Tak Perlu Khawatir Kalau Percaya

July 19, 2017
Alhamdulillah akhirnya nulis lagi. Kemarin-kemarin laptop saya rusak, dan rutinitas di sekolah benar-benar membuat saya maleeeees luar biasa untuk gerak-gerak. Sampai-sampai saya hampir nggak ngapa-ngapain selain mengerjakan pekerjaan sekolah. Jujur saja itu bikin saya bete luar biasa. Saking betenya, saya bahkan sempet berpikiran untuk menghapus semua postingan di blog karena kesel udah lama banget nggak nulis. Aneh banget ya?!

Setelah masuk tahun ajaran baru, pasti para orang tua sudah mulai tenang ya karena anak-anak sudah masuk sekolah lagi. Tapi mungkin bagi yang anaknya masuk sekolah baru, entah itu karena pindah atau memang naik ke jenjang sekolah yang lebih tinggi mungkin galaunya masih. Apalagi bagi yang memasukkan anaknya ke pesantren atau boarding school. Sekarang-sekarang ini mungkin masih masa-masa harap-harap cemas, apakah anaknya bakal betah di pesantren atau nggak.

Itu juga yang saya rasakan di sini, sebagai guru. Duh, baca komentar-komentar orang tua siswa di grup WA komite itu bikin saya serasa pengen jitak satu-satu deh mereka itu. Ada yang selalu minta dikirimin foto anaknya tiap ada kegiatan, ada yang bilang kangen sambil kirim icon mewek, ada yang selalu nanya keadaan anaknya di asrama. Terus terang saja ya, saya kalau baca tulisan-tulisan begitu males banget mau balasnya. Bukan apa-apa, tiap baca tulisan orang tua siswa yang lebay bin alay itu dalam otak saya pasti muncul pikiran "pantesan ya anak jaman sekarang kebanyakan alay, ortunya aja begini". 

Memangnya nggak boleh kangen sama anak?! Ya pasti boleh dong. Tapi menurut saya ya sewajarnya saja lah. Tidak perlu terlalu berlebihan mengekspresikan perasaan kita kepada orang lain. Selain itu, ungkapan khawatir kita itu bisa jadi mencerminkan seolah-olah kita nggak percaya sama guru-gurunya di sekolah. Selama guru di sekolah nggak menghubungi orang tua, berarti anaknya baik-baik saja insyaAllah. Dengan terus menanyakan keadaan anak kita ke guru, itu juga bikin nambah kerjaan guru juga. Di sekolah guru harus nangani anaknya, yang ditinggal di rumah masih ngerecokin juga. Rempong bu,,,

Sebenarnya nggak perlu terlalu khawatir dengan keadaan anak yang tinggal di pesantren atau boarding school kalau sebelumnya si anak dan orang tua sudah siap. Dan biasanya memang orang tua dan siswa yang 'rewel' itu pada dasarnya nggak siap dengan konsekwensi sekolah di boarding school atau pesantren. Bagi anak atau orang tua yang sudah siap, biasanya nggak banyak 'tingkah' selama di sekolah. Mereka akan lebih patuh dan disiplin serta bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan sekolah dengan lebih baik.

Contoh anak dan orang tua yang siap dengan konsekwensi sekolah pesantren atau boarding school itu biasanya mereka nggak akan terlalu sering dijenguk/pulang. Anak yang selalu minta dijenguk atau orang tua yang sebentar-sebentar menjenguk anaknya menunjukkan bahwa mereka nggak siap untuk tinggal berjauhan. Atau kalau yang tempat tinggalnya jauh dari asrama, biasanya orang tua akan terlalu rajin menanyakan keadaan anaknya. Kalau kalian memang ingin anak sekolah di asrama, jangan terlalu sering menjenguk karena itu juga bisa membuat mereka nggak betah di asrama.

Biasanya alasan yang sering dipakai oleh orang tua yang sering menjenguk anak di asrama adalah karena anaknya belum mandiri. Ini yang seringkali membuat saya nggak habis pikir. Bukankah dengan terus menjenguk anak justru akan membuat mereka nggak segera mandiri? Makin heran lagi dengan orang tua model begini karena bukankah seharusnya mereka sudah tahu kalau hidup di asrama berarti semua-semua harus sendiri. Seharusnya, sebelum mereka menyekolahkan anaknya di pesantren atau boarding school persiapkan dulu anak mereka dengan mengajarkan keterampilan dasar seperti merapikan kasur, melipat baju, mencuci piring dan mencuci baju. Saya pernah menemukan satu siswa yang saking manjanya, mencuci pakai pelembut pakaian. Ketika ditanya, dia memang nggak pernah mencuci baju di rumah.

Satu hal yang sering saya sampaikan kepada orang tua siswa yang menangis bombay melepas anak ke pesantren adalah ikhlaskan anak mereka. Kebanyakan anak yang gagal di pesantren bukan hanya tekad yang kurang dari diri anak, tapi juga orang tua (terutama ibu) yang terlalu lemah hatinya. Iya, saya sebut lemah hatinya karena anaknya cuma belajar di pesantren pun nggak sanggup. Apalagi kalau anaknya harus berangkat perang? Nggak perlu lah terlalu khawatir pada kelangsungan hidup anak di pesantren karena ada banyak sekali orang tua di luaran sana yang anaknya juga di pesantren dan mereka tetap bahagia. Selama kita percaya pada lembaga pendidikan yang mengurus anak kita, pada guru-gurunya maka jangan terlalu banyak khawatir dan risau. Apalagi sampai mengganggu aktifitas belajar anak hanya karena alasan kangen. Haduh...
Powered by Blogger.