(Apakah) Saya Harus Sekolah Lagi

October 03, 2017
pixabay.com

Nggak terasa sudah masuk bulan Oktober, artinya nggak lama lagi 2017 akan segera berakhir. Beberapa waktu lalu saya sempatkan untuk melihat kembali resolusi 2017 yang dulu pernah saya buat di awal tahun. Lalu saya pun segera tersadar, belum ada satupun dari resolusi itu yang saya wujudkan. Saya masih begini-begini (aka. malas-malasan) saja. Ketika di bulan Juni kemarin saya sudah memutuskan untuk berhenti kerja pun, ternyata suami masih ingin saya tetap bekerja. Masuk akal sih, supaya keberadaan saya di asrama ini tidak mubazir. Tapi sepertinya suami tidak mengerti seberapa parah tekanan yang saya rasakan dengan menjalani profesi sebagai guru.

Tapi walaupun tidak berhasil mengejar resolusi, paling tidak ada banyak hal lain yang saya temukan dan lakukan di 2017 ini. Dan saya mensyukuri itu. Saya sempat bertemu dengan orang-orang baik yang luar biasa menginspirasi ketika beberapa kali keluar dari asrama. Saya juga mulai cukup sering berinteraksi lagi dengan adik-adik tingkat di kampus. Itu lumayan membantu saya mengatasi stress dan tekanan selama di sekolah.

Dan dari beragam aktivitas di luar asrama itulah kemudian muncul gagasan itu lagi. Saya harus S2. Secara tiba-tiba dan tidak disangka caranya saya diingatkan pada cita-cita yang satu ini. Seorang teman berhasil menyemangati saya kembali untuk membangkitkan mimpi saya yang satu ini. Padahal tadinya saya seperti sudah ada di jalan buntu. Bahkan untuk kursus bahasa inggris pun sepertinya sudah tidak bisa lagi. Apalagi ikut tes IELTS atau TOEFL yang biayanya tak murah.

Ketika saya sampaikan lagi hal itu pada suami, seperti biasa suami hanya mengiyakan tanpa antusias. Mungkin dia sudah bosan karena saya sudah sangat sering bilang ingin sekolah lagi tapi tidak pernah ada tindakan nyata. 😁 Maka saya pun bertekad untuk mewujudkan mimpi saya yang satu ini, segera.

Tapi bukan saya kalau tidak galau di persimpangan. Saya mulai bimbang lagi, menimbang-nimbang lagi. Apalagi dengan kondisi yang sudah tidak sendiri lagi (aka. punya 2 anak) pasti banyak yang harus dipertimbangkan untuk saya. Memang cita-cita saya sepertinya terlalu muluk. Sudah bisa kuliah lagi mestinya saya syukuri saja, tidak perlu memaksakan diri harus ke luar negeri. Toh saya tidak bisa bahasa inggris. Tapi bukan saya kalau tidak suka bermimpi.

Akhirnya pekan lalu saya memutuskan untuk bertemu dengan salah satu dosen saya di fakultas. Beliau dulu kuliah S1 di Madinah dan melanjutkan kuliah pascasarjananya di Malaysia. Dan ketika saya menyampaikan lagi niat untuk kuliah, ternyata tanggapannya luar biasa mendukung. Nah, dukungan-dukungan dari orang lain inilah yang biasanya membuat saya terus penasaran. Saya seringkali meragukan diri sendiri, tapi orang-orang selalu menganggap saya istimewa. Terus terang, saya ingin sekali membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya memang jauh lebih baik dari yang saya kira.

Sampai detik ini saya masih saja galau, apakah saya akan tetap melanjutkan rencana kuliah ini atau tidak. Entahlah, sulit sekali untuk menurunkan standar bagi saya. Keinginan untuk ke luar negeri sudah terlanjur melekat dalam pikiran. Asal tahu saja, tahun lalu saya sudah membayar biaya pendaftaran kuliah S2 di Unila tapi saya tidak ikut tes hanya karena menurut saya itu tidak sesuai dengan mimpi saya. Saya ingin kuliah ke luar negeri, bukan di Unila. Sangat tidak realistis kan?! Tapi, bagi saya mimpi yang satu ini memang berbeda. Sudah cukup saya tidak berhasil mewujudkan mimpi-mimpi yang lain dan menggantinya dengan sesuatu yang cukup membuat saya berpuas diri. Bisakah saya mendapatkan yang satu ini tanpa kompromi?! Itu saja doa yang saya panjatkan ketika memintanya kepada Allah. Maksa ya?! Biar saja lah, toh tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah sudah berkehendak. Karena mimpi saya yang satu ini adalah yang paling istimewa dibanding mimpi-mimpi saya yang lain.

Melanjutkan kuliah sudah jadi mimpi saya sejak lama, bahkan sebelum saya meluluskan kuliah S1. Meskipun bercita-cita jadi ibu rumah tangga, saya tetap ingin jadi wanita berpendidikan supaya bisa jadi guru yang baik untuk anak-anak saya. Ya, sekolah bagi saya bukan sekadar gengsi. Ada alasan yang lebih mendasar mengapa saya harus tetap sekolah meski usia sudah tak muda lagi. Kepuasan batin mungkin. Tapi, yang jelas sekali saya rasakan adalah saya merasa hidup lagi ketika sedang berpikir. Sementara menjadi ibu rumah tangga dan guru, kehidupan yang saya jalani sekarang membuat saya jarang berpikir. Satu-satunya pekerjaan yang bisa membantu saya untuk tetap berpikir saat ini adalah menulis. Saya bersyukur ada blog tempat saya mempertahankan kewarasan pikiran.

Pada akhirnya memang semua tergantung pada takdir Allah. Tapi saya yakin bahwa niat yang baik, dijalani dengan cara yang baik maka akan berbuah baik juga. Saat ini saya hanya bisa berprasangka baik pada Allah agar cita-cita saya ini bisa terwujud. Saya pun meminta doa dari kalian yang membaca tulisan ini supaya urusan saya yang satu ini dimudahkan oleh Allah. Semoga harapan untuk bisa bermanfaat bagi sebanyaknya manusia bisa saya wujudkan melalui jalan ini.
Powered by Blogger.