lagu. Saya bukan salah satunya sih, tapi paling tidak saya juga merasakan bagaimana lagu sangat membantu kondisi hati jika saya sedang merasa lemah. Di awal-awal saya mulai sadar ber-Islam nasyid-nasyid dari Raihan, Izzatul Islam dan Hijaz sangat membantu saya untuk bertafakkur. Bahkan hingga saat ini saya masih nggak bisa menahan air mata jika mendengar Ya Rasulallah atau Aku Hanya Umar. -bahkan saya nggak sanggup menyanyikannya-

Lagu-lagu Avril juga seperti itu. Bukan hanya powerful dari segi musik dan vocal. Lirik dan pembawaan dari dia sendiri membuat lagunya jadi meaningful. Saya pikir lagu-lagu jaman dulu kebanyakan seperti itu, makanya awet jadi hits sampai bertahun-tahun. Saya sempat nggak percaya ketika murid saya ternyata tahu lagunya Sheila on 7 yang rilis waktu saya masih kelas 2 SMP. Dan kelebihan ini saya rasa nggak ada di lagu-lagu kekinian -bahkan nasyid sekalipun-.

Saya pernah membahas hal ini dengan beberapa teman, dan ternyata mereka semua sepakat dengan pendapat saya. Lagu-lagu sekarang kurang terasa soulnya. Semuanya terdengar sama. I mean, kalau melihat ke masa remaja saya dulu yang tahu Avril Lavigne di sekolah nggak terlalu banyak. Apalagi Evanescence. Okelah banyak yang tahu, tapi mungkin nggak sampai ngefans seperti saya. Karena dulu bintangnya adalah Britney dan sejenisnya. Genre lagu begitu banyak bertebaran sehingga kami bisa pilih sesuai selera. Band dalam negeri pun sangat beragam pilihan musiknya, dari Jikustik sampai Jamrud, dari Shaden sampai Coklat, dari Flanella sampai Netral -NTRL sekarang- semua lengkap. Kami pendengar begitu dimanjakan dengan banyak pilihan musik.

Saya sempat berpikir sudah mulai tua karena nggak bisa menikmati lagu kekinian, tapi ternyata anak-anak jaman sekarang yang saya ajak membahas itu juga sepakat. Musik yang beredar saat ini terasa seragam. Taylor Swift yang awalnya dikira akan membawa genre baru ternyata belakangan ngepop juga. Beberapa band pop-punk-rock yang masih eksis saya lihat sudah nggak seheboh dulu tapi lumayan lah daripada nggak ada. Cuma ya itu, pendengar mereka rata-rata juga kami-kami saja yang memang tumbuh dewasa dengan lagu-lagu mereka. Sementara remaja sekarang?!

Sering saya mengernyitkan jidat ketika mendengar lagu dengan lirik yang menurut saya nggak ada nilai estetisnya sama sekali. Apalagi kalau dengar nasyid kekinian. Duh, isinya cinta-cintaan semua. Seolah para munsyid sudah kehabisan tema untuk dijadikan lagu. Akhirnya orang-orang seperti saya nggak punya pilihan selain kembali mendengar lagu-lagu jadul.


Tapi mungkin memang begitulah masanya sekarang. Saya memutuskan untuk tidak terlalu mempermasalahkan, toh hanya lagu. Nggak akan membawa ke surga 😁. Kembali lagi ke selera masing-masing, dengan nggak adanya pilihan untuk saya maka kembalinya Avril Lavigne benar-benar membuat saya senang hari ini. Saya merasa muda lagi, dan sepanjang hari hanya mengenang kenangan masa lalu yang mostly kelam dan penuh haru 😌😳.
Powered by Blogger.