Rekonstruksi Persepsi; Refleksi Sekolah Murobbi

December 31, 2012
27 Mei 2012


Materi siang ini memaksa saya berpikir ulang. Kembali mengkaji apa yang sudah saya -dan kami- lakukan selama ini dalam menjalankan amanah di dakwah kampus. Saya tertegun, sejak sesi kedua dimulai dan pemateri menyampaikan teori-teorinya. Lengkap dan padat. Khas ilmu kependidikan. Dan saya lagi-lagi seperti biasa ketika menerima tawaran metode pembelajaran seperti itu, dengan sangat terpaksa menjadi 'Skeptis'.

Bukan bermaksud menolak ilmu yang disampaikan. Bahkan, saya terinspirasi dengan materi yang disampaikan. Seketika sejak pemateri berbicara tentang IceBreaking, memori saya langsung terpaut pada kondisi LDKF yang saya kelola. Fakultas Ushuluddin, seperti fakultas di kampus-kampus lain punya ciri khas yang unik. Mungkin sama seperti Fakultas Filsafat dan Psikologi. Setahu saya, di beberapa kampus yang ada Fakultas Filsafat dan Psikologi, merekrut adalah hal yang cukup sulit di dua fakultas itu. Entah mengapa, saya sendiri masih terus mencoba mencari tahu penyebabnya. Dan materi siang tadi seolah memberi sebuah klu tentang sesuatu yang selama ini saya abaikan. Metode Pembinaan.

Disini saya mulai benar-benar memahami, bahwa proses menemukan pola kaderisasi bukanlah proses yang mudah. Ada pola yang cocok digunakan di kampus A, tidak cocok digunakan di kampus B. Ada pola yang sukses diterapkan di fakultas C, malah gagal total ketika diterapkan di fakultas D. Maka saya kembali menggali ingatan saya untuk menganalisis kondisi fakultas saya. Disela-sela mencatat materi yang disampaikan, saya selalu memikirkan kelayakan teori itu untuk diterapkan. Mungkinkah?

Ketika menjadi mahasiswa baru di fakultas Ushuluddin, kami selalu diajak untuk mengkaji QS At-Taubah:122. Selalu, kami dikondisikan untuk berpikir bahwa kami adalah orang-orang yang harus menahan diri dari peperangan karena tafaqquh fiddiin. Maka tugas kami adalah belajar, dan akan memberi peringatan kepada orang-orang yang pergi berperang jika mereka telah kembali. Seperti doktrin, ayat itu menjadi seperti mantra yang menghipnotis kami untuk terus menganggap diri sebagai orang yang menjaga agama. Bagi orang yang mendalami ilmu, harus menjaga diri dari hal yang sia-sia. Jadi jangan heran jika masuk fakultas Ushuluddin, suasananya begitu hening. Pernah lihat kelas kuliah berisi 50-an mahasiswa dan tidak ada suara? Di Fakultas Ushuluddin itu bisa terjadi.

Kebanyakan mahasiswa yang alumni pesantren -termasuk saya- terlanjur percaya bahwa ilmu adalah apa yang dihafal dan dicatat. Terlebih lagi, materi-materi kuliah yang hampir selalu bertemu teori dan dalil memang memaksa kami harus rajin menghafalnya. Pola kehidupan pesantren juga masih lumayan kental. Para mahasiswa Tafsir Hadits misalnya, tidak sungkan memanggil dosen dengan sebutan Ustadz, karena memang rata-rata dosennya Ustadz. Mahasiswa tidak suka banyak bertanya, karena percaya bahwa mereka belum tahu apa-apa dan yakin bahwa berguru itu harus kepada guru, bukan pada buku. (saya pernah sangat be-te dengan paham ini)

Alhasil, jadilah mahasiswa Ushuluddin orang-orang yang terasing (istilah saya saja sih...). Tidak banyak yang ikut organisasi atau UKM, kalaupun ada hanya beberapa orang saja. Mereka lebih suka di fakultas, duduk di perpustakaan, atau ngobrol di kantin fakultas seolah yang penting tidak keluar fakultas. Saya sempat tidak yakin dengan pandangan saya ini, tapi ketika mahasiswa Fakultas Tarbiyah mulai mengusik kehidupan belajar kami saya jadi sangat percaya bahwa karakter mahasiswa Ushuluddin memang suka ketenangan. Tidak suka diganggu, dan ingin keseriusan dalam belajar.

