Agar Akal Tak Tergelincir

December 31, 2012

30 Juli 2011

Berangkat dari banyaknya curahan hati dan ungkapan kekecewaan para kader yang sakit hati, catatan ini dibuat. Sebenarnya saya tidak ingin ambil pusing dengan masalah ini, tapi memang masalah ini begitu pelik dan berkaitan dengan Syari'at yang kita perjuangkan selama ini. Kita yang menjuluki diri sebagai Da'i yang memperjuangkan tegaknya agama Allah di muka bumi ini. Kita, (para kader KAMMI terutama) yang tak akan berhenti berjuang hingga tak ada lagi fitnah di muka bumi.

Alangkah menyedihkan, ketika pada suatu aksi para kader 'yang mengaku' pilihan Allah itu menampilkan aksi teatrikal yang justru menjadi fitnah bagi kita semua. Tuntutan umat Islam untuk menutup tempat hiburan malam selama bulan Ramadhan diwakili oleh para pemuda yang semangatnya luar biasa dan keberaniannya tak tertandingi. Mereka menganggap membuka tempat hiburan malam selama bulan Ramadhan sama saja dengan melecehkan umat Islam yang ingin khusyuk beribadah selama bulan penuh ampunan itu tiba. Dan, apa yang mereka lakukan? Mereka menggambarkan tempat hiburan malam itu dengan para wanita penghibur yang berpakaian erotis, umat Islam sebagai laki-laki berpeci-sarung dan bermukena. Lalu siapa yang menjadi wanita penghibur itu, tidak lain adalah para kader muda yang 'dipaksa' seniornya untuk memakai topeng dan memakai 'pakaian wanita'. Sakit hati para akhwat pada waktu itu, tidak terima dan tidak tega melihat para ikhwan saudara mereka, merendahkan harga dirinya sendiri dengan memakai pakaian wanita. Lebih sakit lagi, apa yang dilakukan itu tentu saja bertentangan dengan Syari'at yang hendak mereka perjuangkan. Saya pun sakit, sakit hati karena tidak bisa memberikan jawaban apa-apa ketika adik-adik akhwat mengajukan protesnya kepada saya demi melihat teman-temannya yang berpenampilan melampaui batas.

Ingin rasanya langsung pulang pada saat itu, tapi tak sampai hati juga melihat sudah begitu banyak wartawan dan SatPol PP yang ada di lokasi. Apa yang akan mereka katakan ketika melihat pasukan aksi justru telah porak poranda sebelum menghadapi perang? Saya tidak ingin kami jadi tertawaan orang-orang itu, terlebih jadi tertawaan penguasa-penguasa yang sombong itu. Maka saya dan kami semua bertahan, sampai aksi itu selesai. Dan rentetan dialog selepas aksi itu membuat hati ini lebih terluka lagi.

"Apa hukumnya seorang laki-laki yang berpakaian seperti wanita, walaupun itu hanya sandiwara?" Begitu seorang akhwat bertanya kepada para ikhwan. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak butuh jawaban karena kita semua sudah tahu dalilnya.

"Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria" (HR Al Hakim)

Saya pikir hadits ini sudah kita hafal bahkan mungkin orang-orang yang tidak pernah mengkaji Al-Qur'an dan Hadits pun pernah mendengar kalimat ini. Tapi apa yang dijawab para ikhwan itu sungguh menunjukkan bahwa akal telah menggelincirkan keimanan mereka. "Tidak ada melanggar syari'at, karena niat kita bukan untuk menjadi seorang yang bertingkah seperti wanita (tingkah laku sehari-harinya). Ingat, niat itu lebih penting daripada perbuatan. Mungkin cara kita yang harus dirubah. Sekali lagi tidak ada yang melanggar syari'at". Tegas sekali, mantap sekali. Seakan ungkapannya telah dilandasi dalil yang shahih. Terlebih ikhwan bersangkutan adalah mahasiswa Syari'ah.

Ikhwani, sesungguhnya telah banyak kisah yang mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan akal. Bahkan Umar bin Abdul Aziz yang ahli ibadah itu takut sekali dengan kemampuan akalnya yang besar. Khawatir bila kemampuan berpikirnya akan mendorongnya hingga mengeluarkan alasan merubah larangan menjadi sesuatu yang boleh dan wajar dilakukan. Takut bila potensi berpikirnya berfungsi untuk menghindarkan dirinya dari kewajiban. Di antara penyimpangan fungsi akal adalah pengesahan pekerjaan yang berdosa tapi menjadi wajar dan lumrah bahkan keharusan. Ini adalah bagian dari fitnah akal yang sangat berbahaya. Praktiknya, mungkin jarang dilakukan di depan oran banyak, tapi bisa tercetus secara bertubi-tubi dalam hati kita untuk memuaskan dan memenangkan diri sendiri dengan perbuatan dosa yang sudah dilakukan.

