Peningkatan Kapasitas; PR Siapa?

December 31, 2012

22 Juni 2012

Melihat-lihat hasil jepretan kamera hape jadul saya di agenda Lokakarya Kaderisasi Nasional pekan kemarin, saya jadi teringat dengan tausiah yang disampaikan oleh Fahri Hamzah. Tentang satu hal, yaitu kompetensi yang harus dimiliki seorang yang menjadi kader KAMMI. Ada tiga poin penting yang menurut beliau harus dimiliki seseorang yang mengaku menjadi kader KAMMI. Yang pertama, kegemaran membaca. Kedua, Independensi. Dan yang ketiga, kemampuan berjama'ah. Sebenarnya saya ingin kembali menyampaikannya, tapi saya rasa saya tidak akan bisa sepenuhnya mewakili ruh semangat Fahri Hamzah ketika menyampaikannya di forum itu. Jadi, saya hanya ingin membahas satu hal yang oleh beliau disampaikan kembali ketika peserta loknas berkunjung di kediamannya. Tentang membaca.

Saat ini saya sering sekali menjumpai kader-kader yang mengeluh merasa tidak memiliki kapasitas yang memadai, kurang kafa'ah dalam menjalankan amanah, hingga yang terang-terangan menyatakan bahwa dirinya sangat malas membaca buku -terutama mantuba-. Bahkan ada yang kemudian meminta agar struktur dapat memfasilitasi up grade kapasitas kader, dengan segala upayanya. Saya kadang bingung juga memikirkan bagaimana caranya supaya semangat belajar dan memperbaiki diri itu bisa tumbuh dalam diri kader-kader. Adakalanya seorang kader itu baik pemahaman jama'ahnya, tapi tak mau beramal karena merasa lebih bisa berbuat banyak ketika sendiri (ini sih sebenarnya juga gak bagus pamahaman kejama'ahnya ya?), ada yang ta'at, sampai-sampai tidak bisa/mau lagi mengkritisi dan manganalisis segala sesuatu yang sifatnya mutaghayyirat bahkan syubhat dalam amal-amal dakwahnya. Pokoknya apa kata qiyadah, dikerjakan saja. Hal ini menyebabkan tradisi peradaban kita sedikit demi sedikit mulai terkikis. Padahal tradisi mengeluarkan pendapat adalah tradisi peradaban. Ada lagi yang aneh, selalu lantang bersuara, eksis dimana-mana, tapi ternyata kosong pemahamannya, tidak berbobot kata-katanya, sehingga dia hanya jadi penebar pesona ketika masa rekrutmen tiba tanpa jadi pejuang 'inti' di dalam barisan dakwah.

Saya mungkin juga masuk sebagai salah satunya. Kenyataannya, saya juga masih sering buntu ketika bertemu dengan permasalahan-permasalahan yang rumit -menurut saya- dalam bekerja. Kalau kata Bang Fahri, masalah yang rumit itu karena kitanya yang bodoh. Dan saya merasa sangat tertohok dengan kata-kata beliau ini.

Maka malam ini saya kembali melihat susunan buku-buku saya yang hanya sedikit. Masih sangat jauh dengan jumlah buku Ust. Abdul Hakim di hadapan saya saat ini, apalagi buku-bukunya Bang Fahri. Dan saya menyadari -kembali-, bahwa masih sangat banyak buku yang harus saya baca agar bisa menjadi kader yang sesungguhnya. Saya masih memilih-milih ketika ingin membaca, padahal Bang Fahri berpesan untuk memaksa diri membaca yang rumit-rumit agar terlatih menghadapi masalah yang rumit.

Lalu mari kita coba tengok kader-kader kita saat ini, saudaraku. Ada banyak persoalan terkait kapasitas dan kualitas kader saat ini, yang kunci pertama untuk menguraikannya adalah dengan tumbuhnya semangat membaca dalam diri mereka. Saya mulai merasa cemas akan hal ini, terutama memikirkan diri saya sendiri yang sudah mulai jenuh membaca. Adakah yang bisa memberikan motivasi agar para kader tercinta ini mau memaksa dirinya untuk membaca? Adakah yang dapat mendorong hati para kader ini agar mereka mau belajar lebih banyak tentang siroh, manhaj dan jamaah? Miris hati ini ketika tahu ternyata banyak kader yang masih belum selesai membaca Manhaj Haraki, Fiqh Dakwah, dll tapi sudah berani berijtihad dalam berdakwah. Sedih hati ini ketika di sesi-sesi wawancara para kader ternyata masih belum berhasil menemukan orientasi dan tujuan hidupnya. Lebih mengiris hati, ketika ternyata kader-kader unggulan yang dibanggakan ini, masih banyak yang terbata-bata membaca Al-Qur'an tapi sudah berani menta'wil ayatnya tanpa tafsir. Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Powered by Blogger.