Pendidikan Sastra

July 23, 2013
Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.- Umar bin Khattab

Di Indonesia, setidaknya telah delapan kali terjadi perubahan kurikulum pendidikan –kalau saya tidak salah-. Yang terakhir, pemberlakuan kurikulum 2013 diharapkan mampu menguatkan proses pembentukan karakter peserta didik disekolah dengan penambahan kompetensi inti berupa penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut oleh peserta didik.

Secara khusus, pembentukan karakter telah ditanamkan pada tiga mata pelajaran yang masing-masing berfungsi membentuk karakter peserta didik sesuai dengan aspek keilmuannya. Mata pelajaran yang dibebankan untuk membentuk karakter itu adalah pendidikan agama, untuk membentuk karakter religius, pendidikan moral pancasila untuk pembentukan karakter kebangsaan dan pendidikan sastra untuk pembentukan karakter budaya.

Membicarakan pendidikan sastra, menurut pengamatan saya –mungkin juga Anda semua- saat ini sastra selalu dipandang sebagai ilmu terbelakang yang tidak memberikan kontribusi langsung untuk memperbaiki masyarakat. Hanya menggantung di langit imajinasi, tidak berpijak di bumi, beda dengan ilmu-ilmu lain seperti kedokteran dan teknik. Padahal dalam sebuah karya sastra kita bisa mengenali karakter dan menemukan nilai-nilai yang bisa menunjang pembentukan watak seseorang. Sastra mampu masuk  ke hati sehingga memperbaiki moralitas anak kita.

Petuah Umar Bin Khattab di atas cukup menggambarkan kaitan erat antara sastra dan pembentukan karakter seseorang. Dengan mengajarkan sastra, kita menjadi tahu makna kehidupan. Kita menjadi terbiasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan keindahan dan kelembutan. Sastra mengajarkan kita untuk peduli dan empati. Ajaran-ajaran agama dan nilai-nilai moral bisa diungkapkan tanpa kesan menggurui. Bahkan kegemilangan sebuah peradaban bisa dilihat dari sastrawan dan karya-karya sastra yang lahir pada masa itu. Seperti kegemilangan Islam yang melahirkan ulama sekaligus sastrawan seperti Imam Syafi’i, Jalaluddin Rumi, Umar al Khayyam dll. Di Jepang, sastra begitu dinamis seperti munculnya puisi-puisi pendek yang kita kenal dengan haiku. Bahkan jika kita menonton di film-film kolosal China, anak-anak di China belajar membaca dengan didiktekan puisi. Bukan sekadar teks yang dieja.

Sastra dan bahasa memiliki hubungan erat, keduanya seperti dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Kedalaman pemakaian bahasa justru terdapat pada sastra. Namun, strategi pembelajaran sastra sangat berbeda dengan strategi pembelajaran bahasa. Belajar bahasa pada akhirnya adalah belajar komunikasi. Pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan keterampilan peserta didik dalam berkomunikasi secara lisan maupun tulis. Oleh karena itu, pembelajaran sastra tidak dapat disatukan dengan pembelajaran bahasa.

Dan sedihnya lagi, kini secara nyata pembelajaran sastra sudah tidak ada lagi disekolah-sekolah. Pembelajaran sastra kini berfungsi sebagai alat untuk pembelajaran keterampilan berbahasa. Bukan sebagai substansi.
Maka dari sini timbul pertanyaan, dengan materi sastra yang ada, apakah mungkin pembelajaran sastra dapat diajarkan sesui dengan hakikat sastra? Sedangkan hakikat sastra adalah membicarakan tentang kemanusiaan dari semua sisi di samping pembicaraan tentang struktur karya itu sendiri. Pembelajaran sastra tidak sama dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa cenderung membentuk keterampilan peserta didik dalam berbahasa. Pembelajaran sastra merupakan pembelajaran tentang kehidupan manusia.

Melalui sastra, seseorang dapat mengurangi mozaik perubahan dan/atau konsistensi sosial pada masa yang melingkupi, bahkan spekulasi jauh dari teks sastra yang dibuat. Karya sastra merupakan interpretasi dan rekonstruksi realitas sosial yang dihadapi, bahkan dialami oleh penulis sastra. Interpretasi dan rekonstruksi sosial dalam karya sastra sangat bergantung kepada ideologi penulis sastra, sebagai suatu yang khas. Tidak jarang rangkaian kata-kata eksotis sebetulnya adalah pergolakan, bahkan lebih keras dapat dikatakan sebagai pemberontakan terhadap ketimpangan sosial.

Demikianlah, maka seseorang yang telah banyak mendalami berbagai karya sastra biasanya mempunyai perasaan yang lebih peka untuk menunjuk hal mana yang bernilai dan mana yang tak bernilai. Secara umum lebih lanjut dia akan mampu menghadapi masalah-masalah hidupnya dengan pemahaman, wawasan, toleransi dan rasa simpati yang lebih mendalam. Dalam karya sastra terkandung nilai-nilai, pesan yang dibungkus dalam cerita yang merefleksikan kehidupan sosial, konflik cerita, serta cara-cara tokoh mengelola konflik. Hal ini tentu saja memberikan pelajaran untuk menghadapi persoalan kehidupan. Melalui pembacaan yang mendalam, sastra pada akhirnya mampu mengubah karakter seseorang.

Memang, seorang anak yang menggemari sastra biasanya akan terlihat lebih melankolis dan cenderung lemah. Akan tetapi sesungguhnya semakin ia mempelajari, ia akan semakin kuat dalam menghadapi permasalahan hidup karena hatinya lebih sensitif dan peka terhadap perubahan-perubahan sosial yang terjadi di sekelilingnya.

Jadi, kita –jika sebagai orang tua- mestinya tidak lagi khawatir jika ternyata anak kita tertarik dengan sastra. Karena sastra adalah sumber nilai yang mampu memberikan kesan religius. Mempelajari sastra mampu menyentuh bahkan menggerakkan perasaan kita hingga mengubah pola sikap dan membentuk karakter. Di dalamnya terkandung pesan-pesan moral, ungkapan kata-katanya menimbulkan kesan estetis. Nilai-nilai yang baik tentu akan kita temukan jika karya sastranya juga mengandung ruh spiritual dan kebaikan.

“Sastra bisa menampung semua gejolak dalam diri, mengurangi derita serta membuatmu lebih peka serta berdaya.” ― Helvy Tiana Rosa
Powered by Blogger.