Kabur

March 08, 2018


Kejadian sore ini mengingatkan saya pada kisah masa kecil, yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk menulis lagi setelah sebulan lebih blog ini sepi. Alhamdulillah.

Masih tentang cerita keseharian saya di sekolah, sore tadi hujan deras seperti hari-hari biasanya di awal bulan ini. Bahkan hujan turun lebih awal dari kemarin, sebelum Ashar sehingga mengganggu akses anak-anak menuju ke sekolah untuk ujian. Tapi karena jadwal sudah fix, kami tetap menjalankan ujian seperti biasa. Anak-anak sudah lumayan ramai di sekolah, kasihan kalau sampai ujian batal. Mereka sudah berpayah-payah menembus hujan hadir ke sekolah, jangan sampai kecewa. Beberapa anak ada yang tidak terlihat selama ujian. Kami pun berpikir mungkin yang tak hadir ini memang tak siap tersiram hujan maka mereka bertahan di asrama. Tidak mengapa, besok insyaallah masih ada hari.

Ketika menjelang maghrib, ramai di grup WhatsApp wali asrama membahas salah dua siswi yang 'menghilang' dari asrama. Ternyata mereka memanfaatkan momen hujan untuk pergi dari asrama. Memesan taksi online pulang ke rumah salah satunya. Entah bagaimana cara mereka memesan taksi online itu dan apa yang mereka lakukan, tapi mereka tak bisa --atau tak mau?!-- kembali ke asrama. Satu anak tetap di rumahnya, yang satunya lagi memilih menginap di kosan kakaknya.

Saya tak mau membahas terlalu detil tentang dua anak itu, tak enak juga kalau sampai 'aib' mereka terbongkar oleh saya kan?! Hanya sepenggal ceritanya saja yang kemudian membuat saya bernostalgia, adalah tentang sang orangtua. Singkat kisah, kami meminta kepada orangtua masing-masing anak untuk mengembalikan anaknya ke asrama malam ini juga. Bersikeras mereka beralasan tak bisa; lelah, sudah malam dan lain sebagainya.

Namun pada akhirnya salah satu orangtua luluh juga. Mereka bilang akan antarkan anaknya kembali ke asrama. Entah jadi atau tidak, saya tidak tahu karena anak itu tidak di bawah wewenang saya. Tapi pertanyaan orangtuanya itu membuat saya tak habis pikir, "Kenapa bersikeras harus diantar ke asrama? Bukankah sudah jelas si anak dengan keluarganya?"

Sepintas saja pertanyaan itu tentu masuk akal. Kenapa wali asramanya begitu bersikeras meminta anaknya dikembalikan ke asrama? Padahal si anak sudah aman, bersama kakak kandungnya sendiri. Insyaallah sudah tidak perlu khawatir lagi. Tapi bagi saya itu justru pertanyaan yang aneh.

Dan mari bacalah saya berkisah, tentang masa kecil saya dulu. Usia 8 atau 9 saat itu, antara kelas 4 atau 5 SD. Ya, saya terlalu dini usia ketika masuk SD. Biarlah, yang penting ingatan tentang kejadian itu masih lekat di kepala.

Hari Sabtu, dan saya berpikir ingin menginap ke rumah Mbah karena sudah cukup lama tidak ke sana. Kangen. Itu saja. Lagipula, saya selalu di rumah sendirian sepulang sekolah. Kakak saya sekolah di luar daerah, orangtua berdagang di pasar sampai maghrib menjelang. Menginap di rumah Mbah tentu menyenangkan karena di sana saya bisa bermain dengan sepupu saya yang juga seumuran. Rumah Mbah juga tak terlalu jauh, kurang lebih satu jam berjalan sudah sampai. Saya juga hafal jalannya. Pasti aman.

Lalu saya benar-benar pulang ke rumah Mbah. Teman-teman yang melihat saya berjalan ke arah berlawanan dengan mereka menanyakan, saya jawab saja sejujurnya. Dan benar saja, saya sampai di rumah Mbah dengan selamat. Tak ada penculikan menyeramkan seperti yang sekarang banyak terjadi. Sesampai di rumah Mbah, keluarga dan tetangga di sana pun kaget setengah mati. Di kampung kecil, pada tahun itu jarak tempuh 1,5 jam berjalan kaki bagi anak kecil itu jauh sekali. Lalu mereka mengutus seorang remaja ke pasar untuk menyampaikan pesan kepada orang tua saya, supaya mereka tidak khawatir kalau-kalau terlambat menyadari saya tak pulang ke rumah. Tapi ternyata sang utusan sudah terlambat. Toko orangtua saya sudah tutup, Bapak kebetulan pulang ke rumah dan mendapati rumah kosong. Bapak langsung ke pasar lagi dan bersama Mamak menutup toko lalu segera mencari saya ke manapun mereka bisa mencarinya. Baru sekarang lah saya bisa memahami bagaimana cemas dan khawatirnya mereka dulu mencari saya. Apalagi dulu tak ada telepon atau WA.

Singkat cerita, orangtua saya mendapat informasi dari seorang teman bahwa saya pulang sekolah mengambil jalan yang berbeda. Maka orangtua saya langsung ngeh kalau saya ke rumah Mbah. Terkonfirmasi, mereka menyusul. Dan yang mengejutkan waktu itu adalah Bapak yang biasanya emosinya mudah meledak justru tidak marah kepada saya. Bapak hanya bertanya kepada saya, "Jalan dengan siapa, lewat mana, berapa lama dan kenapa bisa dampai senekat ini?"

Jika sampai di sini masih belum juga tahu apa yang hendak saya sampaikan, baiklah saya teruskan. Tebaklah sedikit apa yang kemudian orangtua saya lakukan. Mereka bawa saya pulang. Padahal saya sudah berlelah-lelah jalan dari sekolah sendirian ke rumah Mbah. Saya sudah aman dan senang di sana. Saya juga sudah bilang kalau saya kangen dan ingin menginap di sana. Tapi orangtua saya tetap tidak mengizinkan saya menginap saat itu. Tentu saya tak tahu --atau tahu tapi belum paham-- maksud mereka. Saya kecewa, sedih dan marah pada orangtua saya saat itu.

Dan sekarang ketika saya mendengar cerita kedua siswi ini, hati saya tiba-tiba meleleh mengingat orangtua saya. Betapa sikap mereka yang tetap membawa saya pulang saat itu membuat saya sekarang paham tentang sebuah adab. Bahwa meskipun sesuatu terlihat baik, jika dilakukan dengan cara yang tidak benar tetap saja tidak bisa diterima. Maka saya tak habis pikir, ketika sang orangtua siswi ini bertanya dengan begitu polosnya, "Kenapa harus diantarkan malam ini juga? Padahal kan dia sudah jelas ada di tempat kakaknya?"
Powered by Blogger.