Lalu apa hubungannya dengan metode pembinaan? Sangat berhubungan. Sebenarnya tidak terlalu sulit merekrut di sini. Di angkatan 2008, dulu ada 2 kelompok yang terekrut dan sempat dibina. Persis seperti yang disampaikan di materi tadi siang, saya lihat Murobbi yang waktu itu sudah semester 6 memakai berbagai metode; mulai dari game, Case Studies, Brainstorming dan lain-lain. Persis seperti materi Active Learning itu. Saya yang memang sudah terbina sebelum kuliah, hanya bertugas mendampingi sang murobbi. Cara penyampaiannya sudah sangat menarik, bagi saya yang waktu itu masih membina di sekolah. Tapi aneh, (saya sendiri sempat shock waktu itu) teman-teman saya seperti tidak menikmati cara belajar seperti itu. Mereka bahkan terlihat seperti robot ketika Murobbi meminta melakukan simulasi atau diskusi. Bicara seperlunya, menjawab juga kalau ditanya saja. Saya sampai sempat berpikir 'apakah teori filsafat sudah membuat otak kanan mereka tumpul?' (astaghfirullah...)

Nyatanya memang hingga hari ini kami masih belum berhasil merekrut dan membina kader sesuai dengan target yang diberikan. Jangankan mendekati target, sangat jauh malah. Dari sekitar 150 mahasiswa, jumlah kader saat ini hanya ada 6 orang ikhwan dan akhwat. Tapi satu hal yang melintas dalam ingatan saya yang kemudian membuat saya kembali optimis, adalah bahwa setiap kader yang berhasil dibina dari Ushuluddin, selalu menjadi salah satu kader inti di kampus. Dengan ciri khasnya tentu saja. Saya mulai me-list kader-kader di atas saya, dan seperti ada lampu menyala di kepala. (seperti film-film kartun itu.... :D)

Dari sekian sedikit kader dari Ushuluddin, semuanya ternyata cenderung individualis. Keikutsertaan mereka dalam jama'ah ternyata tidak membuang sifat suka menyendiri mereka -mungkin termasuk saya-. Mereka lebih suka kerja-kerja dibalik layar, tidak paham syi'ar, tidak punya kemampuan merekrut, tapi aktif membina, pandai menjadi konseptor, kacau jadi teknisi, semuanya -mungkin- cenderung idealis terhadap dirinya. Kaku. Saya pikir, dari sini saya mulai merasa akan bisa menemukan solusi.

Dan materi tadi siang -sekali lagi- membuat saya berpikir lagi tentang metode pembinaan. Sesuatu yang sudah sempat saya lupakan karena kegagalan berulang yang kami alami. Dalam hati saya sangat menyesal, mengapa saya baru menyadari hal ini sekarang? Di saat saya sudah hampir habis masa di kampus, justru saya baru menemukan ide untuk membenahi kondisi dakwah fakultas yang selama saya perjuangkan bersama adik-adik yang lain -yang jumlahnya hanya sejumlah jari sebelah tangan-. Itupun masih belum tahu, akankah cocok dan layak digunakan.

Tapi setidaknya masih ada harapan. Dan saya meminta, bantuan doa dari semua yang membaca catatan ini. Makin banyak yang berdoa, makin besar peluang untuk dikabulkan. iya kan? Tahun 2010, saya berdoa meminta diberi kader ikhwan, karena hanya ada akhwat. Dan ternyata, dua orang ikhwan dikirim Allah tanpa akhwat terekrut. Kadang saya senyum-senyum sendiri kalau melihat mereka, sambil menyesali doa saya (ngawur banget..)

Jadi, sekarang saya ingin membenahi doa saya. Tahun 2012 ini, saya ingin setidaknya 20 kader terekrut dan terbina. Adakah yang ingin membantu berdo'a untuk Ushuluddin?
Powered by Blogger.