Istri-istri Hebat di Sekitar Saya (Part 2)

November 18, 2013
Istri-istri Hebat di Sekitar Saya

Istri yang kedua, sama hebatnya dengan yang pertama. Dia adalah istri kedua kakak angkat saya. Saya sempat kaget waktu mendengar berita pernikahan kakak angkat saya dengannya. Kaget karena menurut saya dia terlalu cepat untuk memutuskan menikah lagi, --walaupun akhirnya saya memakluminya-- dan kaget karena tahu ternyata kakak ipar kedua saya kali ini adalah seorang 'anak kecil'. Tahun 2010 ketika itu, usianya masih 17 tahun saat menerima lamaran kakak saya. Bayangkan, jika Anda yang ditawari menikah dengan seorang duda beranak tiga, akankah menerimanya?

Tapi kakak ipar saya ini luar biasa. Saat itu ketika dia sedang menjalani PKL sekolahnya di Kotagajah, oleh saudaranya ia sempat ditanya perihal ke-jomblo-annya. Sebagaimana anak muda pada umumnya, memang sudah sewajarnya memiliki pacar atau sejenisnya kan?! Lalu dia menjawab, 'saya takut pacaran mbak, kalau ada yang mau sama saya ya nikah aja.' Kurang lebih begitu kata-katanya. Lalu sang saudara yang kebetulan kenal dengan kakak saya menawarinya, 'bagaimana kalau yang mau nikah sama kamu itu duda anak tiga?' Tak dinyana, anak 17 tahun itu menyanggupi dengan penuh kepercayaan pada saudaranya itu, 'kalau menurut mbak orangnya baik, nggak apa-apa.'

Suatu hari saya pernah bertanya pada mbak Dewi, kakak ipar saya yang baru ini.
"Apa yang mbak bayangkan tentang kakak saya ketika ditawari saudara mbak untuk menikah?"

Ternyata jawabannya normal, 'yang saya bayangkan, mamasmu itu ya orang tua yang sudah botak dan anaknya sudah dewasa semua.'

Lalu saya mencandainya, 'dan mbak pikir sebentar lagi mati ya?!'

Dia tersenyum tipis, 'saya nggak sejahat itu lah.'

'Lalu kenapa mbak rela putus sekolah dan menikah dengan duda beranak tiga?'

'Karena saya percaya dengan saudara saya, dan saya pikir mengasuh anak yatim pasti berpahala.'

Ringan sekali dia menjawabnya, dan saya percaya jawabannya itu tulus dari hatinya. Setelah tiga tahun berlalu, seorang anak perempuan lahir dari rahimnya. Namun itu tidak merubah perlakuannya terhadap keponakan-keponakan saya yang tiga orang. Bahkan si kembar yang ditinggal oleh ibunya di umur seminggu, kini selalu membanggakan ibu baru mereka di hadapan siapapun. Bagi mereka, tak ada yang bisa merapikan rambut kriwil mereka sebaik Ibu. Tidak ada masakan seenak masakan Ibu. Dan tidak ada orang sebaik Ibu.

Satu lagi pertanyaan untuk kita para wanita, jika tawaran menikah itu datang kepada kita, akankah kita mau menikah dengan duda beranak tiga di usia kita yang masih muda dan punya banyak harapan di masa depan?
Powered by Blogger.