Ngobrol Tentang 4 Pilar MPR RI Bersama Netizen Lampung

November 22, 2017
Beberapa hari yang lalu saya dan teman-teman di komunitas Tapis Blogger mendapat undangan untuk menghadiri sosialisasi 4 Pilar dari MPR RI. Tidak seperti sosialisasi 4 Pilar yang sudah-sudah, bagi saya acara kali diadakan lebih 'wah' dan eksklusif. FYI, selama masih jadi mahasiswa saya juga sudah 2 kali mengikuti sosialisasi ini. Kali ini acara diadakan di sebuah hotel di Bandarlampung dengan suasana yang lebih santai. Sesuai dengan judul besarnya; Ngobrol Bareng Netizen. Ya, mungkin karena yang diundang adalah aktivis sosmed maka kemasan acaranya pun berbeda dengan kemasan acara untuk mahasiswa yang lebih terkesan seperti seminar.

Dalam acara yang diadakan di Swiss-Bell Hotel Bandarlampung itu, hadir Kepala Biro Humas MPR RI Siti Fauziah, S.E., M.M, dan Sekretaris Jenderal MPR RI, Ma'ruf Cahyono, S.H., M.H. Dengan bahasa yang ringan dan santai, Ibu Siti Fauziah berpesan kepada netizen untuk membantu mengisi alokasikan 4 pilar kepada masyarakat. Karena tidak bisa dipungkiri, netizen saat ini telah menjadi yang terdepan dalam memberikan informasi kepada publik. Lebih lanjut, Bapak Ma'rufiCahyono memberikan pengantar yang lebih mendetil tentang implementasi 4 pilar secara sederhana. Terus terang, gaya bahasa yang dipakai beliau terasa lebih mudah dipahami jika dibandingkan dengan seminar-seminar tentang 4 pilar yang pernah saya ikuti.


Sambil duduk di acara itu saya sempat berpikir, membicarakan negara dengan status sebagai ibu rumah tangga menjadi sedikit berbeda bagi saya. Jika dulu ketika masih menjadi mahasiswa dan aktif berkegiatan di beberapa lembaga kemahasiswaan dan LSM saya sering berdialektika dengan isu-isu kebangsaan, maka sekarang ketika sudah menjadi ibu rumah tangga (IRT) membicarakan tentang negara menjadi sedikit sulit. Pasalnya kami para IRT setiap hari sudah sibuk dengan tetek bengek urusan anak dan rumah yang tidak pernah selesai, sungguh tidak ada waktu untuk memikirkan Pancasila, Undang-undang Dasar, apa itu NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Namun yang perlu saya syukuri saat ini adalah, saya yang pernah jadi mahasiswa jadi lebih mudah untuk relate ketika kembali memperbincangkannya.

Tidak banyak yang bisa saya rekam pada acara tersebut, tapi dari yang sedikit itu cukup untuk membuat saya kembali merenungi posisi saya sebagai warga negara. Bekerja sebagai guru, saya sering mengeluhkan akhlak anak-anak murid yang jauh dari baik. Hal-hal yang remeh saja, semisal tunduk hormat pada guru rasanya sekarang sudah sangat jarang saya lihat. Belum lagi cara mereka bergaul dengan sesamanya. Alangkah banyak sekarang kita dengar kasus bullying terjadi di mana-mana, membuat saya seringkali berpikir, "apakah dulu ketika remaja saya juga seperti itu?"

Zaman sudah berubah. Di tengah kondisi dunia yang serba permisif dan derasnya arus informasi saat ini, saya merasa tugas menjadi guru dan -atau lebih pribadi lagi-- IRT menjadi lebih berat. Menanamkan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal saja butuh banyak perjuangan, apalah lagi ditambah dengan rasa bangga berbangsa dan bertanah air. Lantas saya mulai mencari-cari, tentulah ada yang hilang dari bangsa ini sehingga membuat generasi zaman ini kehilangan jati diri. Saya masih ingat, dulu waktu SD harus menghafal 27 Provinsi dan ibukotanya sampai kepada rumah adat dan sedikit budayanya. Isi UUD 1945 seperti menempel di kepala. Bahkan ketika kelas 4 SD, saya sempat menghafal 36 butir-butir Pancasila entah untuk apa. Tapi berbelas tahun kemudian, saat inilah saya mulai paham bahwa apa yang pernah saya pelajari dulu bukan sekadar hafalan saja. Ada alasan mengapa di suatu daerah orangnya berpakaian tertentu, tidak sama dengan yang saya pakai. Atau mengapa di daerah lain orang meninggal tidak dikubur tapi malah dikremasi. Saya lebih bisa memaklumi perbedaan, memaafkan kesalahpahaman, dan menjalin pertemanan dengan siapa saja.


Tantangan yang dihadapi generasi saat ini selain minimnya penanaman nilai, juga serangan dari pengaruh buruk media sosial. Siapa yang bisa menyangkal, sumber berita palsu (hoax) paling mudah diakses lewat media sosial. Kalaupun bukan hoax, maka setiap kali mampir di lini masa Facebook atau Instagram biasanya yang muncul hanyalah konten-konten viral yang tidak bermutu bahkan merusak moral. Maka dari situlah kiranya yang menjadi alasan Zulkifli Hasan, ketua MPR yang juga asli dari Lampung mengadakan sosialisasi 4 Pilar MPR kepada netizen. Yang saya tahu, kegiatan ini sudah dilaksanakan di berbagai kota sebelumnya.

Di media sosial kita bisa melihat orang memposting gambar-gambar yang isinya menghina orang lain. Di media sosial juga kita bisa membaca tulisan-tulisan yang mengandung ujaran kebencian. Jika tidak punya filter dari dalam diri, maka pasti akan sangat mudah untuk terprovokasi dan akhirnya saling membenci. Belum lagi berita-berita palsu yang bertebaran yang makin membuat resah, ditambah dengan kegaduhan skandal macam-macam artis yang menjadi panutan anak-anak remaja kita. Maka ada tanggungjawab untuk kita menahan itu semua. Sebagai pengguna media sosial dan sebagai orang yang lebih dewasa mestinya kita bisa menjadi contoh bagi mereka bagaimana caranya agar tidak terpengaruh hal-hal yang merusak seperti itu. Bukannya ikut-ikutan meramaikan lapak para pencari follower dari postingan hoax dan gosip. 

Satu hal lagi yang sangat dibutuhkan adalah menanamkan nilai-nilai kebaikan untuk generasi saat ini. Yang paling mendasar saja, ajarkan nilai-nilai ketuhanan yang benar pada anak-anak kita sehingga mereka nanti tidak gagu ketika bicara tentang toleransi. Tidak rancu ketika membahas perbedaan. Sehingga benturan dan serangan apapun yang dihadapi mereka, tidak akan meruntuhkan pondasi akhlak yang tertanam kuat dalam diri mereka.
Powered by Blogger.