"Badal/Ibdal" Yang Tertinggal, Atau Belum Diajarkan?

December 31, 2012
Read Qur'an

30 Mei 2012

Maaf kalau agak aneh judulnya, soalnya sebenarnya saya memang tidak pintar membuat judul yang baik. Kalau bisa tulisan nggak pake judul, saya pasti tidak akan pernah memberi judul pada tiap tulisan saya. Tapi kalau tulisan nggak ada judulnya, kayaknya nggak seru ya? :D

Well, jadi tema kita kali ini adalah tentang Al Qur'an. Saya minta maaf bagi yang tadi siang saya koreksi bacaannya. (Ekspresi refleks pas ngajar kebawa-bawa sampe syuro). Dan saya jadi tertarik membahas tentang bacaan Al Qur'an yang satu ini.

Kita mungkin sudah familiar dengan yang namanya bacaan Gharib dalam Qira'at Al Qur'an (walaupun gharib seharusnya asing :D ). Ada yang namanya Imalah, Naql, Saktah, Isymam, dll. Hampir semua orang yang pernah belajar tahsin Al Qur'an tau tentang hukum-hukum bacaan tersebut. Yaaaah..... walaupun nggak tau nama hukum bacaannya, minimal sudah tau cara bacanya, kan?! Ngaku aja!

Nah, ternyata ada satu hukum bacaan gharib yang belum/tidak sempat dipelajari oleh rata-rata para pemerhati Al Qur'an. Badal, atau ada juga yang biasa menyebutnya Ibdal. Badal/Ibdal adalah mengganti suatu huruf dengan huruf yang lain. Bukan! Ini bukan mengganti huruf Shad menjadi Sin atau sebaliknya seperti yang selama ini kita pelajari, walaupun memang namanya Badal juga. Tapi ada Badal lain yang sepertinya jarang kita temui, yaitu merubah Hamzah menjadi Ya.

Menurut referensi yang saya dapatkan, kita harus mengganti hamzah qatha’ –bila tidak disambung dengan kata sebelumnya- yang jatuh setelah hamzah washal dengan ya’ sukun, yaitu pada di Surat Yunus : 15 dan Al Ahqaf : 4.

Jadi, di Surat Yunus : 15 (hayo coba dibuka Al Qur'annya) ada kalimat yang bunyinya لقاءنا ائت jika diwasholkan (disambung) cara membacanya seperti biasa; "liqoo-ana'ti". Tapi jika waqof di kalimat "liqoo-ana", kalimat setelahnya tidak dibaca "i'ti" melainkan "ii-ti" karena hamzahnya harus berubah menjadi ya' sukun. Begitu juga di Surat Al Ahqaf : 4, kalimat في السموات ائتوني jika diwasholkan dibaca "fissamaawaati'tuuni", akan tetapi jika waqof di kalimat "fissamaawaat" maka kalimat setelahnya bukan dibaca "u'tuuni" melainkan dibaca "ii-tuu-nii". Demikian teori yang pernah saya pelajari.

Saya sempat heran ketika tahu bahwa ternyata hampir semua orang yang saya tanya tidak tahu akan hal ini. Ketika saya buka-buka buku tahsin yang ada di asrama, saya jadi tambah heran ternyata hukum bacaan gharib yang satu ini tidak dimasukkan dalam bab bacaan gharib. Ada 3 buku tahsin yang saya cek, semuanya absen tentang bacaan Badal ini. Hanya ada bacaan gharib yang sudah biasa kita tahu. Nah?

Saya jadi tambah heran. Apakah mungkin terlupa atau bagaimana? Karena saya yakin sekali bahwa terkait hukum bacaan tajwid itu wajib diketahui -atau dipraktekkan- oleh semua muslim. Tapi kenapa ada yang tertinggal?

Tapi terlepas dari permasalahan tertinggalnya pelajaran Badal/Ibdal ini, satu yang pasti adalah bahwa; ternyata masih ada -kalau tidak mau dibilang banyak- dari kita yang masih perlu belajar lebih banyak tentang ilmu membaca Al Qur'an. Saya sendiri walaupun sudah dari kecil belajar tajwid, ternyata selalu mendapat pelajaran-pelajaran baru tentang Al Qur'an ketika berganti guru. Dan itu semakin membuktikan bahwa memang Al Qur'an bagai lautan yang tak bertepi. Jadi, masih adakah dari kita yang mau mengambil pelajaran?
Powered by Blogger.