Hanya Tentang Adab

September 25, 2017
Sumber gambar dari sini
Apa yang ada di pikiran kita melihat gambar di atas? Teringat masa lalu? Saat-saat di mana guru duduk di depan dengan sangarnya dan sangat intimidatif sehingga kita sulit bahkan hanya untuk berkedip? Saya yakin, sekarang ini kita sudah sulit menemui situasi seperti dalam ilustrasi itu.

Zaman sekarang sudah berubah. Tapi menjadi guru tetaplah tak mudah. Bahkan mungkin tantangannya makin berat karena guru zaman ini bukan hanya harus mengurusi anak-anak didiknya, tapi juga harus berhadapan dengan orang tuanya yang tak becus mengurus anak tapi sok tahu soal pendidikan anak. Lihat saja, dulu rasanya hampir tak ada orang tua yang memprotes cara mengajar guru atau mengkritik guru yang memberi nilai 'seolah' tak adil pada anak. Sekarang, menjadi guru selalu serba salah karena salah coret sedikit bisa-bisa orang tua akan menguliti kesalahannya tanpa sisa.

Dulu ketika orang tua menitipkan anak ke sekolah, artinya dia benar-benar menitipkan anaknya secara harfiah. Mau diapakan anaknya, dia serahkan sepenuhnya kepada sang guru. Pokoknya orang tua tahunya nanti anaknya pulang sudah jadi pintar. Kalaupun ternyata anaknya gagal, itu salah orang tuanya yang memang bukan keturunan orang pandai. Sekarang boro-boro melihat anak gagal, nilai kurang satu poin saja orang tua bisa bertanya tak ada ujungnya kepada guru, bagaimana bisa anaknya mendapat nilai yang tak sesuai. Padahal, tugas guru hanya mendidik dan mengajarkan. Urusan kepahaman itu tentulah kehendak Tuhan.

***

Hari ini saya bersedih, sekali lagi karena sebuah peristiwa yang terjadi di sekolah saya. Saya tuliskan di sini, karena saya benar-benar butuh pelampiasan. Amarah saya sudah sampai di puncak. Tubuh saya gemertaran, dan kalau tidak dikeluarkan bisa membuat saya panas luar dalam. Ya, kalau sedang emosi badan saya akan memanas. Dulu saya pikir itu wajar, tapi ternyata tidak semua orang mengalami hal yang sama seperti saya. Entah kenapa. Saya bahkan sampai tidak tahu harus memberi judul apa pada tulisan ini.

Sebenarnya ada banyak hal yang membuat saya tak nyaman dengan sekolah ini. Bahkan dengan kebanyakan sekolah yang sejenis dengan sekolah tempat saya tinggal sekarang ini. Dan itu menyebabkan saya selalu menyalahkan diri sendiri kenapa masih saja bertahan di sini. Padahal saya sudah tahu tidak ada yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki sistem sekolah yang konyol ini.

"Dan kapankah bayang-bayang ranting bisa lurus jika rantingnya bengkok?"

Kalimat di atas disampaikan Imam Al-Ghazali, sebagai pengingat bagi para orang tua bahwa keshalihan orang tua adalah bagian paling besar dalam proses pendidikan anaknya. Tapi banyak orang tua yang tidak menyadarinya. Mereka pikir, dengan memasukkan anaknya ke sekolah yang baik maka itu sudah cukup untuk menshalihkan anaknya. Bahkan ada yang lebih lucu, banyak orang tua memasukkan anaknya ke pesantren atau sekolah berasrama dengan anggapan bahwa di sana anaknya pasti akan jadi shalih. Padahal itu tak beralasan sama sekali.

Berdasarkan pengalaman saya yang pernah di pesantren, kebanyakan anak yang berhasil berasal dari orang tua yang baik. Mungkin tak berasal dari keluarga berada atau berkedudukan tinggi. Ada yang tadinya diuji dengan anak yang nakal, tak lulus di pesantren tapi pada akhirnya ketika dewasa ternyata mampu memimpin pesantrennya sendiri. Tapi bagi orang tua yang 'banyak tingkah', sampai hari ini saya belum pernah mendapati anak dari orang tua semacam ini mendapat kehidupan yang terlihat berkah. Walaupun pada akhirnya definisi kesuksesan itu tetap tergantung pada preferensi masing-masing orang.

Dan di sekolah ini, saya sudah terlalu sering melihat orang tua-orang tua kebanyakan tingkah yang menurut saya konyol sekali. Entahlah, mungkin ilmu yang kurang atau memang zamannya yang sudah berubah sehingga mampu mengubah manusia menjadi lebih liar dan sulit dikendalikan. Pertanyaan-pertanyaan seperti, "kalau saya mau jenguk ananda lewat dari jam 17.00 bisa tidak?" padahal sudah jelas tertulis peraturan jadwal kunjungan dari jam 09.00-17.00. Atau izin paksaan tak masuk akal semacam, "maaf ustadz, kakeknya sakit jadi ananda ingin pulang duluan." Dan jenis-jenis pertanyaan lainnya yang intinya sama; melanggar peraturan demi sesuatu yang mereka anggap sebagai keperluan.

Dulu saya selalu menahan emosi kalau menemui orang tua semacam itu. Tapi lama kelamaan, saya jadi tak peduli lagi karena memang sepertinya yang punya sekolah ini juga tidak terlalu paham dengan konsep pendidikan berasrama. Tapi kejadian kemarin yang sempat terekam sebentar oleh kamera HP rekan kami di sekolah membuat saya sedih. Bukan sedih karena kasihan pada rekan saya yang dibentak-bentak itu, demi Allah bukan karena itu. Saya sedih karena membayangkan sekolah sejenis seperti tempat saya bekerja ini sudah menjamur di seluruh Indonesia. Dan saya punya cukup banyak kenalan yang mengajar di sekolah-sekolah ini di beberapa tempat juga di Indonesia. Jika para penggagas sekolah ini tidak segera menyadari kesalahan mereka dalam menerapkan konsep pendidikan, maka yang akan jadi korban adalah puluhan ribu alumni hasil didikan sekolah-sekolah ini. Mereka akan salah paham tentang konsep beragama yang benar, tentang konsep berakhlaq yang benar, tentang cara meraih cita-cita yang benar, dan tentang cara pandang terhadap dunia yang benar.

Video ini hanya salah satu contoh bahwa sekolah ini tak punya kemampuan menjaga izzah para gurunya. Terlepas dari sebab marahnya orang itu, ini menjadi bukti bahwa sekolah-sekolah jenis ini tak mampu menyaring anak didik dan orang tua yang siap dibina. Padahal itu adalah syarat pertama menuntut ilmu. Dzaka' kalau Imam Syafi'i mengistilahkan. Cerdas, makna bebasnya. Tapi pada hakikatnya maksudnya adalah anak yang siap untuk dibina dan dididik. Tak perlu pintar secara akademis, tapi dzaka'. Siap belajar. Maka hari ini syarat itu bukan hanya untuk murid, tapi juga untuk orang tua karena keadaan orang tua yang sangat ikut campur urusan anak. Sebab memilih murid adalah hak seorang guru.


Powered by Blogger.