Saya pun Membuat Resolusi

January 03, 2017
Ah, resolusi. Sejujurnya saya tertarik membuatnya karena belakangan selalu melihat postingan mengenai ini setiap blogwalking. Tahun-tahun sebelumnya saya tak pernah ingin membuat semacam target atau goals apapun dalam hidup. Karena saya sadar diri, saya orangnya pemalas. Namun sekarang setelah melihat refleksi orang-orang tahun 2016 yang lalu, saya jadi berpikir 'mungkin karena itu ya saya tidak punya capaian hidup yang membanggakan?'

Saya selalu punya harapan-harapan dan target untuk diri saya, misalnya ketika saya membuat rencana 10 tahun yang akan datang di sini. Tapi ya itu tadi, saya tidak pernah membuat rinciannya dengan detil tentang bagaimana cara saya akan meraihnya. Sehingga, sampai hampir 4 tahun berlalu, mimpi 10 tahun saya itu tak ada satupun yang ada tanda-tanda akan tercapai. Ngenes banget kan?

Tahun ini, saya ingin mencoba membuat resolusi dan belajar untuk komitmen dengan tujuan-tujuan itu. Sehingga akhir tahun nanti bisa saya evaluasi, apakah saya memang benar-benar pemalas atau sebenarnya saya punya potensi untuk jadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya yang flat tanpa warna. Sekaligus, postingan ini saya ikut sertakan dalam challenge #Resolusiku2017 Hidayah-Art First Giveaway "Resolusi Tahun 2017 yang Paling Ingin Saya Wujudkan". Bukan sekadar mengharap hadiahnya, tapi memang benar-benar upaya biar saya tambah semangat mewujudkan resolusi ini, karena tulisan ini akan dilihat banyak orang dan mudah-mudahan akan banyak yang meng-Aamiiin-kan. 


BAIKLAH, SAYA SIAP MEMBUAT RESOLUSI

PERTAMA, saya harus menambah hafalan Al-Qur'an tahun ini. Sudah cukup saya membuat berbagai macam alasan di tahun-tahun sebelumnya untuk berpuas diri dengan hafalan yang sekarang, yang itupun entah masih mutqin atau tidak. Target tambahannya, paling tidak 3 juz harusnya. Dan untuk mewujudkannya saya sudah membuat jadwal harian dengan Al-Qur'an. 4 jam saya alokasikan khusus setiap hari untuk Al-Qur'an. 1 jam tilawah, 1 jam menghafal, dan 2 jam untuk muraja'ah. Saya berharap dengan meningkatkan intensitas interaksi dengan Al-Qur'an ini akan meningkatkan kedekatan saya juga dengan Allah. Biar hidupnya lebih tenang, gitu.

KEDUA, telpon ibu minimal 2 minggu sekali. Ketauan kan kalau saya ini anak durhaki? Istilah ibu kandung buat saya. Kalau nelpon orangtua bingung mau ngobrolin apa. Kalau ketemu orangtua salah tingkah bingung mau ngapain. Hadeeeeuh. Pantes kan selama ini hidupnya susah. Hubungan sama orangtua aja nggak harmonis. #NgomelDiKaca Pokoknya tahun ini, saya harus mulai membangun komunikasi yang baik sama orangtua. Walaupun kebingungan nggak tau apa yang mau diomongin kalau nelpon, setidaknya bisa ngasih kabar ke mereka kalau saya baik-baik saja dan selalu ingat dengan mereka.

KETIGA, menyelesaikan dan menerbitkan satu buah buku. Nggak ada alasan. Tema sudah mantep, kerangka tulisan udah jadi, tinggal eksekusi. Februari harus naik cetak pokoknya. Untuk ini, sepertinya saya harus buat everyday writing challenge untuk diri sendiri.

KEEMPAT, belajar bahasa Inggris. Salah satu hal yang membuat saya selalu menunda daftar S2 ini. Pokoknya tahun ini saya harus kursus IELTS supaya rencana S2 tidak tertunda lagi. Keburu nambah anak nanti.

KELIMA, berhenti kerja. Sebenarnya ini keputusan yang agak sulit untuk diwujudkan. Tapi saya benar-benar ingin fokus pada diri saya tahun ini. Fokus mendampingi pertumbuhan Qia dan Aqsha. Melatih Qia bicara, membuat rencana-rencana dan target untuk jaringan Oriflame saya, dan impian-impian pribadi yang selama ini tertunda karena waktu saya habis untuk ngurusin asrama. Saya ingin mengajar, dan saya sama sekali tidak keberatan menjadi guru karena itu adalah kewajiban bagi saya yang berilmu. Tapi pekerjaan administrasi seorang guru itu yang ingin saya hindari. Subhanallah, saya nggak mau hidup saya habis hanya untuk mengurus perangkat pembelajaran dan semacamnya yang bagi saya tidak ada hubungannya dengan membaca Al-Qur'an dan perbaikan adab anak murid. Don't judge please.

KEENAM, berpenghasilan minimal 5 juta per bulan. Kalau saya mau berhenti kerja, maka konsekuensinya saya harus mendapat penghasilan di luar pekerjaan saya. Dan karena penghasilan yang saya dapat selama ini selalu kurang untuk membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga kami, saya harus mampu membantu menambah penghasilan. Dari rumah saja, semoga ada jalan untuk bisa mendapatkannya. Kalau memang Allah meridhoi, bisnis Oriflame yang sudah saya kerjakan selama ini ingin saya seriusi dan mudah-mudahan bisa membawa saya menuju kemudahan finansial itu. Pengeeeen gitu bantu orangtua memenuhi keinginan-keinginan mereka. Bukan sekadar jadi beban dengan minta tolong ini-itu (baca; jagain cucu) kalau sedang ada acara atau kegiatan sekolah.


Enam resolusi di tahun 2017 itu mudah-mudahan tidak terlalu muluk untuk saya. Harapan saya, semua bisa terwujud dan saya menjadi lebih semangat menjalani hidup. Ketika menulis ini pun saya sudah terbayang tertatih-tatihnya saya nanti memenuhi jadwal yang sudah saya buat untuk memenuhi tujuan itu. Apalagi dengan keadaan yang sudah punya anak, hmmm pasti struggle-nya luar biasa. Belum lagi tugas wali asrama yang tidak sedikit pekerjaannya.


Tapi, saya berusaha percaya bahwa tidak ada kesuksesan tanpa kesulitan. Iya kan? Semua orang hebat di dunia ini tidak menjalani hidupnya dengan bersantai-santai. Bahkan model yang kita lihat kerjanya cuma ngasih muka di depan kamera pun ternyata butuh usaha untuk bisa memberikan pose terbaiknya. So, doakan saya untuk istiqomah ya...
Powered by Blogger.