Mestinya apa yang dilakukan dalam wajihah dakwah kita memang harus atas kesepakatan bersama. Ada yang menjawab begitu. Ia menjelaskan bahwa semua yang dilaksanakan hari itu adalah hasil kesepakatan syuro. Maka di forum terbuka ini saya hendak bertanya kepada antum sekalian ikhwan, adakah antum melibatkan kami -para akhwat- dalam merumuskan agenda itu? Kenapa antum tidak mendengarkan keberatan seorang akhwat ketika tahu tentang rencana tersebut? Kalau boleh dibilang, begitu egoisnya antum yang mengajak kami -para akhwat- syuro' di malam hari yang tentu saja tidak bisa kami ikuti.

Atas semua keberatan para akhwat ini, ada yang menjawab,"Hal itu tidak dilakukan selamanya," Jadi kesimpulannya, hal itu tidak apa-apa dilakukan? Mari kita mencari pengQiyasan untuk permasalahan ini. Tolong jawab pertanyaan saya, supaya tidak ada kegundahan lagi dalam hati saya. Apakah para 'pekerja seni' yang berakting seperti laki-laki jadi-jadian itu juga mubah hukumnya? Apakah jika kalian, datang ke kampus dengan mengenakan pakaian perempuan selama satu hari saja, juga mubah hukumnya? Saya ingin kita mengingat, bahwa apabila kita tidak mengamalkan ajaran agama dengan benar, hanya akan membuat resah dan menjadi tertawaan orang-orang, begitu K.H Ahmad Dahlan pernah berpesan. Apa bedanya aksi teatrikal itu dengan aksi para perempuan yang dulu menentang disahkannya RUU APP dengan mengumbar auratnya di jalanan? Mereka menuntut kebebasan untuk para wanita, tapi yang mereka lakukan justru menurunkan harga dirinya sendiri. Tidakkah kalian merasa merendahkan martabat kalian sendiri sebagai laki-laki dengan memakai pakaian perempuan?

Mungkin kita memang berbeda pendapat. Mungkin para ikhwan merasa ini bukan masalah. Tapi saksikanlah hari ini, tidak ada satupun akhwat yang merespon -minimal- biasa saja ketika mendengar cerita ini. Lalu semua bertanya, ide siapa yang telah membuat 'masalah kecil' ini jadi berakibat fatal? Dan kami pun tidak bisa menjawabnya. Karena tak seorangpun akhwat yang tahu siapa saja yang hadir syuro' dalam setting aksi itu. Tapi setidaknya, jika para qiyadahku yang kucintai ini mau berlapang hati untuk meminta maaf atas kesalahan kita sekian hari yang lalu, mungkin itu akan lebih baik bagi kita. Daripada mencari pembenaran dan melemparkan kesalahan pada orang lain, bukankah lebih baik jika kita menghindari hal-hal syubhat yang akan memecah belah kita? Kembalikan kepercayaan para jundi ini kepada antum sebagai qiyadah ini. Njelimetnya jawaban antum terhadap pertanyaan kader sudah cukup membuat kami sedih. Sedih karena pemimpin kami tidak mau mendengar pendapat rakyatnya, sedih karena pemimpin kami justru meminta kami yang memahami keadaan mereka, sedih karena pemimpin kami tidak peduli pada hal-hal yang terlihat kecil padahal kita tahu Allah tidak pernah melihat besar atau kecilnya amal atau dosa yang kita lakukan. Bagaimana mungkin kami harus taat sementara Allah telah jelas melarang hambaNya untuk taat pada pemimpin yang bermaksiat? Kami hanya ingin mengingatkan sama seperti yang kita lakukan kepada pemimpin kita sekian hari yang lalu.

Kejadian ini saya harap bisa jadi pelajaran kita bersama. Segala macam protes yang dilontarkan adalah wujud kepedulian kami terhadap antum sebagai saudara kami. Jangan lagi ada ungkapan-ungkapan yang menyakitkan hati diantara kita, karena salah satu ciri orang beriman adalah berlemah lembut diantara mereka, ikhwan maupun akhwat. Jangan lagi ada alasan-alasan pembenaran karena di pengadilan Allah alasan itu tidak akan bisa kita lontarkan. Jangan lagi ada yang menangis karena teriris lisan saudaranya sendiri, karena lisan yang tidak terjaga bisa mendatangkan murka Allah kepada kita.

Sebelum Ramadhan menyapa kita ikhwan... mari perbaiki diri dan hati ini. Bersihkan diri dari dosa fisik maupun dosa batin. Meminta maaf dan bertaubat atas segala kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan. Semoga Allah mengkaruniai kita rasa malu kita terhadap-Nya. Rasa malu karena Ia selalu mengetahui perbuatan hamba-Nya. Rasa malu karena Ia selalu mengawasi dan memperhatikan kita, baik kita dalam kesendirian atau berada di tengah-tengah orang banyak. Rasulullah juga pernah berpesan kepada kita, "Sesungguhnya diantara yang didapat manusia dari kalimat kenabian yang pertama ialah : Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu" Tidakkah itu sebuah ancaman? Umar bin Khattab juga pernah berpesan,"Perdalamlah ilmu fiqihmu sebelum kalian memimpin."

Wallahu a'lam,,, mohon maaf atas segala kesalahan, dan semoga kita tetap bisa saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.
Powered by Blogger.