Mengoreksi Kebiasaan Berbahasa Kita

April 03, 2013
no alt
Mencermati kebiasaan berbahasa orang-orang belakangan ini, saya kadang merasa khawatir. Bahkan pada diri sendiri pun, saya seringkali curiga. Sudah benarkah saya menggunakan bahasa Indonesia?

Bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia memiliki peran yang sangat penting agarmampu membuat orang-orang yang berkomunikasi tersebut saling mengerti apa yang dimaksud oleh teman bicaranya. Dalam tata bahasa kita, ada kaidah-kaidah yang harus diperhatikan sesuai dengan apa yang sudah ditentukan. Bahasa yang benar adalah bahasa yang menggunakan kaidah tersebut. Kita menyebutnya dengan bahasa yang baik dan benar.

Dalam bahasa tulisan, kita juga telah dikenalkan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Dalam sebuah karya tulis ilmiah, kita wajib menggunakan EYD agar tulisan kita bisa disebut benar. Namun sebenarnya, penggunaan EYD tidak hanya terbatas pada karya tulis ilmiah saja. Akan tetapi kita gunakan pada tulisan-tulisan yang lain.

Saya bersyukur dosen pembimbing skripsi saya termasuk orang yang perfeksionis dalam masalah kaidah penulisan. Salah penulisan satu huruf saja akan beliau koreksi, hingga kata ‘yang’, ‘di’ yang salah tempat pun tak luput dari koreksinya. Dari itu saya mulai memahami pentingnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Setidaknya dalam penulisan.

Seringkali ketika membaca tulisan dari teman-teman di fb maupun blog, saya menemukan kesalahan-kesalahan penulisan yang sepertinya tidak disadari oleh penulisnya. Kata ‘sarat’ misalnya masih sering tertulis ‘syarat’. Kata ‘acuh’ dan ‘tak acuh’ terkadang masih sering terbalik penggunaannya. Sama seperti kata ‘bergeming’. Hal ini tentu saja mengganggu. Karena sebagus apapun isi tulisan, jika ditulis dengan kaidah yang salah bisa jadi malah membuat rancu maknanya.

Berbahasa yang baik dalam menulis bukan berarti harus menggunakan kata-kata yang kaku dan formal. Yang terpenting adalah ejaan yang benar, dan konsistensi. Jika dari awal telah menulis dengan gaya ‘bicara’ maka teruskan sampai akhir tulisan. Atau jika memilih menggunakan gaya penulisan yang santai, maka konsistenlah dengan gaya penulisan itu. Terlebih lagi pada penggunaan kata ‘aku’ ‘kamu’ dan ‘saya’. Hal itu akan membuat kualitas tulisan kita lebih baik.

Ada yang mengatakan, gaya penulisan dan cara menulis akan menunjukkan jati diri kita, sampai seberapa luas wawasan dan pengetahuan yang kita miliki. Mungkin bisa dilihat dari perbendaharaan kata yang kita gunakan ketika menulis. Sekilas kepribadian kita juga bisa terbaca dari kata-kata yang kita susun menjadi kalimat-kalimat, menjadi paragraf-paragraf, menjadi tulisan-tulisan. Hanya dari membaca beberapa tulisan kita saja, pembaca bisa menilai bagaimana diri kita. Seberapa besar minat kita dalam berbahasa serta belajar menggunakannya sesuai konteks dan penulisan yang baik dan benar, dapat terangkum dari tulisan-tulisan yang kita hasilkan.

Nah, mulai sekarang mari koreksi lagi kebiasaan berbahasa kita. Bukan hanya dalam tulisan,tapi akan lebih baik lagi jika dalam lisan juga. Karena pilihan kosakata yang kita gunakan dalam bicara dan menulis akan menunjukkan jati diri kita sebagai seorang yang berpendidikan. Selain itu, tentu saja sebagai wujud kepedulian kita pada bahasa persatuan kita yang saat ini makin terancam kelestariannya.^_^
Powered by Blogger.