Kisah Kekecewaan

November 04, 2013
Saya kecewa malam ini, seperti malam-malam biasanya. Ia membangunkan ketika saya sudah tertidur lebih dulu, untuk melihatnya tidur meninggalkan saya yang sudah tak bisa merasakan kantuk lagi. Saya sedih, sudah sempat tersedak suara saya tadi ketika merajuk di hadapannya. Tapi saya menahannya karena saya tahu ia pasti akan sangat merasa bersalah jika melihat saya menangis. Tapi tentu saja ia tak akan lama memedulikannya karena kemudian ia hanya akan mengantuk dan memejamkan mata.

Kisah Kekecewaan
Image via Favim.com

Hampir satu bulan pernikahan kami. Selama ini belum pernah sekalipun saya merasa suami memahami perasaanku, harapan-harapanku terhadapnya, dan harapan-harapanku untuk rumah  tangga kami. Entah karena ia yang memang tak suka berdiskusi, atau saya yang memang tak pandai bersyukur. Kekecewaan demi kekecewaan selalu saya rasakan hampir tiap malam kebersamaan kami. Tapi tentu saja bukan berarti saya tak bahagia. Saya bersyukur atas dirinya, yang telah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi suamiku. Saya juga menyadari tentu tidak akan mudah menyatukan sifat yang jauh berbeda dalam sebuah rumah tangga yang membutuhkan ilmu khusus untuk menjalaninya dengan baik. Saya berkesimpulan bahwa saya hanya perlu beradaptasi saja dengan gaya hidup dan sikapnya.

Dan malam ini saya hanya ingin mengeluh, entah pada siapa? Saya terlalu malu pada Tuhan untuk mengeluhkan sifat manja saya ini. Tak mungkin juga saya mengeluhkan keadaan ini pada teman-teman.

Sungguh, menikah telah membuat saya harus lebih pandai mengelola hati. Tiap sikap suami yang membuat saya tak suka, tiap permintaannya yang tak bisa saya tolak meski keadaan diri tak mau melakukan, dan segala hal yang tak sesuai keinginan. Bagi saya, pernikahan kami ini benar-benar ujian keimanan. Sebenarnya saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin tak seharipun kami lalui tanpa satu kekecewaan yang saya rasakan? Sementara ia selalu punya cara untuk berbahagia bersama saya tanpa peduli dengan perasaan saya; bahagia atau justru sengsara melihatnya bahagia?

Ia seolah tak peduli, atau merasa bahwa ketika ia tersenyum maka saya juga akan ikut bahagia dalam senyuman yang ia minta saya sunggingkan di hadapannya. Baginya, pernikahan kami sempurna dan kami adalah pasangan yang serasi. Inilah perbedaan yang masih saya cari cara memanajemennya. Perbedaan kami yang terlalu banyak dan mencolok.

Jikapun kami harus menjalani hidup dengan perbedaan ini, maka mungkin saya akan melanjutkan hidup saya yang dulu. Kosong tanpa rasa. Menikmati cinta yang ia berikan dengan hati yang hampa. Dan makin kecewa karena ia tak memedulikannya.
Powered by Blogger.