Makanan Haram (Masih) Mengepung Kita; 27 November 2012

December 31, 2012
Sudah lama sekali tidak menulis, tadi pagi saya kembali diingatkan oleh Ustadz untuk menuliskan tentang kisah hidup dalam diary. Tapi karena saya tipe orang yang kurang hati-hati menjaga barang, jadi saya tetap menulis di internet saja supaya aman (dari kehilangan karena nyelip). Dan hari ini cerita yang ingin saya bagi adalah tentang makanan. ^_^


Saya ingin memulai cerita saya dengan sebuah hadits dari Ibnu Abbas, berkata bahwa Sa'ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah." Apa jawaban Rasulullah SAW, "Wahai Sa'ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya." (HR At-Thabrani)

Saya yakin kita semua sudah familiar dengan hadits ini, dalam hadits arba’in juga ada hadits yang menjelaskan bahwa baik dan halal adalah syarat diterimanya do’a (hadits 10). Jadi, nggak perlu dibahas panjang lebar mengenai syarah haditsnya ya?!

Ceritanya sore ini saya mau makan sebenarnya, di sebuah rumah makan dekat asrama. Dan jangan nggak percaya, saya juga baru tahu hari ini kalau tempat itu adalah rumah makan. Kalau bukan karena diundang rapat di sana, mungkin saya nggak pernah tahu. :D

Di rumah makan itu banyak menu makanannya, murah-murah lagi. Dan Alhamdulillah, saya duduk pas di depan dapur. Jadi bisa ngeliat proses memasak mamas-mamas dapurnya. Sambil menunggu teman-teman yang lain, saya memperhatikan sekeliling rumah makan itu. Dan, tek! Mata saya berhenti di tempat seorang mamas yang lagi nggoreng sesuatu di seberang sana. Sekilas nggak ada yang aneh, sang mamas cekatan sekali membolak-balik masakan dengan tangannya lalu dengan luwesnya mengambil sebuah botol mirip botol kecap dan menuangkannya di atas masakan, lalu mengembalikan si botol ke tempatnya semula. Seketika api menyembur seolah kompornya abis kesiram bensin. Saya perhatikan lagi, ternyata di belakang ada banyak berjejer botol sejenis nempel di tembok dapur, mungkin ada sekitar lima belasan.


Pernah juga kan lihat fenomena kayak gini?! Biasanya mamas-mamas yang jualan mi tek-tek juga pake atraksi kayak gitu kalo bikin nasi goreng. Singkat cerita, akhirnya saya gak jadi pesen makanan deh.

Untungnya sampai asrama masih ada makanan tersisa cukup banyak. Alhasil teman di asrama pada nanyain, ‘kok, abis ke rumah makan masih makan di rumah?’ saya jawab sambil nyengir, ‘rumah makannya pake Ang Ciu.’ Trus, teman saya nanya lagi, ‘Ang Ciu apaan?!’ Spontan saya langsung pengen tepok jidat. Si penanya ini herbalis cuy, mosok ora ngerti Ang Ciu?? (emang apa hubungannya :D) Tapi saya masih coba menenangkan diri sambil berpikir, mungkin memang banyak yang belum tahu. Buktinya rumah makan itu emang rame banget. ‘Jadi kamu belum pernah denger Ang Ciu?’ Dia menggeleng.

Bagi yang belum pernah tahu tentang Ang Ciu, coba deh buka di google dan ketikkan kata itu insyaallah akan banyak informasi yang menjelaskan tentang penyedap masakan itu. Dan di sini, saya cuma pengen bagi info dikit aja.

Ang Ciu adalah arak merah yang biasanya dipakai sebagai tambahan bumbu dalam memasak. Sudah jelas, karena namanya saja arak pasti kandungan alkoholnya sangat tinggi. Biasanya ciri-ciri rumah makan yang menggunakan Ang Ciu adalah pada saat memasak akan timbul nyala api yang cukup besar. Sebenernya penggunaan Ang Ciu ini biasanya cuma sekedar sebagai aroma supaya makanan yang dimasak itu tercium kelezatannya. Keberadaan si arak ini ternyata masih jarang diketahui sama masyarakat kita, dan kesalahan para juru masak itu juga kebanyakan menganggap kadar alkohol dalam Ang Ciu sudah menguap karena dipanaskan. Padahal, dalam Islam kan sudah jelas kalau khamr haram zat dan sifatnya. Jadi, walaupun penggunaannya cuma sedikit, tetap saja dalam makanan yang sudah tertuang Ang Ciu sudah terkontaminasi zat khamr. Sehingga membuat keseluruhan makanan yang terhidang menjadi haram juga.

Nah, ini tentunya jadi peringatan buat kita semua. Dan monggo dikasih tahu ke temen-temennya yang masih suka beli mi tek-tek atau yang lain, coba diteliti ketika mamas penjualnya memasak. Jangan-jangan ada bahan makanan haram yang dia pakai sehingga bisa merusak kualitas asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Wallahu a’lam.
Powered by Blogger.